Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 88 PEMBASMIAN SECARA TUNTAS


__ADS_3

Langit begitu cerah nyaris tak ada awan yang bergelantungan. Matahari bersinar amat terik seakan hendak menghanguskan mayapada.


Namun cuaca panas yang tidak bersahabat itu tidak menyurutkan semangat tempur dua kubu yang sedang berperang di tengah sebuah lembah. Seakan terik mentari menjadi pembakar semangat juang mereka.


Siapa lagi yang bertempur itu kalau bukan pasukan Yang Mulia Ratu Agung melawan pasukan istana.


Memang patut diakui kalau kehebatan prajurit militer istana yang bertempur kali ini cukup berbeda dengan prajurit militer yang bertempur tempo hari. Rata-rata mereka dapat mengimbangi semua serangan pasukan gabungan beberapa waktu lamanya.


Namun melawan Pasukan Jubah Merah dan Pasukan Khusus Istana Centauri bukanlah hal yang mudah. Mereka dilatih dengan cukup keras. Bukan hanya untuk melawan pasukan istana, melainkan juga untuk melawan kelompok-kelompok bawah tanah yang liar.


Pasukan istana dapat bertahan selama sepenanakan nasi sudah terbilang hebat. Namun begitu sepeminum teh berlalu pasukan istana sudah mulai bertumbangan satu demi satu.


Maka kembali terdengar jeritan-jeritan kematian yang saling susul di tengah-tengah denting suara senjata logam beradu serta teriakan-teriakan pertempuran.


Sementara itu, para komandan dan beberapa jawara istana kini sudah terdesak hebat melawan Yang Mulia Ratu dan Pangeran Revan serta orang-orang sakti lainnya. Sedangkan sudah belasan jawara istana yang lain telah terkapar bersimbah darah.


Para komandan itu bukanlah mempunyai beladiri dan tenaga dalam yang rendah. Rata-rata mereka mempunyai tenaga dalam yang hebat dan tinggi.


Sama halnya pula dengan para jawara istana. Apalagi beberapa orang pimpinannya. Rata-rata mereka memiliki kemapuan yang tidak bisa dianggap remeh.


Namun yang mereka lawan adalah orang-orang sakti di bawah kepemimpinan Ratu Agung Aurellia. Yang mana sebagian di antara mereka berguru bukan pada manusia, melainkan pada siluman.


Tampak Aziel dikeroyok oleh 5 orang jawara istana. Senjata masing-masing mereka berseliweran mengincar tubuh Aziel yang mematikan.


Namun untuk kesekian kalinya Aziel mengayunkan SEPASANG PEDANG BULAN-nya dengan sebat menghantam semua senjata lawan yang mengarah padanya.


Dan kali ini semua senjata lawannya itu patah dan hancur berantakan terhantam mata sepasang pedang Aziel. Sehingga membuat mereka memekik tertahan.


Sedangkan sepasang pedang yang berwarna kuning bulan itu terus saja bergerak amat lincah dan amat cepat. Saking cepatnya kelebatan sepasang pedang Aziel, tahu-tahu 5 jawara itu sudah bertumbangan sambil menjerit setinggi langit.


Tak lama mereka telah terkapar bersimbah darah di atas tanah dengan luka di tubuh yang mengerikan. Bahkan ada yang kepalanya putus. Ada pula yang badannya hampir terpisah.


Sedangkan Aziel tidak menghiraukan lagi nasib 5 jawara malang itu. Setelah menyembunyikan kembali sepasang pedangnya, dia langsung berkelebat ke tempat Jenderal Jovita yang dikeroyok 3 orang jawara.


Begitu sampai di tempat Jenderal Jovita, Aziel langsung membantu jenderal cantik berambut panjang terurai itu.


Mendapati Aziel telah membantunya, membuat hati Jovita amat senang. Serasa ada bunga bertaburan di dalam hatinya. Senyum manis langsung terukir di bibir merahnya.


Tadinya Jovita belum bisa mendesak 3 lawannya yang memang hebat. Namun begitu mendapat bantuan Aziel, belum 1 jurus berlalu mereka sudah mendesak lawan.


Sementara prajurit militer istana terus saja bertumbangan dengan bersimbah darah. Mayat-mayat semakin banyak terbaring dan saling tumpang tindih.


Darah-darah segar terus mengalir dari luka-luka yang mengerikan. Sehingga tempat itu sudah becek dengan darah. Bau amis yang begitu santer menyebar ke segala arah menebarkan aroma busuk yang amat sangat.


★☆★☆


Traaang!!!


"Akh!"


Terdengar bunyi suara 2 pedang yang saling beradu di udara. Tampak pedang cukup lebar salah seorang pimpinan jawara seketika hancur berantakan. Sedangkan si pemilik pedang meringis kesakitan.


Sementara Pedang Kayangan yang memancarkan cahaya kuning milik Ratu Agung Aurellia terus bergerak cepat membabat 2x berturut-turut. Babatan pertama memenggal leher lawan hingga putus. Babatan ke 2 menebas tubuh lawan hingga terpotong dua.


Pada waktu yang hampir bersamaan di tempat yang tidak jauh dari Yang Mulia Ratu, tampak Jenderal Grania juga hampir menyelesaikan pertarungannya.


Pedangnya diayunkan dengan cepat dan kuat 3x tanpa henti. Ayunan pertama masih dapat ditangkis oleh lawan. Ayunan ke 2 memenggal pedang lawan menjadi 2. Ayunan ke 3 menebas tangan yang memegang pedang.


Terang saja komandan militer itu menjerit kesakitan yang amat memilukan. Tapi belum juga puas menjerit, pedang Grania kembali terayun dengan cepat 2x.


Breeet! Craaas!

__ADS_1


Breeet! Craaas!


"Aaa...!!!"


Saking cepatnya ayunan pedang Jenderal Grania, membuat komandan itu tak sempat berkelit. Sehingga dada dan lambungnya menjadi sasaran ujung pedang Grania. Maka kembali dia menjerit sepuas-puasnya dengan dada dan lambung yang luka memanjang.


Di waktu yang bersamaan Jenderal Grania merobek dada dan lambung lawannya, Jenderal Ariesha melenting cukup tinggi ke udara sambil mengayunkan pedang hendak membelah dua jawara lawannya.


Gerakan Ariesha begitu cepat dan ayunan pedangnya yang membabat dari atas ke bawah tidak kalah cepatnya. Membuat sang jawara tidak sempat menghindari. Maka dengan berani diangkat pedangnya ke atas kepala menangkis laju babatan pedang Jenderal Ariesha.


Traaang! Trak!


Craaas!!!


Pedang sang jawara langsung terpotong dua begitu menghantam mata pedang Ariesha. Sedangkan laju pedang Jenderal Ariesha tidak terhenti. Terus saja meluncur hingga membelah dua saja jawara dari kepala hingga ke ************.


Tak lama orang itu jatuh bagai potongan kayu yang terbelah dua, bersamaan dengan tumbangnya lawan Jenderal Grania.


Sementara di tempat lain yang masih di area pertempuran tampak Pangeran Revan tengah berdiri diam menanti datangnya serangan salah seorang pimpinan jawara lawannya.


Sang pimpinan tampak melesat ke arah Pangeran Revan sembari melenting di udara. Senjatanya berupa tombak bermata golok mengayun dengan sebat hendak membelah kepala Pangeran Revan.


Lesatan tubuh orang itu demikian cepatnya, tahu-tahu mata tombaknya sudah berada 3 jengkal di atas kepala Pangeran Revan.


Namun begitu kurang dari 2 jengkal lagi mata tombak berupa golok besar itu membelah kepala Pangeran Revan, dengan amat cepat tangan kanan Pangeran Revan menangkap mata golok itu dengan berani.


Kemudian jerijinya menjepit dengan amat kuat badan golok itu. Hingga batang golok itu patah menjadi dua.


Terang saja jawara itu terkejut bukan main Pangeran Revan menangkap mata tombaknya dengan berani, lalu mematahkannya dengan mudah.


Tapi belum juga keterkejutannya hilang, kaki kiri Pangeran Revan mendupak dada pimpinan jawara itu dengan kuat dan keras. Hingga dia terlempar ke belakang dalam keadaan masih terkejut.


Sedangkan Pangeran Revan tidak sampai disitu saja aksi gilanya. Potongan golok yang masih di tangannya langsung dilemparkan ke arah wajah jawara yang masih berada di udara itu.


★☆★☆


Pasukan militer istana terus berguguran tanpa henti. Hingga akhirnya mereka semua terbasmi tanpa ada sisa. Sementara dari pihak pasukan Yang Mulia Ratu tak ada seorang pun mati.


Cuma sekitar puluhan orang yang terluka kena sayatan senjata pedang. Namun tidak sampai mematikan.


Yang tersisa tinggal 3 orang komandan dan 2 orang pimpinan jawara serta belasan jawara yang tengah berjuang mati-matian mempertahankan selembar nyawa mereka yang sebentar lagi melayang.


Tampak Kelvin melancarkan pukulan dan tendangan pada 3 orang jawara lawannya. Sehingga untuk kesekian kali mereka terjungkal ke belakang.


Meski mereka sudah babak belur dihajar oleh Kelvin, tapi belum juga mati-mati meski sudah kepayahan. Karena kebiasaan Kelvin selalu menyiksa dulu lawannya baru membunuhnya dengan sadis.


Tiga orang jawara lawan Kelvin segera beringsut bangkit dengan kepayahan. Senjata di tangan masing-masing digenggam erat-erat. Lalu seakan ada yang beri komando mereka serempak menyerang Kelvin dari 3 arah.


Jawara bersenjata tombak menusuk dada kiri Kelvin dari depan. Jawara bersenjata pedang menusuk rusuk belakang Kelvin sebelah kiri. Sedangkan jawara berparang besar menebas leher belakang Kelvin dari sebelah kanan agak ke belakang.


Sementara Kelvin tetap berdiri diam di tempatnya seakan pasrah menerima semua serangan mematikan itu. Wajah tetap menghadap ke depan. Sepasang mata dipejamkan rapat-rapat sambil tersenyum lebar. Kedua tangan terentang ke samping agak di tekuk ke atas.


Sekian banyak orang yang tak berperang lagi menyaksikan aksi gila Kelvin, termasuk Yang Mulia Ratu dan 3 Pengawal Pribadi-nya. Tentu saja mata-mata mereka menyorotkan keterkejutan yang amat sangat melihat aksi Kelvin itu.


Sedangkan Kelvin tetap tak bergeming. Tetap dengan aksi nekadnya seolah tengah menanti kematian dengan bahagia. Sementara 3 serangan mematikan sebentar lagi akan tiba di tubuhnya.


Namun baru ditunggu beberapa helaan napas serangan sudah tiba di sasarannya....


Craaak!!!


Craaak!!!

__ADS_1


Craaas!!!


"Aaa...!!!"


"Aaakh...!!!"


"Ah!"


Tiga serangan senjata tajam itu memang tepat mengenai sasaran. Namun yang menjerit keras jawara bertombak dan jawara berpedang. Sedangkan jawara berparang cuma memdesak pelan.


Kejadian ini memang sungguh ajaib tapi sekaligus mengerikan. Jawara bertombak memang menusuk dada Kelvin, tapi malah dadanya yang berlubang mengeluarkan darah dan seperti tertusuk benda tajam hingga tembus ke belakang.


Dan jawara berpedang memang menusuk rusuk belakang Kelvin, tapi malah rusuknya yang seperti tertusuk hingga tembus ke rusuk kana depan.


Sedangkan jawara berparang memang menebas leher Kelvin, tapi malah lehernya yang putus. Dia cuma mendesah pelan. Tak lama kepalanya menggelinding jatuh bersama tubuh besarnya yang ambruk.


Hampir bersamaan jawara bertombak dan jawara berpedang menyusul ambruk juga setelah puas menjeritkan kematiannya.


Peristiwa ini sungguh diluar dugaan siapa saja yang melihatnya. Sedangkan Kelvin tampak biasa saja dengan gaya santainya yang khas. Senyumnya masih terkembang seraya melihat ketiga lawannya.


★☆★☆


Sementara itu, Jenderal Keysha baru saja menumbangkan 2 jawara lawannya dengan senjata pedangnya. Darah masih segar mengalir dari bekas luka kedua lawannya itu.


Namun bukan itu yang Keysha perhatikan. Yang dia perhatikan adalah aksi Keenan yang terbilang nekad juga. Yang membuat membelalakkan mata bulatnya.


Tampak pemuda tampan berpakaian elegan itu berdiri diam di tempatnya. Matanya menatap tak berkedip pimpinan jawara yang melesat ke arahnya sambil melenting. Pedangnya yang agak besar mengayun sebat dari bawah ke atas siap membelah dua Keenan.


Sementara Keenan tetap diam saja di tempatnya sambil tersenyum. Tapi begitu pedang lawan kurang dari 2 jengkal lagi di atas kepalanya, seketika tangan kirinya yang sudah terbungkus sinar putih menangkap batang pedang sang pimpinan dengan amat cepat.


Terang saja jawara itu terkejut bukan main. Lebih terkejut lagi karena tiba-tiba hawa dingin yang sangat langsung menyebar ke seluruh batang pedangnya. Membuat pedangnya membeku laksana es batu.


Hawa dingin itu masih terus menjalar dengan cepat hingga membungkus pergelangan tangan bawahnya. Hingga membuat tangan itu membeku jadi es pula.


Dan tak lama tangan yang jadi es itu patah hingga dia jatuh dari melentingnya tadi. Dan jatuhnya di depan Keenan.


Belum sempat dia berbuat sesuatu, telapak tangan kanan Keenan yang juga terbungkus sinar putih langsung menghantam dadanya tanpa ampun. Hingga membuatnya terlempar jauh.


Selagi masih di udara seketika sekujur tubuhnya berubah menjadi es batu. Dan begitu jatuh ke tanah langsung hancur berantakan.


Sementara di arena yang lain para jawara Istana Centauri dan Markas Centaurus serta 10 Pengawal Khusus Ratu sudah menumbangkan semua komandan dan jawara istana.


Dan tak ada lagi pasukan istana memijakkan kakinya di atas tanah. Semuanya sudah terkapar menjadi onggokan mayat lembah itu. Sekitar 3000 lebih pasukan istana terbasmi dengan tuntas tanpa ada sisa.


Tampak mayat-mayat berseragam berserakan saling tumpang tindih di mana-mana. Darah semakin banyak tergenang di sebagian lembah itu. Sebagiannya sudah mengental dan becek.


Tidak lama kemudian, seluruh pasukan Markas Centaurus dan Istana Centauri sudah berada di atas lembah sebelah utara mengitari Yang Mulia Ratu dan orang-orang saktinya.


Tampak 10 Pengawal Khusus Ratu sudah berada di dekat sang ratu. Begitu juga dengan 4 Pengawal Pribadi-nya. Sedangkan Pangeran Revan dan yang lainnya sudah berada di di depan Yang Mulia Ratu dengan penuh takzim.


"Sebaiknya segera kita tinggalkan tempat ini," titah sang ratu kemudian.


Lalu dia memerintahkan seluruh pasukan Istana Centauri untuk kembali ke istana dengan melalui Gerbang Cahaya. Sementara dia dan 4 Pengawal Pribadi-nya serta 10 Pengawal Khusus-nya pergi ke Kampung Naraya bersama Pangeran Revan dan pasukannya.


Sebenarnya Jenderal Danita dan Jenderal Abiela hampir ikut pulang ke istana juga. Tapi Yang Mulia Ratu menyuruh mereka untuk ikut ke Kampung Naraya.


Sepeninggal pasukan Yang Mulia Ratu, tempat itu kembali sunyi. Waktu itu sudah memasuki sore hari.


Rupanya bau amis darah begitu santer menyebar ke udara. yang terbawa oleh angin. Dan bau busuk itu telah sampai ke hidung berbagai hewan buas. Dan juga telah sampai ke sinyal burung-burung pemakan bangkai.


Maka dengan cepat mereka semua datang ke tempat pesta bangkai. Lalu tanpa sungkan mereka langsung berpesta pora menyantap mayat-mayat pasukan istana.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2