Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 121 ANTARA YANG MULIA RATU DAN JENDERAL JESSICA DENGAN DHAFIN


__ADS_3

Jessica kembali mengenang masa kecilnya dulu ketika berada di atas kapal bersama Dhafin. Kenangan masa kecil yang tidak pernah dia lupakan. Kenangan yang membuatnya terus semangat ingin bertemu dengannya.


Usaha tidak akan mengkhianati hasil.


Setelah sekian lama dia merindukan pujaan hatinya itu, akhirnya dia bertemu juga dengannya di Kota Arthia.


Jessica bersiap-siap hendak menemui Dhafin. Sejenak perasaannya dinetralkan dulu setelah memasukkan kembali lukisannya yang sudah terlipat di balik bajunya. Air mata bahagia sekaligus haru dihapusnya dahulu.


Setelah merasa dirinya telah siap menemui Dhafin, Jessica hendak melangkah menghampiri. Namun seketika dia merandek. Baru ingat kalau bersama Dhafin ada Gibson.


Akhirnya dia menunda dulu sejenak untuk menemui Dhafin sambil memikirkan bagaimana cara menemui Dhafin selagi Gibson bersamanya.


Dan seketika terbetik pula dalam benaknya setelah mengingat sesuatu. Apakah Dhafin masih mengingatnya kalau sudah dalam rupa seperti sekarang ini?


Tapi segera dia menepis keraguan itu karena dia sudah punya cara untuk menanganinya.


Sementara itu pada waktu yang sama, tapi di lain tempat.


Di balkon lantai 2 sebuah penginapan tampak 5 orang gadis tengah berdiri sambil menatap ke arah di mana Dhafin dan Gibson duduk sambil sarapan pagi.


Lima gadis itu adalah Yang Mulia Ratu yang tetap mengenakan cadar serta 4 pengawal cantiknya.


Setelah tahu kalau Dhafin tidak datang ke Istana Centauri, akhirnya dia datang ke Kampung Naraya bersama 4 pengawalnya. Dia menduga kalau Dhafin pasti ke kampung itu setelah pulang dari Kerajaan Amerta.


Bagaimana keadaan Dhafin jelas dia belum tahu. Kekhawatiran tentang kejadian tempo hari akan menimpa Dhafin lagi jelas mengganggu pikirannya.


Begitu dia dan 4 pengawalnya sampai di Kampung Naraya dia tidak bertemu Dhafin lagi. Tapi dia dapat kabar dari Pangeran Revan dan Brian kalau Dhafin baik-baik saja. Dan memberitahukan kalau Dhafin pergi ke Kota Arthia bersama Gibson.


Yang Mulia Ratu bertanya mau apa Dhafin dan Gibson ke kota itu?


Maka Pangeran Revan menjawab bahwa tujuan mereka ke sana untuk melacak tentang keberadaan mata-mata istana yang disusupkan ke sana.


Yang Mulia Ratu langsung menegur Pangeran Revan dan Brian atas tindakan itu. Kenapa mereka tidak menyuruh Dhafin ke istana dan bertemu dengan Raja Darian?


Saat itu juga Yang Mulia Ratu yang berpakaian seperti kebiasaannya waktu di Kerajaan Amerta dulu langsung pergi ke Kota Arthia bersama 4 pengawalnya.


Sebenarnya Pangeran Revan maupun Brian hendak mencegah kepergian Yang Mulia Ratu ke Kota Arthia. Karena kalau mereka ikut ke sana bisa-bisa tugas Dhafin dan Gibson jadi berantakan.


Namun mereka sudah ditegur keras oleh Yang Mulia Ratu. Jadi mereka tidak berani menghalangi niat gadis yang kerap memakai cadar itu.


★☆★☆


"Siapa di antara kalian yang bisa memancing Kak Gibson menjauh dari Kak Dhafin?" tanya Yang Mulia Ratu alias Putri Aurellia seraya tak lepas memandang Dhafin.


"Aku, Yang Mulia," sahut Grania cepat sambil tersenyum.


"Hendaknya kamu jangan terlalu rapat dengan Kak Gibson, Grania," kata Keysha memperingatkan. "Dia itu sudah milik Jenderal Fariza."


"Siapa bilang Kak Gibson sudah jadi milik Fariza?" tanya Grania mengingkari. "Kak Gibson belum menjadi milik siapa-siapa, dia masih bebas. Dia sendiri yang bilang padaku begitu."


"Meskipun Kak Gibson bilang begitu," kata Ariesha ikut memperingatkan, "tapi setidaknya kamu menjaga perasaan Jenderal Fariza, karena dia yang pertama kali mendekati Kak Gibson."


"Kenapa kalian seperti tidak setuju kalau aku menyukai Kak Gibson?" kata Grania ketus bercampur sinis.


"Bukan tidak setuju, Grania," kata Keysha masih berusaha menyadarkan. "Tapi setidaknya kamu mempertimbangkan perasaan Jenderal Fariza."


"Jenderal Fariza yang duluan mendekati Kak Gibson, Grania," sambung Ariesha, "bukan kamu."


Grania yang sudah mendongkol hendak menyahuti ucapan kedua sahabatnya itu. Tapi Jovita lebih dulu berkata dengan nada tegas dan datar.


"Siapa yang menyuruh kalian bertengkar? Apa kalian tidak memperhatikan permintaan Yang Mulia tadi?"


"Mereka berdua yang memulai, Kak," kata Grania membela diri.


"Dia menyetujui permintaan itu karena ada maksudnya, Kak Jovita," Ariesha membela diri pula.


"Benar yang dibilang Ariesha itu, Kak," Keysha membantu.


"Sudah, kalian jangan beralasan untuk membela diri," masih tegas ucapan Jovita melerai.


"Sekarang lekas kamu turun, Grania," instruksi Jovita, "laksanakan permintaan Yang Mulia tadi."


"Baik," kata Grania dengan senang hati sambil tersenyum girang.

__ADS_1


Setelah memohon diri kepada Yang Mulia Ratu, serta tak lupa mengerling pada Ariesha dan Keysha, Grania langsung melesat turun ke bawah.


Sedangkan Ariesha dan Keysha hendak protes tapi tidak jadi. Yang Mulia Ratu sudah mengangkat tangannya mencegat mereka agar jangan berbicara lagi.


Terpaksa Ariesha dan Keysha bungkam. Mereka tidak ingin dulu berdebat dengan Yang Mulia Ratu. Karena saat ini mood Yang Mulia Ratu sedang tidak baik. Itu terjadi semenjak keluar dari istana.


Atau mungkin bisa jadi semenjak Dhafin tidak kembali ke Istana Centauri.


Mereka hanya bisa memandang Grania yang sudah agak mendekati kedai terbuka di mana Dhafin dan Gibson sedang sarapan.


Sementara itu, Gibson yang lagi asyik menikmati teh dan kudapan sambil ngobrol santai dengan Dhafin, seketika terkejut melihat Grania datang menghampiri.


Sedangkan Dhafin juga melihat kedatangan gadis cantik berambut shaggy. Dia tidak kaget tapi heran, kenapa gadis ini datang sendiri? Ke mana 4 orang temannya?


Sementara Jessica yang lagi bingung bagaimana cara mendekati Dhafin, juga terkejut melihat Grania mendekati Gibson. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam benaknya akan kemunculan gadis itu.


"Ada apa kamu datang ke mari, Grania?" tanya Gibson heran. "Apa kamu disuruh Yang Mulia Ratu?"


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan keliling kota," kata Grania sambil tersenyum seolah tidak menggubris pertanyaan Gibson. "Boleh 'kan?"


"Gila kamu, Grania!" kata Gibson kaget. "Aku di sini sedang bertugas, bukan untuk jalan-jalan."


"Anggap saja berjalan-jalan denganku juga sedang bertugas," kata Grania enteng. "Ayo!"


Setelah itu dia langsung meraih tangan Gibson, lalu menariknya hingga berdiri. Sedangkan Gibson sebenarnya tidak mau meladeni kemauan gadis yang begitu manja kepadanya itu.


Tapi dia sendiri jadi bingung antara meladeni kemauan Grania atau menolaknya. Meladeni berarti akan melalaikan tugasnya. Menolaknya berarti akan menyakiti hati adiknya.


"Kalian jalan-jalanlah!" kata Dhafin seolah memutuskan. "Aku tidak apa-apa seorang diri. Aku tahu maksudnya mengajakmu jalan-jalan."


"Tuh, Kak Dhafin saja mau mengerti," kata Grania merasa mendapat dukungan. "Masa' kamu tidak mau mengerti?"


"Tapi, Tuan Muda...."


"Sudah, tidak usah banyak berpikir dulu," Dhafin cepat memotong ucapan Gibson. "Buatlah hatinya senang sekali-kali, tapi kamu jangan kebablasan."


"Kita sedang bertugas, Tuan Muda. Ini...."


"Ayo!" Grania menarik lagi tangan Gibson yang sudah dia pegang. "Kak Dhafin sudah mengijinkan."


★☆★☆


Sementara Dhafin cuma tersenyum melihat Gibson ditarik oleh Grania seperti anak kecil. Setelah itu dia menghembuskan napas beratnya. Lalu terdengar dia bergumam dalam hati.


"Kenapa nasibmu hampir sama denganku, Pendekar Penyair? Adikmu juga malah menyukai dirimu. Siapakah yang patut disalahkan dalam hal ini?"


Setelah agak lama tercenung akan kemunculan Grania, seketika Dhafin menduga sesuatu. Jangan-jangan maksud gadis itu datang ke mari untuk memancing Gibson agar menjauh darinya.


Setelah itu Putri Aurellia datang menemaninya di sini, agar bisa mengobrol apa saja dengannya. Mengingat itu Dhafin seketika tersenyum resah sekaligus haru.


"Hhh..., aku berusaha menjauhimu, Putri Aurellia, tapi kamu berusaha keras mendekatiku," ucapnya bernada resah, haru, sekaligus sedih.


Sementara itu, Jessica merasa mendapat angin begitu Grania mengajak pergi Gibson. Begitu melihat Gibson dan Grania sudah jauh, dia keluar dari persembunyian.


Dengan langkah agak cepat dia menghampiri Dhafin. Bukan dari depan Dhafin, tapi dari belakangnya.


Dia punya ide untuk melakukan sesuatu seperti yang pernah dilakukan sewaktu Dhafin duduk sendiri di buritan kapal dulu.


Sementara itu, sebenarnya Yang Mulia Ratu sudah bersiap-siap hendak menemui Dhafin. Tapi begitu melihat kemunculan Jessica, niatnya langsung diurungkan.


Terang saja dia terkejut akan kemunculan Jessica.


Kalau hanya sekedar muncul mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Tapi malah kemunculan Jessica dengan maksud menghampiri Dhafin.


"Ada apa Jessica hendak menemui Dhafin?" gumam Yang Mulia Ratu seolah bertanya pada diri sendiri.


"Kita lihat saja dulu, Yang Mulia, apa maksud gadis itu," kata Jovita menyarankan yang sebenarnya juga heran melihat kemunculan Jessica, bahkan seperti khusus untuk menemui Dhafin.


Sementara Jessica semakin dekat ke tempat Dhafin duduk. Begitu tinggal beberapa tombak lagi gadis itu melangkah biasa saja. Kalau dia terlalu cepat-cepat, takutnya Dhafin keburu tahu.


Sedangkan sepasang mata indah Yang Mulia Ratu tidak pernah lepas mengamati kelakuan Jessica. Jantungnya semakin berdebar-debar melihat Jessica sudah dekat di belakang Dhafin.


Dia tahu apa yang hendak dilakukan Jessica terhadap Dhafin dari belakang pemuda itu. Karena dia sering melakukannya terhadap Dhafin dahulu.

__ADS_1


Itu artinya apa? Berarti antara Jessica dengan Dhafin pernah saling mengenal.


Sementara Jessica terus berjalan dengan pelan sekali di belakang Dhafin. Berusaha melakukannya agar Dhafin tidak sampai curiga.


Begitu 5 langkah lagi sampai di belakang Dhafin, Jessica tampak mengangkat ke dua tangannya dengan telapak sedikit terkembang. Hingga akhirnya....


Tap!


Kedua telapak tangan Jessica yang putih halus sukses menutup kedua mata Dhafin. Meski begitu rapat, tapi amat lembut.


Sedangkan Dhafin diam saja di tempat duduknya. Bukannya terkejut malah tersenyum manis.


Akan tetapi senyum manis itu diartikan lain oleh Yang Mulia Ratu. Hatinya jelas terbakar rasa cemburu. Sepasang mata indahnya melotot tajam memendam amarah sekaligus kecewa.


Membuat Ariesha merasa kesal terhadap Jessica sekaligus marah terhadap kandanya.


★☆★☆


Beberapa helaan napas Dhafin tersenyum. Namun seketika senyum menawan itu hilang bagai direnggut setan. Kejap berikut wajah tampannya menarik raut wajah heran.


Tadi dikiranya Putri Aurellia yang melakukan pekerjaan ini, karena dulu biasa gadis bercadar itu lakukan kepadanya. Makanya dia tersenyum.


Tapi ternyata pemilik jemari yang menutup matanya bukan seperti apa yang dia duga. Berarti gadis lain?


"Hayo siapa?" Kata Jessica dari belakang menggoda.


Intonasi suaranya berusaha diatur sedemikian rupa agar gejolak perasaannya tidak sampai kentara.


Sebenarnya hampir tidak tertahan lagi gejolak rindu yang ingin ditumpahkan dalam pelukan Dhafin.


Sedangkan Dhafin tidak langsung menanggapi ucapan Jessica. Sejenak dia mencerna suara siapakah di belakangnya saat ini.


Hidungnya menghirup lembut parfum yang sepertinya pernah dia kenal.


Tangan kanannya perlahan terangkat ke atas. Lalu memegang erat tapi lembut lengan Jessica yang terbungkus kain lengan panjang bajunya.


Lima helaan napas otaknya berpikir. Kejap berikut hatinya seketika tersentak kaget. Dalam pikirannya saat ini seolah-olah dia berada di buritan kapal besar. Dan seorang gadis kecil nan rusuh menutup matanya dari belakang.


"Gadis rusuh?!" sebut Dhafin bernada lirih begitu teringat akan seorang gadis kecil yang bernama Nona Aliesha.


"Apakah ini Nona Aliesha?"


Rasanya Jessica tidak sanggup lagi menahan gejolak perasaannya. Pemuda yang selama ini selalu dirindukan, selalu ingin berjumpa lagi, ternyata masih mengingatnya.


Betapa hati ini amat bahagia dan terharu.


"Iya, Kak, aku memang gadis kecil yang rusuh dulu," kata Jessica bernada senang bercampur haru. "Aku memang Aliesha, Jessica Aliesha...."


Perlahan Dhafin berdiri setelah melepas pegangannya pada lengan Jessica. Bersamaan dengan tangan Jessica yang menutup matanya terlepas begitu saja.


Lalu Dhafin berbalik seraya keluar dari kursinya. Menghadap lurus ke Jessica seraya menatap paras cantik bak bidadari itu. Menatap matanya yang sudah menggenang air mata.


Cukup lama Dhafin menatap Jessica yang juga menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah itu pemuda itu tersenyum lembut, lalu berkata bernada lembut dan tenang.


"Apa kabarmu, Nona Aliesha?"


Tidak sanggup lagi Jessica menahan gejolak perasaan yang terpenjara di dalam hatinya. Dengan tanpa sungkan dia langsung memeluk Dhafin.


Memeluknya dengan erat, erat sekali namun begitu lembut penuh penghayatan. Air matanya langsung tumpah dalam pelukan sang idaman. Air mata haru penuh bahagia.


Kerinduan yang selama ini terpendam dalam dirinya terbayar lunas saat ini. Yang lebih penting lagi dari itu Dhafin ternyata tidak lagi marah padanya.


Sementara Yang Mulia Ratu, mendengar Dhafin menyebut nama belakang Jessica seketika nyawanya serasa mau melayang. Hatinya amat perih begitu mengetahui kalau Dhafin ternyata mengenal Jessica.


Perasaan ini bagai hancur berkeping-keping. Sedih berbalut duka memenuhi hatinya yang luka.


"Kenapa begitu banyak gadis cantik yang mengitari Kak Dhafin?" ucapnya bernada lirih dan perih karena diiris kesedihan dan duka.


"Kayshila..., Faniza..., Jessica.... Entah siapa lagi nanti...?"


Untuk saat ini baik Jovita, Ariesha maupun Keysha belum bisa untuk berkata-kata atau memberi saran apa pun. Hati mereka masih terkejut saat mengetahui kalau ternyata antara Dhafin dengan Jessica saling kenal.


Tanpa terasa air mata Yang Mulia Ratu menetes membasahi cadarnya. Itu air mata kesedihan hatinya yang begitu perih. Kenapa dia selalu bersaing cinta dengan orang-orang terdekatnya; Kayshila, Faniza, Jessica?

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2