
Zafer mengaku anak sepasang suami istri yang tinggal di sebuah kampung terpencil. Akan tetapi umurnya belum genap setahun ayah ibunya dibunuh oleh prajurit istana.
Hampir saja dia mati di ujung tombak prajurit istana kalau tidak cepat diselamatkan oleh wanita pengemis tua.
Kebetulan wanita pengemis itu mempunyai beladiri yang hebat, sehingga dia berhasil menghabisi semua prajurit istana itu sebelum pergi meninggalkan kampungnya bersamanya.
Maka dia dibesarkan oleh wanita pengemis itu hingga berumur 8 tahun. Karena setelah itu wanita pengemis itu meninggal karena sakit keras.
Kebetulan sebelum meninggal, Zafer sempat diajarkan dasar-dasar ilmu beladiri sejak usia 4 tahun.
Semenjak ditinggal mati oleh wanita pengemis dia hidup luntang-lantung seorang diri di jalanan. Melawan kerasnya dan kejamnya dunia, menahan hinaan cacian orang-orang.
Kalau saja dia tidak berbekal ilmu beladiri yang lumayan, mungkin sudah sejak lama dia mati.
Waktu itu dia beranggapan kalau dia memang anak terkutuk yang dilahirkan di dunia. Kedua orang tuanya mati terbunuh tanpa sempat merawat lama dirinya. Wanita pengemis yang dia sudah anggap sebagai ibu juga mati disebabkan merawat anak terkutuk sepertinya.
Langit ternyata memang benar-benar mengutuknya. Hampir dia tidak pernah jumpai orang-orang berlaku baik terhadapnya. Kalau bukan berbuat kasar terhadapnya, setidaknya menghina serta mencacinya.
Namun ternyata masih ada satu sosok orang yang berbuat baik kepadanya waktu dia masih kecil dulu. Yaitu seorang gadis kecil bangsawan terhormat di kotaraja.
Gadis kecil itu dengan rela dan senang hati mengajaknya bermain sehingga dia merasa terhibur di tengah kejamnya dunia dan buruknya perlakukan orang-orang terhadapnya.
Namun hal itu cuma bertahan setahun lebih.
Di usianya 13 tahun musibah menimpanya yang menyebabkan dia juga terpisah dengan gadis kecil teman terbaiknya itu.
Pangeran Marvin bersama 5 anak remaja waktu itu menangkapnya dan membawanya di hutan sunyi. Terus 5 anak itu memukulinya sampai babak belur hingga tangan kanan dan kaki kirinya patah. Terus Pangeran Marvin menyayat-nyayat wajahnya hingga rusak.
Lalu mereka meninggalkannya di tengah hutan sunyi itu dalam keadaan sekarat. Dan waktu itu dia beranggapan kalau dirinya bakalan mati.
Namun ternyata takdir menentukan lain. Pasukan Jubah Merah yang ternyata orang-orangnya Pangeran Nelson telah menyelamatkannya.
Membawanya ke Markas Centaurus, merawatnya hingga sembuh, mendidiknya hingga menjadi pendekar tangguh seperti sekarang.
Semua yang ada di ruangan itu terharu mendengar kisah perjalanan hidup Zafer. Selir Heliana, meski sudah pernah mendengarnya, masih juga dia bersedih saat mendengar kembali.
Jenderal Elaina maupun Putri Lavina sepasang mata indah mereka tampak berkaca-kaca. Sedangkan Selir Ashana hampir tak kuasa menahan tangis.
Sementara Dhafin tentu juga merasa terharu mendengar kisah perjalanan hidup Zafer dahulu. Dan dengan sebab itu pula dia kembali mengingat kisah perjalanan hidupnya.
★☆★☆
Setelah selesai menuturkan tentang perjalanan hidupnya, lalu Zafer menyembah hormat kepada Selir Heliana. Menghanturkan rasa terima kasih yang mendalam untuk yang kesekian kalinya.
Karena berkat pengobatan dari Selir Heliana wajahnya bisa sembuh seperti sediakala seperti tidak pernah luka sebelumnya.
Setelah Selir Heliana menuturkan sedikit nasehat dan wejangan kepada Zafer, giliran Selir Ashana bertanya apa nama kampung Zafer dahulu dan siapa nama orang tuanya.
Zafer cuma menjawab nama kampungnya. Tapi dia tidak tahu nama orang tuanya karena wanita pengemis tidak memberitahu. Dan belum sempat menanyakan sebelum orang tuanya meninggal.
Hanya saja wanita pengemis itu mengatakan bahwa sebelum meninggal orang tuanya sempat meninggalkan Kalung Tanda milik Zafer kepada wanita pengemis itu.
Dan masih sempat mengatakan kalau Kalung Tanda itu adalah pemberian orang tua Zafer yang asli buat Zafer. Sedangkan mengenai perihal kalung itu, Zafer baru diberitahu menjelang wanita pengemis meninggal.
Sementara Selir Ashana, ketika mendengar penuturan Zafer jantungnya semakin berdebar-debar kencang. Dia hampir mendekati yakin kalau Zafer adalah putranya.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban Zafer tersebut, lalu dia menyuruh Putri Lavina mengeluarkan Kalung Tanda miliknya.
"Apa kalungmu seperti kalung putriku ini?" tanya Selir Ashana agak tertekan karena menahan tangis.
Tidak butuh waktu lama bagi Zafer untuk membuatnya terkejut ketika melihat Kalung Tanda itu. Tentu saja kalung itu sama persis dengan kalungnya.
Dia tidak menjawab pertanyaan Selir Ashana. Tapi tanpa sadar dia keluarkan kalung dari emas murni berbandulkan permata warna ungu berbentuk oval sebesar jempol tangan dari balik baju dalamnya.
Sedangkan Putri Lavina, ketika melihat kalung Zafer tentu saja dia juga terkejut bukan main. Kenapa kalung mereka bisa sama persis? Apakah Zafer benar-benar kandanya yang hilang? Seketika jantungnya berdebar kencang.
"Maaf, Yang Mulia Selir," kata Zafer tidak tahan untuk bertanya bernada heran, "kenapa kalung hamba bisa sama persis dengan kalung Tuan Putri Lavina?"
Selir Ashana tidak lantas menjawab pertanyaan bernada heran itu. Dia malah berdiri dari kursinya, terus menghampiri Zafer yang menatapnya heran.
"Apakah kamu punya tanda lahir di punggung sebelah kirimu?" tanya Selir Ashana begitu sudah berada 3 langkah di depan Zafer.
Mendengar pertanyaan itu tentu saja membuat Zafer terlonjak kaget hingga berdiri dari kursinya. Dia memang punya tanda lahir di situ.
Terus Zafer langsung bertanya kenapa Selir Ashana tahu tanda lahir di punggung kirinya? Dan bertanya lagi kenapa kalungnya sama dengan kalung Putri Lavina?
Maka tanpa sungkan Selir Ashana menceritakan semuanya tanpa dia tutupi sedikit pun.
Tentu saja Zafer terkejut bukan main mendengar cerita Selir Ashana. Mimpi pun tidak pernah kalau dia ternyata putra Raja Ghanim dan Selir Ashana.
Dia masih terpaku diam seakan belum percaya apa yang dia dengar barusan, meskipun Selir Ashana berulang kali mengatakan dia adalah putra sang selir yang hilang.
Akhirnya Selir Heliana ikut meyakinkan Zafer kalau Selir Ashana adalah ibu kandungnya dan Raja Ghanim adalah ayah kandungnya.
Dan Dhafin juga ikut meyakinkan Zafer kalau Raja Ghanim dan Selir Ashana adalah orang tuanya yang asli.
Lalu tanpa menunggu waktu lama dia langsung berlutut di kaki Selir Ashana, terus mencium kedua kaki bundanya itu. Tentunya sambil menangis karena terharu.
"Maafkan putramu ini, Bunda," kata Zafer di sela isak tangisnya, "yang sudah sebesar ini tapi tidak pernah berbakti kepada Bunda, tidak pernah menyenangkan hati Bunda yang bersedih. Maafkan putramu yang tidak berguna ini, Bunda...."
Memang dasarnya Zafer ini berhati baik dan pengertian. Bukannya menyalahkan orang tua aslinya yang seakan-akan menelantarkannya, malah dia yang merasa bersalah dan minta maaf.
Benar-benar anak yang berbakti.
Selir Ashana yang sudah berderai air mata lantas membangunkan putranya itu. Menatapnya dengan lembut sambil jemari halusnya membelai kedua pipi Zafer yang masih berderai air mata.
"Tidak, Putraku," kata Selir Ashana di sela isak tangisnya. "Kamu tidak perlu minta maaf karena semua kejadian ini bukan karena kesalahan kamu...."
"Kejadian ini adalah kesalahan bundamu yang lemah ini yang tidak bisa menjagamu dan merawatmu sedari kecil."
Lalu dia memeluk erat putranya yang selama ini dirindukan yang dikiranya sudah hilang dari dunia sama sekali.
Sedangkan Zafer pula balas memeluk erat wanita cantik yang baru kali ini dia merasakan kasih sayangnya. Ya, pelukan Selir Ashana benar-benar dia rasakan murni sebagai pelukan seorang ibu yang penuh kasih sayang.
"Kanda...."
Putri Lavina yang juga sudah berderai air mata, air mata bahagia tidak kuasa memanggil Zafer dengan sebutan Kanda. Panggilan yang belum pernah seumur hidup dia ucapkan.
Baru saja Zafer melepas pelukannya pada bundanya, Putri Lavina langsung menghambur ke arah Zafer dan memeluk erat pemuda tampan itu.
Tangisan bahagia bercampur haru segera dia tumpahkan dalam pelukan pemuda yang selama ini dirindukan kasih sayangnya. Kasih sayang seorang kakak.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, ketiga ibu anak itu saling berpelukan meluapkan rasa bahagia yang selama ini terpenjara di balik tirai takdir.
Sementara itu, Dhafin sebenarnya sedikit merasa iri karena melihat Zafer memiliki orang tua yang lengkap. Sedangkan dia tidak punya lagi orang tua sama sekali.
Akan tetapi dia masih cukup merasa senang karena masih masih mempunyai keluarga yang lain yang masih hidup. Di samping itu pula Zafer termasuk keluarganya pula.
Dan suatu saat dia akan memberi tahu kepada Zafer kalau dia termasuk adiknya pula, yaitu adik sepupu.
★☆★☆
Hari pertemuan dengan kelompok-kelompok kependekaran telah tiba. Dan pertemuannya diadakan di Gedung Jawatan Kota Nehan.
Tentu saja yang hadir dalam pertemuan itu beberapa wakil dari masing-masing kelompok. Yang mana kesemuanya mempunyai satu tujuan, yaitu ingin mengembalikan hak kekuasaan kepada pemilik sesungguhnya.
Adapun kelompok-kelompok itu secara garis besarnya berasal dari 3 kerajaan besar; Kerajaan Bentala, Kerajaan Amerta, dan Kerajaan Lengkara.
Dan tidak sedikit dari mereka berasal dari perguruan beladiri. Dan juga tidak sedikit dari Kerajaan Lengkara.
Pertemuan atau rapat besar itu dipimpin langsung oleh Yang Mulia Ratu Agung Aurellia. Dan orang-orang yang menyertainya merupakan ksatria-ksatria Istana Centauri.
Pertemuan atau rapat besar itu berlangsung selama 2 hari dan telah menelurkan butir-butir perjanjian kerja sama. Yang mana masing-masing pihak di antara mereka harus mematuhi butir-butir perjanjian itu.
Begitu telah selesai rapat besar, salah satu wakil kelompok yang diajak kerja sama mendatangi Dhafin yang kala itu tengah bersama dengan Ratu Aurellia.
Adapun wakil kelompok yang menemui Dhafin itu adalah 3 orang gadis. Dua di antaranya merupakan 2 gadis cantik. Sedangkan yang satu tidak ditahu cantik jeleknya kerena memakai cadar.
Mereka tidak lain tidak bukan adalah Nona Athalia Falisha, Kaluna Lavanya, dan Malinka.
Ketiga gadis itu pernah bertemu Dhafin waktu di kotaraja. Dan waktu itu mereka menyebutkan tujuan mereka mencari Dhafin, yaitu agar Dhafin menyembuhkan orang yang sakit dalam kelompok mereka.
Dan sekarang sepertinya saatnya mengajak Dhafin ke tempat mereka untuk menyembuhkan orang yang sakit itu.
Melihat 3 orang gadis mengajak pangerannya pergi ke tempat mereka, jelas Ratu Aurellia merasa cemburu. Karena yang akan disembuhkan oleh Dhafin itu adalah seorang gadis berpenyakit kulit menurut pengakuan mereka.
Yang jadi masalah, ketika Dhafin telah berhasil menyembuhkan gadis yang berpenyakit kulit itu, bagaimana kalau gadis itu langsung jatuh cinta kepada Dhafin karena telah menyembuhkannya?
Bukankah hal ini sesuatu yang gawat?
Dia yang sekarang ini belum mendapatkan Dhafin secara sempurna. Karena Dhafin hingga saat ini masih terpengaruh dengan ramalan gurunya yang meramalkan kalau dia dan Dhafin bersatu, akan menghancurkan 3 kerajaan.
Meskipun dia sebenarnya tidak terlalu percaya kepada ramalan itu. Atau ramalan itu bisa saja mengandung makna yang lain, bukan bermakna sebagaimana terucapnya ramalan itu.
Sebenarnya dia ingin ikut Dhafin ke tempat pasiennya itu. Namun dia harus menelan kembali keinginannya itu karena dia harus menjaga perasaan Dhafin yang dia khawatir Dhafin akan tidak nyaman dalam menyembuhkan pasiennya kalau dia ikut serta.
Sedangkan Nona Athalia amat merasa senang karena Ratu Aurellia tidak ikut serta. Masalahnya pasien yang akan disembuhkan oleh Dhafin adalah dia sendiri. Tentu dia tidak enak kepada sang ratu.
Masalahnya, dari gelagat yang dilihat olehnya Ratu Aurellia jelas sekali menyukai Dhafin. Dan Dhafin juga sepertinya merespon. Sehingga dia bisa berkesimpulan kalau mereka adalah pasangan kekasih.
Masalahnya pula, dia yang sering memantau Dhafin dari kejauhan bersama 2 temannya diam-diam mulai juga menyukai Dhafin.
Masalahnya lagi, apakah Dhafin berhasil menyembuhkan penyakit kulit yang merusak wajah dan kulit tubuhnya? Meskipun dia sudah tahu kalau Dhafin berhasil menyembuhkan Selir Ashana tapi penyakit kulit yang dia derita berbeda dengan penyakit Selir Ashana.
Singkat cerita pergilah Dhafin ke tempat di mana dia harus mengobati pasien yang diantar oleh Nona Athalia bersama 2 teman cantiknya.
★☆★☆★
__ADS_1