Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 218 TERJEBAK TANPA DIRENCANA


__ADS_3

Malam telah menghamparkan kegelapan di seantero Kota Pendar, salah satu kota dekat pesisir pantai di Kerajaan Amerta sebelah timur. Suara riuh ombak lamat-lamat terdengar dari kejauhan sana.


Di sebuah ruangan cukup luas di kediaman Pejabat Kota Pendar tampak 10 orang lelaki yang duduk mengitari sebuah meja panjang. Mereka tampak terlibat dalam pembicaraan penting yang sepertinya amat rahasia.


Terbukti saat masing-masing mereka berbicara suara agak direndahkan. Lagipula tempat mereka mengadakan pembicaraan rahasia sepertinya ruangan yang khusus.


Adapun 10 orang itu yaitu Pejabat Kota Pendar itu sendiri yang duduk di ujung meja sebelah kanan, seorang perwira tinggi istana yang duduk di ujung meja sebelah kiri, Kepala Keamanan Kota Pendar yang duduk di dekat Pejabat Kota sebelah kiri.


Adapun 7 orang lainnya adalah 9 pendekar istana. Mereka duduk di sisi kiri kanan meja yang bersudut tumpul itu.


Entah sudah berapa lama mereka mengadakan pertemuan khusus, yang jelas sudah banyak pembicaraan penting yang mereka bicarakan.


Namun tanpa mereka sadari kalau ternyata di atas atap genteng kediaman sang pejabat ada 3 orang berpakaian hitam yang tengah menyadap pembicaraan mereka.


Entah sudah berapa lama 3 orang itu asyik berada di atas atap. Yang jelas sepertinya mereka sudah cukup banyak mendengar pembicaraan para kaki tangan Putri Rayna itu. Khususnya pembicaraan yang penting.


Mungkin saking asyiknya mereka menyadap pembicaraan orang-orang di ruangan khusus itu, sampai mereka tak sadar kalau ada orang yang mengetahui mereka.


Yang mengetahui keberadaan 3 orang berpakaian hitam itu adalah salah satu dari 2 perwira istana. Kebetulan saat itu mereka sedang berjalan-jalan di halaman belakang kediaman Pejabat Kota bersama 3 pendekar istana.


Sebenarnya perwira istana itu tidak sengaja melihat ke atas atap saat tengah mendengarkan pembicaraan rekan-rekannya. Awalnya dia melihat ada semacam benda gelap bergerak di sana.


Begitu dia memperhatikan secara seksama benda yang bergerak sebentar itu, terbetik kecurigaan dalam hatinya.


Maka tanpa berlama-lama dia memberitahukan kepada rekan-rekannya tentang apa yang dia lihat itu. Dan belum lama 3 pendekar istana melihat benda gelap di atas atap, mereka langsung tahu kalau itu adalah orang.


Bahkan mereka mengetahui kalau ada 3 orang yang berada di sana. Dan mereka semua langsung bercuriga kalau 3 orang itu adalah penyusup yang sengaja menyadap pembicaraan 10 lelaki yang masih berada di ruangan khusus.


Maka dengan bersegera mereka mendekat ke bangunan belakang kediaman Pejabat Kota. Dan begitu sudah dekat dengan tembok, salah seorang pendekar istana berseru dengan cukup keras sambil terus menatap ke atas atap.


"Hei siap di atas atap sana? Turun cepat!"


Teriakan bernada bentakan cukup keras itu masih dapat didengar oleh orang-orang yang berada di ruangan khusus. Tentu saja membuat mereka terkejut dan langsung menghentikan pembicaraan.


Dapat didengar juga oleh para prajurit penjaga yang berada di sekitar kediaman. Tentu saja membuat mereka ikut terkejut pula. Dan tanpa banyak pikir mereka segera menuju ke sumber bentakan tadi terdengar.


Yang lebih terkejut lagi adalah 3 orang di atas atap yang ternyata 3 lelaki muda. Sejenak mereka saling pandang satu sama lain.


Tidak ada dalam benak mereka untuk memenuhi seruan pendekar istana itu. Yang mereka pikirkan sekarang adalah lari menyelamatkan diri.


Setelah ketiga pemuda yang ternyata 3 personil Tim Brian itu saling memberi isyarat, maka mereka segera bangkit dengan cepat. Lalu berkelebat dengan cepat menuju samping kiri bangunan dengan melintasi wuwungan.


Demikian cepatnya kelebatan ketiga pemuda itu, tahu-tahu mereka sudah berada di ujung wuwungan. Dan tanpa berhenti mereka langsung melenting ke udara cukup tinggi.


Lalu hinggap di atap bangun yang berada di samping kiri bangunan utama, terus berkelebat lagi dengan melintasi atap bangunan.


Masih tanpa menghentikan kelebatan, begitu telah sampai di ujung bangunan, mereka kembali melenting tinggi dan hinggap di atas pagar tembok. Terus berkelebat keluar dari kediaman Pejabat Kota.


Sementara orang-orang istana, ketika melihat 3 personil Tim Brian melarikan diri, mereka langsung mengejar 3 pemuda itu kecuali seorang perwira istana.


Sang perwira istana langsung menginstruksikan kepala para prajurit penjaga yang sudah sampai di lokasi untuk meningkatkan penjagaan, setelah memberitahukan tentang apa yang terjadi.


Tak lama orang-orang yang tadi mengadakan rapat di ruangan khusus telah keluar dan sampai di lokasi. Terus perwira tinggi istana langsung bertanya apa gerangan yang terjadi kepada bawahannya itu.


Setelah perwira itu menerangkan secara singkat apa yang terjadi, perwira tinggi istana langsung memerintahkannya dan 7 pendekar istana untuk menyusul rekan mereka mengejar 3 orang penyusup itu.


Setelah itu perwira tinggi istana, Pejabat Kota, dan Kepala Keamanan Kota kembali masuk ke dalam rumah.


★☆★☆

__ADS_1


Sementara itu malam terus merambat semakin larut. Hawa dingin bagai hendak membekukan tulang makin menggila.


Namun sepertinya hal itu tidak membawa pengaruh bagi 3 sosok hitam yang berkelebat cepat membelah gelapnya malam. Mereka masih saja berlari cepat dengan melintasi atap rumah-rumah penduduk. Tiga sosok bayangan hitam itu tidak lain adalah 3 personil Tim Brian.


Sementara sekitar belasan tombak di belakang mereka tampak 4 sosok bayangan yang juga berkelebat dengan cepat mengejar 3 personil Tim Brian di depan. Mereka tidak lain adalah 3 pendekar dan seorang perwira istana.


Begitu diamati ternyata masih ada lagi di belakang sekitar kurang dari 10 tombak 8 sosok bayangan yang berlari cepat seperti mengejar. Mereka juga tidak lain adalah 7 pendekar dan seorang perwira istana.


Sebenarnya mereka tidak mengejar 4 rekannya yang ada di depan sana. Sesungguhnya mereka mengejar 4 personil Tim Brian yang dilaporkan telah menyusup ke kediaman Pejabat Kota Pendar.


Hanya saja mereka menjadikan 4 rekannya sebagai petunjuk ke mana larinya 4 orang penyusup itu. Jadi, kayak seperti mereka mengejar rekan-rekannya.


Saling kejar-kejaran masih saja berlangsung. Belasan sosok bayangan berkelebat begitu cepat laksana hantu gentayangan di gelap malam.


Saat ini mereka masih menggunakan atap rumah-rumah penduduk sebagai jalur lintasan mereka. Dan dari aksi mereka yang cukup memukau itu dapat diketahui tingkat kehebatan ilmu masing-masing.


Tiga personil Tim Brian, saat berkelebat melintasi atap rumah, sepasang tapak kaki mereka laksana melayang, seperti tidak menyentuh atap. Menandakan ilmu peringan tubuh mereka sudah mencapai tingkat tinggi.


Sedangkan 10 pendekar dan 2 perwira istana, tapak kaki mereka memang tampak menyentuh atap. Tapi tidak sampai membuat atap genteng bergerak apalagi bergeser.


Menandakan ilmu peringan tubuh mereka sudah mencapai tingkat tinggi. Namun jelas belum menyamai 3 ksatria elit Ketua Anthoniel.


Dan satu hal lagi. Sudah sekuat tenaga mengerahkan ilmu lari cepatnya, namun 4 orang istana belum juga mampu memperpendek jarak, apalagi mendahului 3 pemuda yang berada di depan mereka. Mereka hanya mampu menjaga jarak agar tidak sampai tertinggal jauh.


Sama halnya juga dengan 8 orang istana yang masih berada paling belakang. Mereka juga mati-matian menjaga agar tidak sampai terlampau jauh dengan 4 rekannya di depan mereka.


Tidak lama kemudian, setelah puas kejar-kejaran di atas atap, 3 personil Tim Brian seketika melenting turun ke tanah di belakang rumah salah seorang penduduk.


Begitu kaki mereka sudah mencapai tanah, 3 personil Tim Brian itu kembali berkelebat menuju hutan yang tak jauh lagi dari situ.


Sedangkan orang-orang istana tidak bisa tidak tetap mengejar ke mana pun buruan mereka lari. Sampai pun 3 ksatria elit itu saat ini sudah mulai memasuki hutan mereka tetap mengejar terus.


Sehingga tidak butuh waktu lama kejar-kejaran yang entah kapan usainya sudah berbeda lokasi. Yang tadinya di atas atap, kini telah berganti di dalam hutan yang gelap.


Sehingga memungkinkan bagi 4 orang istana yang mengejar tetap melihat ke mana kelebatan tubuh mereka. Apalagi hutan itu tidak begitu lebat. Meski suasana dipenuhi kegelapan, orang-orang istana itu masih tetap melihat mereka.


Namun tiba-tiba saja 3 ksatria elit itu mempercepat kelebatan tubuh mereka. Dan tak lama mereka langsung hilang di balik pepohonan. Membuat 4 orang istana itu terkejut.


★☆★☆


Empat orang istana seketika berhenti berlari di tempat di mana mereka kehilangan buruan mereka. Lalu mereka segera mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari jejak buruan mereka.


Namun yang mereka lihat hanyalah bayang-bayang pohon yang hitam dan keadaan hutan yang gelap.


Tak lama kemudian, 8 orang istana yang lainnya telah tiba di tempat itu. Lalu salah seorang pendekar istana bertanya kepada 4 rekannya yang duluan sampai itu.


"Di mana penyusup itu?"


"Mereka hilang di tempat ini," menjawab salah seorang pendekar istana.


"Tepatnya di balik pohon itu," sambung seorang perwira istana sambil menunjuk pohon di mana 3 ksatria tadi menghilang.


"Mereka?!" kata pendekar istana yang tadi bertanya yang sepertinya pemimpinnya. "Kalau begitu jumlah penyusup itu ada berapa?"


"Ada 3 orang," sahut lelaki yang pertama menjawab tadi.


Terus lelaki itu juga menjelaskan kalau mereka kehilangan jejak buruan mereka di tempat ini. Ke mana harus mengejarnya mereka tidak tahu secara pasti.


Lalu sang pemimpin bertanya, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa ketiga penyusup itu bisa ada di kediaman Pejabat Kota.

__ADS_1


Yang menjawab adalah perwira istana. Dia menjelaskan kalau mereka tidak tahu bagaimana kejadian awalnya, tahu-tahu 3 penyusup itu berada di atas atap kediaman Pejabat Kota.


"Jangan-jangan mereka sudah mendengar apa yang kita bicarakan dalam rapat," gumam salah seorang pendekar istana yang baru datang tadi.


"Aku juga sudah menduga demikian," kata sang pemimpin menanggapi.


"Apa kalian bisa menduga siapa mereka itu?" tanya sang pemimpin.


"Siapa lagi mereka kalau bukan mata-mata pemberontak," kata salah seorang pendekar yang lain bernada pasti.


Dan rekan-rekannya yang lain tampaknya setuju dengan dugaan lelaki itu yang bernada yakin. Sedangkan sang pemimpin sepertinya juga sepakat dengan dugaan itu.


Memikirkan akan status ketiga penyusup itu, sang pemimpin seketika seperti tersadar akan sesuatu.


"Jangan-jangan mereka membawa kita ke tempat ini adalah siasat mereka," baru saja dugaan itu terlintas dalam benak sang pemimpin, salah seorang bawahannya sudah mengungkapkannya.


"Aku juga menduga kalau ini adalah jebakan," kata sang pemimpin sepakat.


Mendengar hal itu, orang-orang istana lainnya seketika terkejut. Dan wajah-wajah mereka langsung menegang.


Namun belum juga semua orang-orang istana itu mengambil suatu tindakan, seketika terdengar suara ucapan yang seakan menanggapi ucapan sang pemimpin.


"Kalau Tuan menganggap kami menjebak kalian, bisa juga."


Suara ucapan itu tidak keras tapi jelas. Akan tetapi terang saja membuat semua orang-orang istana itu terkejut. Lalu serta merta mereka langsung memandang ke satu arah, tempat di mana suara itu berasal.


Entah kapan datangnya, tahu-tahu di situ berjarak 6-7 tombak telah berdiri dengan gagah Tim Brian.


Sedangkan seorang perwira istana, begitu melihat 3 ksatria elit yang menyusup tadi, dia langsung memberitahukan kepada sang pemimpin.


Mengetahui hal itu dan melihat tampang-tampang 11 pemuda gagah itu, sang pemimpin semakin yakin kalau mereka adalah kelompok pemberontak. Maka dengan segera dia memerintahkan kepada semua rekannya bersiaga perang.


"Siapa kalian?" tanya sang pemimpin bernada dingin.


"Apa kamu pernah mendengar nama Pangeran Brian, Tuan?" kata Brian bernada santai dan tenang. "Akulah orangnya Pangeran Brian itu, si Pangeran Hitam."


"Oh, rupanya Tuan Pangeran Brian," kata sang pemimpin bernada seolah memberi hormat. "Maaf atas sikap kami yang tidak tahu orang."


Brian hanya tersenyum menanggapi sikap palsu yang ditunjukkan lelaki itu.


"Tapi yang hamba sayangkan kenapa Tuan Pangeran berpihak kepada pemberontak?" sang pemimpin masih menunjukkan sikap takzim palsunya. "Apakah Tuan Pangeran berniat menggulingkan pewaris tahta yang sah?"


"Asal Tuan tahu bahwa orang-orang yang bersamaku bukanlah pemberontak," komentar Brian dengan tenang. "Pemberontak yang sesungguhnya adalah Putri Rayna dan pengikut-pengikutnya."


"Adapun si pengkhianat Adrian, orang yang kalian jadikan raja itu," lanjutnya, "memanglah pewaris tahta. Tapi karena pengkhianatannya, dia tidak berhak atas kerajaan ini. Jadi, pantaslah kami menggulingkannya."


"Tapi sayang sekali, Tuan Pangeran," sanggah sang pemimpin, "sebelum niat Tuan Pangeran terlaksana, kami pasti akan mencegahnya."


"Tidak mengapa kalian mencegah tindakan kami," kata Brian masih santai. "Tapi sayang sekali juga kalau nyawa kalian akan terbuang dengan percuma."


"Sepertinya Tuan Pangeran meremehkan kehebatan kami," kata sang pemimpin bernada sinis jelas menakuti.


"Apa yang ditakutkan dengan kehebatan kalian yang kayak kentut itu?" celetuk Kelvin mengejek. "Mengejar 3 orang temanku saja kalian tidak becus!"


"Maaf, Tuan Pangeran," kata sang pemimpin sudah mulai geram, "jangan memaksa kami untuk bertindak kasar. Sebaiknya Tuan Pangeran dan orang-orang Tuan Pangeran ikut kami ke istana untuk diadili."


"Tidak perlu Tuan menakuti kami dengan ucapan kosong itu," kata Brian tidak kalah gertak. "Justru kalianlah yang akan kami adili di sini."


"Rupanya Tuan Pangeran memang benar-benar meremehkan kehebatan kami," dengus sang pemimpin makin geram. "Baiklah!"

__ADS_1


"Serang!" perintah sang pemimpin sambil mengibaskan tangan kanannya ke depan.


★☆★☆★


__ADS_2