
Gibson melangkah perlahan menghampiri Penyair Pemetik Bunga yang sudah jadi mayat tak berguna. Begitu sampai dia menatap miris pada pemuda cabul yang mati masih bergelimang dosa itu.
Mulutnya yang belepotan darah masih menganga lebar. Sepasang matanya melotot nyalang. Tampak dadanya hancur berlubang dan mengeluarkan darah yang sungguh menjijikkan.
"Sungguh malang nasibmu, wahai durjana...
Kamu kini telah menjadi seonggok yang tak berguna...
Sebentar lagi binatang ****** akan melahap jasadmu yang nista...
Sementara arwahmu akan kembali ke haribaan Sang Penguasa Semesta
Arwahmu akan menjadi pesakitan di sana
Sungguh akhir hidupmu begitu menyedihkan, wahai sang durjana...."
Terdengar gumaman Gibson melantunkan syair yang mengandung makna penyesalan. Penyesalan atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat penyair cabul itu selama hidupnya.
Perasaan dan keadaan Gibson bagaikan seseorang yang kehilangan sahabatnya. Wajah tampannya benar-benar menggambarkan kesedihan. Di balik kesedihan itu berbalut penyesalan. Seakan dia menyesal membunuh Penyair Pemetik Bunga.
Suasana hati Gibson memang tenggelam dalam kesedihan. Namun kewaspadaannya tidak ikut tenggelam. Sepasang telinganya segera mendengar ada gerakan halus dari arah belakangnya.
Gibson tidak mau mengambil resiko berbalik terlebih dulu. Bisa-bisa dia kecolongan duluan. Seketika telapak tangan kanannya dengan jeriji merenggang menegang kaku.
Lalu hendak disentak ke arah datangnya gerakan halus itu tanpa berbalik. Namun belum juga keluar tenaga saktinya dari telapak tangannya, terdengar sebuah suara menegurnya dengan nada tenang.
"Apakah kamu sudah melupakan sahabat sehingga mau membunuhnya, Gibson?"
Telapak tangan Gibson yang sudah siap melesatkan pukulan jarak jauhnya seketika terhenti di udara. Malah sontak dia terkejut. Suara yang begitu tenang penuh wibawa seperti pernah dia mengenal pemiliknya.
Seketika dia berbalik menghadap ke belakang dengan cepat. Tak butuh waktu lama sepasang mata hitamnya langsung menangkap sosok Dhafin yang tengah melangkah ringan kearahnya. Di belakangnya mengikuti 2 gadis cantik yang asing baginya.
Nona Fariza memang dia belum menyadari pernah mengenalnya. Dia hanya tahu gadis itu hampir menjadi santapan kemesuman Penyair Pemetik Bunga.
Gibson masih menatap tak berkedip pada Dhafin meski pemuda itu sudah berada 2 langkah di depannya. Sorotan matanya begitu terkesima seakan tidak percaya dapat bertemu lagi sahabat kecilnya dulu yang telah terpisah selama 8 tahun.
"Apakah kamu masih mengenalku, Pendekar Penyair?" tanya Dhafin bersuara lembut penuh persahabatan seraya tersenyum hangat.
"Pangeran Pusat?" Gibson malah bertanya menyebut julukan Dhafin yang pernah dia berikan. "Apakah kamu Pangeran Pusat, Tuan Muda Dhafin?"
__ADS_1
"Aku hanyalah seorang Dhafin," kata Dhafin seakan meralat ucapan Gibson yang menjulukinya Pangeran Pusat. "Julukan itu terlalu tinggi bagiku. Masih juga kamu mengingatnya."
Gibson tidak menghiraukan ucapan Dhafin yang seperti menggerutu itu. Dia langsung merangkul sahabat kecilnya itu dengan penuh persahabatan yang berbalut keharuan.
Delapan tahun tidak bertemu dan tiba-tiba bertemu lagi, bagaimana perasaan ini tidak terharu?
"Aku senang sekali bisa berjumpa denganmu lagi setelah 8 tahun kita berpisah, Pangeran Pusat," kata Gibson bernada haru sambil masih merangkul Dhafin. "Dan aku memang merasa yakin pasti kita akan bertemu lagi."
"Penguasa Langit Maha Adil, Pendekar Penyair," kata Dhafin bernada bijak sambil menepuk-nepuk pelan punggung Gibson. "Tentu Dia tidak akan memisahkan persahabatan sejati para hamba-Nya begitu saja."
Melihat dan merasakan keharuan yang terjadi antara 2 sahabat yang baru bertemu lagi itu, membuat Fariza dan Kayshila ikut terharu pula. Apalagi mereka juga baru saja bertemu kembali setelah terpisah 8 tahun lamanya. Maka suasana seperti itu makin terasa bagi mereka.
"Ya, Penguasa Langit memang Maha Adil," kata Gibson seolah menandasi ucapan Dhafin.
Setelah itu Gibson melepaskan rangkulannya pada Dhafin seolah tidak mau larut dalam keharuan. Apalagi dia telah menyadari ada 2 orang gadis selain dia dan Dhafin di tempat ini.
★☆★☆
Begitu terbetik di benaknya akan hal itu, lantas dia memandang 2 gadis cantik yang berdiri 2 langkah di belakang Dhafin.
Saat pandangan matanya tertuju pada Fariza, lantas dia bertanya kepada gadis baju ungu itu. Sementara dia dalam keadaan masih belum menyadari tentang Fariza yang pernah dikenalnya.
Entah kenapa dia begitu mengkhawatirkan keadaan Fariza. Waktu dia terlempar ke belakang tadi, dia masih sempat melihat gadis itu ikut terhempas pula.
Begitu melihat ada orang yang menolongnya, dia jadi tenang. Tapi tak urung dia masih khawatir juga. Soalnya dia yakin sedikit banyak Fariza pasti terkena imbas akibat dia dan Penyair Pemetik Bunga beradu tenaga sakti melalui syair.
Mendengar nada kekhawatiran Gibson akan dirinya, betapa hati Fariza bahagia sekali. Tapi dia sedikit merasa aneh karena nada bertanya Gibson seolah tidak mengenalnya.
Namun dia cepat tersadar kalau sebelumnya dia bertemu dengan Gibson cuma sekali. Dan lebih dominan saat bertemu dia memakai cadar di depannya. Gibson melihat wajahnya dulu cuma beberapa kilas saja, tidak lama.
Jadi pantas saja meski sekarang dia tidak memakai cadar tetap Gibson tidak mengenalnya.
Tapi ada satu kenangan yang bisa jadi Gibson dapat mengenalnya melalui kenangan itu. Yaitu Gibson pernah merebut cadar ungunya.
Tapi apakah Gibson masih menyimpan cadar ungu itu?
"Aku baik-baik saja, Kak Gibson," kata Fariza sambil tersenyum manis.
Sebenarnya banyak yang Fariza ingin ungkapkan dan utarakan kepada pemuda pujaan hatinya sejak kecil itu. Namun jadi urung karena ada Dhafin dan Kayshila di sini. Jelas dia malu kepada mereka.
__ADS_1
Gibson tidak curiga Fariza mengetahui namanya dan memanggilnya kakak. Pikirannya masih tersibukkan akan keadaan Fariza.
"Aku yakin kamu juga mengalami luka dalam akibat imbas dari gelombang energi sakti milikku dan milik penyair durjana itu...."
Setelah berkata begitu, lantas dia menoleh pada Dhafin dan berkata dengan nada terputus.
"Apakah...?"
"Kamu tenang saja," kata Dhafin seolah tahu apa yang dikhawatikan Gibson. "Nona Fariza sekarang sudah tidak apa-apa. Luka dalamnya sudah sembuh."
"Nona Fariza?!" cetus Gibson dalam hati.
Tampak dia terkejut sebentar mendengar gadis itu dipanggil Fariza. Dia pernah bertemu seorang gadis yang bernama demikian.
Apakah gadis yang pernah ditemuinya adalah gadis ini? Atau hanya kebetulan namanya sama?
Dia tidak mau terlalu banyak berpikir dulu tentang hal itu. Dia kembali menatap mayat Penyair Pemetik Bunga. Lalu terdengar dia bertanya kepada Dhafin.
"Apakah kamu mengenal pemuda durjana itu?"
"Bukankah dia bernama Alby, saudara seperguruanmu?" kata Dhafin menebak.
"Ya, kamu benar, Tuan Muda," kata Gibson membenarkan. "Dia memang Alby. Setelah sekian lama berpisah dengan lelaki itu, begitu bertemu dia sudah menjadi manusia hina. Sungguh menyedihkan."
"Tapi kenapa dia bersikap seolah tidak mengenalmu tadi, Kak Gibson?" tanya Kayshila heran bercampur penasaran.
"Pikirannya sudah dirasuki oleh mantra ghaib yang membuat memori masa lalunya terhapus," Dhafin yang menjawab sambil masih memperhatikan mayat penyair cabul yang ternyata bernama Alby.
"Aku juga menduga demikian," kata Gibson sepakat. "Dia terkena mantra ghaib yang membuatnya tidak mengenal aku lagi."
"Aku tidak tahu ke mana dia pergi berguru setelah kami berpisah," lanjutnya. "Begitu muncul kembali, tahu-tahu dia sudah menguasai ilmu yang menjijikkan."
"Tapi sudahlah, tidak perlu kita terlalu panjang lebar membahasnya," kata Gibson tak ingin lama-lama membicarakan Alby, Penyair Pemetik Bunga. "Sekarang dia sudah mati dengan membawa dosa kenistaan."
"Kalau begitu sebaiknya kita tinggalkan tempat ini!" ajak Dhafin kemudian. "Takutnya orang-orang Yang Mulia Ardian datang ke tempat ini."
"Kebetulan Alby juga orangnya Yang Mulia Adrian," kata Gibson mengabarkan.
Tak lama kemudian 4 pemuda-pemudi itu meninggalkan tempat itu. Tak butuh waktu lama tempat itu seketika kembali menjadi sunyi.
__ADS_1
★☆★☆★