
Sekitar 10 orang lelaki berkelebat laksana hantu kesiangan yang terlepas melintasi hutan di sekitar kaki bukit cukup tinggi. Mereka memiliki umur yang berbeda-beda dan berpakaian berbagai model dan warna.
Begitu cepatnya kelebatan tubuh mereka seakan-akan sepasang kaki mereka tidak menyentuh tanah. Hal itu menandakan kalau ilmu meringankan tubuh mereka sudah tergolong tinggi.
Sepuluh lelaki itu terus saja berkelebat cepat seakan tidak kenal berhenti. Melintasi jalur datar yang di kiri-kanannya di tumbuhi pepohonan yang tidak terlalu rapat.
Sekitar 20-30 tombak lagi mereka akan sampai di sebuah pohon besar yang searah jalur lintasan mereka. Sedangkan pohon besar itu adalah pohon di mana bertenggernya Tim Dhafin.
"Sebentar lagi mereka akan mendaki bukit," desah Marlon yang bertengger di sebuah dahan besar bernada khawatir.
"Menurutmu siapa mereka, Pangeran Pusat?" tanya Pedang Kilat yang menyebut Dhafin dengan julukan. Dia bertengger di dahan besar bersama Dhafin dan Zafer.
"Bisa jadi mereka adalah orang-orang istana yang ditugaskan untuk menyelidiki daerah ini," gumam Dhafin menduga.
"Apa tindakan kita sekarang?" tanya Marlon.
"Aku dan Pedang Kilat akan membawa mereka ke sebuah tempat yang cukup jauh dari bukit," kata Dhafin mulai mengatur strategi. "Sedangkan yang lain akan mengikuti mereka dari jalur kiri dan kanan...."
Kemudian Dhafin menjelaskan secara sederhana strategi yang timnya harus jalankan. Lima orang timnya mengikuti 10 lelaki itu dari jalur sebelah kanan. Di antaranya Marlon, Raniya, Gibson dan 2 orang jawara elit.
Sedangkan 5 orang yang tersisa akan mengikuti dari jalur sebelah kiri. Di antaranya Zafer, Naura, Hendry, Veron, dan seorang jawara elit lainnya.
Setelah Dhafin menentukan jarak yang mereka harus jaga, lalu dia berkata.
"Usahakan kalian tetap menjaga jarak seperti yang aku sebutkan tadi, di samping itu kalian mencari jalur yang kalian tetap bisa melihat mereka...."
"Tidak perlu kalian memperhatikan aku dan Pedang Kilat yang membawa mereka," lanjutnya, "cukup kalian menjaga agar kalian tetap melihat mereka...."
"Dan ingat, jangan sampai kalian ketahuan!"
"Begitu kami sudah membawa mereka ke suatu tempat yang aku inginkan, kalian tetap berada dalam persembunyian. Tapi jangan terlalu jauh dari tempat itu."
"Jika terjadi pertempuran, dan sepertinya itu pasti, jangan dulu ada di antara kalian yang keluar ikut membantu."
"Tapi jika pertempuran sudah lebih dari satu penanakan nasi, lawan belum ada yang tumbang, kalian boleh keluar semua ikut membantu."
"Bagaimana jika dalam satu penanakan nasi lawan sudah ada yang tumbang?" tanya salah seorang jawara elit.
"Kalian jangan keluar semua," sahut Dhafin tegas. "Cukup Agra dan Zafer saja yang keluar."
"Kenapa harus seperti itu?" protes Raniya. "Kenapa tidak semua saja yang maju meski lawan sudah ada yang tumbang?"
"Ikut saja dahulu, Nona Raniya," kata Dhafin bernada kalem tapi tegas.
Raniya tampak tidak puas dan hendak mengajukan protes lagi. Tapi keburu Dhafin sudah melontarkan instruksinya. Membuat Raniya tidak jadi berkata.
"Sekarang bersiap-siaplah untuk beraksi!"
Setelah memberi isyarat agar Pedang Kilat mengikutinya, Dhafin seketika menghilang dengan menggunakan ilmu teleportasi. Nyaris bersamaan Pedang Kilat mengikuti.
Lalu menyusul satu demi satu 10 orang yang lainnya ikut menghilang pula dengan menggunakan ilmu teleportasi.
Tidak lama kemudian, Pangeran Pusat dan Pedang Kilat seketika muncul di depan jalur lintasan 10 lelaki yang baru datang itu berjarak belasan tombak.
Begitu muncul Dhafin maupun Pedang Kilat tidak lantas berkelebat lari. Bahkan Dhafin sempat menoleh sedikit ke belakang. Tujuannya agar mereka dilihat oleh 10 lelaki itu.
Dan benar saja. Baru saja Dhafin dan Pedang Kilat muncul, 10 orang lelaki itu telah melihat mereka.
Tetapi belum juga mereka dapat jelas melihat Dhafin yang telah menoleh, kedua pemuda itu sudah berkelebat lari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka.
Sedangkan 10 lelaki itu seakan telah bersepakat untuk berinisiatif mengejar Dhafin dan Pedang Kilat.
Sementara 10 orang dari Tim Dhafin sudah berada di posisi mereka di jalur sebelah kiri dan kanan sesuai yang telah diinstruksikan oleh Dhafin.
Meski posisi mereka tidak persis sejajar dengan 10 lelaki yang memang para pendekar istana itu, tapi mereka masih dapat melihat pergerakan 10 pendekar istana itu.
__ADS_1
★☆★☆
Kejar-kejaran masih terus saja berlangsung.
Sekuat tenaga 10 pendekar istana mengempos ilmu meringankan tubuh, namun belum juga mereka dapat melampaui kelebatan kedua pemuda yang mereka kejar.
Mereka hanya mampu mencapai kurang dari 15 tombak di belakang Dhafin dan Pedang Kilat. Hal itu menandakan kalau ilmu meringankan tubuh mereka masih berada di bawah Dhafin maupun Pedang Kilat.
Sementara 10 orang dari Tim Dhafin yang berkelebat di jalur kiri dan kanan, masih dapat menjaga posisi aman dengan baik.
Mereka masih dapat melihat pergerakan 10 pendekar istana meski tidak selalu. Dan mereka juga sepertinya belum diketahui keberadaannya oleh 10 pendekar istana.
Hal itu wajar saja karena 10 pendekar istana fokus mengejar Dhafin dan Pedang Kilat yang belum bisa terlampaui.
Tanpa terasa sudah belasan mil jarak yang telah ditempuh dari tempat Tim Dhafin tadi berada. Dan seakan tidak disadari oleh 10 pendekar istana, mereka telah digiring ke tempat yang cukup jauh dari bukit.
Begitu hampiri mencapai jarak 20 mil, seketika Dhafin dan Pedang Kilat merandek. Lalu dengan cepat berbalik menghadap ke arah 10 pendekar istana.
Sedangkan tidak berselang lama, 10 pendekar istana ikut merandek pada jarak 3 tombak lebih di hadapan Dhafin dan Pedang Kilat. Langsung mengambil posisi berdiri dengan model berjejer.
Untuk beberapa saat lamanya baik Dhafin maupun Pedang Kilat belum saling berbicara dengan 10 pendekar istana itu. Mereka hanya saling tatap dengan sorotan tajam seakan tengah mengukur akan kehebatan masing-masing.
"Siapa kalian?" bentak lelaki paling tengah sebelah kanan cukup keras bertanya.
Lelaki itu berumur kisaran 40-an tahun. Rambutnya ikal panjang warna rambut jagung. Berpakaian ringkas warna hitam dengan kancing baju dibiarkan terbuka. Sepertinya dia pimpinan 10 pendekar istana itu.
"Tuan boleh memanggilku Pangeran Pusat atau Dhafin," kata Dhafin dengan nada tenang. "Dan di sebelahku ini adalah temanku, si Pedang Kilat."
Sepertinya Dhafin tidak mau berbelit-belit, langsung memperkenalkan siapa dirinya dan Pedang Kilat. Sedangkan Pedang Kilat, diperkenalkan namanya tetap diam saja. Tapi sepasang matanya terus menatap tajam wajah-wajah bengis yang ada di depannya.
"Hm, Pedang Kilat," berkata lelaki berbaju hijau di sebelah kiri sang pemimpin bernada sarkas. "Lama tidak terdengar namanya. Tak tahunya sudah menjadi anjing kelompok pemberontak."
"Aku lebih tahu dengan siapa aku berpihak, Tuan," timpal Pedang Kilat bernada dingin, lebih sarkas. "Lebih-lebih tahu lagi siapa pemberontak yang sesungguhnya dan siapa anjing-anjing pemberontak."
Lelaki berbaju hijau itu terang saja langsung tersulut emosinya. Setelah mendamprat dengan keras, dia hendak menerjang Pedang Kilat. Namun cepat dicegah oleh sang pemimpin.
Lelaki berbaju hijau itu sepertinya amat patuh pada sang pemimpin. Sehingga walau amarahnya sudah meluap, terpaksa diurungkan niatnya menerjang Pedang Kilat.
Setelah menjinakkan amarah anak buahnya, pemimpin itu kembali menatap Dhafin, terus berkata penuh peremehan.
"Sepertinya kamulah orangnya yang dicari-cari oleh Yang Mulia Bunda Suri dan Yang Mulia Raja. Kalau begitu di mana pasukanmu yang lain atau di mana markas kalian?"
"Apakah kamu mengira pertanyaan bodohmu itu aku akan menjawabnya, Tuan?" kata Dhafin tetap tenang.
"Kalian adalah kaum pemberontak hina," kata lelaki itu penuh penghinaan. "Seharusnya menyerahkan diri kepada pihak istana untuk dipancung."
"Atau kalian lebih memilih kami cincang di sini?"
"Pihak istana tidak akan bisa memancung kami," balas Dhafin masih bernada kalem, "dan kalian tidak akan bisa mencincang kami."
"Ucapannya terlalu tinggi, Tuan," sambung Pedang Kilat bernada dingin lagi sinis. "Jangan-jangan kalian sendiri yang akan kami cincang di sini."
"Sekali lagi aku bertanya, di mana markasmu dan pasukanmu yang lain berada?" bentak sang pemimpin sudah mulai tersulut amarahnya.
"Sepertinya kamu ini orang bodoh, Tuan," kata Dhafin tetap dalam mode tenang. "Jelas pertanyaanmu itu tidak akan pernah terjawab."
"Rupanya kalian sudah tidak sayang dengan nyawa kalian lagi!" geram sang pemimpin sambil mengertakkan rahang pertanda sudah tersulut amarah.
"Kita lihat saja siapa yang tidak sayang dengan nyawanya sendiri," kata Dhafin tidak mau kalah gertak.
Sang pemimpin tidak bisa lagi menahan amarahnya. Setelah memaki dengan suara keras, dia langsung memerintahkan seluruh anak buahnya mengepung Dhafin dan Pedang Kilat.
Kecuali lelaki berbaju hijau. Dia masih tetap berdiri angkuh di samping sang pemimpin. Seakan menganggap cukup 8 rekannya saja sudah bisa meringkus kedua pemuda itu.
Sementara Pedang Kilat, menyadari orang-orang istana itu sudah memulai pertarungan, dia bergerak agak menjauh dari Dhafin sambil menghunus pedang. Tujuannya agar dia bisa membagi lawan yang akan menyerang mereka.
__ADS_1
★☆★☆
Tapi baru saja Pedang Kilat bergeser beberapa langkah dari sisi Dhafin, 4 pendekar istana dengan cepat sudah mengepungnya. Sedangkan 4 yang lainnya sudah pula mengepung Dhafin.
Namun Dhafin tenang-tenang saja sambil tersenyum santai. Belum tampak dia melakukan gerakan apa-apa selain hanya menatap lelaki berbaju hijau tak berkedip.
"Serang...!" perintah sang pemimpin dengan suara cukup keras.
Para pendekar istana yang memang sudah menghunus senjata masing-masing, tanpa menunggu perintah 2x langsung menyerang kedua pemuda yang sudah dalam kepungan mereka.
Empat pendekar istana dengan cepat dan ganas mengayunkan senjata masing-masing ke bagian tubuh Pedang Kilat yang mematikan. Gerakan senjata mereka begitu cepat, rasanya sulit untuk menghindari.
Namun Pedang Kilat ternyata mempunyai gerakan laksana kilat. Dengan melebihi kecepatan laju senjata-senjata lawan, dia melenting ke udara cukup tinggi. Sehingga masing-masing senjata lawan cuma menyasar angin.
Sementara itu, 4 pendekar istana yang mengepung Dhafin terus saja mengayunkan senjata masing-masing ke tubuh Dhafin yang mematikan dari 4 arah. Dan keempat serangan itu datangnya amat cepat.
Namun Dhafin sama sekali tidak melakukan gerakan apa-apa untuk menghindari. Dia diam saja di tempatnya seraya menatap lelaki berbaju hijau yang juga menatapnya dengan sinis.
Sementara adegan mengerikan itu tentu saja dapat dilihat oleh 10 orang Tim Dhafin yang masih bersembunyi di tempat mereka.
Bagi Gibson, Zafer, Hendry, dan Veron, adegan yang dipertunjukkan Dhafin itu adalah hal yang biasa. Jadi mereka tidak terkejut.
Namun bagi Marlon dan 5 rekannya, tentu saja adegan mengerikan itu membuat mereka terkejut bukan main. Terlebih lagi Raniya yang mata indahnya sudah membulat menyaksikan adegan mengerikan itu.
Hampir saja dia keluar dari persembunyian dengan maksud hendak membantu Dhafin. Namun Gibson cepat mencegatnya. Baru saja dia hendak menegur Gibson, telinganya sudah mendengar jeritan kematian.
"Aaa...!!!"
Raniya dengan cepat kembali memandang Dhafin. Dan dia langsung menyaksikan pemandangan yang amat mengerikan.
Sebuah golok cukup besar menebas leher sebelah kanan Dhafin. Sebuah tombak menusuk rusuk belakang sebelah kiri. Sedangkan dua buah pedang menusuk dada kiri dan lambung kanannya.
Namun sama sekali tidak terjadi apa-apa kepada Dhafin saat menerima 4 serangan mematikan itu. Mulutnya masih terkatup rapat, tidak mengeluarkan jeritan memilukan. Malah bibinya masih tersenyum kecil.
Lantas siapa yang menjerit kalau begitu?
Yang meneriakkan jeritan kematian tentu saja lelaki baju hijau. Mulutnya yang telah memuntahkan darah masih menganga lebar.
Lehernya yang mengeluarkan darah nyaris putus. Dada kiri, lambung kanan, serta rusuk kiri belakang tampak berlubang dan mengeluarkan darah.
Peristiwa ganjil ini tentu saja membuat 4 penyerang Dhafin terperangah bukan main. Lebih terperangah lagi sang pemimpin. Jelas-jelas dia melihat 4 serangan 4 anak buahnya mengenai sasaran.
Tapi kenapa malah lelaki berbaju hijau yang terkena dampak 4 serangan itu hingga menjerit setinggi langit?
Sungguh peristiwa ganjil yang mengerikan itu belum bisa dipahami secara cepat oleh orang-orang yang baru pertama kali melihatnya.
Sementara 4 penyerang Pedang Kilat seolah tidak menghiraukan peristiwa ganjil itu. Mereka begitu fokus menyerang Pedang Kilat.
Maka begitu menyadari serangan mereka gagal, dengan cepat mereka mengejar Pedang Kilat yang sudah mendarat di tanah cukup agak dari mereka.
Begitu telah berada dalam jangkauan serangan, mereka langsung menyerang kembali Pedang Kilat dengan ganas. Tapi pemuda itu tak mau kalah, ikut membalas serangan.
Sedangkan Dhafin, melihat 4 penyerangnya masih larut dalam keterkejutan, jelas tak menyia-nyiakan kesempatan.
Dengan gerakan cepat dia maju ke depan sambil memiringkan tubuhnya ke kiri. Sedangkan tangan kanannya ikut terangkat. Lalu menangkap pergelangan tangan kanan lawan yang berada di depannya.
Begitu berhasil menangkap pergelangan tangan lawan, lantas mengkeremusnya dengan kuat hingga tulangnya remuk. Tentu saja membuat lawan menjerit keras.
Hampir bersamaan waktunya, kepalan kirinya yang sudah terangkat menghantam dengan tenaga tinggi dan kuat samping kepala pendekar istana itu.
Bughk! Kraaak!!!"
Begitu kerasnya hantaman itu hingga membuat kepala lawan retak pecah dan langsung mengeluarkan darah. Terus tubuhnya segera terlempar ke samping dengan deras sambil kembali menjerit setinggi langit.
Sementara pedang pendekar istana itu yang telah terlepas dari genggamannya dengan cepat ditangkap oleh Dhafin dengan tangan kanan.
__ADS_1
Lalu Dhafin, tanpa menghiraukan nasib lawannya, kembali dia melakukan aksi yang mengerikan.
★☆★☆★