Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 186 PERTEMUAN TIGA PERAMAL DENGAN SELIR HELIANA


__ADS_3

Selir Heliana menyatakan sekaligus mengangkat Ratu Aurellia Claretta sebagai penguasa Kerajaan Negeri Tabir Ghaib, terkhusus sebagai ratu atas Istana Centauri bukanlah hasil pemikirannya sendiri.


Pernyataan sekaligus pengangkatan Ratu Aurellia sebagai Ratu Istana Centauri bersumber dari ramalan sahabatnya, yaitu seorang wanita tua dari kalangan siluman putih yang bernama Nenek Hikaru.


Di awal-awal pembentukan Kerajaan Negeri Tabir Ghaib hingga pembuatan Istana Centauri dan Markas Centaurus, Selir Heliana sudah membicarakan tentang nasib Kerajaan Negeri Tabir Ghaib ke depannya dengan Nenek Hikaru.


Perlu diketahui bahwa tabir pelindung yang melingkupi seluruh Kerajaan Negeri Tabir Ghaib sekaligus menyembunyikan wujudnya dari dunia luar adalah hasil kerja keras Nenek Hikaru. Di samping juga dibantu oleh Selir Heliana dan beberapa pendahulu Istana Centauri.


Nenek Hikaru merumuskan tentang kepemimpinan Istana Centauri ke depannya, siapa yang berhak menjadi Ratu Istana Centauri, penguasa secara mutlak Istana Centauri dan Markas Centaurus? Penguasa Kerajaan Tabir Ghaib!


Nenek Hikaru juga yang merumuskan atau meramalkan bahwa penguasa Istana Centauri adalah seorang gadis perawan dengan ciri-ciri yang telah diramalkan olehnya.


Seorang gadis keturunan langsung dan pertama dari pasangan seorang raja dan permaisuri itulah salah satu ciri-ciri sang ratu tersebut. Juga ciri yang lainnya yaitu memiliki energi sakti sejak lahir.


Ciri yang lainnya lagi yaitu memiliki Tanda Keluhuran yang terdapat di keningnya. Ciri ini belum diberitahukan Selir Heliana kepada Ratu Aurellia.


Makanya ketika Dhafin menjelaskan tentang hal itu kepada Ratu Aurellia, seolah gadis itu baru mengetahui. Pula, baik Dhafin maupun sang ratu tidak mengetahui kalau Tanda Keluhuran merupakan ciri untuk menjadi Ratu Istana Centauri.


Mengetahui ciri-ciri gadis yang berhak menjadi penguasa Kerajaan Negeri Tabir Ghaib sampai di sini, timbul satu permasalahan, ciri-ciri seperti itu juga dimiliki oleh Putri Athalia dan Putri Arcelia.


Kenapa Selir Heliana cuma menunjuk Ratu Aurellia yang berhak menjadi penguasa Kerajaan Negeri Tabir Ghaib? Kenapa tidak menunjuk Putri Athalia atau Putri Arcelia? Padahal ciri ketiganya sama.


Apakah Selir Heliana hanya mengetahui kalau Ratu Aurellia yang hanya memiliki ciri-ciri seperti itu?


Memang benar, Selir Heliana hanya mengetahui kalau cuma Ratu Aurellia yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Makanya dia menyuruh salah satu dari 12 Tetua Istana untuk menjemput Ratu Aurellia di istananya waktu itu.


Akan tetapi hal itu berdasarkan petunjuk dari Nenek Hikaru. Dan Selir Heliana hanya melaksanakan sesuai petunjuk yang diberitahukan Nenek Hikaru. Tanpa memikirkan kalau ada 2 gadis lain yang memiliki ciri-ciri yang sama.


Sedangkan Nenek Hikaru pastilah tahu tentang kedua gadis itu yang memiliki ciri-ciri sebagai penguasa Istana Centauri.


Yang menjadi persoalan, kenapa siluman wanita tua itu memastikan bahwa Ratu Aurellia Claretta-lah yang berhak menjadi penguasa Istana Centauri? Bukan salah satu dari kedua gadis itu?


Kalau begitu kenyataannya, pasti ada ciri tersendiri yang dimiliki oleh Ratu Aurellia yang membedakannya dari kedua gadis cantik tersebut.Dan hal itu jelas amat diketahui oleh Nenek Hikaru. Hanya saja dia belum memberitahukannya kepada Selir Heliana.


★☆★☆


Oleh karena itu, Nenek Hikaru kembali bertemu dengan Selir Heliana guma membicarakan masalah tersebut. Atau lebih tepatnya Selir Heliana yang memanggil Nenek Hikaru guna membicarakan tentang seorang pemuda yang menarik perhatiannya, yaitu Dhafin.


Dhafin menjadi perhatian khusus baginya disebabkan pemuda itu memiliki ciri-ciri sama dengan Pangeran Ghazam Aldari pada satu sisi, dan Raja Neshfal Abraham pada sisi yang lain.


Kebetulan pula Nenek Hikaru hendak bertemu dengan Selir Heliana guna membicarakan ramalan takdir mendatang yang terjadi pada Istana Centauri.


Ternyata Nenek Hikaru tidak datang sendirian. Dia datang menemui Selir Heliana bersama Pendeta Tua dan Nenek Kaira. Tiga orang itu merupakan peramal yang memiliki firasat yang tajam.


"Ada seorang pemuda yang bernama Dhafin yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku," ungkap Selir Heliana membuka pembicaraan. "Aku telah menduga kalau pemuda itu adalah Pangeran Agung Ghavin Aldebaran...."

__ADS_1


"Bisakah kalian jelaskan apakah dugaanku ini benar?"


Sejenak ketiga peramal tua itu saling melempar pandang. Tak lama kemudian, Nenek Hikaru berkata bernada hormat.


"Yang Mulia, sebenarnya kedatangan kami pula ke sini untuk membicarakan tentang masalah itu...."


"Akan tetapi, sebelum membahas masalah itu," lanjutnya, "ada baiknya Yang Mulia mengetahui sesuatu yang hamba belum sempat memberitahukannya kepada Yang Mulia."


"Oh, apa itu, Nenek Hikaru?" tanya Selir Heliana antusias.


"Sebenarnya ciri-ciri yang menjadi kriteria penguasa Kerajaan Negeri Tabir Ghaib tidak hanya terdapat pada Yang Mulia Ratu, Yang Mulia," kata Nenek Hikaru menerangkan. "Juga terdapat pada 2 orang gadis lainnya."


Lalu Nenek Hikaru menerangkan tentang Putri Athalia dan Putri Arcelia. Juga menerangkan tentang Tanda Keluhuran yang terdapat pada Ratu Aurellia dan kedua gadis itu.


"Kalau tidak salah dulu kamu memastikan Nanda Aurellia yang berhak menjadi penguasa di Istana Centauri," kata Selir Heliana setelah Nenek Hikaru selesai menerangkan.


"Lantas sekarang kamu menerangkan kalau ada gadis lain, bahkan dua," lanjutnya, "memiliki ciri sama dengan Nanda Aurellia. Coba kamu terangkan mengenai masalah ini, Nenek Hikaru!"


"Hak untuk menjadi penguasa Istana Centauri tetap jatuh pada Ratu Aurellia," kata Nenek Hikaru menerangkan. "Hal itu disebabkan karena Yang Mulia Ratu mempunyai bentuk Tanda Keluhuran melengkung ke bawah...."


"Juga Yang Mulia Ratu merupakan pendamping urutan pertama penguasa Kerajaan Negeri Tabir Ghaib yang sesungguhnya," sambung Nenek Kaira.


"Penguasa Kerajaan Negeri Tabir Ghaib yang sesungguh?" kata Selir Heliana terkejut heran.


"Sebenarnya Yang Mulia Ratu menjadi penguasa Istana Centauri hanya sebatas beliau belum menikah," tutur Nenek Hikaru mengungkapkan. "Ketika Yang Mulia Ratu sudah menikah, maka suami beliau itulah yang menjadi penguasa kerajaan ini yang sesungguhnya."


Baik Nenek Hikaru maupun Nenek Kaira tidak lantas menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka malah memandang pada Pendeta Tua sebagai isyarat kalau orang tua itu disuruh menjawab.


Pendeta Tua yang mengerti akan isyarat itu segera menjawab setelah menjura hormat.


"Ampun, Yang Mulia. Hamba akan jawab dulu pertanyaan Yang Mulia di awal pembicaraan tadi...."


Setelah berhenti sejenak, Pendeta Tua melanjutkan.


"Dugaan Yang Mulia memanglah tepat, bahwa Yang Mulia Dhafin adalah Yang Mulia Pangeran Agung Ghavin Aldebaran, putra pertama Pangeran Ghazam Aldari."


Meski sebelumnya sudah menduga kuat, tapi Selir Heliana masih terkejut juga mendengar penuturan Pendeta Tua. Tentunya terkejut gembira.


Pemuda yang beberapa waktu belakangan ini membatu perjuangan Pasukan Istana Centauri ternyata memang benar adalah cucunya. Betapa senangnya hati sang selir mendengar fakta ini.


"Beliaulah yang akan menjadi pendamping Yang Mulia Ratu," lanjut Pendeta Tua, "penguasa Kerajaan Negeri Tabir Ghaib yang sesungguhnya."


"Adapun maksud ucapan Nenek Kaira adalah Yang Mulia Ratu, saat kelak menjadi suami Yang Mulia Pangeran Ghavin, Yang Mulia Ratu akan berubah status menjadi permaisuri atau istri pertama."


"Itulah yang dikatakan sebagai pendamping urutan pertama."

__ADS_1


"Kalau Nanda Aurellia sebagai istri pertama Nanda Ghavin," kata Selir Heliana menanggapi penuturan Pendeta Tua, "tentu ada istri ke 2 atau istri ke 3-nya Nanda Ghavin."


"Benar, Yang Mulia," Nenek Kaira yang menyahut penuh hormat. "Langit menakdirkan Yang Mulia Pangeran Ghavin memiliki 3 calon istri; Yang Mulia Ratu Aurellia, Putri Athalia, dan Putri Arcelia."


"Putri Athalia..., Putri Arcelia...," kata Selir Heliana menggumamkan kedua nama itu.


★☆★☆


Lalu Nenek Kaira menerangkan tentang jatidiri kedua gadis cantik itu saat Selir Heliana bertanya, di mana kedua gadis itu berasal dari kerajaan kecil yang sudah ditaklukkan.


Ketika Nenek Kaira selesai bertutur, Selir Heliana masih saja terdiam, belum menanggapi penuturan Selir Heliana.


Mendengar sebuah ramalan kalau Pangeran Ghavin bakal memiliki istri 3, Selir Heliana tidak menentang takdir langit itu, bahkan merasa senang, pada satu sisi.


Pada sisi yang lain dia merasa khawatir jikalau kelak Pangeran Ghavin akan mendapat kesulitan seandainya ketiga calon istrinya itu saling berseteru untuk mendapatkan cinta Pangeran Ghavin.


Di samping itu juga terdapat kekhawatiran yang lain sebagaimana dia rasakan sendiri selama dulu menjadi istri mendiang Raja Neshfal Abraham.


Pendeta Tua yang dapat menangkap kegelisahan pada raut wajah Selir Heliana segera menerangkan tentang kebaikan kedua gadis calon pendamping Dhafin. Dan kedepannya mereka tidak akan menyusahkan Dhafi.


Kemudian ketiga peramal itu saling menerangkan kepada Selir Heliana bahwa Pangeran Ghavin kelak akan menjadi penguasa 3 negeri, yang mana pusat pemerintahannya di Istana Centauri ini.


Juga menerangkan tentang hubungan asmara antara Pangeran Ghavin dengan ketiga calon istrinya itu. Menerangkan bahwa Ratu Aurellia adalah cinta sejati Pangeran Ghavin.


Adapun pada Putri Athalia dan Putri Arcelia merupakan cinta ke 2 dan ke 3 bagi Pangeran Ghavin.


Yang tidak kalah pentingnya bahwa Pangeran Ghavin baru bisa menikahi Ratu Aurellia setelah berhasil menemukan 2 jodoh lainnya yang sudah ditakdirkan langit.


Dan Pangeran Ghavin dalam hal ini sudah menemukan kedua jodohnya itu di samping Ratu Aurellia yang juga merupakan jodohnya.


Jika seandainya Pangeran Ghavin dan Ratu Aurellia menentang ketentuan takdir, bersikeras melangsungkan pernikahan, maka akan menghancurkan 3 buah negeri.


Juga menerangkan bahwa Pangeran Ghavin tidak bisa menikahi kedua calon selirnya itu tanpa terlebih dahulu menikahi Yang Mulia Ratu.


Jadi, hubungan pernikahan antara Pangeran Ghavin dengan calon ketiga istrinya itu saling berkaitan antara satu dengan yang lain.


Dan Nenek Kaira menambahkan bahwa saat ini pihak Istana Kerajaan Lengkara tengah memburu ketiga calon istri Pangeran Ghavin untuk dibunuh.


Mengapa demikian?


Hal itu dikarenakan beredarnya sebuah ramalan di Kerajaan Lengkara bahwa apabila Pangeran Ghavin telah bersatu dengan ketiga calon istrinya, maka hal itu akan menjadi alamat tentang kehancuran bagi kekuasaan Raja Bastian Lamont.


Sementara Bastian Lamont betul-betul mempercayai akan ramalan tersebut. Makanya, di samping dia mengerahkan pasukannya untuk membunuh ketiga gadis itu, juga mengerahkan pasukan bayangannya yang tidak lain adalah Gerombolan Pedang Tengkorak.


Ketiga peramal itu terus saja berbincang dengan Selir Heliana di kediamannya. Sementara itu waktu terus bergulir tanpa henti. Tanpa terasa waktu sudah menginjak sore haro.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2