Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 120 AKHIRNYA AKU MENEMUKANMU TABIB KECIL


__ADS_3

Jenderal Jessica Aliesha, Komandan 2 Penyelidik Rahasia datang ke Istana Centauri pada saat Dhafin sudah tidak ada di sana 2 hari sebelumnya. Sebagaimana biasa dia bersama 2 sahabatnya, Daniela dan Freya.


Jadi dia tidak bertemu dengan pemuda idaman hatinya itu ketika dia datang ke istana.


Maksud mereka datang ke istana untuk melaporkan hasil penyelidikan mereka terhadap kotaraja Kerajaan Bentala sebagaimana rutinitas kerja mereka.


Namun Yang Mulia Ratu tidak ada di istana. Diberitahukan kepada Jessica kalau Yang Mulia Ratu sedang membantu Dhafin untuk menyelamatkan Raja Darian yang dikurung dalam penjara bawah tanah.


Jessica tidak terlalu memikirkan ke mana Yang Mulia Ratu pergi dan bersama siapa. Yang dia pikirkan adalah melaporkan hasil penyelidikannya dengan segera.


Maka dia serta kedua bawahan sekaligus sahabatnya disuruh menghadap pada Putri Kayshila. Diberitahukan kalau Putri Kayshila adalah pengganti sementara Yang Mulia Ratu.


Baru beberapa hari Jessica tidak kembali ke istana. Ternyata banyak hal yang terjadi di Istana Centauri selama itu. Dia baru tahu kalau ada pengganti sementara Yang Mulia Ratu selama Yang Mulia Ratu meninggalkan istana.


Dan ternyata pengganti sementara itu termasuk keturunan Raja Neshfal Abraham. Lebih tepatnya putri dari Pangeran Ghazam Aldari dan Selir Khandra Fidelya.


Diberitahukan juga padanya tentang beberapa hal lainnya. Termasuk peristiwa penyembuhan Putri Faniza Elvira yang terkena Racun Candu Kala. Dan yang menyembuhkan adalah Dhafin.


Yang Mulia Ratu telah pergi bersama Dhafin. Dan yang menyembuhkan Putri Faniza adalah Dhafin juga. Itu artinya orang tersebut pernah datang ke istana ini.


Mengetahui kalau Dhafin telah melakukan beberapa hal yang luar biasa, bahkan saat ini tengah bersama Yang Mulia Ratu, membuat Jessica terusik untuk memikirkan pemuda yang katanya amat tampan itu.


Bahkan katanya wajahnya mirip dengan Pangeran Revan. Poin ini yang membuat pikiran Jessica makin terusik. Nalurinya sebagai seorang penyelidik ingin mengetahui sosok yang bernama Dhafin itu.


Syahdan, melaporlah Jessica bersama Daniela dan Freya kepada Putri Kayshila tentang hasil penyelidikannya.


Begitu bertemu dengan sang putri, Jessica langsung terpukau akan kecantikan Putri Kayshila yang laksana bidadari.


Dia amat membanggakan akan kecantikan dirinya. Namun begitu melihat kecantikan Putri Kayshila, dia merasa kecantikannya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kecantikan Putri Kayshila.


Cocoknya kecantikan Putri Kayshila disandingkan dengan kecantikan Yang Mulia Ratu. Sampai dia bingung mana yang lebih cantik di antara mereka berdua.


Sekali lagi dia terpukau akan pribadi Putri Kayshila. Meski seorang putri istana, tapi Putri Kayshila tidak mau terlalu dihormati secara berlebihan. Bahkan Jessica cepat akrab dengan putri cantik yang berhati baik itu.


Dua hari Jessica berada di Istana Centauri. Selama itu dia memanfaatkan untuk lebih mengenal Putri Kayshila. Di samping itu juga dia berbagi pengalaman tentang dirinya kepada gadis cantik itu.


Di sela-sela kebersamaannya dengan Putri Kayshila, iseng-iseng dia bertanya tentang Dhafin. Dan Putri Kayshila menerangkan secara ringkas tentang Dhafin.


Setelah selesai menerangkan riwayat Dhafin yang tidak teeperinci, Kayshila bertanya kepada Jessica bernada menyelidik.


"Kenapa kamu ingin mengetahui tentang pemuda itu?"


"Ah, bukan apa-apa, Tuan Putri," kata Jessica seolah berkilah, "saya hanya penasaran saja ingin mengetahui tentang dirinya."


"Apakah kamu ingin bertemu dengan pemuda itu?"


Jessica hanya tersenyum dan Putri Kayshila tahu kalau Jessica sebenarnya ingin bertemu dengan Dhafin.


Tak lupa juga Jessica berkenalan dengan rombongan Permaisuri Chalinda. Terutama berkenalan dengan Putri Faniza yang pendiam tapi cerdas.

__ADS_1


★☆★☆


Sudah beberapa hari lamanya Jessica lalui, tapi belum juga bertemu dengan pemuda yang bernama Dhafin.


Setelah dia ke Kampung Naraya dan bertemu dengan Pangeran Revan melaporkan hasil penyelidikannya, dia pergi lagi bersama kedua sahabatnya melaksanakan tugas ke suatu wilayah Kerajaan Bentala.


Ketika beberapa waktu di Kampung Naraya, dia mendapat kabar kalau Dhafin pernah datang ke kampung ini.


Dia sebenarnya ingin bertanya kepada Pangeran Revan ke mana tepatnya Dhafin pergi bersama Yang Mulia Ratu. Karena Putri Kayshila tidak memberitahu secara jelas ke mana mereka pergi.


Namun kalau dia berani bertanya begitu kepada Pangeran Revan, takutnya pangeran tampan itu curiga ada hal apa dia ingin mengetahui ke mana Dhafin pergi.


Takutnya Pangeran Revan curiga kalau sebenarnya dia ingin bertemu dengan pemuda yang membuatnya penasaran itu. Kalau sampai hal itu terjadi, jelas dia merasa tidak enak kepada Pangeran Revan.


Semakin dia bertemu dengan pemuda berwajah dingin bercampur duka itu, semakin membuatnya merasa kasihan kepada pangeran itu.


Lama kelamaan Pangeran Revan makin menunjukkan rasa suka terhadap dirinya. Sementara dia sendiri belum juga memberikan jawaban pasti kepada sang pangeran.


Karena dia masih terobsesi dengan tabib kecil yang pernah dia temui waktu masih kecil dahulu. Dan hingga saat ini dia belum juga mengetahui di mana rimbanya.


Setelah 3 hari dia dan kedua temannya melakukan tugas penyelidikan di sebuah wilayah Kerajaan Bentala, dia kembali lagi ke Kampung Naraya. Terus melaporkan hasil penyelidikannya kepada Pangeran Revan.


Setelah itu dia bertanya kepada Kelvin yang sedang bersenda gurau bersama Abiela ke mana Dhafin pergi. Karena Jessica tahu Kelvin ikut pula pergi bersama Dhafin waktu itu.


"Apa kamu tidak bisa melihat waktu yang tepat untuk bertanya, Jessica?" omel Kelvin mendengus kesal. "Orang lagi pacaran kamu ganggu!"


"Maaf, kalau aku mengganggu obrolan kalian," kata Jessica penuh kesopanan.


"Kenapa kamu malah membelanya yang jelas-jelas bersalah?" kata Kelvin dongkol tanpa menggubris ucapan maaf Jessica. "Malah kamu seolah menyalahkan aku."


"Sudah! Kamu dia saja!" kata Abiela sambil pelototkan sepasang mata indahnya.


Lalu dia menoleh pada Jessica sambil memasang wajah santai tapi ramah, terus berkata.


"Maaf, Nona Jessica, Pangeran Sinting ini tidak langsung menjawab pertanyaanmu. Aku harap kamu maklum akan sifat sintingnya."


Dibilang begitu oleh Abiela Kelvin cuma bisa bersungut-sungut. Tapi tidak berani bersuara.


"Aku yang seharusnya minta maaf telah mengganggu kalian," kata Jessica. "Mungkin memang bukan waktu yang tepat aku bertanya."


"Ah, tidak apa-apa. Pangeran Pusat sedang pergi ke Kota Arthia bersama Kak Gibson."


"Pangeran Pusat?!" tanya Jessica keheranan mendengar Abiela menyebut nama itu. "Siapa itu Pangeran Pusat?"


"Ya, Kak Dhafin itu Pangeran Pusat," sahut Abiela. "Aku dengar teman-temannya memanggilnya begitu."


"O...," Jessica cuma bisa membulatkan bibirnya, tapi masih bingung Dhafin dijuluki Pangeran Pusat.


"Ada apa kamu mencari Pangeran Pusat, Nona Jessica?" tanya Abiela menyelidik.

__ADS_1


"Ah, tidak ada apa-apa," kilah Jessica seraya tersenyum, "aku hanya penasaran saja dia bisa menyembuhkan racun."


"Oh, iya, terima kasih informasinya," katanya cepat-cepat agar Abiela tidak bertanya macam-macam lagi.


Setelah itu meminta diri kepada pasangan aneh itu. Lalu segera pergi meninggalkan mereka. Sementara mereka, setelah Jessica pergi kembali melanjutkan obrolan.


★☆★☆


Saat itu juga Jessica meninggalkan Kampung Naraya menuju ke Kota Arthia seorang diri. Tanpa di temani oleh Daniela dan Freya. Karena dia pergi bukan dalam rangka tugas.


Setelah melakukan pencarian beberapa lama, akhirnya dia bertemu Gibson dan seorang pemuda di suatu pagi sekitar pukul 8 lewat. Saat itu Gibson dan pemuda itu sedang berada di sebuah kedai terbuka di ujung Kota Arthia.


Jessica tidak langsung menemui Gibson dan pemuda yang tak lain adalah Dhafin. Sejenak dia mengamati keduanya dari kejauhan.


Diyakinkan dulu penglihatannya kalau yang dilihat itu benar-benar Gibson. Setelah itu dia beralih menatap pemuda yang duduk di seberang meja Gibson.


Begitu telah beberapa saat dia mengamati raut wajah Dhafin, seketika dia terkejut begitu mengingat seseorang. Hampir saja dia memekik tertahan kalau tidak cepat dia membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


Lalu buru-buru dia mengeluarkan sebuah kertas terlipat rapi dari balik bajunya. Kemudian lipatan kertas agak tebal itu dibuka dengan cepat. Setelah lipatan kertas itu terbuka, dia mengamati cukup lama lukisan di dalam kertas itu.


Di situ terlukis 2 orang lelaki. Yang 1 berupa lukisan seorang bocah 10 tahunan. Sedangkan yang satunya seorang pemuda yang amat tampan. Wajah keduanya amat mirip.


Sebenarnya 2 lelaki dalam lukisan itu adalah orang yang sama. Satunya lukisan seseorang ketika dia masih kecil. Sedangkan yang satu lukisan seseorang ketika sudah dewasa.


Lukisan itu merupakan hasil imajinasi Jessica yang ada dalam pikirannya, kemudian dia tuangkan imajinasinya itu dalam lukisan seperti yang tertera dalam kertas di tangannya itu.


Jessica memang terbilang pandai melukis. Itulah kenapa dia bisa ditunjuk sebagai Komandan Penyelidik Rahasia.


Sudah beberapa kali Jessica bolak-balik memandang wajah Dhafin dengan lukisannya itu, dan hasilnya tetap sama. Dhafin adalah seorang pemuda dewasa yang ada di lukisan itu. Sedangkan pemuda dewasa itu adalah Dhafin.


Sedangkan bocah kecil itu adalah Dhafin ketika masih berumur 10 tahun.


Semenjak dia terpisah dengan tabib kecil alias Dhafin kecil, Jessica tidak pernah lupa akan wajah Dhafin kecil.


Karena dia pintar melukis, maka dia bisa melukis wajah Dhafin kecil seakan-akan dia melihatnya secara langsung. Karena pikirannya hampir tiap saat mengingat akan Tabib Kecil itu.


Suatu ketika saat dia berusia 17 tahun Jessica mulai membayangkan sosok wajah Dhafin ketika sudah berusia dewasa. Dia mengimajinasikan wajah Dhafin dewasa bukan sehari 2 hari, tapi berbulan-bulan.


Setelah itu imajinasinya dia tuangkan dalam lukisan. Dan tidak sekali jadi juga dia melukis Dhafin dewasa terus sesuai dengan imajinasinya.


Butuh beberapa kali baru dia berhasil melukis wajah Dhafin dewasa sehingga sesuai dengan imajinasinya. Dan terus dua patutkan dengan wajah Dhafin kecil.


Dan dia tidak menyangka kalau hasilnya begitu sempurna. Lukisan yang ada di tangannya ini begitu mirip dengan wajah Dhafin seperti yang dia lihat sekarang ini.


Senyum bahagia bercampur haru terkembang di bibir legitnya. Hatinya begitu senang sekali melihat orang yang selama ini dirindukan siang malang, akhirnya....


"Akhirnya aku menemukanmu, Tabib Kecil...."


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2