Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 174 AKHIRNYA GIBSON BERTEMU DENGAN ADIKNYA


__ADS_3

Nyonya Brianna melangkah pelan dengan dada yang berdebar mengikuti suaminya memasuki ruangan luas di Istana Kejora, kediaman Yang Mulia Ratu. Di situ ternyata sudah berkumpul cukup banyak orang.


Ratu Agung Aurellia duduk diapit oleh Selir Heliana sebelah kanan dan ayahandanya, Raja Darian Cashel sebelah kiri di atas panggung tidak terlalu luas setinggi 2 hasta.


Setelah sekian lama ayah dan anak itu terjadi kerenggangan hubungan keluarga, akhirnya dapat bersatu lagi dengan damai dan bahagia. Dan seluruh penghuni Istana Centauri menyambutnya dengan penuh sukacita.


Tidak kalah bahagia pula Permaisuri Chalinda dan Selir Grizelle yang memang mendambakan perdamaian antar ayah dan anak itu terjadi. Sedangkan Selir Agung Cassiopea dan Selir Caitline juga turut bahagia.


Kedua istri Raja Darian itu, setelah melewati semua peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa tahu kemarin, dan selama tinggal di Istana Centauri, mereka merenungi perilaku mereka yang buruk di masa lalu dan berusaha membenahi diri dengan perlahan-lahan.


Di ujung depan sebelah kanan panggung duduk berderet Pendeta Noman, Pangeran Nelson, Jenderal Myles, kursi kosong, Jenderal Felix, serta 3 deret kursi kosong.


Di ujung depan sebelah kiri duduk berderet Selir Grizelle, kursi kosong, Nyonya Carissa, Putri Raisha, Putri Kayshila, Ariesha, dan Grania.


Semua penghuni ruangan luas ini langsung memandang pada pasangan suami istri itu saat telah memasuki ruangan. Termasuk Grania yang sempat terkejut mengetahui ternyata kedua ortunya diundang juga.


Sementara Jenderal Lyman dan Nyonya Brianna terus melangkah sampai ke depan panggung. Berlutut menyembah hormat berikut mengucapkan salam penghormatan.


"Bangunlah, Bibi, Paman!" perintah Ratu Aurellia bernada lembut penuh elegan penuh wibawa serta keanggunan. "Dan duduklah di kursi yang sudah disediakan!"


Jenderal Lyman dan Nyonya Brianna lalu bangkit penuh hormat. Kemudian Jenderal Lyman melangkah ke kursi kosong di samping Jenderal Myles dan Jenderal Felix. Lalu duduk di situ.


Sementara Nyonya Carissa menghampiri sahabatnya, Nyonya Brianna. Menghantarnya ke kursi kosong di sampingnya dan Selir Grizelle, lalu didudukkan di situ.


Dalam keadaan Nyonya Brianna bertanya-tanya ada apa ini? Katanya putranya, Gibson mau bertemu dengannya? Tapi kenapa putranya itu malah tidak ada?


Sementara itu juga Grania bertanya-tanya kenapa dia diundang hadir pada pertemuan semacam ini? Dia hanya diberi tahu kepada Ratu Aurellia kalau ini adalah pertemuan keluarga.


Pertemuan keluarga macam apa dia masih belum mengerti. Walau dia melihat bunda serta ayahnya ikut serta dalam pertemuan ini dia juga masih belum mengerti.


Gadis-gadis cantik yang diundang juga sepertinya belum mengerti, meski sudah diberitahu pula kalau pertemuan ini merupakan pertemuan keluarga.


"Bibi Brianna, apakah kamu sudah tahu maksud kita mengadakan pertemuan seperti ini?" tanya Ratu Aurellia seraya menoleh pada Nyonya Brianna.


"Ampun, Yang Mulia," kata Nyonya Brianna penuh hormat setelah menjura hormat. "Tadi suami hamba memberi tahu kalau putra hamba hendak bertemu dengan hamba...."


"Tapi...."


Ucapan Nyonya Brianna langsung terhenti ditengah jalan. Lalu memandang deretan kursi kosong di samping Jenderal Felix. Dikiranya di salah satu kursi kosong itu bakal duduk Gibson, putranya. Tapi ternyata tidak ada.


Dia sudah mempersiapkan dirinya kalau anaknya itu bakal menolaknya lagi ketika dia mengakui di hadapan orang banyak kalau dia adalah ibunya.


Perlu diketahui rahasia tentang dia punya anak di luar nikah tidak ada seorang pun yang tahu selain keluarganya, termasuk Selir Grizelle, kakak kandungnya. Kecuali teman baiknya, Nyonya Carissa.


Tapi ternyata Jenderal Lyman telah mengetahuinya pula. Lebih tepatnya menduga kalau Gibson adalah putra istrinya dari lelaki lain. Hal itu berdasarkan hasil penyelidikannya dan Jenderal Felix secara pribadi.


Dan begitu dia menanyakan langsung kepada istrinya, Nyonya Brianna langsung mengakui tanpa ragu.


Sementara Grania, Putri Raisha dan Ariesha, mendengar Nyonya Brianna berkata kalau putranya hendak bertemu dengan sang nyonya, mereka segera berkesimpulan kalau orang yang dimaksud adalah Dareen Ardiaz.


Dareen Ardiaz memang telah menghilang bersamaan hilangnya anak-anak lainnya pada peristiwa tahun kehilangan tersebut. Dan orang-orang berkesimpulan kalau Dareen Ardiaz hilang karena 'diculik'.


Diculik oleh siapa belum jelas. Karena nyatanya Dareen Ardiaz tidak ada di Markas Centaurus. Juga tidak ada di kelompok-kelompok mitra kerja sama mereka.


Sementara Ratu Aurellia juga memandang ke arah yang dilihat Nyonya Brianna. Lalu tak lama dia agak kaget juga seolah baru menyadari kalau 3 kursi itu masih kosong.


Lantas dia menoleh pada Pangeran Nelson, lalu bertanya.


"Kenapa Pangeran Revan, Kak Dhafin dan Kak Gibson belum datang, Paman? Mereka bikin apa dulu? Kenapa tidak langsung ke sini?"


Mendengar pertanyaan sang ratu tentu saja Putri Raisha maupun Ariesha amat terkejut.

__ADS_1


Lebih terkejut lagi Grania. Bagaimana ceritanya bahwa Gibson adalah putra ibunya? Apakah ibunya pernah nikah sebelumnya? Kenapa sampai dia tidak tahu?


Pantas saja Gibson seperti menjauh darinya ternyata mereka bersaudara seibu. Tapi kenapa dia tidak memberi tahu kalau dia saudaranya? Sampai Grania uring-uringan mengejar cintanya.


"Mereka dan beberapa orang lainnya tadi sedang mengadakan perundingan kecil, Yang Mulia," sahut Pangeran Nelson penuh sikap hormat.


★☆★☆


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah gazebo di atas telaga yang cukup luas. Telaga itu terletak di antara Istana Centauri dengan Markas Centaurus.


Di situ telah berkumpul beberapa orang yang tengah membicarakan tentang hal penting.


Mereka di antaranya dari ksatria elit pria: Pangeran Revan, Pangeran Pusat, Pangeran Hitam (Brian), Pangeran Aziel, Keenan, Kelvin, Gibson, Pangeran Zafer, dan Hendry.


Sedangkan dari ksatria elit perempuan yaitu Jessica, Zelyne, Jovita, Keysha, Abiela, Danita, dan Fariza. Juga ikut nimbrung di situ Putri Athalia, Putri Arcelia.


Bahkan Kaluna dan Malinka juga ada di situ. Rupanya kedua gadis tidak mau terpisah lama dengan junjungan mereka. Setelah Putri Athalia mengadakan pertemuan khusus dengan Ratu Aurellia, kedua gadis itu dipanggil oleh junjungan mereka di Istana Centauri.


Mereka mengadakan pertemuan di gazebo cukup besar itu sebelum pertemuan di aula kediaman Ratu Aurellia, Istana Kejora.


Tentu yang mereka bicarakan tentang strategi dan siasat untuk menyerang 2 perguruan besar di luar batas Kerajaan Bentala. Sebelumnya mereka telah mengirim mata-mata untuk mengintai 2 perguruan besar itu.


Adapun mengenai pembicaraan rahasia yang mereka dapat dari pertemuan orang-orang kependekaran di ujung wilayah timur Kerajaan Bentala, nanti akan dibicarakan pada rapat besar nanti.


Setelah pertemuan kecil itu selesai, sebagian besar mereka naik ke darat, termasuk Pangeran Revan, Dhafin, dan Gibson yang bersiap-siap hendak menuju Istana Kejora.


Sebenarnya Putri Athalia dan Putri Arcelia ingin ikut. Tentu Kaluna dan Malingka tidak ketinggalan. Namun dilarang oleh Dhafin. Karena pertemuan nanti itu adalah pertemuan khusus keluarga. Maka baik Putri Athalia maupun Putri Arcelia dapat mengerti.


Namun sebelum mereka berpisah, Kaluna memberanikan diri untuk berbicara kepada.


"Tuan Gibson, boleh saya bicara pada tuan sebentar saja?"


"Oh, aku baru ingat pula," kata Gibson, "kalau aku juga hendak bertanya kepada nona. Tapi silahkan nona duluan mau bicara apa!"


Melihat adegan sampai di sini Fariza Luna yang juga ada di situ jelas sudah pasang ancang-ancang cemburu. Tapi dia diam saja dulu sambil menyaksikan adegan apa yang akan terjadi nanti.


"Apa nama lengkap tuan adalah Gibson Kyler?"


"Benar, itu memang nama panjang saya," sahut Gibson dengan ekspresi terkejut seraya menatap lekat-lekat pada Kaluna. Dan beberapa helaan napas saja dia sudah dibuat terkejut lagi karena wajah Kaluna mengingatkannya pada adik perempuannya yang sudah lama terpisah dengannya.


"Nona mengenal saya?"


Kaluna tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi dia terdiam sejenak sambil juga menatap Gibson. Dia sudah setengah yakin kalau di depannya itu kakaknya yang hilang dulu bersamanya secara terpisah.


Sementara orang-orang yang ada di situ tidak ada yang bersuara sedikitpun. Mereka seakan membiarkan kedua insan itu menuntaskan persoalan tanpa diganggu.


Sedangkan Fariza Luna, kecemburuannya sudah lepas, menaburi perasaan dan hatinya yang sudah bersedih. Dia sebenarnya hendak berbicara. Tapi Jovita mencegat sambil memberi isyarat kalau jangan melakukan apapun.


Terpaksa dia menuruti. Tapi api kecemburuan sudah hampir merata membakar hatinya.


Kemudian Kaluna mengambil sapu tangan merah dari balik bajunya. Sedangkan Gibson tidak butuh waktu lama untuk melihat sapu tangan itu dia sudah mengenalnya.


Refleks tangannya yang gemetar terulur mengambil sapu tangan itu. Dan Kaluna diam saja. Sementara keharuan sudah menyapa perasaannya. Air mata sudah siap menggenang di kelopak mata indahnya.


"Nona ambil dari mana sapu tangan adikku ini?" tanya Gibson yang terdengar sedikit parau suaranya karena sudah mulai dikuasai perasaan haru.


Kaluna tidak menjawab pertanyaan itu, tepatnya tidak sanggup. Sepasang mata indahnya masih menatap Gibson belum berkedip. Air mata yang sudah tergenang di kelopak mata indahnya langsung jatuh menggulir di pipi putih halusnya tanpa ada yang menghalangi.


"Itu sapu tangan milik Kaluna, Tuan Gibson," Putri Athalia yang menjawab.


"Lavanya..., adikku...," kata Gibson bernada desah sudah tidak bisa lagi menahan keharuan. "Kamu masih mengenal aku 'kan, kakakmu?"

__ADS_1


"Ka... kamu masih menyimpan sapu tanganmu, Kak?" Kaluna malah bertanya, hampir tidak bisa lagi menahan tangisnya.


Tanpa banyak pikir, setelah mengembalikan sapu tangan Kaluna, Gibson mengambil sapu tangannya dari balik bajunya, lalu memperlihatkan pada Kaluna.


Sedangkan Kaluna tidak perlu lama melihat sapu tangan milik kakaknya itu, dan tidak perlu juga dia memegang untuk lebih mengenalnya, dia langsung mengenalnya.


★☆★☆


"Kakak...!" ucapnya setengah menjerit.


Tanpa sungkan Kaluna langsung menghambur dan memeluk sang kakak tercinta. Air mata makin banyak menggulir di pipinya, sedangkan tangisnya langsung meledak begitu saja.


Keharuan, kesedihan, serta rasa gembira yang tiada terkira bercampur jadi satu dalam perasaannya sehingga meledakkan tangisnya yang tiada terbendung.


Tentu saja Gibson langsung balas memeluk adiknya pula dengan erat tapi lembut penuh kasih sayang. Air mata keharuan tak bisa pula dia bendung meski tidak sampai meledakkan tangisnya.


Betapa bahagianya pemuda itu tidak bisa terbendungkan. Tidak bisa diungkap dengan kata-kata selain hanya merasakan kehadirannya.


"Tahu tidak, Kak, betapa aku amat merindukanmu...," kata Kaluna bernada pilu di tengah isak tangisnya yang mengharu. "Aku kira... Aku kira tidak bertemu lagi denganmu, Kak...."


Kaluna terus saja memuntahkan ungkapan perasaannya yang selama ini terpenjara setelah sekian lama tidak bertemu dengan Gibson.


"...Aku sudah tidak punya keluarga lagi selain dirimu, Kak. Kamu jangan tinggalkan aku lagi, Kak...."


"Kamu tenang saja, Adikku," kata Gibson bernada lembut penuh kasih sayang, "mulai sekarang kita tidak akan terpisah lagi...."


Sementara tanpa disadari pula adegan mengharukan semacam ini sukses membuat orang-orang yang ada di situ ikut terbawa hanyut dalam kesedihan dan keharuan yang bercampur rasa bahagia.


Putri Arcelia serta beberapa gadis lainnya tidak bisa menahan tangis mereka. Meski tidak terlalu bersuara, tapi cukup membuat air mata mereka keluar.


Terkhusus Putri Athalia dan Malinka. Sejak kecil mereka selalu bersama-sama; berlatih dan main bersama. Dan tentunya mereka tahu akan kesedihan Kaluna yang kehilangan kakak tercintanya.


Makanya begitu melihat Kaluna telah bertemu lagi dengan kakaknya yang ternyata Gibson, betapa amat bahagianya mereka.


Sedangkan Fariza, hilang sudah kecemburuan dalam hatinya. Berganti dengan bahagia dan haru menyaksikan Gibson telah bertemu dengan adiknya kembali setelah sekian lama terpisah.


Sementara baik Dhafin, Pangeran Revan maupun Zafer, meski tidak sampai mengeluarkan air mata, namun suasana yang mengharukan ini sukses pula membuat mereka ikut terbawa perasaan.


Sedangkan Aziel juga turut merasa bahagia sekaligus merasa sedih.


Turut merasakan bahagia karena Gibson telah bertemu kembali dengan adiknya setelah sekian lama terpisah.


Tapi bersamaan dengan itu dia bersedih pula karena sampai saat ini dia belum menemukan adiknya. Sementara dia belum ada gambaran harus mencari di mana.


Diceritakan bahwa sebab terpisahnya Gibson dengan adik perempuannya akibat peristiwa penculikan anak-anak yang akan diperdagangkan untuk dijadikan budak.


Setelah diculik mereka dijual pada pembeli yang berbeda. Itulah sebabnya mengapa mereka sehingga bisa terpisah.


Kaluna dijual untuk dijadikan budak di Kerajaan Lengkara. Sedangkan Gibson dijual untuk dijadikan budak di Kerajaan Bentala.


Akan tetapi nasib mujur masih menemani Kaluna. Ada sekelompok orang yang menyelamatkan dia dan yang lainnya. Dan ternyata yang menyelamatkan mereka itu adalah pasukan Putri Athalia.


Singkat cerita dia dibesarkan dan digembleng menjadi pasukan tangguh di Kampung Tolucan. Sehingga dia dipercaya menjadi salah satu pengawal sang pimpinan Kampung Tolucan, Putri Athalia.


Sedangkan Gibson terjadi peristiwa menakjubkan pada dirinya setelah diculik.


Selagi dia masih dalam penjara budak, dia didatangi dan diselamatkan oleh orang tua aneh yang kedatangannya tanpa seorang pun yang tahu selain Gibson.


Orang tua itu muncul begitu saja di depan Gibson yang kala itu bersedih karena terpisah dengan adiknya. Tanpa banyak cakap orang tua itu langsung mengambil Gibson, lalu menghilang begitu saja.


Singkat cerita orang tua itu ternyata siluman baik dan telah menjadi guru Gibson. Dan tetap menjadi gurunya sampai pun dia di gembleng menjadi ksatria tangguh di Markas Centaurus.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2