
Di luar rumah Chafik, tepatnya di atas atap tampak seorang leleki dewasa berpakaian ala kependekaran dengan baju luar warna jingga. Dia bersenjata pedang yang tercantel di sabuk sebelah kirinya.
Lelaki itu tampak berbaring tertelungkup dengan telinga kiri rapat dengan atap rumah. Dia tampaknya lagi asyik menguping pembicaraan lima bocah sakti di ruang depan rumah Chafik.
Entah sejak kapan lelaki misterius itu nangkring di atas atap rumah Chafik. Yang jelas dia sudah menyadap pembicaraan penting lima bocah sakti itu.
Belum lama telinganya selesai mendengar pembicaraan terakhir, tiba-tiba dia merasakan ada yang berputar-putar di sekitar tubuhnya.
Belum sempat menyadari apa yang terjadi, seketika dia merasakan sekujur tubuhnya berikut pedangnya seperti ada ular besar yang melilit dengan kuat. Terang saja sakitnya bukan main.
"Aaa...!"
Seketika saja dia menjerit keras antara kesakitan dan rasa ngeri. Dan jeritan inilah yang didengar oleh empat bocah sakti serta Chafik.
"Jaga orang itu di belakang rumah, lalu bawa masuk!" terdengar Dhafin berkata bernada memerintah.
Chafik langsung keluar yang dikuti oleh Aziel dan Kelvin tanpa ada yang menyuruh melalui pintu belakang.
Sementara lelaki yang masih di atas atap masih menjerit kesakitan. Karena sekujur tubuhnya terasa remuk dan tulang-tulangnya terasa mau patah-patah.
Tampak tubuh lelaki itu terputar. Tadinya posisi tubuhnya membujur kini melintang. Dan tak lama, Dhafin melepas kekuatan ghaibnya. Kemudian lelaki itu jatuh terguling.
Begitu tubuhnya sampai ke tanah, terdengar bunyi gedebuk. Hampir berbarengan dengan suara jeritan kesakitannya.
Dan tanpa menunggu lama, Aziel dan Kelvin langsung menyeret lelaki yang sudah tak berdaya itu masuk ke dalam melalui pintu belakang. Menyusul Chafik masuk lalu mengunci pintu tersebut.
Begitu sampai di ruang depan, Aziel dan Kelvin melempar begitu saja lelaki asing itu bagai sampah tak berguna di tengah ruangan. Lalu kembali duduk di tempatnya tadi. Begitu juga dengan Chafik.
Tak lama kemudian, tampak lelaki yang belum mereka kenal itu terkapar di tengah ruangan dalam keadaan tak berdaya. Hanya dadanya saja yang kelihatan turun naik.
"Kita apakan orang ini?" tanya Kelvin sambil tak lepas memperhatikan lelaki tak dikenal itu.
"Mengorek keterangan darinya," sahut Brian. "Sepertinya orang ini bukan orang sembarangan."
"Tunggu dulu!" cegah Keenan. "Aku akan akan menyegel dulu tempat ini, biar pekerjaan lancar."
"Benar," kata Dhafin mendukung. "Takutnya temannya datang mengacau."
Setelah semuanya sepakat, Keenan memulai ritualnya untuk menyegel rumah Chafik.
Dengan agak cepat Keenan merentangkan kedua tangannya ke samping dengan telapak tangan terbuka dan ditekuk ke atas. Kemudian kedua telapak tangannya disatukan di depan dadanya. Tampak mulutnya bergerak-gerak merapalkan mantra dengan mata terpejam.
Selang beberapa saat kemudian, kedua telapak tangannya seketika terbungkus sinar merah bening. Kemudian telapak tangan yang masih menyatu itu perlahan-lahan diangkat hingga ke atas kepalanya.
Tak lama kemudian, seketika sinar yang membungkus kedua tangannya itu melesat naik ke atas dengan cepat hingga menembus atap wuwungan.
Begitu sinar merah bening itu mencapai ketinggian empat hasta dari puncak atap, sinar itu pecah bermekaran ke segala arah hingga melingkupi seluruh bangunan rumah Chafik sampai ke bawah.
Setelah sinar merah bening itu sempurna membungkus rumah Chafik, sinar itu kemudian hilang. Bersamaan Keenan mengakhiri ritual penyegelan.
Perlahan diturunkan tangannya yang masih menyatu di depan dada. Lalu dibuka perlahan-lahan. Kemudian sinar merah bening yang tadi membungkus kedua tangannya, kini telah lenyap.
★☆★☆
Sementara Chafik terus memperhatikan ritual penyegelan yang dilakukan Keenan dari pertama sampai akhir. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain hanya menatap heran bercampur takjub.
Begitu Keenan selesai menyegel rumah Chafik, Dhafin menormalkan dulu kondisi lelaki yang kira-kira berumur 30 tahun itu dengan meminumkan obat pil.
Selang beberapa saat kondisi lelaki itu sudah pulih. Tampak dia hendak bangun untuk melakukan suatu tindakan, hendak menyerang atau semisalnya.
Tapi Keenan lebih cepat mengerahkan ilmu sihirnya. Sehingga belum juga orang itu bergerak bangkit, kedua kaki, kedua tangan serta lehernya terikat ke lantai dengan sinar biru berbentuk tali.
Tali sihir pada kedua kakinya masing-masing berjumlah 3; pada pergelangan kaki, bawah lutut serta paha. Tangan juga ada 3; pangkal telapak tangan, sikut serta lengan atas. Sedangkan pada leher cuma satu.
Dengan jumlah tali sihir yang begitu banyak mengikat kaki, tangan serta lehernya, tentu saja membuat lelaki itu tidak leluasa untuk bergerak. Dia hanya bisa menggerakkan badan dan mulutnya yang kini berteriak marah.
"Apa yang kalian lakukan hah? Apa tidak takut kalau aku bisa membunuh kalian semua?!"
__ADS_1
Mendengar ancaman lelaki itu, Chafik langsung terkejut ngeri. Tapi akalnya segera bekerja. Kalau orang itu terikat mana bisa dia membunuh? Hatinya kembali tenang.
Kelvin si bocah tempramen langsung berdiri dan menghampiri lelaki itu dengan cepat. Wajah tampannya menegang menahan kemarahan dan kejengkelan.
Begitu sampai Kelvin lantas menjejakkan kaki kanannya ke lambung si lelaki dengan kuat. Membuat orang itu mengerang kesakitan. Meski kaki Kelvin kecil, tapi sudah bisa membuat isi perutnya seperti diremas kuat-kuat.
Tindakan Kelvin belum berhenti. Segera direndahkan tubuhnya menjongkok dengan kaki kanan masih di atas lambung lelaki itu. Lalu menampar dengan kuat bertenaga dalam tinggi wajah lelaki itu dengan kedua tangannya.
Plaaak! Plaaak! Plaaak! Plaaak!
"Keeepaaaraaattt...!"
Empat kali berturut-turut wajah lelaki itu tertampar dua tangan sedikit mungil tapi dengan keras dan kuat. Membuat perasaannya bercampur aduk. Sehingga mulutnya yang berdarah berteriak memaki dengan keras di tengah rasa sakitnya.
"Apa yang bisa kamu lakukan sekarang hah?" bentak Kelvin dengan berang sambil menatap garang lelaki itu.
"Sudah, Kelvin! Kembali ke tempatmu!" perintah Brian bagai sebuah titah.
Kelvin menuruti dengan patuh meski wajahnya masih berang. Sebelum beranjak, Kelvin memberikan persenan sekali lagi dengan menjejak kuat dada orang itu dengan kaki kanan. Membuat orang itu kembali memaki panjang pendek di tengah rasa sakitnya.
"Lepaskan aku!" teriak lelaki itu menggeram marah. "Kalau tidak aku akan membunuh kalian!"
"Buat dia berkata jujur!" pinta Brian kepada Dhafin atau Keenan. "Kita akan mengorek keterangan tentang siapa dia dan apa maksudnya mengintai kita!"
"Kalian pikir semudah itu aku menuruti perintah kalian...."
Orang itu terus saja mengoceh panjang pendek yang membuat Kelvin hampir saja hendak membungkam mulut orang itu kalau tidak ditahan oleh Aziel.
Sementara Keenan dan Dhafin saling pandang sejenak. Lalu Dhafin mengangguk seolah mempersilahkan Keenan saja yang membuat orang itu agar bicara jujur. Dan Keenan menyetujui dengan langsung menghampiri orang itu.
★☆★☆
Begitu sampai Keenan duduk berjongkok di samping kanan lelaki itu. Lalu menotok urat suaranya agar tidak berisik. Kemudian duduk bersila sejajar bahu lelaki itu.
Lalu mengangsurkan telapak tangan kanannya ke atas wajah lelaki tersebut, lalu merapal mantra. Tak lama telapak tangannya terbungkus sinar putih bercampur biru.
Bersamaan dengan itu sinar yang membungkus wajah si lelaki lenyap begitu saja. Namun terjadi perubahan pada wajahnya.
Tadi wajahnya tampak garang dan bengis. Sekarang tampak kaku dan datar bagai tanpa ekspresi. Sepasang matanya juga tampak redup dan terus menatap kaku ke depannya, maksudnya ke atas. Karena dia berbaring.
Jelas lelaki itu sudah terpengaruh ilmu sihir Keenan. Apa pun yang akan diperintahkan padanya, dia akan patuh tanpa membantah. Sampai pun kalau disuruh bunuh diri, dia akan melaksanakan dengan patuh.
Setelah membuka totokan urat suara lelaki itu, Keenan kembali ke tempat duduknya. Lalu berkata.
"Pengintai itu siap ditanya, Pangeran."
Sejenak Brian menatap keadaan lelaki itu. Dia teringat akan keadaan Pejabat Keegen dan tiga temannya, persis dengan keadaan lelaki itu.
Sedangkan Chafik masih diselimuti keheranan campur kebingungan tentang kejadian-kejadian aneh yang terjadi di rumahnya hari ini.
Mulai dari tertangkapnya lelaki itu dengan cara aneh menurutnya. Rumahnya masih tersegel oleh kekuatan ghaib.
Dan kini Keenan mengerahkan kekuatan ghaibnya lagi, sehingga membuat orang itu diapakan apa saja tidak akan membantah.
"Terangkan siapa dirimu?" tanya Brian memulai bertanya.
"Saya bernama Lais, salah seorang anggota Pasukan Rahasia Kerajaan Lengkara," sahut lelaki yang ternyata bernama Lais dengan lancar bernada datar dan kaku.
Kalau kelima bocah sakti terkejut tidak menyangka orang itu ternyata anggota pasukan militer Kerajaan Lengkara. Sedangkan Chafik terkejut takjub, tidak menyangka sebegitu hebatnya pengaruh sihir Keenan tersebut.
"Siapa yang memberitahu kamu kalau kami berada disini?" tanya Brian.
"Sebenarnya saya dan teman saya telah mengikuti kalian dari pusat kotaraja," sahut Prajurit Lais tanpa ragu.
"Lalu setelah itu?" tanya Brian lagi.
"Setelah memastikan kalian sudah masuk rumah, teman saya kembali ke kotaraja untuk melapor kepada atasan kami bahwa kalian berada disini. Sedangkan saya tetap disini mengintai kalian."
__ADS_1
"Siapa atasan kalian?" tanya Brian.
"Jenderal Rainer, Pejabat Rahasia Istana Kerajaan Lengkara," sahut Prajurit Lais.
"Berarti yang menyuruh kalian memata-matai kami adalah Jenderal Rainer, begitu?" kali ini yang bertanya Kelvin.
"Benar."
"Apa Jenderal Rainer akan datang kemari?" kembali Brian yang bertanya.
"Benar. Jenderal Rainer akan datang kemari bersama 9 orang Pasukan Rahasia untuk menangkap kalian, lalu dibawa ke Kerajaan Lengkara untuk diserahkan kepada Yang Mulia Bastian Lamont."
Kelima bocah sakti itu seketika terkejut mendengar keterangan Prajurit Lais barusan. Rupanya Jenderal Rainer ingin segera menangkap mereka untuk dibawa ke hadapan rajanya, tidak perduli siang atau malam.
"Kapan Jenderal Rainer akan tiba disini?" tanya Dhafin tiba-tiba memecah kebisuan.
"Mungkin sebentar lagi. Atau mungkin sudah ada di sekitar sini," sahut Prajurit Lais tanpa pikir panjang.
Kelima bocah sakti hanya saling pandang satu sama lain. Namun Chafik mulai ketakutan dan panik. Sorot matanya serta wajah lugunya sudah memendarkan kengerian. Rasa penakutnya sudah membayangkan yang tidak-tidak.
★☆★☆
"Pa-pangeran, apa mereka akan membunuhku juga?" suara Chafik sudah bergetar ketakutan. Wajahnya sudah pucat.
"Kamu tenang saja, Chafik," kata Brian menenangkan. "Tidak akan terjadi apa-apa denganmu. Jangan takut!"
"Tapi, Pangeran," Chafik sudah mulai mengkeret ketakutan, "pasukan Kerajaan Lengkara akan kemari. Apakah kalian mampu menghadapinya. Mereka amat kejam...."
Belum juga terjadi apa-apa Chafik sudah gemetar ketakutan duluan. Bagaimana kalau sudah terjadi apa-apa?
Sebenarnya Chafik ini punya beladiri yang lumayan untuk anak seusianya. Tapi mendengar ada pasukan Kerajaan Lengkara hendak menggerebek rumahnya, tentu saja dia takut. Dia sedikit tahu tentang prajurit Kerajaan Lengkara yang kejam dan bengis.
Dalam bayangannya kelima bocah sakti itu jelas tidak mampu menghadapi Pasukan Rahasia kerajaan itu, meskipun mereka punya kesaktian. Sebab Pasukan Rahasia Kerajaan Lengkara terkenal akan kehenatannya.
Namun Brian tetap menenangkannya. Tapi sepertinya Chafik tidak bisa tenang. Dia sudah ketakutan duluan, ditenangkan pun tidak berarti.
Akhirnya Keenan menotok titik tidurnya. Barulah Chafik bisa ditenangkan karena dia sudah pingsan.
"Maaf, Pangeran," kata Keenan sambil memandang Brian. "Terpaksa aku menidurkan Chafik. Takutnya nanti dia akan merusuh kalau Jenderal Rainer dan Pasukan Rahasia sudah datang kesini."
Brian diam saja mendengar penjelasan Keenan. Dan yang lain juga tidak ada yang komentar. Sepertinya mereka setuju kalau Chafik yang penakut itu segera diamankan terlebih dahulu sebelum mengganggu tindakan mereka nanti dalam menghadapi prajurit Kerajaan Lengkara.
"Perlu pangeran ketahui," lanjut Keenan, "segel pelindungku ini membuat sesuatu yang disegelnya tidak terlihat dari luar segel. Tapi orang yang ada diluar dapat mendengar suara yang ada di dalam segel."
Barulah mereka tahu sebab Keenan membuat Chafik pingsan. Takutnya anak itu akan menjerit ketakutan kalau Pasukan Rahasia dan Jenderal Rainer sudah mengepung rumah ini. Tentu mereka akan mendengar jeritan Chafik nanti.
Meski tidak bisa melakukan apa-apa, tentu Jenderal Rainer dan 9 Pasukan Rahasia akan waspada kalau mendengar suara.
"Pangeran! Sudah tidak ada lagi yang mau ditanyai pada orang ini?" tanya Aziel.
"Sepertinya tidak ada lagi," sahut Brian bergumam.
Aziel segera menghampiri Prajurit Lais yang masih dalam pengaruh mantra ghaib. Begitu sampai tangan kanannya menarik pedang orang itu. Lalu tangan kiri membekap kuat-kuat mulu Prajurit Lais.
Setelah itu pedang di tangan kanannya menusuk dada kiri Prajurit Lais dengan kuat dan cepat. Saking kuatnya tenaga tusukan itu, unjung pedang sampai tembus ke jantung dan terus menembus ke belakang punggung.
Tiga bocah cuma terkejut sesaat melihat tindakan mengerikan Aziel barusan. Setelah itu mereka tampak biasa lagi.
Sedangkan Dhafin terkejut lumayan lama melihat kejadian itu. Baru kali ini dia melihat pembunuhan di depan matanya. Apa lagi dilakukan oleh orang yang masih tergolong anak kecil.
Hatinya memang menghendaki kalau prajurit itu dibinasakan saja, karena tujuannya datang kesini berniat jahat ingin menangkap mereka.
Namun ternyata Aziel amat tega menjadi pelaku pembinasaan. Sepertinya anak muda dingin itu sudah terbiasa membunuh dan menyaksikan pembunuhan.
Namun Dhafin tetap dia saja. Cuma bisa menyaksikan orang itu berkelejotan meregang nyawa tanpa bisa menjerit karena mulut dibekap kuat-kuat oleh Aziel.
Dan akhirnya prajurit itu diam selamanya. Tanpa ada protes dari keempat bocah sakti yang memang menghendaki kematian prajurit itu.
__ADS_1
★☆★☆★