
Di luar penjara....
Terjadi sedikit perselisihan antara jawara dan pasukan penjaga di depan pintu masuk.
"Apa kalian tidak curiga dengan 4 Pasukan Penyelidik Rahasia tadi?" tanya salah seorang jawara kepada penjaga pintu masuk.
"Curiga apa maksudmu?" penjaga pintu sebelah kanan malah bertanya.
"Pasukan Penyelidik Rahasia biasa masuk untuk menginterogasi para tahanan," kata penjaga sebelah kiri seakan menyambung.
"Apa kalian tidak curiga sama 2 orang yang jalan di belakang bersama temannya yang satu?" tanya jawara kedua seolah memperjelas pertanyaan jawara pertama.
"Maksudmu 2 orang yang berwajah halus itu?" kata penjaga yang lain yang berdekatan dengan penjaga sebelah kiri ingin memperjelas.
"Kalian curiga 2 orang itu adalah wanita yang menyamar?" tebak penjaga sebelah kanan.
"Benar, 2 orang itu adalah wanita," kata jawara pertama. "Kumis yang mereka kenakan itu adalah kumis palsu."
"Itu artinya 2 orang itu dan 2 temannya pastilah penyusup yang menyamar," sambung jawara ke 2.
"Aku masih tidak yakin dengan dugaan kalian," kata penjaga pertama masih belum percaya. "Apalagi mereka berseragam Pasukan Penyelidik Rahasia."
"Benar, mereka berseragam Pasukan Penyelidik Rahasia Kelas 3," dukung penjaga kedua," pangkat mereka lebih tinggi daripada kita. Kalau sampai kecurigaan kalian itu salah, kita semua bisa kena getahnya."
"Begini saja," kata penjaga ke 3 mengambil jalan tengah. "Kita buktikan dengan menyusul ke dalam."
Mereka sepakat dengan usulan itu. Akhirnya jawara pertama dan ke 2 serta penjaga pertama dan ke 3 masuk ke dalam bangunan penjara. Sementara yang lain tetap berjaga di depan pintu masuk.
Bagaimana kalau mereka benar-benar tahu kalau yang masuk tadi itu adalah penyusup? Bagaimana nasib Dhafin dan kawan-kawannya kalau begitu?
★☆★☆
Sementara itu, Dhafin dan 3 orang lainnya terus berjalan menyusuri lorong cukup lebar menuju kamar penjara yang tak terlalu panjang ini.
Begitu mereka sudah berada di dalam ruangan di depan kamar tahanan mereka baru berhenti.
Di ruangan itu amat sunyi sekali, nyaris tak ada suara. Yang terdengar hanyalah ******* napas. Menandakan ada kehidupan di ruangan itu. Dan juga ada 2 obor yang menerangi ruangan itu sehingga tidak terlalu angker.
Bau lumut basah bercampur bau apek cukup santer menebar ke seisi ruangan membuat perut mau muntah.
Di ruangan itu ternyata masih ada 2 prajurit penjaga yang duduk sambil bersandar di sisi kanan ruang tahanan. Tapi mereka jelas tidak menyadari kehadiran empat orang yang baru masuk karena mereka masih asyik dengan mimpi indah mereka.
Sementara di dalam kamar tahanan yang didominasi perempuan, semuanya seperti terlelap dalam tidur. Tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangan Dhafin dan kawan-kawannya walau dengan memandang sekilas.
Di dalam penjara itu semuanya para istri pejabat penting istana serta putri-putri mereka yang sudah dewasa. Ada juga yang masih remaja. Dan ada juga yang punya anak laki-laki tapi masih di bawah 10 tahun.
Di dalam penjara itu juga ternyata 4 istri Raja Darian Cashel ikut dipenjara serta putri-putrinya yang sudah dewasa dan seorang putranya yang masih berusia di bawah 10 tahun.
Apakah yang ada di dalam kepala Raja Adrian Carel? Ataukah hatinya sudah menjadi batu? Kenapa begitu tega memenjarakan ibu kandungnya sendiri?
Ataukah karena penguasaan Putri Rayna Cathrine terhadapnya sehingga dia tidak bisa berkutik?
Apakah sebenarnya yang terjadi di Kerajaan Amerta ini?
Dhafin sejenak memandang seorang nyonya yang kedua matanya tertutup rapat. Kedua tangannya merangkul 2 orang bocah laki-laki dan perempuan dalam dekapannya.
Penampilan nyonya itu tidak jauh beda dengan penampilan nyonya-nyonya lainnya, sedikit berantakan dan tidak terurus. Itulah Nyonya Carissa, ibu angkatnya. Dua bocah dalam dekapan sang nyonya tentulah 2 adik angkatnya; Farrel Damian dan Adelia Clarissa.
Setelah puas menatap ibunya, Dhafin memberi isyarat kepada Fariza dan Kayshila untuk membereskan kedua penjaga yang lagi enak-enak tidur. Tanpa banyak pikir 2 gadis itu segera menghampiri 2 penjaga itu dengan cepat, tapi dengan langkah ringan.
Begitu sudah sampai tepat di depan kedua penjaga itu, dengan cepat tangan mereka mencengkeram kepala kedua penjaga itu. Lalu dengan cepat pula memutar leher mereka dengan kuat dan keras. Sehingga....
Krek!
Krek!
"Hugh!"
"Hagh!"
Hampir bersamaan terdengar 2 tulang leher patah, lalu disusul 2 suara lenguhan tertahan. Kemudian menyusul suara 2 tubuh ambruk ke lantai ruangan.
Dikarenakan keadaan ruangan itu amat sunyi, sehingga suara sekecil apapun pasti terdengar. Apalagi ini suara ambruknya 2 prajurit penjaga yang bunyinya cukup membuat gaduh.
__ADS_1
Sehingga hampir seluruh penghuni penjara terbangun akan suara gaduh itu. Maka dengan serta merta tatapan mata mereka segera mengarah ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka mendapati 2 prajurit penjaga telah mati terkapar dengan mulut mengeluarkan darah.
Namun belum hilang keterkejutan mereka, terdengar lagi bunyi yang cukup bising saat pedang rampasan Gibson menghantam kunci penjara hingga hancur.
Kali ini seluruh penghuni penjara terbangun akan suara bising yang amat mengejutkan itu. Begitu semua penghuni penjara menatap ke sumber suara, bukan saja mereka terkejut, tapi dibarengi dengan ketakutan yang amat sangat.
Entah kenapa mereka begitu takut melihat Dhafin dan kawan-kawannya berseragam pasukan elit itu. Seakan-akan seragam yang mereka kenakan itu merupakan momok bagi penghuni penjara.
Hal itu membuat Gibson merasa aneh juga melihat ekspresi mereka. Tapi tak merubah niatnya untuk segera membuka pintu penjara yang terbuat dari besi.
Dhafin langsung masuk ke dalam penjara dan berbicara kepada Permaisuri Chalinda yang ternyata juga ada di dalam penjara dengan penuh hormat.
"Ampun Yang Mulia Permaisuri. Mohon kiranya memerintahkan seluruh penghuni penjara untuk bersiap-siap meninggalkan tempat ini."
Baru saja Dhafin hendak menghampiri ibunya, Permaisuri Chalinda segera bangkit dari duduknya dan dengan berani bertanya dengan tajam kepada Dhafin.
"Siapa kalian? Rencana busuk apalagi yang hendak kalian lakukan kepada kami?"
Tentu saja Dhafin terkejut akan pertanyaan permaisuri yang kini tampak kurus dan agak kumal itu. Apakah selama terpisah 8 tahun permaisuri sudah lupa akan dirinya?
"Jelas Yang Mulia Permaisuri tidak mengenal kita, Tuan Muda," kata Gibson seakan tahu yang dipikirkan Dhafin, "karena kita masih dalam penyamaran."
Baru Dhafin sadari kalau dia dan yang lainnya masih dalam mode penyamaran.
"Apa maksud kalian?" tanya Permaisuri Chalinda makin curiga campur heran.
★☆★☆
Dhafin maupun Gibson tidak menanggapi pertanyaan permaisuri. Mereka segera membuka topi yang menutup kepala mereka serta kumis dan janggut palsu yang menempel di wajah mereka. Maka tampaklah wajah tampan mereka yang asli.
Begitu melihat wajah Dhafin, Nyonya Carissa langsung teringat akan anak angkatnya yang entah di mana sekarang.
Meski dia belum berani bertidak apa-apa, tapi hatinya setengah yakin kalau pemuda itu adalah anak angkatnya. Karena amat mirip. Sementara dia hanya memeluk erat kedua anaknya sambil terus menatap Dhafin.
"Hamba Dhafin, Yang Mulia," kata Dhafin memberi tahu akan dirinya. Serta pula memberi tahu pula siapa 3 orang yang lainnya.
"Dhafin..., Gibson...."
"Kak Dhafin...."
"Gibson...."
"Kak Gibson...."
Beberapa orang langsung menyebut nama Dhafin dengan nada mendesis selain Permaisuri Chalinda. Mereka segera menatap pemuda itu dengan ekspresi masing-masing.
Sedangkan Gibson, selain permaisuri cuma 2 wanita yang menyebut namanya dengan nada mendesis; Nyonya Brianna Faranisa, istri Jenderal Lyman dan Putri Raisha Arabelle.
Jelas sekali kegembiraan terpancar di wajah lusuh kedua wanita itu mana kala menatap Gibson.
Pancaran mata Nyonya Brianna menyiratkan bagai seorang ibu yang amat gembira saat baru lagi melihat putranya setelah sekian lama terpisah.
Sedangkan pancaran mata Putri Raisha bagai seorang gadis yang amat bahagia saat melihat lagi pemuda yang disukainya setelah sekian lama tidak bertemu.
Ada apakah dengan kedua wanita itu? Padahal Gibson hanyalah seorang yatim piatu dari kalangan rakyat biasa.
Sementara Nyonya Carissa, begitu Dhafin menyebut namanya, dia langsung berdiri sambil masih merangkul kedua anaknya.
Terus melangkah agak tergesa menghampiri Dhafin. Sementara air matanya sudah keluar. Begitu sudah di depan Dhafin, dia lantas menatap Dhafin lekat-lekat. Sedangkan Dhafin juga menatap ibunya itu dengan keharuan.
"Ka...kamu Dhafin? Putraku...?" kata Nyonya Carissa sambil memegang kedua pipi Dhafin. Sementara air matanya makin deras mengalir.
"Benar, Bunda, aku Dhafin, putramu," sahut Dhafin seraya tersenyum haru.
"Putraku...."
Nyonya Carissa tidak bisa lagi memendam keharuannya. Dirangkulnya Dhafin dengan erat, dengan penuh kasih sayang. Seakan hendak diluapkan semua kerinduannya setelah 8 tahun terpisah.
Semua orang yang melihat adegan yang mengharukan itu ikut terbawa suasana. Permaisuri Chalinda tampak juga ikut mengeluarkan air mata saking terharunya.
Sementara Putri Faniza, tidak bisa dilukiskan betapa bahagia hatinya ketika kembali melihat Dhafin. Pemuda yang bermula menjadi idolanya, kini berubah menjadi pemuda yang amat disukainya.
Sebenarnya dia ingin juga memeluk Dhafin dengan erat. Membebaskan semua kerinduan yang selama 8 tahun terpenjara dalam batin.
__ADS_1
Namun yang bisa dilakukan saat ini cuma menatap pemuda pujaan hatinya itu. Rasanya tidak pantas kalau dia ikut-ikutan memeluk Dhafin di tengah orang banyak.
"Maaf, Bunda," kata Dhafin dengan penuh hormat, "waktu kita tidak lama. Bersiap-siaplah untuk keluar dari sini."
Seakan baru tersadar kalau memang tujuan Dhafin datang ke penjara ini untuk membebaskannya dan yang lainnya. Lalu dia melepas pelukannya.
Setelah Dhafin memeluk kedua adiknya dan mencium pipi mereka, Nyonya Carissa keluar penjara membawa kedua anaknya bersama yang lain.
Tidak lama kemudian semua yang ada di dalam penjara, kini sudah keluar dan berkumpul di ruangan di depan penjara. Ruangan depan penjara memang cukup luas ketimbang di dalam yang agak sesak.
"Sepertinya kita sudah ketahuan, Tuan Muda," kata Gibson seraya menatap pintu yang disegel Dhafin dengan mantra ghaib.
Pintu ghaib itu terdengar amat berisik bagai digedor-gedor dari luar. Benar saja mereka sudah ketahuan.
★☆★☆
"Aku sudah menduga demikian, Gibson," kata Dhafin tidak kaget.
"Terus bagaimana sekarang?" tanya Permaisuri Chalinda yang tidak tahu rencana 4 pemuda itu. "Kita melalui jalur mana kalau sudah ketahuan penjaga?"
"Tenang, Yang Mulia," kata Dhafin menenangkan, "Kami akan menggunakan cara lain dalam mengeluarkan Yang Mulia dan yang lain."
"Kamu ingin menggunakan jalur teleportasi, Dha... eh Tuan Dhafin?" tebak Putri Raisha.
Dia hampir saja menyebut nama Dhafin dengan kosong tanpa embel-embel etika penyebutan nama seorang bangsawan.
"Benar, Tuan Putri," sahut Dhafin.
Putri Raisha tampak mengangguk-angguk kecil mendengar jawaban Dhafin.
Sedangkan Dhafin menoleh pada Fariza dan Kayshila yang lebih memilih dia saja kalau tidak diajak bicara. Terus dia berkata pada kedua gadis itu.
"Kalian berdua ikut serta rombongan Yang Mulia Permaisuri ke Kampung Naraya."
"Kami juga harus ikut?" kejut kedua gadis itu kompak. Nada suara mereka jelas ingin menolak.
Dan ketika mendengar suara perempuan dari 2 orang berwajah halus tapi berkumis itu, semua penghuni penjara terkejut. Mereka tidak menyangka kalau 2 orang itu adalah wanita.
"Nona Fariza. Siapa yang menjelaskan kepada Pangeran Revan mengenai rombongan Yang Mulia Permaisuri?" kata Gibson seakan mengingatkan.
Fariza tidak bisa berkata apa-apa kalau Gibson juga menyuruhnya ikut serta. Rasa kangennya kepada pemuda itu sebenarnya belum hilang.
"Aku juga harus ikut, Kanda?" Kayshila jelas sekali tidak ingin terpisah dengan Dhafin.
"Apa kamu tidak lihat semua orang ini dalam keadaan tidak sehat?" kata Dhafin mengandung teguran.
"Kamu sudah menguasai hampir seluruh ilmu pengobatan dariku," lanjutnya. "Aku yakin kamu sudah tahu rombongan Permaisuri terkena penyakit apa. Jadi aku harap kamu yang mengobati mereka."
"Tapi Kanda juga akan ke sana 'kan?"
"Ya, itu sudah pasti. Tapi belum sekarang."
Kayshila sedikit terobati dengan ucapan Dhafin itu. Sementara Putri Faniza yang mendengar percakapan mereka yang begitu akrab, terasa aneh di dalam hatinya.
Apakah dia cemburu?
Setelah Dhafin kembali menenangkan bundanya kalau dia akan menyusul nanti, kemudian semua rombongan diperintahkan berkumpul pas di tengah-tengah ruangan. Dan mereka saling merapatkan tubuh antara satu sama lain. Tak boleh ada celah sedikitpun.
Sedangkan Kayshila dan Fariza yang sudah melepas atribut penyamaran berada tepat di tengah lingkaran rapat rombongan itu dengan duduk bersila. Kedua telapak tangan mereka saling merapat di depan mereka.
Sementara rombongan yang dekat dengan mereka menyentuh pundak mereka.
Kemudian Dhafin dan Gibson yang berdiri di luar lingkaran, kini memulai ritual pemindahan dengan jalur teleportasi. Tampak mereka menggerak-gerakkan kedua telapak tangan dengan gerakan tertentu.
Tak lama kemudian, kedua telapak tangan Dhafin memancarkan sinar putih, sedangkan Gibson sinar kuning. Lalu secara bersamaan mereka merentangkan kedua tangan mereka ke rombongan yang ada di depan mereka.
Maka terpancarlah dua sinar ke arah Kayshila dan Fariza. Dan begitu kedua sinar itu membungkus mereka, lalu dengan agak cepat kedua sinar itu merambat ke seluruh rombongan.
Maka tak lama kemudian, seluruh orang yang ada di depan Dhafin dan Gibson terbungkus sinar putih bercampur kuning hingga membentuk setengah lingkaran bagai tempurung terbalik.
Tidak sampai sepenanakan nasi sinar yang membentuk tempurung terbalik perlahan demi perlahan memudar. Hingga akhirnya sinar putih bercampur kuning hilang sama sekali. Dan ikut hilang pula rombongan permaisuri dan Kayshila serta Fariza.
★☆★☆★
__ADS_1