Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 77 PERTEMPURAN 1: PERTEMPURAN DI DUA KAMPUNG


__ADS_3

Mendengar perintah maut dari sang kepala regu, seluruh penduduk baik di Kampung Urdha maupun di Kampung Adya semakin ketakutan dan diserang kepanikan yang sangat.


Dan begitu seluruh prajurit dan jawara istana telah menghunus senjata masing-masing dan hendak menyerang mereka, terang saja para penduduk itu langsung lari kocar-kacir sambil berteriak-teriak histeris.


Yang maju menyongsong serangan para prajurit hanya sebagian warga yang memiliki ilmu beladiri. Baik yang ada di Kampung Urdha maupun yang ada di Kampung Adya. Rata-rata mereka semua masih muda.


Dan ternyata warga yang memiliki beladiri bukan hanya dari kalangan laki-laki, dari kalangan perempuan juga ada. Dan ternyata jumlah mereka tidak sedikit. Setidaknya dapat mengalahkan jumlah prajurit istana ditambah jawara istana.


Sepertinya hal ini sudah mereka rencanakan sebelumnya. Buktinya, sebelum menyerang mereka langsung mengeluarkan senjata masing-masing yang ternyata telah disembunyikan di balik pakaian mereka.


Tapi apakah mereka mampu mengalahkan prajurit istana yang sudah terlatih? Ditambah lagi para jawara istana yang kehebatannya jelas melebihi prajurit istana?


Sementara itu, dengan adanya perlawanan sebagian warga, maka penduduk yang tidak ikut berperang untuk sementara masih aman. Namun mereka masih berlari kocar-kacir menuju hutan.


Ketika mereka telah sampai di suatu tempat, langsung bermunculan belasan Pasukan Jubah Merah dan belasan Pasukan Khusus Istana Centauri, baik di daerah hutan Kampung Urdha maupun di Kampung Adya.


Awalnya para penduduk terkejut ketakutan. Namun begitu pasukan penolong itu menginstruksikan mereka agar mengungsi ke Kampung Naraya, tanpa pikir panjang lagi mereka langsung menuju Kampung Naraya.


Karena memang sebelumnya mereka sudah disuruh mengungsi ke kampung itu. Hanya waktu itu mereka terpengaruh oleh kepala kampung yang mengatakan kalau prajurit istana tidak bakalan menyerang kampung mereka. Yang diserang hanya Kampung Naraya.


Namun kenyataannya prajurit istana hendak membantai semua penduduk tanpa terkecuali. Dan naasnya yang menjadi korban pertama adalah 2 kepala kampung.


Sementara itu pula, penduduk Kampung Caraya ternyata juga dievakuasi menuju Kampung Naraya. Mereka dipimpin oleh 10 orang gadis Pasukan Divisi Penyelidik dan 15 Pasukan Jubah Merah.


Sedangkan Jenderal Jessica dan 5 rekannya beserta 100 lebih pasukan gabungan antara Pasukan Jubah Merah dengan Passus Istana Centauri bersiaga di Kampung Caraya.


Di situ juga terdapat Pangeran Revan dan 4 rekan jawaranya, Jenderal Abila, Jenderal Ariesha dan beberapa jawara Istana Centauri.


Kembali pada prajurit istana dan jawara istana yang tengah berperang melawan penduduk yang memiliki beladiri....


Melawan pasukan istana yang sudah terlatih dengan baik bukan hal mudah bagi penduduk Kampung Urdha maupun Kampung Adya. Meskipun jumlah mereka lebih banyak. Ditambah lagi jawara istana yang memiliki kesaktian.


Apalagi para penduduk itu cuma punya ilmu beladiri dan sedikit tenaga dalam. Mereka sama sekali tidak punya ilmu perang. Jadi, mereka jelas tidak ahli dalam berperang.


Sehingga belum genap sepenanakan nasi pertempuran berlangsung, sudah ada di antara penduduk yang tumbang bersimbah darah. Baik di Kampung Urdha maupun di Kampung Caraya.


Sementara para prajurit apalagi jawara istana belum ada satupun dari mereka yang tumbang. Bahkan mereka makin ganas menyerang para penduduk yang sudah mereka nyatakan sebagai pemberontak.


Namun di saat semangat para prajurit dan jawara istana makin berkobar membantai para penduduk. Di saat para penduduk yang mulai kendur semangat juangnya, tiba-tiba....


★☆★☆


"Munduuur...!!!"


Terdengar teriakan keras seolah hendak memekakkan telinga bernada memerintah di Kampung Urdha. Teriakan menggelegar itu mengalahkan suasana perang yang begitu gaduh.


Hal senada pula terdengar teriakan yang sama di Kampung Adya. Tentu saja teriakan mengejutkan itu sedikitnya berpengaruh bagi jalannya pertarungan.


Belum juga gema suara teriakan itu lenyap, seketika bermunculan puluhan Pasukan Jubah Merah dan puluhan Passus Istana Centauri beserta beberapa jawaranya dari atas atap dan dari balik rumah penduduk di Kampung Urdha dan di Kampung Adya.


Dan tanpa menghentikan gerakan mereka langsung melesat ke lawan masing-masing. Pasukan gabungan langsung melesat ke prajurit istana. Sedangkan para jawara langsung menyerang jawara istana.


Kemunculan mereka yang begitu tiba-tiba dan gerakan mereka yang amat cepat belum sempat disadari oleh para prajurit dan jawara istana.


Sehingga tahu-tahu sudah terdengar jeritan kematian dari beberapa prajurit istana yang ada di Kampung Urdha dan Kampung Adya yang saling bersahutan. Setelah itu mereka tumbang dengan bersimbah darah.


Namun tak lama, para prajurit dan jawara istana telah menyadari kehadiran mereka. Maka sebagiannya langsung menyongsong serangan mereka. Sebagiannya masih bertempur melawan penduduk.


Tapi para jawara istana tidak lagi menghadapi para penduduk. Mereka kini telah bertarung melawan jawara Markas Centaurus dan Istana Centauri.


Sementara sebagian penduduk Kampung Urdha dan Kampung Adya yang sudah ciut nyalinya, segera mundur. Sedangkan yang lain masih ikut berperang. Padahal tadi sudah disuruh mundur.


"Penduduk kampung! Mundur kalian semua!"

__ADS_1


Terdengar teriakan memerintah seorang pemuda berpakaian merah dari atas atap rumah penduduk Kampung Urdha tidak jauh dari lokasi pertempuran. Pemuda itu adalah Wilson.


Kemudian Wilson melesat turun ke bawah dengan cepat. Begitu sampai di tanah kembali dia memerintahkan penduduk untuk mundur, karena belum semuanya penduduk mau mengindahkan perintahnya.


"Mundur! Mundur kalian semua!"


Sementara pada waktu yang bersamaan, Gibran dan salah seorang jawara yang berada di Kampung Adya juga berteriak-teriak menyuruh penduduk kampung untuk mundur.


Begitu penduduk Kampung Adya sudah mundur semua, jawara berbaju kuning itu langsung menyerang salah seorang jawara istana. Sedangkan Gibran langsung menyerang jawara berambut keriting yang tadi membunuh Tetua Carlos.


Sementara Wilson tak mau ketinggalan pula. Begitu para penduduk Kampung Urdha sudah mundur semua, dia langsung menyerang jawara istana yang membunuh Tetua Witton tadi.


Sehingga kini tak ada lagi penduduk kampung yang ikut berperang. Tinggallah pasukan gabungan dan beberapa jawara yang hanya berperang melawan para prajurit dan jawara istana.


Namun pertempuran baru sepenanakan nasi berlangsung para prajurit istana sudah mulai bertumbangan satu demi satu.


Sementara para jawara istana harus mengerahkan kehebatan mereka habis-habisan dalam melawan jawara gabungan itu. Tapi pada akhirnya sudah ada di antara mereka yang nyawanya melayang duluan dari kawannya.


Memang harus diakui kalau Pasukan Jubah Merah dan Pasukan Khusus Kelas 2 Istana Centauri lebih hebat dari prajurit militer Kerajaan Bentala.


Begitu juga jawara Markas Centaurus dan Istana Centauri memang lebih hebat daripada jawara istana.


Tak lama berselang, kembali terdengar jeritan-jeritan kematian saling sahut-sahutan. Kembali belasan nyawa prajurit istana melayang. Mereka tumbang ke tanah dengan bersimbah darah.


Dan tetesan darah semakin banyak membasahi tanah Kampung Urdha dan Kampung Adya. Bau anyir darah sudah menyebar ke mana-mana, membuat udara di kedua kampung itu terasa pengap.


★☆★☆


Craaasss! Craaasss!


Jreeeb...!!! Jreeeb...!!!


Craaasss...!


"Aaa...!!!"


"Aaakh...!!!"


"Aaa...!!!"


Lalu disambut dengan jeritan-jeritan kematian yang begitu memilukan hati yang melengking ke langit yang terus saja terdengar seakan tidak mau berhenti.


Hingga akhirnya semua prajurit militer istana, baik yang ada di Kampung Urdha maupun yang ada di Kampung Adya, semuanya tumbang tanpa ada yang sisa.


Tidak lama menyusul kemudian 2 kepala regu telah ditumbangkan oleh 2 jawara Istana Centauri. Kematian kedua kepala regu itu amat mengerikan.


Hampir bersamaan 2 kepala regu lainnya juga telah ditumbangkan oleh 2 Kepala Regu Pasukan Mawar Kuning. Kematiannya tidak jauh beda dengan 2 rakannya tadi. Kematian yang tragis.


Kepala regu di Kampung Urdha tewas dengan leher tertebas putus. Sedangkan kepala di Kampung Adya tewas dengan perut robek dan dada koyak besar dan lebar. Ditambah lagi lehernya yang teriris nyaris putus.


Bersamaan dengan itu, nyawa sisa jawara istana juga menyusul. Mereka juga tewas dengan tidak kalah menggidikkan.


Bersisa 2 jawara istana yang bertarung melawan Wilson dan Gibran.


Dua jawara itu memang jawara yang terhebat yang ikut dalam perang di 2 kampung itu. Namun sepertinya masing-masing mereka sudah terdesak hebat. Tinggal menunggu waktu saja nyawa mereka tanggal.


Traaang...!


Wilson mengayunkan pedangnya ke arah jawara lawannya. Namun masih dapat di tangkis oleh jawara itu meski dengan susah payah dan memaksakan diri.


Akibatnya, tangan kanannya yang sejak tadi sudah kesemutan, kini semakin kesemutan dan berubah kaku. Hingga mengakibatkan pedangnya lepas dari genggaman tangannya dan terlempar jauh.


Sementara Wilson kembali mengayunkan pedangnya memutar ke bawah dengan menyilang dari kiri atas ke kanan bawah.

__ADS_1


Gerakan itu amat cepat, tidak bisa lagi dihindari oleh jawara istana. Di samping kondisinya juga sudah kepayahan. Sehingga ujung pedang Wilson menggores dalam dan panjang dada kanan hingga pinggang kirinya.


Craaasss...!!!


"Aaakh...!!!"


Lantas saja jawara itu langsung menjerit keras. Darah seketika keluar dari luka yang cukup besar itu.


Namun rupanya pedang Wilson belum berhenti. Secepat pedang itu bergerak menyilang, secepat itu pula bergerak mendatar. Dan tambah tak bisa dihindari oleh jawara itu.


Craaasss...!!!


"Aaa...!!!"


Ujung pedang Wilson langsung merobek perut jawara itu dengan dalam hingga menganga lebar. Membusailah isi perut sang jawara. Kembali dia menjerit sekeras-kerasnya.


Belum hilang suara jeritannya, pedang Wilson kembali mengayun dengan lebih cepat, lalu ujung pedang itu menggores tenggorokannya cukup dalam. Sehingga suara jeritannya langsung berubah seperti sapi digorok.


Begitu suara jeritan mengerikannya hilang, sang jawara langsung tumbang ke belakang bagai papan jatuh. Darah langsung mengucur dari lehernya dengan deras. Sebentar meregang nyawa, lalu nyawanya lenyap.


Sementara itu hampir bersamaan waktunya Gibran juga telah menumbangkan lawannya.


Setelah menebas putus tangan kanan lawannya dengan pedang pendeknya sehingga jawara itu menjerit keras, lalu Gibran memutar tubuhnya dengan cepat sambil kaki kiri melayang.


Kemudian kaki itu dengan telak dan keras menghantam dada sang jawara hingga terjajar beberapa langkah ke belakang.


Selagi jawara itu terjajar, seketika Gibran melesat ke depan dengan amat cepat. Dan tahu-tahu sudah berada di belakang sang jawara.


Selangkah lagi jawara itu sampai, dengan cepat Gibran mengangkat pedang pendeknya terus menusuk belakang sang jawara hingga tembus ke dada kirinya. Kembali dia menjerit sejadi-jadinya.


Sementara Gibran, setelah mencabut pedang pendeknya dengan kuat, kaki kanannya mendupak punggung sang jawara hingga jatuh tersungkur ke depannya.


Ketika sudah di tanah, meregang nyawa sebentar. Lalu diam selama-lamanya.


★☆★☆


Sungguh, pemandangan yang terhampar di Kampung Urdha maupun di Kampung Adya amat mengerikan. Mayat-mayat para prajurit militer dan jawara istana berserakan di mana-mana.


Darah yang belum mengering berceceran di mana-mana, menebarkan bau anyir yang membuat perut hendak muntah. Semakin membuat suasana di kedua kampung itu bertambah mengerikan, mencekam.


Sementara Pasukan Mawar Kuning dan Pasukan Jubah Merah yang berjumlah 60-an, setelah selesai menunaikan tugas, mereka kembali ke Kampung Naraya. Untuk sementara waktu mereka diistirahatkan dulu.


Langkah selanjutnya tinggal menanti kedatangan sisa prajurit militer dan jawara istana yang masih berada sekitar 4 mil dari luar batas Kampung Caraya.


Hanya saja yang menjadi persoalannya, di mana sekarang lokasi untuk berperang yang lebih aman?


Sekarang sudah dapat diketahui dengan pasti kalau sebenarnya para prajurit militer ingin melenyapkan keempat kampung di ujung sebelah utara Kota Bahir.


Jadi, strategi selanjutnya sudah tak bisa lagi membiarkan para prajurit dan jawara istana menginjakkan kaki mereka sampai pun di Kampung Caraya. Akan beresiko besar.


Meskipun seluruh penduduk 3 kampung sudah dievakuasi ke Kampung Naraya, namun besar kemungkinan para prajurit militer akan menghancurkan rumah-rumah para penduduk.


Jadi, lokasi perang yang lebih aman sekarang adalah di luar batas Kampung Caraya sebelah selatan. Penentuan lokasi perang ini telah disepakati oleh semua petinggi pasukan dan beberapa jawara yang diajak berunding.


Namun timbul persoalan lagi. Di manakah lokasi perang di luar batas kampung itu? Apakah seluruh pasukan mendatangi lokasi perkemahan prajurit militer? Atau berperang di tengah hutan yang tidak jauh di luar batas kampung?


Pangeran Revan yang ditunjuk sebagai pimpinan perang mengusulkan agar lokasi perang di hutan yang tidak jauh dari batas kampung. Dan usulannya ini didukung oleh Brian dan jawara rekannya.


Danpassus Mawar Kuning, Jenderal Abila yang mengerti benar akan pasukannya, sama sekali tidak keberatan dengan usulan itu. Bahkan strategi itu lebih baik, karena dimungkinkan mereka bisa menguasai pertempuran dengan sempurna.


Kalau Danpassus-nya sudah bicara begitu, Jenderal Ariesha dan Jenderal Jessica mengikut saja. Karena bagi mereka, berperang di mana saja boleh. Sedangkan yang lain ikut setuju pula.


Maka berangkatlah sebagian besar pasukan Pangeran Revan ke batas Kampung Caraya. Yang tinggal di Kampung Naraya cuma 100 personil, termasuk yang berperang di 2 kampung tadi.

__ADS_1


Tidak ada jawara yang tinggal di Kampung Naraya kecuali Wilson dan Gibran. Sampai pun Kepala Regu Pasukan Mawar Kuning ikut tinggal pula. Jadi yang memimpin langsung Passus Mawar Kuning adalah Jenderal Abila.


★☆★☆★


__ADS_2