Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 190 JEBAKAN TIDAK BERHASIL, MALAH DIJEBAK


__ADS_3

Sementara itu, menerima laporan kalau semua pasukan penjaga gerbangnya telah dilumpuhkan dengan mudah, bukan main murkanya Bunda Suri.


Lebih murka lagi bahwa ternyata yang melumpuhkan pasukan penjaga cuma segelintir pasukan. Selir Heliana benar-benar meremehkannya.


"Hamba menduga bahwa pasukan yang melumpuhkan pasukan penjaga itu rata-rata para ksatria elit yang memiliki kesaktian, Yang Mulia," tutur Guru Grayson mengemukakan analisanya.


"Jadi wajar saja kalau pasukan penjaga yang cuma murid-murid tingkat menengah yang tidak punya kesaktian dapat dikalahkan dengan mudah," lanjutnya. "Meskipun mereka jumlahnya banyak."


"Apa yang dikemukakan Guru Grayson itu benar, Bunda," kata Raja Ghanim sependapat. "Tentu kita semua telah mendengar ledakan-ledakan dahsyat yang terjadi di 4 gerbang kotaraja. Ini menunjukkan kalau para penyerang itu menggunakan ilmu kesaktian dalam aksinya."


Bunda Suri Hellen tercenung sejenak memikirkan penuturan Guru Grayson yang didukung oleh Raja Ghanim.


Memang, menurut laporan yang dia terima Pasukan Istana Centauri selalu menggunakan ilmu kesaktian tiap pertama kali berperang sebelum melakukan perang normal. Di samping itu juga dia sudah menyaksikannya sendiri.


"Menurutku kita ikuti gaya mereka," kata Pejabat Choman memberi pendapat.


Semua orang yang ada di ruang pertemuan itu menatap orang tua cabul itu seakan meminta penjelasan dari pendapatnya itu. Meskipun sepertinya sebagian mereka sudah setengah tahu maksud dari ucapan orang tua itu.


"Kita masih memiliki segudang orang-orang sakti yang tidak kalah dengan para pemberontak busuk itu," kata Pejabat Choman mengerti arti tatapan orang-orang itu.


"Kalau mereka dalam beraksi selalu memajukan para ksatrianya lebih dulu," lanjutnya, "kita juga melakukan hal yang sama. Dengan begitu kita bisa meredam aksi mereka."


Para hadirin berbeda pendapat dalam menanggapi usulan Pejabat Choman yang sebenarnya cukup bagus itu.


Jika Bunda Suri setuju dengan usulan itu maka sudah bisa diperkirakan siapa-siapa para ksatrianya yang akan maju nantinya.


Namun beberapa orang lainnya berpendapat kalau usulan itu mengandung resiko atau bersifat untung rugi. Karena pihak Bunda Suri belum mengetahui secara pasti berapa jumlah kekuatan para pemberontak.


Lebih khusus lagi berapa jumlah para ksatrianya dan sampai di mana kehebatan masing-masing mereka, pihak Bunda Suri belum ada data yang akurat tentang hal itu.


Dua orang di antara mereka mengusulkan agar menjebak para ksatria itu dengan membiarkan berperang dengan pasukan rendahan. Lalu menggempur mereka dengan ribuan anak panah, meski mengorbankan pasukan rendahan itu.


Namun usulan ini masih juga ada bantahannya dari yang lainnya. Hingga para peserta rapat yang lain mengajukan pendapat mereka masing-masing.


Perlu diketahui bahwa peserta rapat selain dari pejabat militer dan Pejabat Choman, juga beberapa Guru Besar perguruan ikut dilibatkan, termasuk Guru Grayson.


★☆★☆


Malam telah pergi, kini pagi telah datang. Mentari yang masih bersinar lembut menaburkan cahayanya ke seantero kotaraja.


Maksud sang raja siang itu adalah untuk memberi semangat para penduduk kotaraja untuk beraktifitas.


Namun setelah menyaksikan apa yang terjadi semalam, tidak ada seorang pun penduduk kotaraja yang berkeliaran di luaran. Lebih tepatnya tidak ada yang berani. Baik itu beraktifitas seperti biasa apalagi cuma sekedar keluar.


Mereka sudah membayangkan suasana perang yang begitu mengerikan akan terjadi setelah beberapa hari ini mereka melihat pasukan kerajaan sibuk mempersiapkan diri untuk berperang.


Dari situ saja mereka sudah merasakan ketakutan. Hingga puncak ketakutan mereka setelah apa yang terjadi semalam. Sehingga tak ada satu pun dari para penduduk kotaraja yang berani keluar rumah apalagi batang hidung mereka.


Maka seluruh pelosok kotaraja tampak lengang, jalan-jalan dan lorong-lorong tampak sunyi. Layaknya kotaraja telah mati hari ini.


Tampak di atas tembok gerbang sebelah barat tengah berdiri gagah Pangeran Ghavin, Brian, Gibson, Aziel, Keenan, Kelvin, Zafer, dan Hendry. Sejenak mereka mengamati keadaan di dalam sekitar gerbang.


Sedangkan 5 orang penjaga gerbang masih berada di dalam gardu jaga tengah mengintai keadaan di sekitar gerbang sebelah barat ini.


Sementara di sekitar gerbang masih berserakan ribuan mayat pasukan penjaga, baik di luar gerbang lebih-lebih lagi di dalam gerbang.


Tak lama Dhafin melenting turun ke bawah dan diikuti para ksatria gagah yang bersamanya. Begitu sampai di bawah ringan bagai kapas saat sepasang kaki mereka menyentuh tanah.


Menandakan ilmu meringankan tubuh mereka sudah mencapai tingkat sempurna.


Lalu mereka terus berjalan melewati mayat-mayat yang bergelimpangan tak tentu arah. Tujuan mereka yaitu menuju pusat kotaraja guna mengamati keadaan pasukan Bunda Suri yang ada di sekeliling istana tentunya.


Karena sampai saat ini Bunda Suri Hellen belum mengeluarkan pasukannya yang ada di sekitar istananya.


Jadi misi Dhafin dan rekan-rekannya kali ini salah satunya adalah memancing pasukan nenek cantik itu agar keluar menyerang.

__ADS_1


Misi ini tentunya adalah misi yang amat berbahaya. Kalau mereka salah perhitungan dalam menentukan langkah, bisa-bisa mereka tertangkap, bahkan dibunuh.


Tampak mereka seperti melangkah biasa. Tapi tahu-tahu mereka sudah sampai di ujung pemukiman penduduk kotaraja. Saat sampai di situ Dhafin memerintahkan kepada rekan-rekannya agar waspada.


Dhafin dan rekan-rekannya terus saja berjalan menyusuri jalan sunyi yang cukup lebar yang di kiri kanannya berderet rumah-rumah penduduk yang tertutup rapat.


Semakin menyusuri lebih dalam jalan kotaraja itu, tingkat kewaspadaan mereka semakin tinggi. Dan masing-masing mereka sepertinya sudah menyadari kalau ada bahaya menanti di depan sana.


Begitu 8 pemuda tampan itu sudah berada di antara deretan rumah penduduk yang bertingkat, Pangeran Ghavin mengangkat tangannya sebagai isyarat agar mereka berhenti.


Seketika mereka semua berhenti. Namun belum lama sepasang kaki mereka berhenti, tiba-tiba Dhafin....


"Menghindar!"


Perintah itu tidak keras terdengar, bahkan seperti bergumam. Namun didengar jelas oleh semua rekannya. Maka tanpa menunggu lama ketujuh pemuda itu segera mengerahkan ilmu teleportasi dengan cepat. Kejap berikut mereka lenyap bagai ditelan waktu.


Sementara Dhafin melakukan gerakan kedua telapak tangan dengan cepat, lalu menyatukan di depan dadanya. Kejap berikut sinar bening warna biru berbentuk kapsul langsung memagarinya.


Di waktu yang bersamaan saat Dhafin memerintahkan semua rekannya menghindar, seketika muncul pasukan pemanah dari balik balkon pada 10 rumah penduduk yang ada di situ; 5 dari kanan dan 5 dari kiri.


Dan dengan gerakan cepat mereka membidik 8 pemuda yang ada di bawah sana.


Masing-masing rumah terdiri dari 10 pemanah. Jadi setidaknya ada 100 anak panah yang meluncur dengan ganas ke arah 8 pemuda itu.


Namun secepat anak panah meluncur, lebih cepat lagi 7 pemuda menghilang tanpa bekas. Sehingga 100 anak panah itu semuanya langsung menancap di kapsul bening yang melindungi Dhafin.


★☆★☆


Begitu semua anak panah itu menancap di kapsul bening pelindung, Dhafin kembali memainkan kedua telapak tangannya dengan gerakan tertentu. Maka semua anak panah itu terlilit semacam sengatan-sengatan listrik warna biru putih yang keluar dari kapsul bening itu.


Selanjutnya apakah yang terjadi?


Semua pasukan pemanah yang berjumlah 100 itu seketika terdiam bagai patung hidup. Tidak ada gerakan yang mereka timbulkan selain gerakan terakhir mereka saat melakukan pemanahan.


Tentu saja fenomena semacam ini amat mengejutkan bagi siapa yang sempat melihat. Termasuk 3 orang lelaki paruh baya yang tengah mengintai di atas atas rumah penduduk cukup jauh dari tempat di mana Dhafin berada.


Tentu saja mereka terkejut bukan main. Saking kagetnya sampai-sampai mata mereka membelalak bagai hendak copot dari kelopaknya.


"Keparat!" maki salah seorang yang berbaju hitam menggeram.


Dia hendak melesat turun ke bawah. Maksudnya hendak melakukan sesuatu terhadap Dhafin. Namun tangannya cepat dicekal oleh kawannya yang berbaju hijau pupus.


"Kamu mau ke mana?" tanya lelaki baju hijau bernada kesal.


"Aku mau menghantam pemuda itu dengan kesaktianku!" sahut lelaki baju hitam itu menggebu-gebu.


"Apa kamu tidak lihat kalau dia sedang melakukan sihir hah?!" dengus lelaki baju hijau itu menggeram. "Kesaktian tai kucingmu itu tidak mampu mengalahkan sihirnya!"


"Huh!"


Lelaki baju hitam hanya mendengus kesal saja. Tapi tidak jadi melaksanakan niatnya setelah mendapat peringatan pedas dari kawannya. Sedangkan lelaki baju merah yang juga ada di situ cuma diam saja sambil terus menatap Dhafin.


Belum lama lelaki baju hitam dan lelaki baju hijau selesai bertengkar kecil, tiba-tiba Dhafin menyentak kedua telapak tangannya ke samping atas. Maka kapsul bening itu langsung hancur berantakan tanpa menimbulkan bunyi.


Bersamaan dengan itu semua anak panah yang menancap di kapsul bening tadi seketika melesat ke 100 pemanah yang masih mematung.


Saking cepatnya lesatan 100 anak panah itu, membuat 3 lelaki itu nyaris tak melihat. Tahu-tahu mereka melihat anak panah itu masing-masing menancap di leher 100 pemanah hingga tembus ke tengkuk.


Kejap berikut semua pasukan pemanah langsung ambruk di lantai balkon dengan tanpa nyawa di raga.


Dan lagi-lagi ketiga lelaki itu hanya bisa terperangah kaget. Untuk sejenak mereka terdiam sambil masih menatap Dhafin yang kini berdiri seorang diri dengan tenang. Dan sepasang mata tajamnya menatap ke arah di mana mereka berada.


"Pemuda itu sudah mengetahui keberadaan kita," gumam lelaki baju merah sambil terus menatap Dhafin.


"Apa kalian tahu ke mana perginya 7 pemuda temannya?" tanya lelaki baju hijau seolah tidak menggubris gumaman lelaki baju merah.

__ADS_1


"Mereka menghilang bagai setan, siapa yang sempat melihat?" gerutu lelaki baju hitam.


"Aku rasa mereka tidak jauh di sekitar sini," kata lelaki baju merah menduga.


"Sebaiknya kita keluar menyapa pemuda itu!"


Setelah berkata demikian, lelaki baju hijau pupus itu mengibaskan tangannya ke depan. Isyarat tangan itu sebagai tanda agar pasukan elit yang bersembunyi di atas rumah penduduk yang ada di sekitar situ untuk keluar.


Setelah itu dia dan kedua kawannya meluncur turun ke bawah. Hampir bersamaan sekitar 300 pasukan elit juga ikut meluncur turun ke bawah.


★☆★☆


Belum lama pasukan elit itu menginjakkan kakinya ke tanah, Dhafin langsung lari mundur ke belakang. Seolah-olah dia takut menghadapi ratusan pasukan elit itu seorang diri.


"Hei, jangan lari, Pengecut!" bentak lelaki baju hitam.


Tanpa banyak pikir mereka semua ikut berlari mengejar Dhafin yang terus saja berlari semakin menjauh dari pemukiman.


Seberapapun ketiga lelaki itu menggenjot lari mereka, tetap juga tidak bisa mengejar Dhafin. Meskipun mereka sudah meninggalkan cukup jauh 300 anak buah mereka.


Begitu sudah dekat dengan gerbang kotaraja sebelah barat Dhafin baru berhenti berlari. Dan dia berhenti tepat di tengah-tengah mayat yang bergelimpangan.


Tidak lama kemudian, 3 lelaki pimpinan pasukan elit ikut berhenti. Begitu melihat ribuan mayat yang berserakan di sekitar gerbang barat ini mereka sedikit bergidik juga.


Kemudian, lelaki baju hitam dan lelaki baju hijau menatap penuh dendam terhadap Dhafin yang cuma berdiri tenang. Sedangkan lelaki baju merah memandang ke atas tembok gerbang.


Dia memang melihat 7 pemuda yang menghilang tadi ada di situ. Tapi bukan cuma mereka yang bertengger di atas tembok gerbang itu. Di situ ternyata sudah ada sekitar ratusan ksatria elit.


"Apakah kita dijebak?" tanyanya seperti berbicara sendiri.


Kedua temannya tidak menanggapi ucapan itu. Tapi mereka sudah mengerti apa maksudnya begitu melihat ratusan ksatria elit yang bertengger di atas tembok gerbang.


Dalam hati mereka sama-sama berpikir jelas mereka dijebak tanpa perlu menjawab pertanyaan lelaki baju merah.


Lelaki baju hitam tampak sedikit menoleh ke belakang. Ternyata 300 pasukan elit sudah bersiaga di belakang mereka sambil telapak tangan kanan sudah menggenggam gagang pedang masing-masing.


"Bagaimana rasanya jebakan kalian tidak berhasil, Tuan-tuan?" tanya Dhafin bernada kalem bersikap tenang. "Bahkan kalianlah masuk dalam jebakan kami?"


"Apa kamu sudah merasa menang dengan jebakan murahanmu ini, Anak Muda?" kata lelaki baju hijau berusaha bersikap berani dan tidak kalah gertak.


"Aku tidak merasa menang, tapi pasti menang," tandas Dhafin meski kalem tapi tegas.


"Jumawa!" sengit lelaki baju hitam.


"Aku bukan berkata sesumbar, Tuan. Aku hanya mengungkapkan kenyataan yang ada...."


"Benar 'kan, kalian tidak bisa lolos lagi setelah kena jebak oleh kami?"


"Hahaha..., omonganmu belum terbukti kamu sudah sesumbar setinggi langit!" kata lelaki baju hitam menggeram di tengah tawa amarahnya.


"Oh, baiklah kalau begitu, aku akan membuktikannya...."


Selesai Dhafin berucap begitu, semua ksatria elit yang ada di atas tembok gerbang segera melesat turun. Dan langsung bersiaga di belakang Dhafin.


Sedangkan Putri Athalia dan Putri Arcelia langsung mengambil posisi di kiri kanan Dhafin.


"Perlu kami yang menjemput nyawa kalian atau kalian yang mengantarkan nyawa?" kata Dhafin masih kalem tapi mengandung ejekan sekaligus ancaman.


"Sombong! Seraaang...!"


Karena sudah terpancing oleh ucapan Dhafin yang mengandung peremehan itu, tanpa memperdulikan jumlah pasukannya dengan berani atau nekad dia menyuruh anak buahnya menerangkan.


Dia pun juga bersama kedua temannya langsung melesat menyerang Dhafin dan dua gadis di sampingnya; dia melawan Dhafin, lelaki baju hitam melawan Putri Arcelia, sedangkan lelaki baju merah melawan Putri Athalia.


Sedangkan semua pasukannya melawan para ksatria elit.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2