
Dengan melalui portal Gerbang Cahaya, Dhafin bersama 3.000 lebih pasukannya dengan mudah dan cepat sampai di Kampung Tolucan.
Perlu diketahui bahwa letak kampung itu berada di dataran tinggi di balik Bukit Tolucan.
Begitu mereka sampai di sana, kampung tempat Putri Atahlia dibesarkan itu sudah rata dengan tanah. Maksudnya tempat itu sudah menjadi pelataran yang amat luas.
Tidak tepat lagi kalau disebut kampung karena tidak ada lagi bangunan yang berdiri di dataran tinggi tersebut. Sedangkan penduduk atau pasukannya tidak ada satu pun yang berada di situ.
Apa yang terjadi di tempat itu sebelumnya? Ke mana kampung itu?
Ke mana penduduknya? Apakah pasukan yang berjumlah 30.000 personil lebih itu sudah diluluh lantahkan oleh pasukan Lengkara?
Tapi kenapa tidak ada mayat-mayat mereka berserakan di tempat ini? Bahkan bekas-bekas pertempuran pun tidak ada, sama sekali. Bahkan Kampung Tolucan pun seperti lenyap ditelan bumi.
Berbagai macam pikiran mampir di benak Dhafin maupun rekan-rekan kepercayaannya. Berbagai macam dugaan terlontar. Namun mereka belum juga bisa memastikan apa sebenarnya yang terjadi.
Tapi mereka bersepakat akan satu hal bahwa Kampung Tolucan bisa hilang akibat dari kekuatan ghaib atau sihir yang menghilangkannya.
Siapa yang menghilangkannya masih belum ada kepastian.
Maka tanpa banyak pikir Brian segera menyuruh beberapa orang ksatria elit untuk memeriksa keadaan sekitar. Hal itu tentu atas instruksi Dhafin.
Namun sudah sekian lama mereka menyisir di sekitar tempat itu, tidak juga mendapatkan adanya keterangan yang jelas mengenai hilangnya ribuan pasukan itu.
Maka tidak lama kemudian mereka segera meninggalkan tempat itu dengan menuruni bukit itu. Mereka menempuh dengan perjalan biasa, meski tetap menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Maksud mereka berbuat demikian agar di tengah perjalanan siapa tahu bertemu dengan sesuatu atau seseorang yang bisa memberi keterangan.
Dan benar saja. Ketika serombongan pasukan kecil itu hampir sampai di kaki bukit, mereka bertemu dengan sekitar 600 lebih ksatria atau jawara elit dari pasukan Kampung Tolucan.
Pasukan kecil itu dipimpin oleh adik laki-laki Putri Athalia yang bernama Pangeran Gerald.
Awalnya, ketika mereka saling bertemu, sempat terjadi ketegangan antara kedua kubu itu. Namun ketika Pangeran Gerald dan sebagian pasukannya melihat Dhafin, dia langsung menghentikan pasukannya yang bersiaga menyerang.
Begitu juga dengan Dhafin, ketika melihat pasukan kecil itu ternyata Pangeran Gerald dan para ksatria Kampung Tolucan, segera menghentikan pasukannya yang juga sudah bersiaga tempur.
Tidak lama kemudiaan, ketegangan yang sempat terjadi segera sirna dengan cepat. Lalu Pangeran Gerald bersama pasukannya langsung berlutut memberikan pengtakziman kepada Dhafin.
Sementara pasukan yang ikut bersama Dhafin, melihat pengtakziman Pangeran Gerald dan pasukannya yang begitu tinggi kepada Dhafin, makin membuat mereka merasa kagum dan makin menaruh rasa takzim yang tinggi pula.
Mereka tidak menyangka kalau Dhafin ternyata sudah banyak dikenal oleh orang-orang hebat semisal Pangeran Gerald dan pasukannya.
Setelah itu Dhafin segera memperkenalkan Pangeran Gerald beserta pasukannya kepada rekan-rekan yang ikut bersamanya. Dan Dhafin juga memperkenalkan pasukannya kepada Pangeran Gerald.
Terkhusus Dhafin memperkenalkan Pangeran Aziel kepada mereka bahwa Pangeran Aziel adalah Pangeran Agung, pewaris asli Kerajaan Lengkara. Dengan kata lain Pangeran Aziel adalah calon raja mereka.
Setelah itu Dhafin memerintahkan kepada mereka untuk memberi penghormatan kepada calon raja mereka itu.
Mendengar ucapan Dhafin itu, tanpa ragu Pangeran Gerald dan pasukannya langsung percaya. Karena mereka memang menaruh kepercayaan penuh terhadap Dhafin dan kepemimpinannya terhadap mereka.
Maka serta merta Pangeran Gerald dan pasukannya segera berlutut menghanturkan penghormatan kepada pangeran Aziel.
Tentu saja awalnya Aziel seperti tak terima penghormatan itu. Lebih tepatnya tidak pantas menerima. Terus menerangkan kalau Dhafin adalah pemimpin tertinggi saat ini. Dialah yang lebih pantas dihormati layaknya seorang pemimpin.
__ADS_1
Tapi Dhafin menerangkan lagi bahwa sebagian besar penduduk atau pasukan yang ada di Kampung Tolucan berasal dari Kerajaan Lengkara. Aziel pantas mendapat penghormatan dari mereka selaku rakyatnya.
Adapun Dhafin adalah pemimpin secara umum. Lebih tepatnya termasuk penguasa yang juga mengepalai Kerajaan Lengkara.
Setelah diterangkan oleh Dhafin cukup panjang lebar, akhirnya Aziel dapat menerimanya. Dengan catatan, Aziel menerima dijadikan sebagai pemimpin mereka, tapi kepemimpinannya berada di bawah kepemimpinan Pangeran Ghavin alias Dhafin.
Semua orang memahami maksud Aziel tersebut, termasuk Dhafin. Dan dia setuju saja pernyataan Aziel itu. Sedangkan Pangeran Gerald dan pasukannya juga sepakat.
Dengan begitu selesai permasalahan pengukuhan Pangeran Aziel sebagai pemimpin rakyat Kampung Tolucan.
★☆★☆
Kemudian Dhafin langsung menanyakan kepada Pangeran Gerald, kenapa Kampung Tolucan menghilang begitu saja? Ke mana dibawa pergi?
Dengan masih bersikap hormat Pangeran Gerald menjelaskan bahwa Kampung Tolucan dipindahkan ke Istana Centauri 2 hari yang lalu.
Mendengar penjelasan itu, Dhafin dan 9 rekannya langsung memahami maksudnya. Tentu kampung itu dipindahkan oleh para ahli sihir Istana Centauri.
Lalu Pangeran Gerald melanjutkan penjelasannya bahwa sebab kampung itu dipindahkan untuk menghindari bentrok dengan pasukan Kerajaan Lengkara yang akan menyerang ke kampung itu. Karena pihak kerajaan ternyata sudah mengetahui letak markas itu.
"Lalu, di mana pasukan kerajaan itu sekarang?" tanya Dhafin ingin tahu. "Apakah sudah pulang karena tidak menemui target operasi mereka?"
"Belum, Yang Mulia," sahut Pangeran Gerald bernada dan bersikap takzim. "Kami memperkirakan, kalau mereka akan ke mari, 1-2 hari lagi perjalanan berkuda mereka akan sampai di kaki Bukit Tolucan."
Sebenarnya Dhafin sedikit curiga tentang perkataan Pangeran Gerald 'kalau mereka akan ke mari'. Tapi dia tidak ingin mempertanyakannya.
"Berapa jumlah kekuatan mereka?" tanya Dhafin lagi.
"Sekitar 50.000 lebih personil, Yang Mulia," sahut Pangeran Gerald lagi. "Sudah termasuk para jawara istana yang jumlahnya sekitar ribuan."
Dalam hati dia memuji pergerakan Pangeran Gerald dan pasukannya yang cepat dalam menghadapi masalah ini.
"Selain kamu dan pasukanmu, apa masih ada pasukan lain dari Kampung Tolucan?" tanya Dhafin.
"Tidak ada lagi, Yang Mulia," sahut Pangeran Gerald. "Semua sudah dibawa ke Istana Centauri. Cuma kami yang tinggal berjaga-jaga di tempat ini."
"Hanya saja...."
"Hanya saja apa, Pangeran?" tanya Dhafin cepat.
Lalu Pangeran Gerald menerangkan bahwa di sebuah tempat ada sekelompok pasukan yang jumlahnya sekitar ribuan personil tengah berkonsentrasi.
Kemudian Pangeran Gerald menerangkan lokasi tempat itu cukup rinci, di mana tempat itu sekitar setengah hari lagi perjalanan berkuda dari Bukit Tolucan.
Pangeran Gerald juga menambahkan bahwa bisa jadi pasukan istana akan melewati tempat sekelompok pasukan itu, atau bahkan akan menyerang mereka.
Akhirnya Dhafin paham apa maksud ucapan Pangeran Gerald yang sempat mengganggu pikirannya tadi.
Rupanya pasukan istana seperti punya 2 target. Kalau bukan ke Kampung Tolucan, mereka akan menyerang ke tempat sekelompok pasukan itu.
Dhafin berkeinginan untuk pergi ke tempat itu. Lalu dia menyampaikan keinginannya itu kepada pasukannya.
Tentu saja mereka menyambutnya dengan senang hati.
__ADS_1
Maka tidak lama kemudian, Dhafin dan pasukannya meninggalkan lereng Bukit Tolucan itu menuju tempat sekelompok pasukan yang dikatakan Pangeran Gerald.
Tentu mereka ke sana melalui portal Gerbang Cahaya....
★☆★☆
Tempat yang dituju ternyata adalah sebuah dataran di tengah hutan cukup lebat. Sekitar 2 mil dari situ terdapat dua tebing yang cukup tinggi. Kedua tebing itu mengapit jalan yang membentang cukup lebar.
Seperti biasanya jika kedua kubu belum saling kenal sebelumnya. Pastinya sempat terjadi ketegangan di antara mereka.
Namun hal itu tidak lama setelah Dhafin memperkenalkan dirinya sebagai Pangeran Ghavin Aldebaran. Ditambah lagi dia memperlihatkan Kalung Tanda-nya bahwa dia memang benar-benar Pangeran Agung.
Ternyata pasukan yang berjumlah ribuan itu mengenal siapa adanya Pangeran Ghavin. Pangeran tersebut adalah penguasa 3 kerajaan. Hal itu sebagaimana diberitahu oleh pendeta dan peramal kepada mereka.
Maka serta merta pasukan yang sepertinya sekelompok para ksatria itu segera berkutut memberi penghormatan sebagaimana layaknya menghormati penguasa tertinggi.
Sedangkan Dhafin tidak bisa tidak harus menerima penghormatan tersebut.
Setelah itu Dhafin memperkenalkan para ksatria yang ada bersamanya. Terkhusus memperkenalkan Pangeran Aziel sebagai calon Raja Kerajaan Lengkara.
Dan pasukan tangguh itu lagi-lagi percaya begitu saja, dan langsung memberi penghormatan kepada Aziel sebagaimana dilakuan Pangeran Gerald dan pasukannya waktu di lereng Bukit Tolucan.
Sedangkan Pangeran Aziel pun menyatakan sebagaimana pernyataannya sewaktu di lereng Bukit Tolucan tadi.
Setelah itu Dhafin menanyakan jumlah pasukan itu.
Maka dijawab oleh seorang lelaki agak tua, salah seorang tetua pasukan. Dia menerangkan bahwa jumlah pasukan mereka sekitar 7.000-an lebih personil.
Sebenarnya mereka bukan bermarkas di tempat ini katanya lagi. Mereka berada di tempat ini dengan tujuan untuk mencegat pasukan istana yang seperti menuju ke suatu tempat.
Mereka menduga kalau pasukan istana itu akan menuju ke Kerajaan Bentala dengan maksud untuk menyerang.
Sementara semua kelompok oposisi yang ada di Kerajaan Lengkara sudah menjalin kerja sama dengan Raja Revan, Raja Kerajaan Bentala. Maka mereka berkewajiban mencegah pasukan istana tersebut.
Sedangkan Dhafin dan 9 rekannya, mendengar keterangan itu, mereka merasa, senang. Rupanya Raja Revan melakukan tugasnya sebagai raja dengan baik.
Ada satu hal yang perlu diketahui tentang kenapa semua pasukan itu tidak mempertanyakan tentang Dhafin tidak menjadi raja di Kerajaan Bentala. Malah yang menjadi raja adalah Raja Revan, adik tiri Dhafin.
Perlu diketahui bahwa semua pasukan itu sudah menganggap Dhafin sebagai penguasa sejati dari 3 buah kerajaan; Kerajaan Bentala, Kerajaan Amerta, dan Kerajaan Lengkara. Jadi, mereka tidak perlu bertanya-tanya lagi tentang hal tersebut.
Setelah mendengarkan beberapa keterangan dan informasi penting tentang pasukan kerajaan itu, maka Dhafin memberitahukan kepada pasukannya kalau dia berkeinginan menyerang pasukan istana dengan jumlah pasukan yang ada sekarang.
Ajakan Dhafin itu tentu saja langsung disambut dengan sukacita oleh mereka yang memang doyan perang.
Mereka adalah para ksatria tangguh yang mempunyai keberanian yang tinggi. Sudah tidak diragukan lagi akan kehebatan mereka.
Dan Dhafin amat optimis dapat menghadapi pasukan Kerajaan Lengkara bersama mereka.
Maka tidak perlu menunggu lama, Dhafin besama pasukannya langsung merundingkan tentang bagaimana siasat dan strategi mereka dalam melawan pasukan istana.
Perlu diketahui bahwa secara jumlah mereka kalah. Maka dari itu mereka harus meramu siasat perang yang jitu dan menjalankan strategi tempur yang tepat.
Jika mereka asal-asalan dalam mengatur siasat dan strategi dalam berperang, meskipun mereka hebat, besar kemungkinan mereka akan dilibas oleh pasukan istana.
__ADS_1
★☆★☆★