
Siang itu langit tampak mencekam. Awan tebal nan kelam membungkus seluruh permukaan langit. Sehingga sang Raja Siang tak punya kuasa memamerkan kegarangannya.
Pijaran cahaya-cahaya kilat memang sedikit menerangi alam yang kelam. Namun makin menambah suasana menjadi mencekam.
Masih ditambah lagi dengan salakan-salakan petir yang amat menggelegar seolah hendak meruntuhkan langit. Semakin membuat keadaan alam bertambah horor.
Namun keadaan alam yang kurang bersahabat itu tidak membuat pergerakan 50.000 lebih pasukan istana terganggu. Mereka terus saja bergerak tanpa henti melintasi jalur dataran berumput.
Tidak jauh lagi di depan mereka 2 tebing terjal yang saling berhadapan, mengapit sebuah jalan yang cukup luas yang di kiri kanannya tumbuh pepohonan yang tidak terlalu rapat.
Sepertinya pasukan istana memang melintasi jalur jalan yang menuju ke arah tebing. Karena tidak ada lagi jalur untuk pasukan sebanyak itu selain jalur itu.
Sementara itu ternyata Dhafin dan puluhan ksatria elit tengah mengintai pasukan istana di atas tebing sebelah kanan. Bersamanya pula timnya sewaktu bertugas menjalankan misi di Kerajaan Amerta.
Dan sekarang, di mana pun Dhafin berada ada 2 ksatria cantik yang menjadi pelayannya. Seorang dari ksatria Amerta bernama Kavita, dan seorang dari ksatria Lengkara bernama Ayyura.
Seperti saat ini kedua gadis cantik itu selalu berada tak jauh di belakang Dhafin. Mereka akan selalu siap siaga melayani apapun keperluan Dhafin.
Sedangkan di tebing sebelah kiri Brian bersama timnya beserta puluhan ksatria elit juga tengah mengintai pergerakan pasukan istana yang semakin dekat.
Sementara pasukan yang lain telah bersiaga di tempat persembunyian mereka masing-masing yang sudah diatur. Tapi yang jelas mereka berada di bawah tebing.
Tidak lama kemudian, pasukan istana paling depan sudah mulai melintasi jalan antara 2 tebing. Tampak para jawara istana dan para perwira istana melayangkan pandangan mereka ke sekelilingnya, memindai keadaan sekitar.
Termasuk mereka mengamati keadaan sekitar tebing dengan cermat di atas kuda mereka masing-masing. Kewaspadaan yang tinggi tentu selalu menyertai mereka.
Akan tetapi begitu pasukan istana sudah berada di pertengahan antara kedua bawah tebing, maka terjadilah apa yang sudah direncanakan oleh pasukan Dhafin.
Seketika saja selaksa petir berukuran kecil-kecil muncul di atas kepala pasukan paling depan. Dan tanpa banyak tanya petir-petir itu langsung melesat turun menghantam pasukan itu dari atas mereka tanpa ampun.
Lantas saja ledakan-ledakan cukup keras segera terdengar di tengah jeritan-jeritan kematian pasukan paling depan yang tidak sepat menghindari serangan mendadak itu. Bahkan mereka tidak sempat menikmati kekagetan.
Sementara pasukan yang lain seketika menghentikan pergerakan. Bersamaan dengan itu mereka langsung terperangah bercampur merasa ngeri.
Namun belum juga pasukan istana menikmati kekagetan dengan lama, muncul lagi serangan dadakan yang mengerikan dari atas mereka. Serangan itu berupa seribu jarum kristal warna bening. Kali ini sasarannya adalah pasukan paling belakang.
Begitu cepatnya jarum-jarum itu melesat turun, pasukan paling belakang tanpa sempat menyadari dan tanpa sanggup menghindari. Maka tanpa ampun jarum-jarum itu menghantam mereka dari atas.
Pasukan infanteri yang terkena serangan itu cuma sempat menjerit kecil. Setelah itu mereka terdiam karena seluruh tubuh mereka sudah menjadi beku bagai es batu.
Belum lama berselang, seketika dari dalam tanah di depan pasukan bagian depan muncul seribu kelopak bunga sakura warna hitam.
Lalu tanpa pake permisi ribuan kelopak bunga yang sudah kaku bagai kepingan logam itu langsung melesat dengan cepat dan menghantam pasukan bagian depan.
Sehingga tidak butuh waktu lama kembali terdengar jeritan-jeritan kematian yang menyayat hati.
Hampir bersamaan meluncur dengan amat cepat dari atas tebing benda-benda bulat bagai gundu bercahaya kuning berhawa panas. Dan tanpa basa-basi ribuan benda-benda bulat mengerikan itu menghantam pasukan kavaleri.
Serangan tiba-tiba masih belum usai!
Dari atas tebing yang sama melesat turun dengan tidak kalah cepatnya seribu belati kecil-kecil. Dan juga tanpa basa-basi langsung menghantam pasukan kavaleri juga.
Tenang dulu, serangan mengerikan masih belum usai!
Dari atas tebing yang lain seketika melesat turun dengan amat cepat ribuan kelopak bunga dari dua arah. Yang satu kelopak bunga yang sudah membentuk kepingan logam warna hitam. Sedangkan yang lain kepingan kelopak bunga berwarna kuning bercahaya.
__ADS_1
Serangan-serangan yang mengerikan itu memang datangnya begitu tiba-tiba. Ditambah lagi lesatannya amat cepat. Membuat pasukan terdepan berupa para jawara istana dan pasukan kavaleri hanya sempat terkejut, tapi tidak sempat menghindari.
Sehingga jadilah mereka menjadi sasaran empuk serangan-serangan mengerikan tersebut.
Sementara pasukan yang masih hidup tidak usah dibilang lagi. Barisan mereka langsung kocar-kacir. Mereka langsung lari serabutan tak tentu arah karena panik.
Maka terjadilah tabrak-tabrakan sebagian di antara mereka. Bahkan yang terjatuh tidak sempat bangun lagi akibat terinjak oleh kawannya sendiri.
★☆★☆
Ternyata serangan tiba-tiba masih belum usai.
Laksana luncuran bola-bola meteor panas, tidak lama berselang meluncur puluhan serangan jarak jauh berupa lontaran tenaga sakti berbentuk bulat bercahaya panas.
Bola-bola cahaya beraneka warna itu melesat turun dengan amat cepat. Dan tanpa ampun menghantam pasukan istana yang masih didera kepanikan itu.
Tidak butuh waktu lama seketika terdengar ledakan beruntun yang amat keras, membuat bumi berguncang hebat, membuat langit seakan mau runtuh, membuat gendang telinga dan jantung langsung pecah.
Sehingga membuat ribuan pasukan istana yang terkena serangan-serangan mengerikan itu langsung terlontar ke udara bagai kapas tertiup angin. Tentu disertai dengan jeritan-jeritan kematian.
Bukan main akibat yang dihasilkan dari kedua jenis serangan mengerikan itu. Kurang lebih separuh pasukan istana telah binasa. Mayat-mayat mereka berserakan tak tentu arah di atas tanah bagai sampah tak berguna.
Yang paling banyak pasukan yang binasa duluan adalah jawara istana dan pasukan kavaleri. Bahkan hampir semuanya binasa. Bahkan Komandan Perang-nya ikut binasa duluan sebelum dia mencicipi pertempuran secara langsung.
Sedangkan pasukan yang masih hidup terus saja berlari serabutan dengan panik. Mereka sudah tidak mengingat ke mana arah mereka berlari. Yang terpenting berlari menyelamatkan diri. Sehingga terlihat mereka berlari ke segala arah.
Namun belum juga begitu jauh pasukan istana melarikan diri, seketika terdengar seruan-seruan menggelegar bernada perintah dari beberapa tempat.
"Seraaang....!"
"Seraaang....!"
"Seraaang....!"
Begitu cepatnya lesatan tubuh masing-masing mereka. Tahu-tahu pedang-pedang mereka sudah membantai pasukan istana yang panik itu.
Sementara dari atas kedua tebing langsung berkelebat turun dengan amat cepat sekitar 100 lebih ksatria elit. Lalu terakhir Dhafin meluncur turun sambil saling berpegangan tangan dengan kedua pelayan cantiknya.
Sebelumnya Dhafin sudah menerangkan kepada kedua gadis itu apa yang harus dilakukan, baik saat sementara meluncur turun maupun saat telah sampai di bawah.
Baru saja mencapai pertengahan tebing para ksatria itu meluncur turun, seketika tubuh-tubuh mereka langsung menghilang. Namun tahu-tahu mereka muncul di tengah-tengah pasukan yang sudah kalang kabut itu.
Lalu tanpa malu-malu mereka langsung mengayunkan pedang yang sudah tergenggam di tangan masing-masing membantai pasukan istana.
Sehingga tidak butuh waktu lama pertempuran antar kedua kubu itu segera tercipta. Di tengah suasana alam yang begitu kelam mencekam.
Namun tidak lama kemudian, langit yang sudah berselubung mendung kelabu langsung menumpahkan air matanya yang begitu deras.
Hujan lebat sebesar butiran jagung itu langsung menguyur semua pasukan yang tengah bertempur itu. Sehingga jadilah mereka berperang di tengah derai hujan yang begitu lebat.
Namun seiring derai hujan yang turun dengan antusias itu, bersamaan dengan itu pula tumbangnya tubuh-tubuh bersimbah darah dari pasukan istana yang sebagian besarnya pasukan infanteri dan pasukan pemanah.
Pasukan istana tampak dihantam dari dua bagian oleh pasukan Dhafin. Bagian luar pasukan istana dihantam oleh pasukan yang mengepung membentuk lingkaran. Sedangkan bagian tengah-tengah pasukan istana dilibas oleh Dhafin dan 100 lebih ksatria elit.
Benar-benar formasi atau strategi perang semacam ini membuat pasukan istana yang sudah dihinggapi oleh kepanikan tidak berdaya. Sehingga yang ada mereka berperang nyaris kehilangan konsentrasi, nyaris kehilangan keberanian.
__ADS_1
Maka dengan mudah mereka terbantai tanpa memberi perlawanan berarti. Dengan mudah nyawa mereka melayang di ujung pedang tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sehingga pertempuran cuma berlangsung selama 2 penanakan nasi, pasukan Kerajaan Lengkara sudah terbantai semua tanpa ada satu pun yang masih hidup.
Sementara hujan deras masih terus tertumpah dari langit seakan enggan berhenti. Membuat keadaan di sekitar pertempuran sudah digenangi oleh air; air hujan yang bercampur dengan darah segar.
Sungguh, pemandangan di tempat itu begitu mengerikan sekaligus memiriskan. Bayangkan saja sekitar 50.000 lebih pasukan istana telah tergeletak jadi mayat. Mayat-mayat mereka berserakan di segala arah dan saling tumpang tindih.
Sementara darah-darah mereka masih terus mengalir dan langsung bercampur dengan air hujan.
★☆★☆
Sehabis melakukan pertempuran dengan pasukan Kerajaan Lengkara, Dhafin dan pasukannya kembali ke ujung selatan Kerajaan Amerta.
Ternyata pasukan dari kelompok oposisi Kerajaan Lengkara memutuskan untuk mengikuti Dhafin, dan bersedia membantu dalam perebutan Kerajaan Amerta.
Adapun Pangeran Gerald dan pasukannya jelas akan mengikuti ke mana saja Dhafin, sang junjungan pergi.
Setelah mengumpulkan orang-orang berkompeten yang ada di dalam pasukannya, dan membicarakan masalah basis pertahanan mereka untuk sementara, maka diputuskan Kota Hayden adalah tempat yang dipilih.
Kota Hayden terletak di wilayah selatan Kerajaan Amerta. Bisa dikatakan di ujung wilayah selatan. Kota itu sudah ditaklukan oleh Dhafin dan pasukannya beberapa hari yang lalu.
Begitu mereka periksa kota itu, ternyata masih kosong. Maksudnya belum ada Pejabat Kota, belum ada Prajurit Keamanan Kota, apalagi prajurit militer atau pasukan istana.
Jadi, dengan mudahnya mereka menduduki kota itu tanpa harus berperang. Sedangkan penduduk Kota Hayden, awalnya terkejut takut begitu menyaksikan kedatangan mereka.
Namun begitu mengetahui kalau pasukan yang datang itu adalah pasukan yang telah menaklukkan kota tersebut, mereka langsung menyambutnya dengan sukacita.
Kemudian, setelah permasalahan dengan penduduk kota dengan mudah selesai, maka Dhafin dan orang-orang pentingnya mulai membicarakan langkah-langkah yang akan dilakukan selanjutnya.
Tugas pertama mereka adalah memindahkan pasukan Ketua Anthoniel dan pasukan Carolus ke Kota Hayden. Dan itu berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Kedua ketua itu yang memang sudah bersepakat dalam menjalin kerja sama dengan Brian dan Dhafin, tentu tidaklah susah meminta hal itu kepada mereka.
Bahkan bukan pasukan saja yang dipindahkan ke Kota Hayden, melainkan dengan markasnya sekalian dipindahkan.
Tentu pekerjaan itu Dhafin dan Keenan yang menanganinya dengan dibantu oleh beberapa orang ksatria dari Kerajaan Lengkara yang mengerti ilmu sihir.
Dan satu hal yang perlu diketahui, karena Ketua Carolus dan Ketua Anthoniel sudah mengetahui kalau Brian adalah calon raja mereka, maka mereka menyerahkan kepemimpinan pasukan mereka kepada Brian.
Sedangkan Brian, tetap menerima penyerahan semacam itu, dengan catatan bahwa pemimpin tertinggi atas seluruh pasukan masih berada di pundak Dhafin.
Setelah dijelaskan kenapa bisa demikian, kedua lelaki tua itu dapat menerima dengan sepenuh hati. Dan langsung memberikan pengtaziman mereka kepada Dhafin.
Sementara Dhafin mau tidak mau harus menerimanya, karena dia sudah bersumpah akan menjadi penguasa bagi mereka semua.
Setelah itu mereka menaklukkan Kota Denver yang cukup berdekatan dengan Kota Hayden.
Tentunya dengan jumlah dan kehebatan pasukan Dhafin yang sekarang, dia dan pasukannya tidak terlalu sulit menaklukkan kota kecil itu.
Setelah itu mereka beristirahat dulu barang beberapa hari. Namun pemantauan terhadap wilayah pinggir Kerajaan Amerta tetap berjalan. Juga tetap memantau keadaan kotaraja.
Dhafin sudah menduduki Kota Hayden dan menaklukkan Kota Denver. Pastinya ada reaksi kemarahan dari Putri Rayna dan Raja Adrian.
★☆★☆★
__ADS_1