Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 178 PERTEMUAN KELUARGA Part. 4


__ADS_3

Emrick Daim alias Penyair Putih terus saja meratap memelas meminta agar Gibson mengampuninya. Kata-kata yang dia lontarkan dari mulut kotornya begitu tersusun.


Ekspresi yang dia tampakkan dan intonasi suara yang dia perdengarkan begitu mengesankan. Sehingga sebagian hadirin yang menyaksikannya bisa saja terpengaruh.


Namun sepertinya Gibson sama sekali tidak terpengaruh. Emrick Daim baginya tidak lebih hanyalah seonggok sampak yang tiada artinya. Jadi, apapun yang diusahakan lelaki itu untuk mempengaruhinya, dia sama sekali tidak goyah.


"Teruslah meratap akan dosamu, wahai durjana.... Tapi hukuman mati atasmu tidak akan gugur hanya lantaran ratapan busukmu....


Sepertinya langit menyesal melahirkanmu, karena hidupmu hanyalah terisi dengan kenistaan, dan kamu berakhir dengan kematian yang hina....


Teruslah meratap, teruslah memelas, wahai durjana.... Karena setelah hari ini kamu tidak bisa lagi merayu dunia yang gampang kamu jejali dengan bualan dusta...."


Gibson berhenti sejenak seakan mengambil napas yang tiba-tiba saja menyesaki dadanya. Menetralkan suasana perasaannya yang hampir dikuasai duka.


Sedangkan Emrick Daim tidak lagi meratap memelas, seolah terpengaruh akan kata-katanya yang puitis itu.


Sementara para hadirin hanya bisa terdiam mendengar untaian kalimat Gibson yang mengandung duka. Jelas mereka sudah terpengaruh akan suasana haru itu.


Grania juga lebih memilih diam, bersama air matanya pula yang berhenti mengalir. Dia sudah bisa meresapi kesedihan dan duka yang mendalam yang dirasakan oleh Gibson, kakaknya....


Kaluna pun juga lebih memilih diam. Air matanya pula tidak mengalir lagi seolah telah tandas. Tapi hatinya masih menangis penuh kesedihan akan nasib kakaknya yang malang.


Kemudian hadirin kembali mendengar untaian kalimat Gibson yang tergubah melalui syairnya yang pilu....


"Karena setelah hari ini kamu tidak bisa lagi merayu wanita lugu itu.... Yang dengan keluguannya bisa terpedaya oleh rayuan cinta durjanamu....


Kamu berhasil mereguk bunga sucinya, setelah itu kamu campakkan dengan tanpa dosa.... Sehingga melahirkan malapetaka.... Sehingga... lahirlah anak yang hina ini...."


Mendengar ucapan Gibson barusan, Nyonya Brianna yang tadinya cuma meneteskan air mata, kini benar-benar menangis. Dia amat memahami ucapan Gibson itu.


"Wanita lugu itu..., pernahkah kamu memikirkan betapa kamu menghancurkan hidupnya...? Dengan kelemahannya dia dipaksa berbuat kejam, membuang anak hina ini tanpa memikirkan hidup matinya...."


Selir Grizelle, mendengar untaian kalimat itu, dalam hatinya membenarkan. Ya, Nyonya Brianna memang wanita yang lugu lagi lemah.


Karena kelemahan adiknya itu, dia seakan harus tega membuang Gibson.


Kalaulah waktu itu Nyonya Brianna memiliki hati yang tegar, Gibson tidak akan diterlantarkan. Dia akan menerima segala resiko demi menghidupi anak yang tidak bersalah itu.


"Sedangkan anak hina ini..., hasil dari cinta durjanamu..., pernahkah kamu memikirkan betapa kamu telah menyengsarakan hidupnya...?


Kamu tahu, dia pernah merangkaki dunia dengan derita..., hanya untuk hidup....


Tidak puas kamu melakukan kedurjanaan itu, kamu mengkhianati negaramu, tempat kamu dilahirkan.... Apakah itu niatmu sejak awal?


Asal kamu tahu, aku di sini menghukummu bukan karena dendam. Karena dendamku padamu sudah lama terkubur. Aku di sini menghukummu atas titah junjunganku karena telah berkhianat terhadap negaramu...."


Sampai sejauh ini semua yang ada di situ masih saja terdiam. Pandangan mata mereka terus tertuju pada Gibson.


Sementara beberapa wanita; Ratu Aurellia, Selir Grizelle, Nyonya Carissa, Putri Kayshila serta Putri Raisha tidak bisa menahan air mata dikarenakan merasakan sedih yang mendalam.


"Aku sudah memenuhi janjiku, Penyair Putih.... Aku sudah mempertemukanmu dengan wanita malang yang kamu khianati.... Aku sudah membawamu di hadapan junjunganmu yang kamu juga telah mengkhianatinya....

__ADS_1


Sekarang bersiaplah untuk menerima hukumanmu...."


"Putraku, kasihanilah aku...," masih juga Emrick memelas di tengah derai tangis palsunya. "Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dosaku.... Aku telah menyesal...."


"Ratapilah penyesalanmu di dalam neraka!"


Telapak tangan kanan Gibson yang ngambang sejengkal di atas kepala Emrick yang sudah berisi tenaga sakti yang yang dahsyat, seketika turun dengan cepat kuat, keras. Sehingga....


★☆★☆


Plaaak!


Begitu kuat dan kerasnya hantaman telapak tangan kanan Gibson, membuat kepalanya langsung retak parah. Darah segar langsung keluar dari sela-sela keretakan kepalanya, mulutnya, hidungnya, telinganya.


Selang beberapa helaan napas kemudian, sekujur tubuhnya seketika langsung berubah menjadi merah dan membeku.


Begitu Gibson menekan lagi telapak tangannya sedikit, sekujur tubuh berikut kepala Emrick Daim langsung hancur berkeping keping. Dan ketika kepingan-kepingan itu jatuh ke lantai langsung lebur menjadi debu warna merah.


Sungguh kematian yang mengerikan. Dan semua orang dapat menyaksikannya dengan mata kepala mereka.


Meski rata-rata para hadirin adalah orang-orang yang mengerti ilmu beladiri dan kesaktian, melihat kematian Emrick yang mengerikan itu, mereka agak bergidik pula.


Bagaimana lagi yang dirasakan Selir Grizelle, Nyonya Carissa maupun Nyonya Brianna?


Tapi kematian Emrick sedikit membuat perasaan Nyonya Brianna lega. Tinggal permasalahan Gibson yang sepertinya belum mengakuinya sebagai ibunya.


"Ampun, Yang Mulia," kata Gibson seraya menyembah hormat. "Hamba sudah mempertemukan Penyair Putih alias Emrick Daim kepada Nyonya Brianna, juga menghadapkannya kepada Yang Mulia Raja, sepertinya tugas hamba sudah selesai. Perkenankan...."


"Tugasmu belum selesai, Anakku Gibson," kata Selir Heliana langsung memotong ucapan Gibson tapi dengan nada lembut.


"Ampun, Yang Mulia Selir, tugas apakah yang belum hamba selesaikan itu?"


"Masihkah kamu tidak mengakui kalau Brianna itu adalah ibumu?" tanya Selir Heliana seolah ingin memastikan lagi.


"Hamba tidak diharapkan terlahir ke dunia, Yang Mulia," kata Gibson seolah menyanggah, tapi masih dengan sikap hormat. "Bagaimana bisa hamba mengakuinya?"


Maksud ucapan tersirat Gibson adalah ibunya tidak mengharapkan kehadirannya ke dunia. Bagaimana dia harus mengakuinya sebagai ibu kalau begitu?


Baik Ratu Aurellia, Putri Kayshila maupun Ariesha tidak terlalu sering mendengar Gibson berbicara. Apalagi Nyonya Carissa yang lebih jarang lagi.


Tapi menyaksikan Gibson yang berbicara dengan kalimat-kalimat tersirat, mereka teringat akan Dhafin. Seakan 2 pemuda itu nyaris memiliki karakter yang sama.


Begitu juga dengan Raja Darian, Pendeta Noman, Jenderal Myles, Jenderal Lyman maupun Jenderal Felix sepertinya berpikir sama. Mendengar gaya bicara Gibson, mereka tentu mengingat Dhafin.


Sedangkan Selir Heliana maupun Pangeran Nelson yang lebih paham karakter muridnya itu juga berpikir sama. Apalagi Pangeran Revan yang lebih sering bersama kedua pemuda itu.


Malah dia merasa berbicara dengan Gibson sama halnya berbicara dengan Dhafin. Begitu juga sebaliknya.


Sementara Putri Raisha yang belum pernah berbicara langsung dengan Gibson, maupun Kaluna yang baru lagi bertemu dengan kakaknya setelah sudah dewasa, jelas belum memahami karakter kedua pemuda itu.


Selir Grizelle maupun Nyonya Brianna lebih-lebih lagi. Bahkan mereka baru lagi melihat dan mendengar Gibson berbicara.

__ADS_1


Namun mereka mengerti maksud ucapan tersirat Gibson barusan.


Sedangkan Grania sudah mengenal karakter Dhafin sejak kecil, mendengar gaya bahasa Gibson berbicara sama halnya dia mendengar Dhafin berbicara.


★☆★☆


"Tidak begitu, keponakanku," kali ini Selir Grizelle ikut berbicara seolah meluruskan anggapan Gibson. "Ibumu tentunya mengharapkan kelahiranmu...."


"Buktinya dia tetap mempertahankanmu agar kamu tetap hidup," lanjutnya. "Meskipun dia tidak bisa merawatmu, tapi dia menyerahkanmu kepada orang lain agar bisa merawatmu."


"Asal kamu tahu, ibumu amat terpaksa melakukan hal itu."


"Kalau begitu apa bedanya hamba dirawat orang lain dengan hamba digugurkan dalam kandungan, Yang Mulia?" malah Gibson bertanya.


Dan pertanyaannya itu sukses membuat sebagian hadirin keheranan, bingung serta tidak mengerti. Cuma segelintir orang yang memahami pertanyaan itu. Sedangkan Kaluna cuma sedikit memahami.


Sementara Nyonya Brianna hanya bisa diam saja seolah membiarkan putranya menumpahkan kekesalannya kepadanya.


"Apa maksudmu berbicara, Nak?" tanya Selir Heliana tidak mau menerka-nerka.


"Hamba yang waktu itu masih merah diserahkan kepada pasangan suami istri yang hidupnya pas-pasan, untuk mendapatkan makan sehari mereka harus bekerja keras."


"Itukah yang dikatakan mengharapkan sang bayi hidup, Yang Mulia?"


Kalau sudah Gibson berkata begitu siapakah yang dapat menyanggahnya? Sedangkan Nyonya Brianna makin diam tak bisa bicara. Seolah dia telah kehilangan kata-kata untuk membujuk putranya mengakuinya sebagai ibu.


"Bahkan tindakan Nyonya Brianna waktu itu telah menyengsarakan dua pihak sekaligus," lanjutnya, "sang bayi yang masih merah dan pasangan suami istri yang miskin, Yang Mulia...."


"Akan tetapi dengan kemuliaan yang mereka miliki dan sifat penuh kasih mereka, mereka merawat bayi itu meski di tengah kesusahan. Mereka tetap tegar menghadapi fitnahan orang-orang yang menuduh mereka sebagai penculik bayi...."


Sejenak Gibson berhenti seolah hendak melonggarkan perasaannya dulu sudah semakin pilu, sudah semakin berduka.


Kemudian dia kembali berbicara, sementara air matanya yang sedari tadi ditahannya kini sudah menetes.


"Demi untuk menyelamatkan bayi itu, mereka tersingkir dari kampung halaman mereka, pindah ke Kota Pendar yang bukan tempat aman bagi mereka. Tapi cuma kota itu yang bisa menerima mereka dan bayi mereka...."


"Mereka tetap tegar dan tetap merasa bahagia ketika anak kedua mereka lahir di tengah kesusahan hidup yang semakin menjerat leher...."


Sementara itu, suasana haru yang belum juga pergi dari ruangan itu, mendengar kisah memilukan Gibson itu, makin membuat suasana semakin haru.


"Hingga akhirnya mereka meninggal dalam rentan waktu yang tidak terlalu jauh.... Mereka meninggal dalam keadaan mulia karena merawat kami dengan bahagia, meski di tengah hidup yang sengsara...."


Sampai di sini Gibson sepertinya tidak sanggup lagi melanjutkan kisahnya. Hingga akhirnya dia berkata.


"Merekalah yang layak hamba akui sebagai orang tua...."


Saat Gibson selesai berbicara dan dia tidak berbicara lagi, maka tempat itu seketika disergap oleh kebisuan sekaligus kesunyian.


Akan tetapi, tidak lama kemudian, beberapa orang mencoba menasehatkan kepada Gibson agar bisa mengambil hikmah dari segala apa yang terjadi pada dirinya dan walau bagaimanapun harus pula mengakui Nyonya Brianna sebagai ibunya.


Meski Nyonya Brianna tidak membesarkannya secara sempurna, tapi dia terlahir dari wanita malang itu.

__ADS_1


Orang-orang yang menasehatkannya di antaranya Selir Heliana, Raja Darian, Jenderal Lyman, Selir Grizelle, dan Nyonya Carissa. Tak ketinggalan Pendeta Noman juga ikut menasehatkan.


★☆★☆★


__ADS_2