Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 180 CIUMAN PERTAMA RATU AURELLIA CLARETTA DENGAN PANGERAN GHAVIN ALDEBARAN


__ADS_3

"Kanda, lebih baik kamu adalah kakakku 'kan?" kata Grania sambil tersenyum di tengah derai air matanya. "Bukankah itu yang kamu maukan?"


Semua hadiri tidak mengerti arti ucapan Grania barusan. Tidak tahu kalau Grania mencintai Gibson. Tidak tahu kalau Gibson terus menghindar karena sebab apa.


Yang mereka tahu Grania kini telah mengetahui Gibson adalah kakaknya dan langsung mengakuinya.


Sementara Nyonya Brianna sepertinya tidak menghiraukan ketidak mengertian para hadirin akan arti ucapan putrinya.


Yang mendominasi dirinya saat ini adalah rasa gembira yang sangat menyaksikan antara Gibson dengan Grania saling mengakui kalau mereka bersaudara.


Dan Kaluna sendiri, di samping tidak mengerti ucapan Grania, juga tidak terlalu memikirkannya. Yang penting antara Gibson dengan Grania mau saling menerima dan saling mengakui kalau mereka adalah keluarga.


Hal itu sudah amat menggembirakannya. Lebih dari itu, dia mengharapkan pula kakaknya mengakui Nyonya Brianna adalah ibu kandungnya. Itu harapan tertingginya yang tentunya akan menyempurnakan kebahagiaannya.


Dia tidak mengharapkan yang lain.


Sedangkan Ratu Aurellia, Putri Kayshila maupun Ariesha tahu kalau Grania mencintai Gibson. Dan sekarang baru mengerti kenapa Gibson selalu menghindari Grania.


Dan apa yang diucapkan Grania barusan mereka telah mengetahui maknanya.


Sementara Dhafin maupun Gibson telah mengetahuinya lebih dahulu. Dan Gibson sendiri tidak bisa berkata apa-apa selain....


"Maafkan aku, Grania...."


Grania melepas pelukannya pada Gibson. Setelah menyeka air matanya, terus menatap kakaknya dengan sikap manja terus berkata.


"Kanda, apa sejak kecil kamu sudah tahu kalau aku adalah adikmu? Itulah makanya kamu terus menghindariku?"


Gibson hanya bisa tersenyum sambil mengangguk lembut. Dan juga cuma bisa mengatakan....


"Maafkan aku, Grania...."


"Ih, nakal!" rajuk dengan sikap manjanya.


Hampir saja dia hendak melakukan sesuatu untuk meluapkan kemanjaannya itu terhadap Gibson kalau tidak cepat dicegah oleh Ariesha. Terus memperingatkan kalau mereka masih di depan panggung yang diperhatikan banyak orang.


Menyadari hal itu Grania sedikit salah tingkah. Perasaan gembiranya ternyata membuatnya seakan lupa kalau dia berada di mana sekarang.


Dhafin segera mencairkan suasana dengan berkata kepada Grania.


"Nona Grania. Kamu sudah mengetahui Gibson adalah kakakmu, kakak pertamamu. Bahkan kamu langsung mengakuinya."


Lalu dia menoleh pada Kaluna, dan terus melanjutkan ucapannya.


"Bagaimana dengan Nona Kaluna? Dia adalah saudara sepersusuan kakak pertamamu. Apakah kamu juga mengakuinya sebagai kakakmu, kakak ke 3-mu?"


"Tentu, Kak Dhafin, tentu," sambut Grania dengan nada sukacita sambil beralih menatap Kaluna dan tersenyum bahagia.


Dan tanpa berlama-lama dia langsung menghambur ke Kaluna dan memeluknya tanpa malu-malu. Sedangkan Kaluna jelas masih agak canggung. Tapi akhirnya dia membalas pelukan sang adik.


"Sekarang aku mempunyai kakak cantik," kata Grania sambil terus tersenyum bahagia di tengah dia masih memeluk Kaluna.


Kaluna yang mendengar hal itu jadi tersenyum senang.


Putri Kayshila dan Ariesha yang melihat pemandangan yang bertabur bahagia itu, ikut merasakan bahagia pula. Hingga mereka ikut terbawa suasana dan langsung memeluk kedua gadis cantik itu.


Sementara semua hadirin yang ada di aula pertemuan itu jelas ikut merasakan bahagia.


Sampai-sampai Yang Mulia Ratu, Selir Grizelle, Nyonya Carissa maupun Putri Raisha meneteskan air mata saking terharu dan saking bahagianya.


Sedangkan Selir Heliana tidak sanggup pula menahan keharuan yang bercampur bahagia, hingga sepasang matanya tampak berkaca-kaca.


Sementara Nyonya Brianna lebih bahagia lagi hingga tak sanggup menahan air mata untuk kesekian kalinya. Dan lebih bahagia lagi kalau Gibson....


★☆★☆


Setelah keempat gadis cantik itu meluapkan rasa bahagia mereka, Dhafin berkata kepada Gibson.


"Sekarang giliran kamu, Pendekar Penyair. Apa kamu sudah siap mencium telapak kaki ibumu dan mengakui kesalahanmu yang telah melukai perasaannya selama bertahun-tahu?"


"Yang Mulia, hamba...."


Gibson kembali menyungkur ke bawah, berlutut di depan Dhafin sambil menundukkan kepala dalam-dalam.


Bukan dia tidak mau mengakui Nyonya Brianna adalah ibunya. Tapi dia masih enggan untuk mengungkapkannya. Apakah karena masih terselip rasa benci kepada ibunya?


Karena Gibson tidak melaksanakan anjurannya, malah berlutut di depannya, akhirnya dia menguarkan lagi kata-kata bijaknya.

__ADS_1


"Aku amat memahami luka di dalam hatimu belum sepenuhnya sembuh...."


"Akan tetapi ketahulah, Pendekar Penyair! Kita sebagai anak hanyalah seorang anak...."


"Kita tidak berhak menjadi hakim terhadap orang tua, bagaimanapun perbuatan mereka terhadap kita, bagaimana pun perbuatan mereka di masa lalunya...."


"Orang tua tetaplah orang tua.... Kita sebagai anak hanya wajib berbakti, tidak ada yang lain selain itu...."


Dhafin memandang bundanya seraya menganggukkan kepala. Dan Nyonya Carissa mengerti isyarat itu. Setelah memberi isyarat kepada Selir Grizelle, dia dan Selir Grizelle membawa Nyonya Brianna ke depan panggung.


Sedangkan Nyonya Brianna seakan membiarkan saja dirinya dibawa sambil sepasang matanya yang masih berderai air mata tak pernah lepas menatap Gibson.


"Apalagi yang kamu tunggu, Pendekar Penyair?" kata Dhafin begitu Nyonya Brianna sudah berdiri tak jauh di depan Gibson. "Ibumu sudah ada di depanmu."


Ucapan Dhafin barusan langsung menyentakkan kesadarannya, menggugah hati nuraninya. Batinnya segera memerintahkannya kalau saatnyalah dia menyambut kasih sayang sang bunda.


Perlahan Gibson mengangkat wajahnya, terus menatap wajah wanita yang amat merindukannya dengan tatapan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Dan Nyonya Brianna juga masih menatapnya dengan penuh kasih.


"Bunda...," ucapnya bernada lirih.


Kemudian Gibson menghambur ke depan ibunya lebih dekat, hendak mencium telapak kaki sang bunda. Tapi Nyonya Brianna cepat menangkap kedua lengan atasnya, lalu membawanya berdiri.


Sejenak Nyonya Brianna membelai kedua pipi Gibson dengan jemari tangannya yang gemetar. Sementara derai air mata sang nyonya makin deras. Lalu dia memeluk dengan erat penuh kasih sayang sang putra tercinta.


Dan Gibson juga membalas pelukan sang bunda. Memeluknya dengan erat tapi penuh kelembutan.


"Maafkan aku, Bunda," kata Gibson yang kini juga sudah berderai air matanya dengan nada tulus.


"Tidak, putraku, kamu tidak bersalah," kata Nyonya Brianna bernada lembut, "dan tidak ada yang perlu disalahkan...."


Suasana yang sudah terbalut keharuan, semakin haru menyaksikan kedua ibu anak itu yang saling berpelukan penuh sukacita.


Sementara semua hadirin ikut merasakan kegembiraan sebagaimana yang dirasakan oleh kedua ibu anak itu


Tidak kalah bahagia seperti yang dirasakan oleh Jendera Lyman. Kini dia memiliki 4 anak, hati siapa yang tidak senang? Bahkan dia amat senang.


Kemudian setelah puas memeluk putranya, lalu Nyonya Brianna memeluk Kaluna dengan penuh kasih pula. Sudah sejak lama dia menganggap Kaluna adalah putrinya.


Dan dengan merasakan pelukan Kaluna, dia merasa yakin kalau gadis itu telah menganggapnya sebagai ibunya.


★☆★☆


Sesuai janjinya Ratu Aurellia bertemu secara khusus dengan Dhafin. Tanpa ada Putri Athalia maupun Putri Arcelia yang masih berada di Istana Centauri.


Tempatnya sama dengan waktu mereka mengadakan pertemuan terakhir, yaitu di ruangan pribadi sang ratu.


Waktu pertemuan tempo hari, Ratu Aurellia disuruh membawa cermin. Sekarang pula demikian. Sebenarnya dia agak merasa canggung setelah sekian lama mereka tidak saling bertemu seperti ini.


Tapi karena rasa penasaran dengan cermin tersebut, apalagi tempo hari belum ditanyakan, dia beranikan diri untuk bertanya dan rasa canggungnya tidak dihiraukan.


Dhafin tidak menjawab, melainkan mengusap kening sang ratu setelah membaca mantra pembuka Tanda Keluhuran.


Maka, setelah Dhafin mengusap kening Ratu Aurellia, seketika muncul sebentuk bulan sabit kecil melengkung ke bawah berwarna kuning di tengah keningnya. Bulan sabit itu memancarkan sinar kuning keemasan yang agak terang.


Lalu Dhafin menghadapkan cermin kecil bulat itu di depan wajah cantik Ratu Aurellia. Maka sang ratu melihat dengan jelas Tanda Keluhuran-nya itu.


"Itu adalah Tanda Keluhuran," kata Dhafin memberi tahu saat Ratu Aurellia bertanya.


Kemudian Dhafin menjelaskan mengenai Tanda Keluhuran sesuai apa yang dijelaskan oleh Nenek Kaira dan Pendeta Tua. Juga menjelaskan mengenai 3 wanita pilihan yang kesemuanya memiliki Tanda Keluhuran yang telah ditakdirkan menjadi istri Dhafin.


Meskipun Dhafin tidak menginginkan hal itu, tapi hal itu sudah ditakdirkan oleh langit yang tidak bisa Dhafin hindari.


Sekali lagi Dhafin menerangkan bahwa mereka tidak bisa menikah kecuali Dhafin harus mengumpul 2 wanita lainnya yang juga menjadi jodoh Dhafin.


Kalau Ratu Aurellia tetap memaksa Dhafin menikah dengan dirinya saja, maka malapetaka akan terjadi, yaitu kehancuran 3 buah negeri.


Dhafin juga menerangkan bahwa sesuai yang telah diramalkan, Ratu Aurellia sebagai istri pertama yang bertindak sebagai permaisuri.


Sedangkan Putri Athalia sebagai istri ke 2, Putri Arcelia sebagai istri ke 3, yang mana kedua-duanya bertindak sebagai kedua selir Dhafin.


"Sebenarnya semua yang aku terangkan ini aku hendak menyampaikannya padamu saat pertemuan terakhir kita, Aurellia," kata Dhafin menutup keterangannya.


"Kenapa kamu tidak menyampaikan sekalian?" tanya Ratu Aurellia seakan lupa kalau waktu itu perasaannya sudah lain saat Dhafin mengabarkan kalau Dhafin diramalkan mempunyai 3 istri.


Atau bisa jadi pertanyaan itu hanya bergurau untuk mencandai Dhafin. Karena sudah lama mereka tidak saling bercanda ria.


"Aku melihat waktu itu keadaanmu sudah tidak siap lagi mendengar penjelasanku," sahut Dhafin tetap menanggapi serius.

__ADS_1


"Sekarang aku tanya padamu," kata Dhafin serius. "Apa keinginanmu sejak kecil memiliki seorang kekasih yang cuma kamu kecintaanya?"


"Ya, benar," sahut Ratu Aurellia langsung. Dan tidak heran lagi kenapa Dhafin bisa mengetahui.


"Sekarang bagaimana dengan kamu?" Ratu Aurellia balik bertanya. "Apa keinginanmu sejak dulu?"


"Keinginanku sejak dulu yaitu hanya ingin mempunyai kekasih seorang gadis biasa," sahut Dhafin mengakui, "bukan gadis bangsawan atau kalangan pendekar."


"Akan tetapi ternyata takdir telah menentukan jalan hidupku, meskipun tidak sesuai dengan impianku...."


"Takdir menentukan kalau kamu adalah jodohku, seorang putri bangsawan, bahkan seorang penguasa. Bahkan tidak sampai di situ, takdir menentukan kalau aku mempunyai 3 jodoh, dan kesemuanya putri bangsawan...."


"Aku tidak bisa berbuat sesuatu yang lain selain hanya bisa menjalani takdir...."


"Bukankah takdir seperti itu mengenakan kamu?" kata Ratu Aurellia seraya tersenyum bercanda. "Kamu memiliki 3 orang istri, cantik-cantik lagi. Asyik 'kan?"


Dhafin mentoel hidung Ratu Aurellia dengan lembut dan pelan, lalu berkata seolah menegur.


"Jangan bergurau!"


★☆★☆


"Sekarang bagaimana dengan kamu?" tanya Dhafin sambil menatap Ratu Aurellia dengan serius. "Apakah kamu sudah bisa menerima semua ketentuan takdir ini?"


"Ya..., mau tidak mau memang aku harus menerimanya, seperti halnya kamu," sahut Ratu Aurellia yang kali ini serius. "Kita memang tidak bisa menentang takdir, meski tidak sesuai dengan keinginan kita...."


"Takdir adalah takdir, tidak ada yang bisa menentangnya," tandas Dhafin.


Mendengar kejujuran ucapan Ratu Aurellia Dhafin menjadi lega. Akhirnya pujaan hatinya itu mau mengerti dan dengan lapang dada menerima ketenruan takdir yang telah berlaku.


"Sekarang aku mau tanya padamu, Kanda... eh boleh aku memanggilmu kanda mulai dari sekarang?"


"Bukankah sejak dulu di dalam hatimu kamu sudah memanggilku dengan kanda?" kata Dhafin sambil tersenyum.


Ratu Aurellia ikut tersenyum pula, lebih tepatnya tersenyum manis. Lalu dia lanjut berbicara melanjutkan pertanyaannya yang terpotong.


"Kanda, apa kamu masih menganggapku sebagai cinta sejatimu?"


"Ya, kamu tetap menjadi cinta sejatiku," sahu Dhafin jujur mengakui. "Sampai kapanpun...."


"Bagaimana dengan kedua calon istrimu; Putri Athalia dan Putri Arcelia?" tanya Ratu Aurellia seolah menyelidik. "Apa kamu mencintai mereka juga? Sementara mereka juga mencintaimu."


"Aku harus berbuat adil kepada mereka juga," sahut Dhafin bijaksana, "aku juga akan mencintai mereka karena mereka adalah jodohku."


Setelah itu Dhafin memberitahukan tentang ramalan Pendeta Tua, yaitu tentang Dhafin diramalkan akan menjadi penguasa 3 negeri. Dan pusat pemerintahan Dhafin adalah di Istana Centauri.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Dhafin ingin tahu tanggapan Ratu Aurellia.


"Kandaku sayang, kalau kamu sudah resmi menjadi suamiku, ya otomatis kerajaan megah ini adalah milikmu," kata Ratu Aurellia bernada manja. "Masak kamu tanyakan lagi sih, Kandaku sayang?"


Dhafin hanya tersenyum mendengar jawaban yang seperti diharapkan itu. Ucapan sang ratu sama persis sesuai yang duramalkan Pendeta Tua.


Sejurus Ratu Aurellia berdiri dari kursinya, terus melangkah menghampiri Dhafin. Lalu duduk di pangkuan Dhafin dengan santai, terus tangan kanannya di gelayutkan ke leher belakang Dhafin dengan manja.


Sementara Dhafin diam saja seolah membiarkan. Dan tetap membiarkan saat Ratu Aurellia dengan berani mendekatkan wajahnya ke wajah Dhafin hingga berjarak 5 jari. Hingga mereka saling beradu napas.


"Kapan kita nikah, Kanda?" tanya Ratu Aurellia dengan manjanya.


"Perang masih panjang, Aurellia," kata Dhafin seolah mengingatkan. "Lagipula kita belum sepenuh berhasil merebut Kerajaan Bentala...."


"Bersabarlah. Siapa tahu ada ketentuan takdir yang memberitahukan kepada kita."


"Bagaimana kalau takdir malah menentukan Putri Athalia atau Putri Arcelia yang duluan kamu nikahi?" kata Ratu Aurellia merajuk manja.


"Itu tidak mungkin terjadi," kata Dhafin menerangkan. "Karena aku tidak bisa menikahi mereka sebelum menikahi kamu dahulu."


Ratu Aurellia terdiam sejenak, tapi terus menatap Dhafin sambil tersenyum mencurigakan. Dan Dhafin tahu hal itu.


"Kita belum menikah, Aurellia, jangan...."


Belum juga Dhafin menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Ratu Aurellia memajukan wajahnya dan langsung mencium bibir Dhafin dengan penuh kemesrasn, tanpa Dhafin sangka-sangka.


Dhafin hendak menghindari ciuman pertama mereka itu, tapi Ratu Aurellia menekan tengkuknya.


Akhirnya Dhafin tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah menerima ciuman sang ratu yang penuh gairah cinta. Dasar....!


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2