Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 146 KETULUSAN CINTA NONA ZELYNE


__ADS_3

Tampak Putri Eveline terbaring di atas tanah berumput. Tidak jauh di dekatnya Zelyne yang juga terbaring diam seperti dirinya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena sekujur tubuh mereka tidak bisa digerakkan.


Yang bisa mereka gerakkan hanya sepasang bola mata mereka yang indah. Namun mereka tidak melihat siapa pun di sepanjang gerakan bola mata mereka. Pula tidak mendengar orang berbicara atau suara pertarungan.


Entah bagaimana nasib kandanya Putri Eveline sudah tak tahu lagi sekarang. Dia tadi sempat mendengar kandanya menjerit-jerit kesakitan seperti orang disiksa.


Kemudian terakhir dia mendengar kandanya menjerit panjang bagai longlongan kematian. Lalu terdengar sesuatu menghantam batang pohon. Setelah itu terdengar benda jatuh cukup keras.


Kemudian tidak mendengar apa-apa lagi. Jangan-jangan kandanya sudah mati?


Tampak sang pangeran terkapar diam di atas tanah di bawah pohon cukup besar. Hampir sekujur tubuhnya terdapat luka sayatan.


Wajahnya pun juga tampak tersayat-sayat mengerikan. Tambah mengerikan lagi seluruh wajahnya berlumuran darah. Bahkan mulutnya belepotan darah kental.


Dadanya tampak melesak masuk ke dalam pertanda tulang dadanya remuk. Jantungnya sepertinya pecah.


Tidak ada lagi gerakan sama sekali dari tubuhnya. Sampai pun dadanya. Menandakan nyawanya sudah melayang.


Sementara Zafer sempat mengamati keadaan Pangeran Marvin sebentar. Begitu merasa yakin kalau pangeran itu sudah mati, dia melayangkan pandangannya ke sekeliling.


Ternyata Pangeran Revan dan rekan-rekan lainnya sudah tidak ada di tempat ini. Yang tinggal hanyalah Dhafin, Gibson dan Aziel yang tengah berdiri tidak terlalu jauh dari tempat terbaringnya Putri Eveline dan Zelyne.


Setelah itu Zafer menghampiri ketiga pendekar sakti itu. Begitu sampai dia bertanya ke mana perginya Pangeran Revan dan yang lainnya. Dhafin menjawab kalau mereka akan melaksanakan tugas berikut.


Sedangkan Putri Eveline dan Zelyne seketika melirik ke atas mata begitu mendengar percakapan Zafer dengan Dhafin. Suara itu terdengar di seberang atas kepala mereka.


Kemudian Zafer menengok Putri Eveline dan Zelyne. Dia menduga kalau kedua gadis cantik itu belum mati meski hanya terdiam.


"Apa kedua gadis itu sudah mati, Pangeran Pusat?" tanya Zafer ingin memastikan.


"Belum," sahut Dhafin. "Pangeran menyerahkan Nona Zelyne kepadamu. Sedangkan Putri Eveline diserahkan padaku."


Setelah berkata begitu, Dhafin langsung berbalik ke belakang. Terus menghampiri Putri Eveline. Sedangkan Zafer ikut melangkah tapi menghampiri Zelyne.


Sementara Aziel dan Gibson cuma berbalik menghadap mereka tanpa mengikuti.


Begitu sampai Dhafin berhenti di samping kiri Putri Eveline, sedangkan Zafer berhenti di samping kanan Zelyne. Lalu keduanya hampir bersamaan duduk berjongkok di samping masing-masing kedua gadis itu.


Putri Eveline langsung mendelikkan sepasang matanya karena geram begitu bisa melihat Dhafin. Sedangkan Dhafin hanya tersenyum saja melihat tingkah sang putri.


Lain halnya dengan Zelyne. Dia langsung menatap penuh haru karena bahagia begitu bisa melihat lagi wajah Zafer.


"Kak Zafer, aku akan ikut denganmu ke mana pun kamu pergi," kata Zelyne bernada haru penuh harap, "agar kita tidak terpisahkan lagi."


"Kak Zelyne, jangan bodoh!" dengus Putri Eveline berang. "Kamu hendak mengikuti pemberontak yang telah membunuh Pangeran Marvin, kandaku hah?"


"Kenapa kamu tidak sadar-sadar juga kalau sesungguhnya yang pemberontak itu adalah Selir Hellen, nenekmu dan orang-orangnya," kata Dhafin mengingatkan. "Termasuk ayahmu."


"Ayahanda bukan pemberontak!" dengus Putri Eveline makin berang. "Kalianlah yang pemberontak!"


"Baik. Aku beri kesempatan kepadamu untuk berpikir sekali lagi," kata Dhafin masih bersabar. "Kalau toh juga kamu masih mengarahkan pedangmu kepada kami, dengan terpaksa kami membunuhmu."

__ADS_1


"Kamu pikir aku takut ancamanmu!" bentak Putri Eveline makin menggeram. "Lepaskan totokanmu, biar kita bertarung sampai mati."


★☆★☆


Dhafin tidak menghiraukan luapan kemarahan adiknya itu. Diletakkan telapak tangan kirinya yang sudah bersinar putih di jidat Putri Eveline yang membuatnya makin berang.


Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena begitu tubuhnya terbungkus sinar putih, kejap berikut langsung lenyap besama mengecilnya cahaya putih itu yang kemudian sirna.


Sementara Zelyne masih membujuk Zafer agar dibolehkan ikut dengannya. Namun Zafer belum juga bicara. Dia malah membuka totokan pada gadis itu. Lalu bangkit berdiri. Terus mundur 3 langkah.


Sedangkan Zelyne, begitu bisa bergerak lagi, dengan cepat bangkit, terus langsung memeluk Zafer dengan erat sambil menumpahkan air matanya.


"Aku mohon padamu membiarkan aku ikut denganmu, Kak Zafer," kata Zelyne memohon di sela isak tangisnya. "Aku tidak mau lagi berpisah denganmu."


"Tidak bisa, Zelyne," kata Zafer akhirnya bicara. Nadanya seperti terpaksa menolak. "Kamu tidak bisa ikut denganku karena kita sekarang adalah musuh."


"Aku tidak bermusuhan dengan kalian," kata Zelyne mencoba menjelaskan. "Aku tadi terpaksa ikut menyerang temanmu karena dituntut oleh tugas. Aku juga tidak sepenuh hati menyerang temanmu."


Zafer melepas perlahan pelukan Zelyne. Membawa gadis itu berada dekat di depannya sambil memegang kedua pundak bawahnya, lalu berkata.


"Dengarkan aku, Zelyne! Kamu harus memikirkan dulu matang-matang keputusanmu itu," kata Zafer memberi pengertian. "Karena resikonya kamu akan meninggalkan semua yang ada di belakangmu kalau mengikuti aku."


"Lagipula pedangmu nantinya akan mengarah pada orang-orang yang pernah bersamamu," lanjutnya, "yang mana mereka itu adalah musuh kami."


"Aku tanya padamu, apa kamu masih menyayangiku?" tanya Zelyne seraya menatap Zafer dalam-dalam.


"Rasa sayang yang dulu pernah aku berikan padamu sekarang sudah berubah menjadi cinta," kata Zafer jujur.


"Kalau begitu keputusanku sudah bulat," kata Zelyne bernada mantap, "aku akan ikut denganmu dan mengikuti aturan penguasa di mana kamu bernaung."


"Aku harap kamu tidak terburu-buru mengambil keputusan, Zelyne," kata Zafer masih memberi pengertian. "Pikirkanlah dulu matang-matang."


"Aku tidak membutuhkan lagi banyak pertimbangan," kata Zelyne tetap mantap. "Aku sudah menemukan cintaku yang pernah hilang. Pada saat ini pula aku sudah bertekad untuk tidak melepaskannya lagi."


"Karena tidak ada jaminan kalau takdir menganugerahiku kesempatan kedua," lanjutnya.


Zafer langsung membawa Zelyne ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat penuh cinta dan kasih sayang. Dia sungguh amat terharu mendapati Zelyne ternyata masih mencintainya, bahkan tulus mencintainya.


Sekarang dia tidak tega lagi membujuk Zelyne agar tidak mengikutinya. Hal itu sama saja tidak menghargai ketulusan cinta gadis bangsawan itu.


★☆★☆


Selagi masih memeluk Zelyne, Zafer menatap Dhafin yang sedari tadi cuma diam bersama Aziel dan Gibson. Tatapan pemuda bertudung hitam itu jelas mengisyaratkan kalau dia meminta pendapat Dhafin.


Sekarang Zafer dilanda kebingungan. Kalau dia membawa Zelyne bersamanya, alasan apa nanti akan dia katakan di hadapan Pangeran Revan karena membawa anggota kubu musuh bersamanya.


Sedangkan kalau dia tidak membawa Zelyne bersamanya, di samping tidak menghargai ketulusan cinta Zelyne, pula dia khawatir kalau Zelyne akan ditangkap oleh pihak istana dengan tuduhan membantu pemberontak.


Karena Putri Eveline sudah melihat tadi kalau Zelyne mengenal Zafer, bahkan memanggil namanya.


Zafer tidak yakin kalau Putri Eveline tidak bakalan melaporkan tentang peristiwa tadi ke pihak istana. Mengingat kalau dia yang telah membunuh kandanya. Besar kemungkinan Putri Eveline dendam terhadapnya.

__ADS_1


Dan tidak memikirkan lagi kalau Zelyne adalah pengawal cantiknya.


Kalau toh bukan Putri Eveline yang melapor, bisa jadi mata-mata yang melapor.


Sementara Dhafin bisa mengerti apa yang dirasakan Zafer saat ini. Tentu dia amat bingung menentukan sikap.


"Maaf, Nona Zelyne, boleh saya bertanya kepada nona?" tanya Dhafin hati-hati. Soalnya gadis itu masih asyik dalam pelukan Zafer.


Zelyne jelas sempat terkejut menyadari ternyata masih ada orang lain selain dia dan sang kekasih. Namun dia cepat menetralkan kondisinya. Lalu bangun dari menyandar di dada Zafer. Terus berbalik menghadap Dhafin dan berkata.


"Maaf, Saudara Dhafin, terpaksa saya ikut menyerang Tuan bersama Tuan Putri tadi. Sekali lagi saya minta maaf."


"Lupakan soal itu, Nona Zelyne," kata Dhafin memaklumi. "Saya bisa menyadari kalau nona tidak sepenuh hati dalam menyerang."


"Tuan hendak bertanya tentang apa?"


"Sepertinya nona begitu gampang berpihak pada kami yang mana sebagai musuh istana," kata Dhafin hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Zelyne. "Apakah Nona bukan dari pihak istana?"


Terang saja hati Zelyne terkejut mendengar pertanyaan Dhafin. Pertanyaan yang sepertinya menebak. Yang mana tebakan itu ternyata tepat.


Dia baru bertemu secara langsung pemuda bernama Dhafin itu. Kenapa pemuda itu seperti layaknya peramal?


Sejenak ditata perasaannya yang sempat terkejut atas pertanyaan alias tebakan Dhafin yang tepat.


"Benar, Saudara Dhafin," sahut Zelyne mengakui. "Saya memang bukan dari pihak atau kubu istana, melainkan dari pihak Yang Mulia Raja."


"Bukankah itu sama saja?" tanya Zafer agak heran.


"Baiklah, aku akan memberitahukan kepada kalian tentang sebuah rahasia yang belum ada yang tahu selain dari kubu kami," kata Zelyne hendak mengungkap sesuatu.


Lalu Zelyne menuturkan bahwa di dalam pemerintahan Kerajaan Bentala sebenarnya ada 2 kubu yang berbeda terdapat di dalamnya. Kubu Selir Hellen dan kubu Yang Mulia Raja.


Kubu atau pasukan Selir Hellen yaitu yang berada di istana sekarang dan orang-orang yang mendukung dia dari pihak perguruan beladiri.


Sedangkan dari pasukan Yang Mulia Raja sebagian besarnya berkonsentrasi di suatu tempat yang bukan berada di kotaraja.


Cuma sebagian kecil berada di istana. Tapi yang sedikit itu adalah orang-orang yang sudah terlatih seperti Zelyne.


Maksud Yang Mulia Raja membentuk pasukan sendiri tidak lain adalah untuk memerangi pasukan Selir Hellen, ibunya sendiri jika dirasa pasukan Yang Mulia sudah cukup.


Begitu berhasil merebut Kerajaan Bentala, Yang Mulia Raja akan menyerahkan Kerajaan Bentala kepada keturunan Pangeran Ghazam, kakaknya yang sudah mati.


Karena Yang Mulia Raja merasa yakin kalau keturunan kakaknya masihlah ada.


Semua orang yang ada di situ mendengarkan penuturan Zelyne itu dengan seksama, tanpa menyela sedikit pun.


Sementara Dhafin sebenarnya pernah mendengar Yang Mulia Raja menyinggung hal itu, tapi tidak terlalu rinci seperti yang dituturkan Zelyne.


Tidak lama kemudian, mereka meninggalkan tempat itu setelah Dhafin mengirim mayat Pangeran Marvin kembali ke istana. Tentu pekerjaan itu dengan menggunakan kekuatan Ghaib.


Dan Zelyne makin bertambah gembira bahwa ternyata dia diluaskan untuk ikut dengan pemuda yang dicintainya.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2