
Kala itu sore hari di kamar pribadi Putri Athalia yang luas dan indah di kediamannya....
Di kamar megah itu tidak ada laki-laki selain Dhafin. Sedangkan wanita yang ada cuma Nenek Kaira serta 2 sahabat Putri Athalia yang ternyata pengawal cantiknya; Kaluna dan Malinka.
Hal itu memang atas permintaan Putri Athalia. Maklum saja semenjak dia mengalami kerusakan wajah dan kulit akibat penyakit yang diderita dia menjadi putri yang pemalu. Semenjak itu dia tidak terlalu suka berinteraksi dengan banyak orang kalau tidak penting sekali.
Nenek Kaira menuturkan bahwa penyebab Putri Athalia mengalami kerusakan kulit akibat terkena racun yang masih bersarang di tubuhnya.
Awal mulanya Putri Athalia terkena penyakit aneh seperti sekarang semenjak dia kalah bertarung melawan seorang sakti dari Kerajaan Lengkara 2 tahun yang lalu.
Lawannya itu tampaknya menanamkan racun di dalam tubuh Putri Athalia sewaktu melancarkan pukulan terakhir berupa hantaman telapak tangan. Sehingga menyebabkan Putri Athalia bukan saja kalah, tapi hampir menemui ajal.
Untung saja waktu itu cepat diselamatkan oleh Pendeta Desmon. Sedangkan kedua pengawalnya yang juga mengalami kekalahan dari lawannya diselamatkan oleh Nenek Kaira dan seorang sakti dari Kampung Tolucan.
Pendeta Desmon, Nenek Kaira serta beberapa tabib yang ada di kampung ini berdaya upaya mengeluarkan racun di dalam tubuh Putri Athalia. Namun tetap tidak berhasil. Sedangkan bekas telapak tangan orang sakti itu masih ada hingga sekarang.
Mereka hanya bisa meredam kerja racun itu agar tidak membunuh Putri Athalia dengan terus mengaktifkan 2 energi sakti yang dimiliki Putri Athalia. Yang mana 2 energi sakti itu sudah ada sejak Putri Athalia lahir.
Dari semua penuturan Nenek Kaira yang mengungkapkan sebab Putri Athalia terkena musibah, tidak sekali pun menyebut nama racun yang diderita sang putri.
Entah nenek yang masih tampak cantik itu tidak tahu nama racun itu. Atau dia hendak menguji keahlian Dhafin dalam dunia racun. Tapi Dhafin menduga yang terakhir itu.
★☆★☆
Sementara itu, Putri Athalia tampak duduk bersandar di pembaringan indahnya. Sedangkan Malinka duduk di dekatnya. Gadis cantik itu tengah membuka kaos tangan sebelah kanan sang putri.
Begitu kaos tangan hitam itu telah terbuka, maka tampaklah punggung telapak tangan yang buruk terkelupas. Warnanya sebagian hitam bagai hangus, sebagian berwarna coklat tanah yang buram.
Sedangkan telapak tangan bagian dalam bukan lagi berwarna putih, melainkan berwarna kuning kehitaman.
Sungguh keadaan kulit yang amat buruk dan jelek.
Tapi Dhafin tanpa sungkan dan ragu memegang telak tangan itu dan memeriksanya. Bahkan mengendusnya tanpa merasa jijik. Yang tentunya dia akan mencium bau yang tidak sedap.
Yang merasa risih bercampur sungkan malah Putri Athalia. Hampir saja dia menarik telapak tangannya kalau tidak cepat ditahan oleh Dhafin.
"Jangan mengganggu kalau aku sedang memeriksamu, Tuan Putri," kata Dhafin seolah menegur tapi dengan nada lembut dan tanpa menengok.
Sepasang matanya terus saja memperhatikan keadaan kulit Putri Athalia. Bahkan menaikkan sedikit lengan panjang sang putri untuk melihat kulit lengan.
"Kenapa Yang Mulia tidak merasa jijik dengan keadaan kulit hamba?" kata Putri Athalia sedikit menggerutu bercampur malu. "Bahkan menciumnya segala."
"Masa' seorang tabib merasa jijik dengan pasiennya?" kata Dhafin seolah menegur tapi masih bernada lembut. "Kamu ini bagaimana sih?"
Melihat obrolan Dhafin dan Putri Athalia yang seperti sudah saling akrab itu Kaluna dan Malinka lantas tersenyum penuh arti. Sedangkan Nenek Kaira cuma tersenyum kecil.
Putri Athalia masih memperhatikan Dhafin yang memeriksa kulit tubuhnya, baik kulit telapak tangan maupun kulit lengan. Dan dilihatnya Dhafin tidak merasa jijik dan risih sama sekali.
"Tuan Putri, tolong buka cadarmu!" pinta Dhafin selagi Putri Athalia tercenung. "Aku hendak memeriksa wajahmu."
"Apakah belum cukup Yang Mulia memeriksa tangan hamba?" kata Putri Athalia jelas enggan. Kepalanya makin menunduk malu. Suaranya masih sedikit terdengar bagai mengerutu kesal.
Pikirnya Dhafin seolah mempermainkannya. Sudah memeriksa kulit tubuhnya, masa' mau memeriksa wajahnya yang buruk juga?
"Kulit wajah dengan kulit tubuh berbeda, Tuan Putri," kata Dhafin menerangkan, "meski terkena racun yang sama."
"Benarkah ucapan Yang Mulia itu?" tanya Putri Athalia seolah ragu. "Apakah Yang Mulia tidak mempermainkan hamba?"
"Aku seorang tabib, Tuan Putri, tidak mungkin mempermainkan pasiennya," kata Dhafin meyakinkan dengan nada serius. "Percayalah."
"Apakah Yang Mulia benar-benar yakin bisa menyembuhkan penyakit hamba?" tanya Putri Athalia ingin meyakinkan.
"Apakah kamu ragu kalau aku bisa menyembuhkanmu?" Dhafin malah bertanya.
__ADS_1
Putri Athalia lantas mengangkat wajah, terus menatap mata Dhafin lekat-lekat. Seolah ingin melihat kejujuran ucapan Dhafin di sepasang mata yang teduh itu.
"Tuan Putri, turutilah apa yang dipinta Yang Mulia dan jangan membantah!" kata Nenek Kaira ikut meyakinkan Yakinlah kalau Yang Mulia dapat menyembuhkanmu."
Setelah mendengar ucapan Nenek Kaira dan merasa yakin kalau Dhafin benar-benar dapat menyembuhkannya, akhirnya Putri Athalia membuka cadarnya dan kerudung di kepalanya.
Setelah itu Dhafin memeriksa keadaan wajah Putri Athalia secara teliti yang warnanya tidak jauh beda dengan warna kulitnya. Tapi terkelupasnya sedikit parah.
Sampai memeriksa kedua matanya yang tampak bagai tak bercahaya dan memeriksa bibirnya yang berwarna hitam kecoklatan.
Tidak lama kemudian, Dhafin telah selesai memeriksa keadaan kulit wajah dan tubuh Putri Athalia. Kemudian membicarakan tentang beberapa hal yang dirasakan Putri Athalia selama terkena racun itu.
Adapun racun yang diidap oleh Putri Athalia adalah Racun Kelabang Hitam dari pukulan yang bernama Telapak Kelabang Hitam. Dan Nenek Kaira membenarkan diaknosa tersebut ketika Dhafin menanyakan kepadanya.
Kemudian Dhafin menjelaskan metode penyembuhannya yang terdiri dari 2 tahap; tahap menyembuhkan Racun Kelabang Hitam, setelah itu tahap penghilangan bekas pengaruh racun di sekujur tubuh Putri Athalia.
Dan ketika proses penyembuhan berlangsung Putri Athalia hanya boleh berpakaian satu lapis yang agak tipis.
Sejenak Putri Athalia terdiam memikirkan metode penyembuhan yang akan dilakukan Dhafin. Lebih tepatnya menimbang-nimbang. Terutama pakaian yang akan dia kenakan saat proses penyembuhan.
Akhirnya, setelah memantapkan dirinya menyetujui cara pengobatan Dhafin dan meyakinkan dirinya sekali lagi kalau Dhafin pasti dapat menyembuhkan dirinya, Putri Athalia bersedia disembuhkan.
★☆★☆
Putri Athalia sudah duduk bersila di atas pembaringannya dengan mengenakan pakaian putih yang tipis hingga menyamarkan bentuk tubuhnya yang berwarna buruk dan terkelupas.
Di belakangnya Dhafin sudah duduk bersila sambil menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Putri Athalia. Sementara kedua matanya tertutup kain hitam.
Dhafin menutup matanya dengan kain atas keinginan sendiri, karena mengerti bahwa pasti Putri Athalia merasa tidak nyaman Dhafin melihat tubuhnya yang samar-samar.
Tampak kedua telapak tangan Dhafin mengeluarkan sinar bening warna kuning berbalut putih, terus sinar merah. Kesemua sinar itu merambat ke tubuh Putri Athalia dengan agak cepat.
Hingga tak lama kemudian, sekujur tubuh Putri Athalia terbungkus 3 sinar yang saling berbalut.
Belum lama 3 sinar membungkus tubuh Putri Athalia, Dhafin memerintahkan untuk melepas energi sakti Putri Athalia yang menghambat kerja racun di tubuhnya.
Kenapa energi sakti Putri Athalia harus dilepas? Tujuannya agar proses penyembuhan berjalan lancar. Karena bisa jadi energi sakti Putri Athalia menghambat masuknya energi yang dimasukkan Dhafin ke dalam tubuhnya.
Begitu energi saktinya telah terlepas, maka Putri Athalia merasakan 3 energi sakti merasuk ke dalam tubuhnya. Kemudian energi sakti itu memenuhi seluruh rongga dadanya, terus berputar-putar di dalam tubuhnya.
Sementara itu, waktu terus saja berjalan. Tanpa terasa Kampung Tolucan sudah terbungkus oleh kegelapan malam.
Tanpa terasa 3 penanakan nasi telah berlalu.
Tampak sekujur tubuh Putri Athalia bergetar hebat. Bersamaan dengan itu Dhafin memerintahkan Malinka untuk mendekatkan bokor perak yang ada di depan Putri Athalia.
Belum lama bokor perak itu didekatkan Putri Athalia telah memuntahkan cairan hitam kecoklatan cukup banyak. Belum ada 1 peminum teh, dia muntah lagi dengan cairan yang sama.
Dengan waktu yang sedikit agak lama Putri Athalia muntah lagi. Tapi kali ini cairan berwarna merah segar.
Begitu Dhafin memastikan kalau cairan ke 3 adalah darah sesuai keterangan Malinka, maka Dhafin menarik energi saktinya yang berwarna merah.
Lalu menggantinya dengan energi lain yang berwarna biru bagai cahaya kabut. Kemudian cahaya kabut biru berhawa agak panas itu membungkus sekujur tubuh Putri Athalia bersama energi lainnya.
Karena cahaya kabut biru itu cukup tebal membungkus tubuh Putri Athalia, maka sang putri sama sekali tidak kelihatan. Yang tampak hanyalah cahaya kabut biru yang berpadu dengan sinar kuning dan putih bening.
Hampir 4 penanakan nasi kemudian, Dhafin melepas telapak tangannya dari punggung Putri Athalia. Lalu dengan segera turun dari pembaringan. Sementara cahaya kabut masih membungkus tebal tubuh Putri Athalia.
Setelah Dhafin memulihkan tenaga yang tadi sempat terkuras dalam menyembuhkan sang putri, kemudian Dhafin meracik air mandi untuk Putri Athalia yang dibantu oleh Nenek Kaira.
Dua ember besar sekaligus Dhafin dan Nenek Kaira membuatkan air mandi khusus buat Putri Athalia. Tentu pula diisi oleh tenaga ghaib.
Sementara itu uap hitam tampak menguar ke udara dari dalam cahaya kabut, terus lenyap bagai ditelan angin. Hal itu berlangsung selama hampir 2 penanakan nasi.
__ADS_1
Hingga akhirnya, karena uap hitam telah sirna, maka kabut biru bercahaya mulai memudar sedikit demi sedikit dengan perlahan-lahan. Bersama sinar kuning dan putih bening pula ikut dengan perlahan-lahan.
★☆★☆
Tidak lama kemudian semua energi sakti yang membungkus tubuh Putri Athalia telah sirna. Bahkan pakaian tipis yang tadi dia kenakan ikut hilang entah ke mana.
Kini tubuhnya bugil tanpa sehelai benang pun melekat. Dan perubahan yang amat menakjubkan telah tampak.
Sekujur tubuhnya yang seperti berkeringat yang tadinya berwarna hitam-coklat dan tampak buruk, kini berwarna putih mulus dan halus tanpa ada goresan sedikit pun.
Wajahnya tidak usah dibilang lagi. Amat cantik sekali bagai bidadari, berkulit putih mulus halus.
Sedangkan rambutnya yang tadinya berwarna hitam, kini berwarna coklat kemerahan. Semakin menambah daya pesona dan kecantikan gadis itu.
Tadinya Putri Athalia duduk bersila bagai bersemedi sambil memejamkan mata. Maka Nenek Kaira menyuruhnya membuka matanya.
Begitu Putri Athalia melihat keadaan tubuhnya, tentu saja dia langsung terkejut tidak percaya. Bukan saja karena dia sudah sembuh dari penyakit kulitnya, tapi dia merasa keadaan dirinya seperti telah berubah ke dalam wujud yang baru.
Apalagi setelah Kaluna memberikan cermin kepadanya, terus menatap wajahnya sendiri, maka dia kembali terkejut tidak percaya. Dia juga merasa kalau kulit wajahnya telah berubah ke bentuk yang baru.
Bahkan kecantikan wajahnya yang sekarang ini melebihi dari kecantikannya sebelum dia terkena penyakit. Hal itu telah diakui pula oleh Nenek Kaira, Kaluna dan Malinka.
Mungkin karena saking bahagianya melihat wajahnya yang bagai bidadari, sampai belum menyadari kalau dia telanjang bulat. Begitu Malinka mengenakan selimut ke tubuhnya baru dia sadar.
Dan baru dia sadar kalau tadi Dhafin ada di kamarnya. Tentu saja dia kaget dan merasa malu. Tapi Nenek Kaira memberi tahu kalau Dhafin sudah tidak ada di kamarnya sejak tadi.
Tidak lama kemudian, Putri Athalia dimandikan oleh Nenek Kaira Kaluna, dan Malinka dari air racikan yang sudah disiapkan yang dibuat khusus oleh Dhafin.
Sebelum mandi tadi, keadaan rupa Putri Athalia sudah demikian mempesonanya. Sekarang dia sudah selesai mandi. Maka kemolekan tubuhnya benar-benar semakin mempesona. Keayuan wajahnya benar-benar semakin cantik bagai bidadari.
Tentu anugerah langit yang dia peroleh ini hasil jerih payah Dhafin yang bukan saja menyembuhkannya, namun juga dia telah menjadikan dirinya ke dalam wujud yang baru.
Olehnya itu, dia amat berterima kasih sekali tanpa batas kepada Dhafin, pemuda yang sekarang amat dicintainya.
Semua yang ada pada dirinya sekarang ini adalah hasil karya Dhafin, dan tentu adalah miliknya.
Maka dia bertekad akan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Dhafin dan akan menjadi abdinya selamanya.
"Tuan Putri," kata Nenek Kaira setelah Putri Athalia selesai berpakaian indah, "semua yang ada pada dirimu sekarang adalah milik Yang Mulia Pangeran Ghavin...."
"Maka mulai sekarang kamu harus memakai cadar kalau keluar," lanjut Nenek Kaira. "Tidak boleh ada seorang lelaki manapun selain adik laki-lakimu yang boleh melihat wajahmu. Karena wajahmu adalah milik Yang Mulia. Hanya beliau yang boleh melihat wajahmu."
"Kamu mengerti, Tuan Putri."
"Aku mengerti, Nek," kata Putri Athalia sambil tersenyum manis. "Aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya kepada Yang Mulia. Aku akan mengabdikan diriku selamanya kepadanya."
"Bukan sebagai hamba, tapi sebagai istri," kata Nenek Kaira seakan meralat.
"Apakah Yang Mulia mau menerima diriku sebagai istrinya?" tanya Putri Athalia meragu.
"Kamu harus yakin kalau kamu adalah jodohnya, Tuan Putri. Ya."
"Ya, Nek, aku harus yakin kalau aku adalah jodohnya."
"Tuan Putri, kamu mencintai Yang Mulia 'kan?"
"Iya, Nek, aku mencintai Yang Mulia, amat mencintai."
"Baguslah kalau begitu. Tapi ingatlah pesanku.
"Kalau begitu ingatlah pesanku. Kamu boleh mencintainya, tapi tanpa harus berebut cinta dengan istrinya yang lain, karena kelak dia akan memperoleh 3 orang istri yang cantik, termasuk dirimu."
"Kalau Yang Mulia membagi cintanya kepadamu juga, itu merupakan anugerah dari langit. Mengerti, Tuan Putri?"
__ADS_1
"Mengerti, Nek."
★☆★☆★