Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 81 TERNYATA SEPASANG KEKASIH ITU BERSAUDARA


__ADS_3

Jingga menghias cakrawala di ufuk barat. Melukiskan panorama senja yang begitu indah. Sinar lembut sang mentari seharusnya dapat menyejukkan dan menentramkan hati.


Namun mendung menghias wajah cantik laksana bidadari seorang gadis. Sepasang mata indahnya berkaca-kaca menatap sendu sebuah pusara yang sudah cukup lama.


Sudah sekian lama dia berdiri sepasang kakinya belum pula terasa pegal. Air mata yang tadi menggenang, kini kembali tumpah menganak sungai di wajah halusnya yang masih berbalut duka.


Entah itu sudah air mata yang ke berapa membasahi pipi halusnya, tapi toh masih juga tertumpah. Seakan di dalam kelopak matanya itu masih banyak air mata yang siap tertumpah, demi mengungkapkan kesedihannya yang amat dalam.


Wajah cantiknya masih bernaung mendung, masih berbalut pilu, masih memendarkan duka.


Perlahan dia merendahkan tubuhnya berjongkok di samping pusara, lalu meletakkan serangkum karangan bunga di atasnya. Kemudian jemari lentiknya mengusap perlahan tanah pusar yang sudah mengeras itu.


"Maafkan aku, Ibu," ucapnya lirih.


Ucapan itu entah sudah yang ke berapa kali. Makin diucapkan nadanya semakin memilukan.


Gadis itu berpakaian rangkap dengan baju luar berupa pakaian panjang warna merah. Pinggangnya yang ramping terlilit kain cukup lebar warna kuning bercorak. Sebuah pedang tersampir di punggung kanannya.


Rambutnya panjang sepinggang dengan sebagiannya disanggul indah di belakang atas kepalanya. Rambutnya yang tersanggul indah itu tersemat arnel berbentuk tombak terbuat dari batu geok.


Gadis cantik tapi berwajah sedih itu tidak lain adalah Kayshila Dellia.


Di samping kanannya berdiri seorang pemuda tampan berambut panjang sebawah bahu yang tertata indah yang sebagiannya dikuncir di atas belakang kepalanya. Satu bagian kecil rambut depannya sebelah kanan dibiarkan terjuntai membelai wajah tampannya.


Dia juga berpakaian rangkap dengan baju luar berupa pakaian panjang berwarna biru langit. Pakaian bagian pinggangnya terlilit kain cukup lebar warna hitam.


Kalau yang gadis berbaju merah adalah Kayshila, pemuda tampan tidak lain adalah Dhafin dengan nama asli Ghavin Aldebaran.


Pangeran tampan itu juga turut berbelasungkawa atas kematian ibunya Kayshila. Sampai-sampai wajah tampannya memendarkan kesedihan yang mendalam.


Mereka baru naik dari dasar jurang, tempat tinggal mereka selama 8 tahun baru kemarin. Atau sama dengan hari kemunculan Aziel dan Keenan di luar batas Kerajaan Amerta sebelah barat laut, tempat mereka terpisah waktu 8 tahun yang lalu.


Ketika pertama kali naik ke permukaan, Keyshila dan Dhafin muncul di tempat di mana mereka bertemu waktu 8 tahun yang lalu dengan cara berteleportasi. Hal itu sesuai permintaan Kayshila.


Ketika pertama kali muncul mereka singgah di sebuah kota di Kerajaan Amerta untuk membeli pakaian dan cadar untuk Kayshila. Tak lupa dia juga membeli arnel.


Setelah bersalin pakaian, makan, jalan-jalan menikmati keramaian kota, ketika malam hari mereka menginap di sebuah penginapan yang merangkap kedai makan.


Setelah cukup beristirahat, keesokan harinya mereka pergi menuju kampung di mana Kayshila tinggal bersama seorang wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu.


Kampungnya itu terletak di ujung sebelah utara wilayah Kerajaan Amerta. Artinya berbatasan dengan ujung sebelah selatan wilayah Kerajaan Bentala.


Namun ketika Kayshila sampai di rumah ibunya, sebuah kenyataan pahit dan amat memilukan dia terima. Wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu ternyata sudah terbaring diam di dalam pusara di depannya ini.


Warga yang tinggal di dekat rumah ibunya mengabarkan kalau kematian ibunya akibat dibunuh. Entah siapa yang bunuh tak ada seorang pun warga yang tahu.


Tapi beberapa warga memberitahukan kalau pembunuhan terhadap ibunya pada malam hari. Karena pada pagi harinya ibunya di temukan agak jauh di belakang rumahnya dalam keadaan sudah meninggal dengan leher tergorok hampir putus.


Peristiwa tersebut terjadi sehari setelah Kayshila meninggalkan ibunya sehabis berkunjung waktu 8 tahun yang lalu.


Tidak ada petunjuk atau tanda-tanda mengenai siapa pembunuh ibunya tersebut dan apa motifnya. Rumahnya juga dalam keadaan rapi, tidak berantakan. Hanya saja pintu belakangnya terbuka.


Dhafin memperkirakan kalau ibunya Kayshila sudah tahu tentang orang yang akan membunuhnya itu. Kemudian berlari ke belakang rumah. Tapi akhirnya kedapatan juga dan dibunuh ditempat.


Namun Dhafin belum bisa memperkirakan siapa pembunuhnya secara pasti, karena tidak ada petunjuk atau tanda-tanda.


Hanya saja Dhafin menduga mungkin saja pembunuh ibunya Kayshila masih ada hubungannya dengan Gerombolan Pedang Tengkorak.


Atau mungkin saja mereka pelakunya. Karena waktu 8 tahun yang lalu Kayshila dikejar-kejar oleh gerombolan itu hendak dibunuh, setelah mereka membantai guru dan saudara-saudara seperguruan Kayshila.

__ADS_1


★☆★☆


Setelah puas menguras serta memuntahkan semua kesedihannya dan melontarkan semua penyesalan serta permohonan maafnya di depan pusara ibunya, Kayshila mengajak Dhafin untuk pergi ke rumah ibunya di mana pernah dia tinggal.


Begitu sudah masuk ke dalam rumah, Kayshila tidak terlalu menghiraukan keadaan rumahnya yang kotor dan yang tak terurus. Dia langsung saja melaksanakan apa yang menjadi niatnya masuk ke rumahnya.


Dengan segera dia masuk ke dalam kamar di mana dia dan ibunya tidur bersama ketika dia kecil dulu. Ketika sudah masuk kamar dia segera membuka lemari pakaian ibunya dan pakaiannya.


Begitu melihat pakaian ibunya, hatinya yang masih bersedih tambah bersedih. Dia mengenang kembali ibunya ketika masih hidup. Namun seakan tidak mau terus larut dalam kesedihan, dia segera menutup lemari itu.


Lalu dia menggeser tempat tidurnya ke sebelah kanannya hingga membentuk cela selebar 1 hasta. Lalu dia masuk ke sela itu dan terus berjongkok di situ.


Lalu membuka sebuah tutupan dari logam di lantai pembaringan sebelah kepala, terus mengambil sebuah kotak kecil dari kayu bercat merah yang seperti di tanam di dalam tanah di sebuah benda logam yang bundar.


Saat Dhafin melihat Kayshila memegang kotak itu lantas bertanya ingin tahu.


"Kotak apa itu, Kayshila?"


"Kata ibuku kotak ini adalah kotak rahasia tentang siapa diriku sebenarnya," sahut Kayshila mengungkapkan. "Tapi kata ibu aku boleh membuka kotak ini ketika aku sudah dewasa nanti."


"Jadi selama ini kamu belum pernah membuka kotak itu?" tanya Dhafin penasaran.


"Iya, aku belum pernah," sahut Kayshila mengaku. "Aku tidak berani melanggar apa yang ibu larang. Aku begitu menghormatinya."


"Ibumu pernah memberitahu isinya apa?"


"Belum pernah. Meski aku pernah menanyakannya, ibu tetap tidak memberitahu. Tapi aku juga tidak pernah memaksanya untuk memberi tahu...."


"Kata ibu nanti aku akan mengetahuinya sendiri saat membukanya."


Dhafin makin salut akan kepribadian Kayshila yang luhur itu. Dari kecil ternyata sudah tertanam sifat-sifat terpuji pada diri seorang Ariesha.


"Karena aku sudah dewasa jelas aku akan membuka kotak ini lah."


Kemudian dia dan Dhafin duduk di tepi pembaringan. Lalu Kayshila membuka kotak itu dengan tidak terburu-biru. Dan begitu kotak terbuka maka tampaklah apa isinya.


Di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung dari emas berbandulkan permata berwarna merah bening. Di dalam permata itu terdapat sebentuk benda bulat seperti mutiara berwarna putih mengkilat.


Di dalam kotak juga terdapat sebuah plakat atau lencana identitas yang terbuat dari logam berbentuk plat agak tebal warna kuning keemasan berukuran 4 jari dewasa.


Di dalam plakat itu tertulis sebuah nama atau identitas yang tidak jelas. Karena sebagian nama atau tulisan di dalamnya tercoret.


Adapun tulisan lencana itu berbunyi demikian:


SELIR tercoret FIDELYA


SELIR KE 3 tercoret lalu tercoret dan tercoret lagi (3x coretan).


"Bisakah kamu menjelaskan tulisan ini, Kanda?" tanya Kayshila bingung bercampur penasaran.


"Yang jelas pemilik lencana identitas ini adalah seorang selir, dan selir ke tiga," kata Dhafin menerangkan. "Nama belakangnya FIDELYA. Mungkin lebih jelasnya isi surat itu bisa menerangkan."


Cepat-cepat Kayshila mengambil sepucuk surat yang terlipat. Lalu membukanya dan membacanya dengan bersuara.


"Anakku, Kayshila Sayang....


Aku adalah ibu kandungmu yang sebenarnya. Wanita yang merawatmu setelah bunda menitipkanmu kepadanya adalah pelayan bunda. Sayangilah dia seperti kamu menyayangi bunda dan anggaplah dia sebagai bundamu.


Bunda menitipkan sebuah kotak kepunyaanmu kepadanya agar ketika kamu dewasa nanti, dia memberikannya kepadamu.

__ADS_1


Isi kotak itu adalah sebuah KALUNG TANDA milikmu. Yang menandakan bahwa kamu adalah putri seorang pangeran.


Di kotak itu juga terdapat lencana identitas bunda. Sengaja sebagian bunda coret agar ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari, kamu tidak terkena imbasnya.


Tapi untuk lebih jelasnya tentang siapa bunda dan siapa ayahandamu, temuilah Pangeran Nelson Adelard. Perlihatkanlah KALUNG TANDA-mu dan lencana identitas bunda kepadanya, dia akan menjelaskannya kepadamu.


Mungkin setelah kamu membuka isi kotak milikmu, bunda sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tapi ketahuilah bahwa bunda senantiasa menyayangimu selamanya di mana pun kamu berada.


Bunda sengaja melakukan semua ini demi keselamatannya.


Jaga dirimu baik-baik putriku sayang....


Peluk cium dari bundamu tercinta...."


★☆★☆


Tidak butuh waktu lama, setelah membaca isi surat itu Kayshila kembali menangis pilu. Hatinya yang masih berduka, tambah berduka begitu mengetahui ternyata dia mempunyai ibu kandung.


Ibu yang selama ini merawatnya sejak bayi ternyata bukan ibu kandungnya, melainkan pelayan ibu kandungnya. Ibunya sengaja menitipkan dia kepada wanita yang sudah dinggap ibu itu demi keselamatannya.


Kenapa takdir ini begitu kejam kepadanya? Mengambil semua orang-orang yang dia cintai. Ibu kandungnya yang mungkin belum lama bersamanya telah pergi selamanya.


Wanita yang selama ini merawatnya, menyayanginya seperti anaknya sendiri juga telah pergi meninggalkannya selamanya.


Dhafin yang melihat Kayshila kembali bersedih langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang. Membelai rambutnya dengan lembut, menyabarkan hatinya agar tetap tegar.


Sedangkan Kayshila kembali menangis di pelukan Dhafin. Dan memeluknya erat-erat sambil berderai air mata.


"Kamu harus tabah dan sabar menghadapi semua kenyataan pahit ini, Kayshila," kata Dhafin membujuk dengan suara lemah lembut. Memang amat berat bagimu menerima takdir ini. Tapi ketahuilah, pasti ada hikmah yang terbaik bagimu di dalamnya."


Akankah dia bisa tabah menerima kenyataan pahit ini? Dia kini telah mengetahui kalau dirinya seorang bangsawan bahkan putri seorang pangeran.


Tapi mengapa begitu mengetahui tentang dirinya yang sebenarnya dia malah menjadi amat bersedih? Hatinya malah semakin perih?


Ada satu nama yang jelas tertera di dalam surat itu, yaitu Pangeran Nelson Adelard. Semetara di ketahui bahwa Pangeran Nelson adalah putra Raja Neshfal Abraham dari selir ke tiganya.


Sedangkan Raja Neshfal Abraham mempunya seorang putra dari Permaisuri Rosaline Olivia, Putra Mahkota yang bernama Pangeran Ghazam Aldari. Dan sang pangeran mempunyai salah seorang istri, yaitu istri ke 3 yang nama belakangnya bernama Fidelya.


Nama itu sebenarnya selengkapnya adalah SELIR KHADRA FIDELYA. Itulah nama selengkapnya ibu kandungnya Kayshila Dellia. Dan ayahandanya jelas bernama Pangeran Ghazam Aldari.


Sedangkan Dhafin alias Ghavin Aldebaran juga putra Pangeran Ghazam Aldari dari istri pertamanya yang bernama Cassandra Berdine.


Itu artinya apa?!?!


Dhafin alias Pangeran Ghavin Aldebaran bersaudara seayah dengan Putri Kayshila Dellia.


Sementara status mereka saat ini adalah pasangan kekasih karena mereka sama sekali tidak mengetahui kalau mereka bersaudara.


Kenapa bisa jadi begini? Kenapa takdir mempertemukan mereka dalam keadaan demikian? Siapakah yang disalahkan kalau sudah begitu?


Mereka sudah saling mencintai antara satu sama lain. Tapi mereka belum sadar kalau mereka ternyata bersaudara.


Bagaimanakah jadinya kalau mereka tahu tenyata mereka bersaudara?


Perlu diketahui kalau Dhafin tidak mengetahui siapa itu Pangeran Nelson Adelard. Dia hanya tahu dia masih punya paman yang masih hidup selain Raja Ghazim Altezza. Tapi dia belum mengetahui namanya.


Sedangkan Kayshila baru mengetahui kalau dia putri bangsawan. Tapi belum tahu dengan jelas siapa nama ayah ibunya. Sementara ayahnya bersaudara dengan Pangeran Nelson Adelar, orang yang disuruh oleh ibunya untuk menemuinya.


Tentu kalau begitu Kayshila lebih tidak tahu lagi siapa itu Pangeran Nelson Adelard.

__ADS_1


★☆★☆


__ADS_2