
Sebuah kereta barang berukuran cukup besar melintasi jalan lebar menuju pintu gerbang kotaraja sebelah selatan. Kereta itu ditarik oleh dua ekor kuda yang kekar. Dikusiri oleh dua ekor... eh salah, dua kusir yang kecil.... Kecil...?! Maksudnya apa...?! Maksudnya dikusiri oleh dua anak kecil. Kok bisa?!
Dua kusir kecil itu terus saja melajukan kereta besar mereka. Debu jalanan yang beterbangan diterjang. Terik matahari yang begitu panas tidak dipedulikan.
Tampak wajah dua bocah itu berbedakkan debu cukup tebal bercampur keringat. Sehingga wajah asli mereka susah untuk dikenali.
Kereta barang yang dibungkus kain mota tebal warna biru kusam itu terus saja melaju. Kurang lebih satu mil lagi kereta itu sampai di pintu gerbang kotaraja.
"Dhaffin, aku takut 'paket' kita ini diketahui oleh penjaga pintu gerbang sebelum sampai ke tujuan," keluh bocah berbaju lusuh warna hitam. Kain yang membungkus kepalanya juga warna hitam lusuh.
"Kita lihat saja nanti, Brian," kata bocah berbaju coklat lusuh menenangkan. Kain cukup lebar warna coklat lusuh juga melilit kepalanya. "Mudah-mudahan saja lancar tanpa hambatan."
Ternyata kedua anak kecil itu adalah Tuan Muda Dhaffin, putra angkat Jenderal Felix dan Pangeran Brian, Pangeran Kedua Kerajaan Amerta.
Semalam baru saja mereka membekuk empat pengkhianat kerajaan tak jauh dari Bukit Kanaya, di Kota Denver. Mereka bersepakat untuk membawanya ke kotaraja. Kemudian mereka memuatnya ke dalam kereta barang cukup besar.
Agar tidak diketahu kalau yang mereka bawa itu adalah empat pejabat, mereka mengemasnya sedemikian rupa seperti barang paketan. Namun mereka juga membuat sedemikian rupa agar empat pejabat itu bisa bernapas dengan bebas.
Tentu Kota Denver hari ini pastilah gempar. Dari semalam hingga sekarang pejabatnya tidak pulang ke rumah. Tak tahunya dijadikan 'paket' oleh dua bocah itu bersama tiga pejabat lainnya. Sungguh malang!
"Berhenti dulu!" pinta Dhaffin begitu pintu gerbang tinggal setengah mil lagi jaraknya.
Brian yang memegang kendali kuda segera menarik tali kekangnya. Hampir bersamaan kuda berhenti berikut keretanya. Lalu sang kusir bertanya heran.
"Kenapa berhenti?"
"Kita periksa lagi barangnya!" sahut Dhaffin lalu berbalik ke belakang memeriksa empat pejabat itu apakah masih bernapas atau sudah jadi mayat.
Mereka membuat suatu tatanan agar sewaktu-waktu mereka mudah untuk memeriksa barang mereka.
Sembari Dhaffin memeriksa, Brian mengamati keadaan di sekitar pintu gerbang yang sudah jelas terlihat. Tampak di situ manusia hilir mudik, ada yang masuk ada yang keluar.
Orang-orang yang membawa barang dengan menenteng atau memikulnya tidak terlalu diperiksa. Sedangkan yang memakai gerobak atau dengan membawa kereta barang diperiksa dengan cukup teliti.
"Sepertinya kita susah untuk lolos, Dhaffin," keluh Brian bagai putus harapan. Matanya tidak pernah lepas memperhatikan keadaan di sekitar pintu gerbang.
Dhafin tidak segera menanggapi keluhan Brian itu. Setelah selesai memeriksa keempat pejabat itu dia menata kembali tatanan penutupnya seperti semula.
Syukurlah keempat pejabat itu masih hidup. Saat ini mereka masih tidak sadarkan diri karena pengaruh totokannya dan Brian masih bekerja. Mereka sebelumnya menotok syaraf tidur keempat pejabat itu.
Kemudian Dhaffin membalikkan badan menghadap ke depan lagi dan langsung memandang ke pintu gerbang. Memang, dia melihat kenyataan di sana kalau peluang mereka bakal meloloskan paket khusus ini tipis. Penjagaan di sana begitu ketat. Barang bawaan diperiksa dengan teliti.
★☆★☆
"Aku curiga sepertinya para penjaga itu mencari sesuatu," gumam Dhaffin yang juga tak lepas memperhatikan keadaan di sekitar pintu gerbang.
"Jangan bilang kalau mereka tengah mencari paket khusus kita ini," kata Brian agak tersentak.
"Maksudmu?" Dhaffin lebih kaget lagi.
Bukan kaget akan ucapan Brian, tapi kaget jangan sampai Brian menduga kalau pekerjaan mereka semalam sudah ketahuan. Artinya....
"Aku punya firasat kalau pekerjaan kita semalam itu ada yang tahu," ungkap Brian mengemukakan isi kepalanya. "Ada pengintai lain yang mengetahui kalau kita sudah membekuk empat juragan mereka."
"Lantas si pengitai itu," Dhaffin yang berkata seakan menyambung pemikiran Brian, "begitu mengetahui ada perubahan keadaan, cepat-cepat pulang ke kotaraja terus memberitahu teman-temannya kalau para juragan mereka tertangkap. Begitu?"
Brian tidak lantas menanggapi ucapan Dhaffin yang memang seperti yang dia pikirkan. Dia menatap sejenak anak usia 11 tahun itu yang duduk diam sambil mengamati keadaan pintu gerbang.
"Sudah kuduga," kata Brian bagai mendesah seraya kembali menatap ke pintu gerbang.
__ADS_1
Dhaffin diam saja, tidak bertanya atau mengatakan apa-apa. Dia sudah tahu apa maksud ucapan Brian. Dari Kota Denver dia memang sudah menduga kalau Brian sudah punya firasat demikian, sama seperti firasatnya.
Beberapa saatnya mereka tenggelam dalam kebisuan. Benak mereka sibuk memikirkan bagaimana caranya mereka bisa masuk ke kotaraja dengan aman.
Mereka sudah melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Saat membekuk empat pejabat mereka tidak banyak bicara dengan keempat pejabat itu. Dan keempat pejabat itu juga amat mudah mereka kalahkan.
Melakukan pekerjaan selanjutnya hingga empat pejabat itu terkemas dalam kereta barang dengan hati-hati. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan.
Tapi toh mereka ketahuan antek-antek para pejabat itu juga mau apa lagi. Takdir langit sudah turun siapa yang bisa mencegahnya.
"Brian! Kamu tahu siapa yang mengatur prajurit penjaga pintu gerbang?" tanya Dhaffin sekaligus memecah kebisuan.
"Kepala Keamanan Kotaraja," sahut Brian tanpa berpikir.
"Masih ada orang di atasnya?"
"Kepala Ketertiban Umum. Dia membawahi semua Kepala Keamanan, baik di kotaraja maupun di kota-kota yang ada di Kerajaan Amerta ini."
"Siapa yang menentukan bakal menjadi Prajurit Keamanan Kotaraja?"
"Kepala Keamanan Kotaraja. Kepala Ketertiban Umum cuma menyetujui hasil penentuan dan pemilihan dari Kepala Keamanan Kotaraja."
Dhafin terdiam sejenak, lalu kembali bertanya.
"Kamu tahu sampai di mana tingkat kehebatan Prajurit Keamanan Kotaraja?"
"Semua Prajurit Keamanan berada pada tingkat pertama. Rata-rata kemampuan mereka cuma bela diri keprajuritan dan sedikit tenaga dalam. Mereka sama sekali tidak punya ilmu kesaktian."
Setelah itu Dhaffin tidak bertanya lagi. Brian juga tidak berbicara apa-apa atau bertanya kenapa Dhafin bertanya-tanya seperti itu.
Tak lama kemudian, Dhafin berbalik ke belakang, lalu berdiri melutut. Kemudian kedua tangannya direntangkan di atas permukaan kain mota tebal, pembungkus paket khusus itu. Telapak tangannya terbuka dengan jeriji merenggang. Tampak mulutnya bergerak-gerak pelan seperti membaca mantra.
Setelah permukaan kain mota terbungkus cahaya bening itu, lalu lenyap begitu saja. Kemudian Dhaffin menarik kembali tangannya yang terentang.
Brian memperhatikan tingkah aneh Dhaffin itu tanpa berkedip, tanpa bertanya meski hatinya heran. Tapi dia tahu Dhafin sedang menggunakan kekuatan ghaibnya.
"Ayo kita jalan lagi!" ajak Dhaffin setelah selesai mengerjakan pekerjaan anehnya, dan kembali menghadap ke depan.
"Apa yang kamu lakukan tadi?" Brian tidak tahan menyimpan rasa heran dan penasarannya.
"Mengamankan barang kita dengan mantra ghaib," sahut Dhaffin seadanya. "Kalau sampai para penjaga itu main gila, mereka tidak bisa menyentuh barang kita."
Brian terdiam sejenak memikirkan ucapan Dhafin yang belum terlalu dia mengerti. Lalu bertanya lagi.
"Apa kamu sudah siap kalau prajurit penjaga itu menahan kita?"
"Asal kamu siap berkelahi, aku sudah siap."
Brian cuma tersenyum mendengar ucapan Dhaffin itu. Lalu kembali menjalankan kereta barang. Sehingga tidak lama kemudian kereta barang yang memuat paket khusus kembali berjalan agak cepat menuju pintu gerbang.
★☆★☆
Sementara suasana di sekitar gerbang boleh dikatakan sepi. Orang keluar masuk cuma satu dua. Prajurit penjaga yang berada di pintu masuk cuma empat orang. Sedangkan enam orang berada di gardu jaga yang terletak di atas gerbang.
Enam prajurit penjaga tampak terlibat dalam percakapan serius. Dalam percakapan mereka menyayangkan kalau sampai sekarang belum juga menemukan kereta barang yang membawa para juragan mereka.
Menurut informasi dari mata-mata kalau mereka melihat empat pejabat, juragan mereka dibekuk oleh Dhaffin dan Brian. Dan mata-mata itu juga memberitahu bahwa kuat dugaan kalau kedua bocah itu akan membawa keempat pejabat itu ke kotaraja.
Namun sampai sekarang mereka belum juga menemukan kereta barang yang dimaksud, apalagi menemukan Brian dan Dhafin. Kalau sudah begitu bagaimana mereka nanti akan melapor kepada Kepala Keamanan.
__ADS_1
Melapor kepada Kepada Keamanan mungkin tidak terlalu menakutkan. Yang amat membuat mereka benar-benar ketakutan adalah jangan sampai keempat juragan itu sampai ke hadapan yang Mulia. Dan membeberkan siapa-siapa yang terlibat dalam rencana pemberontan.
Kalau hal itu sampai terjadi, bukan saja jabatan mereka bakal hilang, bahkan nyawa juga ikut copot. Kengerian apa yang lebih mengerikan dari kengerian menghadapi hukuman pemenggalan leher. Sungguh mengerikan!
"Berhenti!"
Percakapan mereka terhenti begitu saja akibat bentakan bernada perintah yang cukup keras itu. Kemudian tanpa pikir
panjang mereka langsung keluar dari gardu jaga, terus serta merta melihat ke bawah gerbang bagian luar.
Di situ, di depan gerbang bagian luar berjarak sekitar lima tombak sudah berhenti sebuah kereta barang cukup besar yang sepertinya sarat akan muatan. Kusirnya adalah dua anak kecil. Di depan kereta sudah berdiri menghadang empat penjaga gerbang sekitar lima langkah.
Tanpa berlama-lama enam prajurit penjaga yang ada di gardu segera turun. Sementara empat penjaga yang di bawah segera beranjak mendekati kereta barang yang tidak lain milik Dhaffin dan Brian. Dua penjaga dari sebelah kanan, dua penjaga lainnya dari sebelah kiri.
"Sepertinya aku kenal bocah yang duduk sebelah kanan itu," bisik salah seorang penjaga yang sebelah kanan sambil melirik Brian.
"Sudah, kamu diam saja!" kata temannya juga berbisik. "Kita pura-pura tidak kenal saja."
Lalu dia melirik pada dua kawannya yang di sebelah kiri. Lirikan itu sebagi isyarat kalau biar dia saja yang bicara. Dan sepertinya disetujui.
Sedangkan para prajurit penjaga yang tadi di gardu sudah sampai di bawah. Lalu membentuk barisan berjajar seolah menghadang kereta barang jangan sampai masuk. Tapi mereka cuma lima orang saja. Yang satunya sepertinya pergi melapor ke atasan kalau yang dicari sudah ketemu.
"Siapa kalian?" bentak prajurit penjaga itu garang.
"Kami cuma kurir pengiriman barang, Tuan Prajurit," Dhafin yang menyahuti dengan sesopan mungkin. Sikapnya juga tenang, setenang Brian yang duduk di sebelahnya.
"Dari mana?" masih garang prajurit penjaga itu membentak.
"Dari Kota Denver, Tuan Prajurit," Dhaffin masih tenang dalam menjawab dan bersikap sopan.
"Kalau begitu barang apa yang kalian bawa?" tanyanya lagi masih bernada garang.
"Kata juragan kami ini paket khusus buat seorang pejabat di kotaraja," sahut Dhafin lagi.
"Paket khusus apa itu? Dan siapa pejabat yang kalian maksud?" makin keras bentakan prajurit itu dan makin melotot matanya garang. Karena jawaban Dhafin tidak secara terperinci.
"Maaf, Tuan Prajurit, juragan kami tidak memberitahu paket apa yang kami bawa. Kami cuma disuruh antar ke kotaraja buat seorang pejabat...," lalu Dhafin berlagak lupa dan bertanya kepada Brian, "pejabat siapa, Adik?"
"Tuan Pejabat Penyelidik Rahasia, Kakak," sahut Brian berlagak juga. Saat dia berucap begitu dia menahan tawa setengah mati.
"Ya ya..., Tuan Pejabat Penyelidik Rahasia," ulang Dhafin.
"Buka tutupnya! Biar kami lihat!" perintahnya sudah mulai jengkel dan geram.
"Maaf, Tuan Prajurit, kami tidak diperbolehkan membuka paket. Tugas kami hanya mengirim paket."
"Keparat! Kalian mencoba mempermainkan kami hah?" prajurit penjaga itu tidak bisa lagi menahan amarahnya. "Jangan kira kalian anak kecil kami tidak bisa berlaku kasar!"
Lalu dia memerintahkan ketiga temannya untuk menggeledah kereta barang besar itu.
"Geledah!"
Tanpa menunggu perintah dua kali, tiga prajurit penjaga langsung mendekati kereta barang seraya mencabut pedang. Dua prajurit menuju samping kiri kanan kereta. Yang satunya menuju belakang kereta.
Sementara Dhaffin masih tetap tenang, tidak terpengaruh sama sekali perbuatan tiga prajurit penjaga yang mendekati kereta. Sedangkan Brian sebenarnya sedikit kebat-kebit. Tapi dia berusaha untuk tenang.
Dia bukan takut kepada para prajurit penjaga itu, tapi dia khawatir kalau paket khusus mereka sampai diambil oleh prajurit-prajurit itu sebelum mereka serahkan kepada Jenderal Felix.
★☆★☆★
__ADS_1