Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 111 PERTEMUAN GIBSON KYLER DENGAN GRANIA FRISKA


__ADS_3

Bulan separuh menghias langit Istana Centauri di malam itu. Angin semilir berhembus menghantar hawa cukup dingin....


Kala itu di sebuah taman yang indah bertabur aneka kembang dan diterangi puluhan lampu yang aneh namun indah. Letaknya di belakang kediaman Putri Kayshila.


Di tengah taman tampak Kayshila duduk di sebuah kursi panjang. Di samping kanannya duduk pula dengan amat rapat dengannya Dhafin alias Ghavin.


Sepasang muda-mudi itu sudah cukup panjang ngobrol tentang status mereka yang ternyata bersaudara.


Di obrolan awal itu Dhafin juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Paman Killian, sekaligus tentang terbunuhnya Paman Killian beserta anak istrinya.


Mendengar cerita Dhafin itu Kayshila turut merasakan haru atas kematian Paman Killian dan keluarganya dan mengecam tindakan Pejabat Choman yang kejam sekaligus jijik.


"Apa yang kamu ceritakan kepada nenek dan kedua bibi tentang hubungan kita?" tanya Dhafin ingin tahu setelah mereka selesai melakukan pendahuluan ngobrol.


"Aku sudah cerita kalau kita sudah saling kenal, bahkan tinggal bersama selama 8 tahun...," ungkap Kayshila. Setelah itu dia berhenti berbicara yang membuat Dhafin penasaran. Seolah Kayshila sengaja mengajak bercanda.


"Apa kamu katakan kepada mereka kalau kita sepasang kekasih?" tanya Dhafin seraya menatap Kayshila.


Yang ditatap bukannya menjawab pertanyaan, malah balas menatap Dhafin sambil tersenyum mencandai Dhafin yang tampak serius sekali ingin mengetahui jawaban Kayshila.


"Jawablah, Kayshila!" kata Dhafin meski kalem dan tenang tapi terbesit sedikit kekesalan. "Jangan bercanda!"


"Tidak," akhirnya Kayshila menjawab. "Aku mengatakan kalau kita sudah mengangkat saudara."


"Tapi sebenarnya aku belum rela menerima takdir ini, Kanda," lanjutnya yang kini bernada sedih.


Maksud ucapan Kayshila bahwa dia belum bisa menerima takdir kalau mereka saudara seayah.


Dhafin segera merengkuh gadis cantik itu, lalu mendekapnya erat-erat. Setelah mengecup atas kepala Kayshila, dia berkata menasehati.


"Jangan berkata begitu, Kayshila. Terimalah ketentuan dari Penguasa Langit dengan penuh ketundukkan. Apa yang sudah ditakdirkan-Nya pastilah baik akibatnya untuk kita."


"Aku akan mencobanya, Kanda."


Beberapa saat lamanya kedua anak muda itu saling menguatkan hati mereka untuk tetap tegar menerima ketentuan takdir dari Penguasa Langit.


Seketika terbetik dalam pikiran Kayshila tentang Yang Mulia Ratu Agung dan perkataan Putri Clarabelle tadi siang.


Yang Mulia Ratu memintanya dan juga kepada seluruh keluarga Istana Centauri untuk merahasiakan dulu tentang diri Yang Mulia Ratu kepada Dhafin. Makanya tadi siang tidak ada yang memberi tahu kalau Yang Mulia Ratu adalah Putri Aurellia.


Sedangkan Permaisuri Chalinda dan orang-orang yang menyertainya, kecuali Nyonya Carissa juga tidak tahu kalau Yang Mulia Ratu adalah Putri Aurellia. Karena Yang Mulia Ratu juga merahasiakan akan dirinya kepada mereka.


"Kanda, kita 'kan sudah saling tahu kalau kita bersaudara, berarti hubunganmu dengan Putri Aurellia bisa berlanjut," kata Kayshila seakan memancing.


"Aku tidak tahu, Kayshila," sahut Dhafin yang kini telah menghadap ke depan sambil menatap langit malam.


Nada suaranya setengah mendesah. Wajah pemuda tampan itu tampak tenang, tapi hatinya terselip keharuan.


"Kanda, sebenarnya kamu itu cinta tidak sih sama Putri Aurellia?" tanya Kayshila menyelidik sambil menoleh menatap Dhafin.


"Aku tidak boleh mencintainya," sahut Dhafin bernada mendesah bagai berat mengatakannya.


"Tidak boleh mencintainya?!" Kayshila merasa aneh dan heran dengan ucapan Dhafin itu. "Kenapa?"


"Dulu waktu aku kecil aku punya firasat kalau saat dewasa nanti dia bakalan menjadi penguasa," tutur Dhafin mengungkapkan. "Kalau firasatku itu benar-benar terjadi, maka pasangannya harus orang besar juga...."


"Bukankah kamu adalah orang besar sekarang?" kata Kayshila seolah mengingatkan. "Kamu adalah Pangeran Agung, Kanda. Kamu harus menyadari hal itu."


"Aku tidak ingin menjadi Pangeran Agung," kata Dhafin seolah memungkiri takdir.


"Tapi kenyataannya seperti itu, Kanda. Penguasa Langit telah menakdirkan kamu sebagai Pangeran Agung."


"Hal itu terjadi kalau rahasia tentang jati diriku terbongkar."


"Berarti kamu tidak ingin membuka siapa dirimu sebenarnya saat pertemuan nanti besok?" tanya Kayshila menebak maksud ucapan Dhafin.

__ADS_1


★☆★☆


Ketika selesai acara penyembuhan terhadap Putri Faniza, Dhafin sebenarnya ingin membicarakan tentang cara menyelamatkan Raja Darian yang masih terpenjara di penjara bawah tanah bersama 4 kepercayaannya.


Namun karena sudah hampir sore, Yang Mulia Ratu memutuskan agar hal itu dibicarakan besok pagi. Sekaligus pula Selir Heliana akan menanyakan tentang siapa Dhafin sebenarnya pada pertemuan nanti itu.


Padahal kalau mau tahu sebenarnya Yang Mulia Ratu sudah tidak sanggup lagi menahan gejolak perasaannya yang sudah mulai terbawa arus. Dia butuh menetralkan gejolak perasaannya terhadap Dhafin yang hampir tidak dapat dia tahan.


"Untuk saat-saat sekarang aku tidak menginginkan hal itu terjadi dahulu," sahut Dhafin bernada mendesah.


"Lalu sampai kapan kamu merahasiakan tentang dirimu, Kanda?" Kayshila menatap haru pada kakaknya yang berusaha melawan takdir dirinya.


Dhafin terdiam saja tidak menjawab. Dia terus saja menatap langit yang remang berhias bulan separuh.


"Nenek Heliana dan keluarga lainnya sudah sejak lama mencarimu," kata Kayshila yang kini juga beralih menatap langit malam.


"Beliau berusaha keras merekrut pasukan besar," lanjutnya, "demi untuk merebut kembali Kerajaan Bentala dan mengembalikannya kepada ahli waris yang sah, yaitu Pangeran Agung, yaitu kamu."


"Masih ada Pangeran Revan," kata Dhafin seakan mengingatkan sekaligus mengelak.


"Kanda Revan cuma Pangeran Kedua, bukan Pangeran Agung," bantah Kayshila. "Dia tidak berhak terhadap Kerajaan Bentala."


"Tapi dia bisa naik tahta kalau tidak ada Pangeran Agung," tangkis Dhafin.


"Apakah itu berarti kamu akan membantu perjuangan Kanda Revan dalam merebut kembali Kerajaan Bentala?" tanya Kayshila menebak.


"Ya," sahut Dhafin, "karena itu memang sudah menjadi rencanaku."


"Nanti juga aku akan mengadakan pertemuan khusus dengan sahabat-sahabat lamaku untuk membicarakan rencana perjuangan," lanjutnya, "termasuk Tuan Putri Aurellia dan 4 sahabatnya."


Saat menyebut nama Putri Aurellia, ada semacam kegembiraan di hati Dhafin. Tapi cuma tampak sedikit dari ekspresi wajahnya dan nada suaranya.


Namun hal yang langka itu sudah dilihat oleh Kayshila karena saat itu lagi menatap wajah kakaknya. Meski cuma kentara sedikit, tapi cukup bagi Kayshila untuk mengetahui perasaan Dhafin terhadap Putri Aurellia atau Ratu Agung.


Mendengar Dhafin kembali menyinggung tentang Yang Mulia Ratu, Kayshila tertarik ingin membahasnya lagi.


Tapi Kayshila ingin mengetes dulu apakah Dhafin memang benar-benar tidak tahu atau cuma pura-pura tidak tahu dengan maksud ingin menghindar.


Karena Kayshila tahu siapa itu seorang Dhafin. Selama 8 tahun hidup bersamanya, dia sudah cukup hapal karakteristik kakaknya yang amat istimewa itu.


"Apakah kamu masih mengenal Putri Aurellia kalau sudah dewasa seperti sekarang ini?" tanya Kayshila hati-hati.


"Aku sudah mengenalnya sejak kecil bahwa dia orang yang pandai merubah penampilan," tutur Dhafin mengungkapkan. "Kalau saat sudah dewasa begini penampilannya berbeda saat dia masih kecil, jelas aku tidak mengenalnya lagi."


"Kecuali dia tidak memakai cadar dan aku menyentuh kulitnya," lanjutnya, "mungkin aku baru bisa mengenalnya."


"Kata Brian dia ada di istana ini, apa benar?" tanya seraya menoleh pada Kayshila.


"Iya, dia memang ada di sini," sahut Kayshila setengah terus terang. "Apa kamu ingin bertemu dengannya?"


Saat berucap Kayshila tampak tersenyum. Jelas senyumnya itu sedang menggoda Dhafin.


"Iya, aku ingin bertemu dengannya," ucap Dhafin terus terang. "Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Termasuk menanyakan tentang Panah Cakra Langit."


"Eh, apa Permaisuri Chalinda berserta rombongannya sudah tahu kalau Putri Aurellia ada di sini?" tanya Dhafin tiba-tiba teringat akan rombongan Permaisuri Chalinda.


"Untuk saat ini Putri Aurellia merahasiakan dulu tentang dirinya kepada siapa pun," kata Kayshila memang jujur.


Setelah itu Kayshila menanyakan apa itu Panah Cakra Langit?


Maka Dhafin menjelaskan tentang senjata energi sakti itu dan menjelaskan hal-hal yang berkenaan dengannya.


Sementara itu malam terus merambat perlahan demi perlahan. Sedangkan kedua kakak beradik itu terus saja berbincang-bincang di tengah taman itu.


★☆★☆

__ADS_1


Pada malam itu juga di tempat yang berbeda, cukup jauh di kompleks Istana Centauri tampak Pendekar Penyair, Gibson Kyler tengah berdiri tegak sambil menengadah menatap bulan separuh di langit temaram.


Sambil menatap bulan dia melantunkan syair-syairnya. Syair-syair yang sarat akan makna ungkapan perasaannya terhadap nasibnya.


Itu kebiasaan dia kalau lagi sendiri begini. Kerap mengenang nasibnya yang malang, lalu diungkapkan melalui syair-syairnya yang begitu memilukan.


"Aku terlahir dari rahim ibu


Tapi aku diasuh oleh derita dan pilu


Aku yang masih merah masih berlumur air mata


Dipaksa berkawan dengan nestapa


Dibuang begitu saja bagai sampah


Karena mereka menganggap aku anak jadah


Padahal aku juga punya hak untuk dicinta


Padahal aku juga punya hati dan rasa yang harus dijaga


Tapi kenapa derita yang mencintaiku?


Tapi kenapa duka yang menjaga perasaanku?


Aku mengharap belaian kasih sayang bunda


Namun buaian derita dan nestapa yang jadi nyata


Hingga aku dibesarkan oleh kejamnya dunia


Di mana langit menjadi atap rumahku


Sementara bumi adalah pembaringanku


Dan kamu, wahai malam hanya bisa diam membisu


Tanpa bisa mengutarakan padanya kalau aku pilu...."


Gibson terus saja memuntahkan penderitaannya kepada malam yang bisu melalui lantuan syair-syairnya...


Sementara itu, tampak Grania tengah berdiri di bawah sebuah pohon sekitar belasan tombak di belakang Gibson.


Gadis cantik berambut shaggy pendek itu masih setia menatap Gibson sambil mendengarkan ratapannya yang amat memilukan yang dia tuangkan dalam syairnya.


Dia tidak terlalu tahu tentang kehidupan Gibson di waktu masa kecilnya. Dia hanya tahu kalau Gibson adalah seorang anak gelandangan di kotaraja Kerajaan Amerta.


Namun dari lantunan syair Gibson yang baru pertama kali ini dia dengar, dia sudah bisa tahu bagaimana kehidupan pemuda tampan itu di masa kecilnya yang kelam. Karena Grania tahu makna dari syair-syair pemuda itu.


Karena dia tahu makna dari syair-syair Gibson, makanya dia menjadi terharu seolah dia ikut merasakan penderitaan yang dialami Gibson semenjak lahir di dunia.


Entah sadar atau tidak sepasang kaki Grania bergerak melangkah menuju ke arah di mana Gibson masih berdiri. Sementara Gibson masih saja meratapi nasibnya dalam syair-syairnya.


Namun seketika Gibson berhenti melantunkan syair. Telinganya yang tajam mendengar ada suara halus dari arah belakangnya.


Maka sebelum berbalik dia menyalurkan tenaga saktinya ke telapak tangan kanannya. Bersamaan dia berbalik telapak tangan kanannya yang sudah berwarna putih berhawa panas itu terayun siap disentakkan....


"Tahan!"


Buru-buru Grania mencegat tindakan Gibson yang hendak mengirimkan pukulan jarak jauh.


Mendengar orang mencegah niatnya seketika Gibson menghentikan ayunan telapak tangannya. Tapi tangan itu masih mengapung di udara dan masih berwarna putih. Matanya yang tajam menatap penuh selidik sosok Grania yang tersamar oleh bayangan pohon.


"Siapa?" tanyanya setengah membentak.

__ADS_1


"Aku, Grania."


★☆★☆★


__ADS_2