Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 147 PENGAKUAN RAJA GHANIM


__ADS_3

Kehehohan langsung melanda Istana Kerajaan Bentala mana kala mayat Pangeran Marvin tiba-tiba muncul di depan Istana Rajawali.


Apa yang terjadi sebenarnya belum ada yang bisa memastikan. Yang pasti Selir Agung Caltha sudah menangis meraung-raung di depan mayat putra itu.


Jelas dia menangis sejadi-jadinya. Putrinya, Putri Eveline sudah beberapa hari ini belum pulang, malah yang pulang adalah mayat putranya, kakak Putri Eveline.


Bunda Suri Hellen jelas merasa terpukul juga akan kematian cucunya itu. Pangeran Marvin adalah salah satu cucunya yang terhebat. Dengan kematian Pangeran Marvin, berarti orang-orang hebat di sisinya berkurang lagi.


Kegusarannya belum hilang, kini bertambah lagi dengan kematian Pangeran Marvin.


Kemarin dia mendapat kabar dari Pejabat Kota Nehan kalau pasukan militer yang diminta bergabung ke kotaraja semuanya telah tewas akibat diserang oleh pasukan pemberontak.


Yang lebih miris lagi dari berita itu pasukan militer yang bermarkas di Kota Nehan itu yang jumlahnya sekitar 16000 lebih ternyata dapat dikalahkan oleh pasukan pemberontak yang jumlahnya kurang dari 5000 personil.


Betapa hatinya tidak menjadi gusar kalau begitu. Jumlah yang banyak dapat dikalahkan oleh jumlah yang sedikit.


Maka mau tidak mau dia harus mengakui kehebatan pasukan Selir Heliana. Ya, ini pasti pekerjaan Selir Heliana.


Meski jumlahnya sedikit namun ternyata pasukan Selir Heliana mempunyai kehebatan di atas rata-rata. Pantas saja dia berani menantangnya, ternyata dia mempunyai pasukan yang hebat.


Pantas saja Selir Heliana memberi ultimatum padanya agar meninggalkan istana, ternyata selir itu mempunyai kekuatan yang hebat.


Akan tetapi Bunda Suri tetap tidak gentar mendapat teror dari Selir Heliana. Malah dia semakin tertantang untuk menghadapinya.


★☆★☆


Kalau mayat Pangeran Marvin muncul di istana, lantas Putri Eveline muncul di mana? Padahal dia yang duluan dihilangkan oleh Dhafin dengan ilmu teleportasi ketimbang Pangeran Marvin.


Ternyata Dhafin mengirimnya di kediaman Selir Ashana. Dia muncul di situ sebelum kemunculan Pangeran Marvin.


Tentu saja semua penghuni kediaman itu terkejut melihat Putri Eveline tiba-tiba muncul secara aneh di depan pintu masuk.


Selir Ashana dan pengawalnya, Jenderal Elaina langsung menemuinya dan lantas menanyakan apa yang terjadi sehingga Putri Eveline tiba-tiba muncul secara aneh begitu.


Sebenarnya di situ kebetulan ada Putri Lavina dan kedua pengawalnya. Namun karena yang muncul secara aneh itu ternyata Putri Eveline, Putri Lavina jelas tidak sudi menemuinya. Kedua pengawalnya juga ikut-ikutan.


Tentu saja Putri Eveline tidak lantas menjawab pertanyaan mereka. Dia masih bingung akan apa yang terjadi pada dirinya.


Barusan dia bersitegang dengan Dhafin. Tiba-tiba pemuda yang membuat hatinya kesal itu mengirimnya ke kediaman Selir Ashana.


Sedangkan keluarga istana lainnya menyebut kediaman Selir Ashana adalah tempat pembuangan.


Akan tetapi dia tertegun melihat keadaan Selir Ashana yang tampak baik-baik saja. Sementara kata keluarga istana lainnya kalau dia terkena penyakit kulit.


Dia sebenarnya hendak bertanya tentang perihal penyakit yang menimpa istri ke 4 ayahandanya itu. Namun karena terus didesak akan perihal yang terjadi pada dirinya, akhirnya dia menjelaskan apa yang terjadi.


Jelas dia tidak bercerita kalau dia mengembara mencari Dhafin. Dia hanya bercerita dimulai dari Zafer mencuri pedangnya hingga dia dikirim Dhafin ke tempat ini.


Mendengar musibah yang menimpa Pangeran Marvin, jelas Selir Ashana ikut merasa sedih. Karena biar bagaimanapun Pangeran Marvin terhitung anaknya. Meskipun keluarga besar istana tidak menganggapnya.


Merasakan musibah yang menimpa Pangeran Marvin, Selir Ashana kembali teringat akan anak pertamanya. Lebih tepatnya putranya, kakak Putri Lavina.


Anak itu terlahir hasil buah cinta darinya dan Raja Ghanim, suaminya. Hanya saja anak itu terlahir sebelum mereka resmi menikah.


Dikarenakan keadaan waktu itu, dengan terpaksa anak itu mereka titipkan kepada sepasang suami istri yang tinggal di sebuah kampung terpencil.


Begitu mereka sudah resmi menikah, mereka datang lagi ke kampung itu dengan maksud ingin mengambil putra mereka.


Namun apa mau dikata, anak itu tidak ada di situ karena pasangan suami istri itu telah membawanya pergi yang tidak ada seorang penduduk kampung pun yang tahu.


Mengenang putranya itu yang tidak pernah dia besarkan selain hanya menyusuinya, membuat dirinya dirundung pilu dan duka hampir di setiap desah napasnya.


Hingga sekarang dia tidak tahu di mana anaknya itu berada, apakah masih hidup atau tidak, bagaimana wajahnya?


Sementara Selir Ashana mengenang putranya, Jenderal Elaina mengkhawatirkan putri pertamanya yang ada dalam peristiwa itu.


"Bagaimana keadaan Zelyne, Tuan Putri?" tanya Jenderal Elaina bernada cemas. "Apakah putriku baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu, Bibi," sahut Putri Eveline. "Jika dia tidak pulang berarti dia jadi ikut dengan pemuda yang bernama Zafer itu."


"Kamu jangan khawatir, Elaina," kata Selir Ashana menenangkan pengawalnya, padahal dia masih dirundung sedih. "Ada Dhafin bersama mereka. Putrimu pasti akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Yang aku khawatirkan kalau Dhafin dan orang-orangnya mengganggap Zelyne adalah musuh," desah Jenderal Elaina masih cemas.


"Dhafin dan orang-orangnya adalah pemberontak, Bibi," kata Putri Eveline seolah menyanggah. "Jelas Kak Zelyne adalah musuh mereka. Tapi...."


"Tapi kenapa, Eveline?" tanya Selir Ashana seperti penasaran tapi bernada lembut.


Putri Eveline tidak lantas menjawab pertanyaan Selir Ashana. Sejenak dia memandang wanita bercadar itu.


Setelah puas melihat wajah yang tertutup cadar itu, dia melirik telapak tangan sang selir yang ternyata putih halus mulus.


Dia mendengar dari bundanya kalau sekujur tubuh Selir Ashana hampir dipenuhi luka akibat penyakit kulit. Tapi kenapa jidat dan tangannya tampak mulus-mulus saja, seperti tidak pernah terkena penyakit kulit?


Sebenarnya Selir Ashana tahu arti tatapan Putri Eveline terhadapnya. Tapi dia tidak mau membahas yang tidak terlalu penting itu. Dia menanyakan kembali pertanyaannya yang belum dijawab.


"Sekarang aku menjadi bingung," kata Putri Eveline mengungkapkan perihal yang mengusik pikirannya. "Jelas-jelas Dhafin dan orang-orangnya adalah pemberontak. Tapi mengapa Pangeran Revan balik menuduh kita sebagai pemberontak juga?"


"Pangeran Revan bilang kalau Nenenda-lah yang telah merampas kerajaan ini," lanjutnya. "Sedangkan Nenenda bilang kalau Kakenda telah berkhianat terhadap kerajaan."


"Mana yang benar sebenarnya?"


Baik Selir Ashana maupun Jenderal Elaina tahu mana pihak yang benar. Tapi mereka tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepada Putri Eveline.


Karena hal itu berkenaan dengan rahasia kerajaan yang telah didominasi oleh Bunda Suri. Artinya, harus atas persetujuan Bunda Suri untuk mengungkap hal seperti itu.


"Untuk hal itu, silahkan kamu tanyakan sendiri kepada Yang Mulia Raja, ayahandamu," kata Selir Ashana menyarankan.


Putri Eveline dapat memahami Selir Ashana tidak bisa memberi tahu hal sebenarnya, meski dia menduga sang selir pasti mengetahuinya.


Masalah ini sepertinya merupakan sebuah rahasia yang tidak boleh sembarang orang mengungkapkan. Dan tidak boleh sembarang orang mengetahui, meski keluarga sekalipun semisal dirinya.


Maka tanpa berlama-lama Putri Eveline akhirnya pergi ke istana saat itu juga.


★☆★☆


Putri Eveline menatap sejenak sosok yang selama ini dihormatinya, meski Bunda Suri neneknya menjadikannya sebagai raja boneka.


Sering dia merasa sedih melihat perlakuan neneknya terhadap ayahandanya. Dijadikan raja hanya sebagai simbol, kedaulatan tetap didominasi oleh neneknya.


Jelas hal ini telah menyakiti hati ayahandanya untuk yang ke 2xnya. Tapi ayahandanya tidak bisa berbuat apa-apa, selain hanya bisa menyesali dirinya yang tidak berdaya membantu adiknya.


Kali pertama yang membuat ayahandanya tersakiti ketika neneknya membunuh istri pertama Paman Killian.


Dan hampir juga waktu itu putri Paman Killian dibunuh oleh neneknya kalau tidak cepat diselamatkan oleh ayahandanya.


Lagi-lagi ayahandanya tidak berdaya membantu adiknya. Dia hanya bisa menyesali dirinya.


Hingga akhirnya Paman Killian meninggalkan istana dengan membawa putrinya yang baru berumur 3 tahun. Dan tidak pernah lagi kembali ke istana selamanya.


Paman Killian meninggalkan istana memang tanpa di usir oleh neneknya. Tapi pada hakekatnya dia diusir.


Peristiwa itu terjadi sekitar 18 tahun yang lalu.


Meski Putri Eveline mendengar kisah itu dari ayahandanya, tapi seakan-akan dia melihat peristiwa menyedihkan itu.


Mengingat peristiwa-peristiwa menyedihkan di dalam keluarganya membuatnya sering bertanya-tanya, keluarga ini sebenarnya keluarga apakah?


Barusan seluruh keluarga istana tampak berkabung atas kematian Pangeran Marvin. Tapi dilihatnya neneknya tampak biasa-biasa saja, tidak menunjukkan rasa dukanya terhadap kematian cucunya.


"Aku dengar dari bundamu kalau kamu keluar istana tanpa injin bundamu," tegur Raja Ghanim bernada berat tapi lembut. "Tanpa pengawalan. Hanya berdua dengan Pengawal Pribadi-mu."


Putri Eveline langsung terbangun dari lamunan ketika mendengar teguran ayahandanya. Tapi cepat-cepat dia menetralkan dirinya. Terus berkata tapi tidak berterus terang.


"Apakah Ayahanda mengkhawatirkan keselamatanku?" Putri Eveline malah bertanya.


"Jelas Ayahanda mengkhawatirkan keselamatanmu," sahut Raja Ghanim penuh kasih.


"Pasukan Selir Heliana sudah berada di mana-mana," lanjutnya, "aku khawatir mereka membunuhmu karena kamu ikut-ikutan memerangi mereka."


"Aku malah sudah berhadapan dengan mereka," kata Putri Eveline enteng.


Terang saja Raja Ghanim terkejut mendengar ucapan putrinya itu. Aura kekhawatiran langsung tergambar di wajah dukanya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa, Eveline?" tanya Raja Ghanim jelas merasa cemas. "Kamu tidak diapa-apakan oleh mereka?"


"Sebenarnya aku hampir dibunuh oleh Dhafin," kata Putri Eveline setengah jujur. "Tapi dia masih memberiku ampun asal tidak ikut-ikutan memeranginya."


"Coba kamu ceritakan apa sebenarnya yang terjadi?"


Lalu Putri Eveline menceritakan apa yang dia alami selama pergi tanpa ijin. Termasuk dia ceritakan maksudnya keluar istana itu. Hingga dia pulang kembali ke istana.


"Kalau tujuanmu mencari Dhafin untuk bergabung dengannya, aku meluaskanmu," kata Raja Ghanim masih bersikap lembut. "Bahkan aku menyarankan sebaiknya kamu bergabung dengannya."


"Tapi kalau kamu mencarinya untuk menentangnya," lanjut Raja Ghanim, "sebaiknya kamu tidak usah mendekatinya."


"Kamu bisa ambil pelajaran dari Marvin, kandamu. Ayahanda sudah menasehatinya agar tidak ikut campur dalam masalah ini, dia tidak mau dengar. Dia lebih mendengar neneknya daripada ayahanda."


★☆★☆


"Apa yang dikatakan Pangeran Revan, kakak sepupumu itu adalah benar," Raja Ghanim masih lanjut mengkuliahi putrinya. "Yang sebenarnya pemberontak adalah nenekmu, Pejabat Choman, juga ayahahanda."


"Bagaimana dengan tuduhan nenenda bahwa kakenda telah menyimpang dari kerajaan?" tanya Putri Eveline.


"Itu tidak benar," kata Raja Ghanim tegas. "Yang benar nenendamu-lah yang menyimpang. Dia memimpin pemberontakan dalam menggulingkan kekuasaan kakendamu."


"Membunuh kakendamu beserta permaisurinya dengan meracuni mereka. Sedangkan ayahanda...."


"Sedangkan ayahanda telah membunuh kakak ayahanda beserta kedua istrinya...."


Ketika dia mengucapkan kalimat itu kesedihan bercampur penyesalan langsung menyelimuti perasaannya.


Mendengar hal itu betapa terkejutnya Putri Eveline hingga dia menjerit kecil.


Ayahandanya yang selama ini dia banggakan ternyata seorang pembunuh. Bukan orang lain yang dia bunuh, tapi saudaranya sendiri.


Tanpa terasa air matanya mengalir di pipi halusnya. Karena sama sekali tidak menyangka kalau keluarganya ternyata memiliki masa lalu yang bobrok.


Siapa lagi yang dia bisa percaya sekarang kalau mereka semua memiliki hati yang jahat. Saudara-saudaranya bersaing saling menjatuhkan. Para bundanya pula demikian.


Ke manakah sekarang dia harus berlari untuk bernaung? Apakah pada Selir Ashana yang tampak hidupnya tentram tinggal di luar istana? Tapi di situ ada Putri Lavina yang jelas juga membencinya.


Apakah dia harus berlari pada....


"Aku harap kamu secepatnya keluar dari istana dan bergabung bersama Dhafin dan sepupumu, Pangeran Revan," kata Raja Ghanim seolah memaksa.


"Bagaimana dengan ayahanda?" kata Putri Eveline yang ternyata masih mengkhawatirkan ayahandanya.


"Tidak usah kamu memikirkan pendosa ini," kata Raja Ghanim masih terdengar duka nada suaranya. "Selamatkan dirimu."


"Ayahanda...."


Berbagai macam perasaan berkecamuk dalam diri Putri Eveline. Haru, sedih, kecewa, marah.... Hingga akhirnya dia kembali terharu akan semua apa yang dilakukan lelaki yang masih tampak gagah itu.


Raja Ghanim mengambil 2 amplot surat yang tergeletak di atas meja. Lalu satu persatu dia memberikan kepada Putri Eveline sambil berkata.


"Kalau kamu bertemu Jenderal Zelyne, serahkan surat ini kepadanya."


"Dan ini serahkan kepada sepupumu, Pangeran Revan."


"Sekarang bersiaplah! Aku akan mengirimmu ke Kota Nehan sekarang melalui teleportasi. Aku punya firasat Dhafin ada di sana."


Lalu dia mengambil pedang yang juga tergeletak di atas meja dan menyerahkan kepada putrinya.


"Ayahanda...."


Putri Eveline langsung memeluk ayahandanya dengan erat setelah menerima pedang itu. Sementara air matanya semakin deras.


"Walau kamu membenci ayahandamu ini karena dosa besar yang dia lakukan, tapi dia akan selalu menyayangimu...."


"Hanya kamu dan Lavina yang ayahanda bisa harapkan untuk mengurangi dosa ayahandamu ini...."


Kemudian Raja Ghanim menempelkan telapak tangan kanannya ke belakang Putri Eveline yang masih saja menangis.


Tidak lama kemudian sinar kuning membungkus tubuh Putri Eveline. Kejap berikut dia hilang bersama sinar kuning itu.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2