Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 212 PERTARUNGAN MELAWAN 10 PENDEKAR ISTANA Part. 2


__ADS_3

Kemudian Dhafin, tanpa menghiraukan nasib lawannya, kembali melakukan aksi yang mengerikan.


Dengan gerakan cepat Dhafin mengayunkan pedang rampasannya hendak menebas leher lawan yang menusuk lambung kanannya. Posisi pendekar istana itu berada di depan sebelah kanannya tadi.


Awalnya pendekar itu masih larut dalam keterkejutan atas peristiwa ganjil tadi. Namun begitu merasakan serangan Dhafin yang telah mengancam nyawanya, buru-buru dia angkat pedangnya hendak menangkis serangan itu.


Tapi tentu saja dia terlambat sedikit. Ayunan tebasan pedang Dhafin amat cepat datangnya. Meski pedangnya dapat menangkis laju pedang Dhafin, tapi mata pedang Dhafin sudah menggorok setengah lehernya.


Darah segera keluar dari leher sang lawan setelah mulutnya mengeluarkan jeritan keras memilukan hati.


Dan belum hilang jeritan pertama, kembali dia menjerit karena Dhafin menendang dadanya dengan keras dan kuat hingga dia terlempar jauh ke belakang.


Bersamaan dengan itu terdengar pula jeritan kematian dari tempat pertarungan Pedang Kilat.


Di tengah seliweran senjata lawan-lawannya, pemuda yang gerakannya laksana kilat itu masih mampu menyarangkan serangannya yang tentu mematikan.


Pedangnya telah merobek cukup panjang dan agak lebar dada salah seorang lawannya. Hingga pendekar istana itu menjerit tiada tertahankan.


Namun Pedang Kilat tidak bisa lama menghirau lawannya. Dia kembali bergerak cepat mengayunkan pedangnya menangkis 3 serangan ketiga lawannya yang datang hampir berbarengan.


Sementara itu kedua lawan Dhafin yang masih tersisa sepertinya sudah bangun dari mimpi buruknya setelah mendengar jeritan-jeritan kematian yang bersahutan.


Dengan tanpa berlama-lama mereka kembali melancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada Dhafin. Namun kali ini Pangeran Pusat tidak lagi memasang badan. Melainkan dia menangkis semua serangan 2 pendekar istana itu dengan pedang rampasan.


Sedangkan sang pemimpin sepertinya juga telah tersadar dari keterperangahan akibat mendengar jeritan-jeritan kematian anak buahnya.


Maka tanpa menunggu lama, setelah menghunus pedang dia menyerang Dhafin membantu kedua anak buahnya. Dan dengan bergabungnya sang pemimpin kepada mereka, kedua pendekar istana itu semakin gentar melancarkan serangan.


Namun bukan berarti Dhafin menjadi gentar karenanya. Ksatria tangguh itu sama sekali tidak terpengaruh akan bergabungnya sang pemimpin mengeroyoknya.


Hanya saja dia harus menambah kehebatan setiap serangannya. Karena dia tahu sang pemimpin tentunya lebih hebat di antara para pendekar istana itu.


Waktu terus melaju tanpa henti. Sementara pertarungan masih terus berlangsung, belum ada tanda-tanda berkesudahan.


Memang harus diakui kalau para pendekar istana itu memiliki kehebatan yang cukup tinggi. Pendekar hebat sekelas Dhafin masih mampu mereka bertahan dari serangan-serangan dahsyatnya. Sedangkan pertarungan sudah lebih dari sepeminuman teh.


Sementara Pedang Kilat ternyata juga bukan pendekar kelas rendah. Pertarungan sudah sejauh itu dia masih mampu menghalau semua serangan ketiga lawannya, meski datangnya beruntun.


Bahkan tidak jarang membalas serangan kepada ketiga lawannya yang tidak kalah mematikan. Hingga akhirnya di penghujung waktu satu penanakan nasi pertarungan berlangsung, pedang kilatnya kembali memakan korban.


Ujung pedangnya berhasil merobek leher depan salah seorang lawannya cukup dalam. Hingga sang lawan menjerit tertahan bagai sapi digorok.


Dan lagi-lagi Pedang Kilat tidak menghiraukan nasib sang lawan. Dengan cepat dia beralih meladeni lawannya yang tinggal dua orang.


Sedangkan Dhafin juga berhasil lagi menumbangkan lawannya, yaitu lelaki yang bersenjata golok. Ujung pedang rampasannya merobek secara menyilang dada lawan cukup dalam dan panjang.


Terang saja lelaki bersenjata golok itu menjerit setinggi langit. Namun Dhafin membiarkan saja tumbang dengan sendirinya. Karena setelah itu dia masih sibuk meladeni sang pemimpin dan lelaki bersenjata tombak.

__ADS_1


★☆★☆


Pertarungan sudah mencapai satu penanakan nasi lebih sedikit. Sementara baik lawan Dhafin maupun lawan si Pedang Kilat belumlah tumbang semua.


Maka sesuai yang diinstruksikan oleh Dhafin, Zafer melesat keluar dari persembunyiannya. Dan tanpa sungkan langsung menyerang lelaki bersenjata tombak dengan pedang peraknya yang sudah dipanggil.


Awalnya lelaki bersenjata tombak itu terkejut atas kemunculan Zafer yang tidak diduga. Dan hampir saja terkena tebasan pedang Zafer.


Namun dengan cepat dia menyadari keadaan, terus menangkis serangan itu. Lalu tak lama dia sudah terlibat pertarungan dengan Zafer.


Sementara di tempat persembunyian Marlon dan ksatria elit lainnya, bukan Agra yang melesat keluar, melainkan Raniya. Dia melesat cepat mendahului Agra, mengabaikan peringatan kandanya.


Gibson yang tidak menyangka kalau Raniya yang melesat keluar terlambat mencegatnya. Gerakan Raniya begitu cepat. Susah dicegat kalau tidak persiapan.


Sedangkan Agra menjadi ragu, apakah ikut keluar atau tidak. Namun Gibson menyarankan untuk tidak keluar. Dan Agra cuma bisa mengikuti.


Sementara Raniya, begitu sudah melesat keluar, langsung menuju salah satu lawan Pedang Kilat. Ketika sudah berada dalam jangkauan, tanpa sungkan gadis cantik itu langsung menyerang lawan dengan pedangnya yang sudah terhunus sejak keluar tadi.


Tentu saja pendekar istana itu awalnya terkejut; terkejut atas kemunculan Raniya dengan tiba-tiba, lebih terkejut lagi tahu-tahu Raniya sudah menyerangnya dengan hebat.


Namun, meski terkejut dengan serangan Raniya, dia masih bisa menangkisnya. Dan hingga akhirnya dia terlibat pertarungan dengan Raniya.


Sebenarnya Pedang Kilat terkejut juga atas kemunculan Raniya yang tidak sesuai rencana. Namun dia tidak mau terlalu memikirkannya. Dia fokus dulu pada lawannya yang dia telah yakin sebentar lagi akan mengalahkan.


Sementara Dhafin bukan tidak tahu kalau Raniya yang keluar. Tapi pemuda yang selalu berpakaian warna biru langit itu seakan tidak menghiraukan.


Memikirkan hal itu, Pangeran Pusat makin memperhebat serangannya. Hasilnya baru satu peminuman teh pertarungan berlangsung dia sudah mendesak hebat pemimpin para pendekar istana.


Begitu juga dengan Zafer dan Pedang Kilat, mereka sudah mendesak hebat lawan mereka.


Lawan masing-masing tidak bisa lagi melakukan serangan. Mereka lebih banyak menangkis serangan. Bahkan tak jarang terkena pukulan ataupun tendangan Zafer maupun Pedang Kilat.


Sedangkan Raniya, meski lawannya tidak ada tanda kalau bakal mendesaknya, namun dia sendiri juga belum bisa mendesak lawannya. Meski dia memiliki jurus-jurus pedang yang dahsyat yang ditunjang dengan gerakan yang begitu lincah dan cepat.


★☆★☆


Untuk kesekian kalinya Dhafin mengayunkan pedangnya dengan kuat dan cepat. Namun masih dapat ditangkis oleh sang pemimpin dengan pedangnya meski kesannya terburu-buru.


Akibatnya tangannya yang sudah kesemutan bertambah kesemutan dan tambah kaku. Hingga tangan kanannya yang menggenggam pedang itu terhempas ke samping, terus pedangnya terlepas dan terlempar jauh.


Namun Dhafin tidak berhenti menggerakkan pedang. Dengan cepat pedang itu terayun menebas tangan kanan sang pemimpin hingga putus. Tentu saja sang pemimpin menjerit kesakitan.


Lagi-lagi pedang itu belum berhenti bergerak. Dengan amat cepat ujung pedang Dhafin mengoyak kedua lutut dengan cukup parah.


Tanpa menghiraukan jeritan sang pemimpin yang kembali terdengar, sebelum rebah ke belakang, dengan cepat dan kuat Dhafin mengirimkan tendangan terputar kaki kanan. Hingga membuat sang pemimpin terlempar jauh ke belakang sambil menjerit.


Hampir bersamaan, Zafer menebas leher lawan hingga putus. Setelah sebelumnya menyerangnya dengan bertubi-tubi.

__ADS_1


Sementara itu, Pedang Kilat menghantam pedang lawan dengan kuat hingga pedang lawan terhempas ke samping, lalu terlempar jauh.


Setelah itu dengan gerakan laksana kilat Pedang Kilat mengayunkan pedangnya 2x berturut-turut. Dan tahu-tahu ujung pedangnya merobek dada lawan cukup dalam secara bersilang. Terus merobek perut lawan hingga ususnya membusai.


Tanpa menghirau jeritan lawannya yang begitu memilukan, Pedang Kilat menyusulkan serangan terakhir dengan mendupak dada lawan dengan keras hingga terlempar ke belakang cukup jauh.


Setelah itu dia melesat ke arah lawan Raniya yang belum terdesak dari belakang. Lalu mengayunkan pedangnya dengan cepat hendak menebas leher pendekar istana itu.


Karena fokus menangkis pedang Raniya, jelas pendekar istana itu tidak menyadari kalau ada ancaman maut dari arah belakangnya. Apalagi serangan yang dilancarkan oleh Pedang Kilat amat cepat. Maka....


Craaasss...!


"Ah!"


Tanpa ampun lagi pedang Pedang Kilat menebas putus leher pendekar istana itu. Dan lelaki itu tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain hanya mendesah pendek.


Lalu jatuh ke tanah bersama kutungan kepalanya yang sudah terpisah dari badan. Darah segar muncrat keluar dari kutungan kepala dan leher pendekar istana itu.


"Hei, Pedang Kilat! Kenapa kamu membunuh lawanku?" hardik Raniya dengan marah bercampur kesal.


Tentu saja dia marah dan kesal Pedang Kilat ikut campur dalam pertarungannya.


"Apa kamu tidak lihat semua anjing-anjing istana telah mati sesuai perhitungan kecuali lawanmu tadi," kata Pedang Kilat bernada santai sambil menyarungkan pedangnya dan sambil melangkah menuju Dhafin.


Zafer juga tampak melangkah cepat menuju Dhafin yang sudah berada di samping sang pemimpin yang tergeletak tak berdaya di atas tanah berumput.


"Apa kamu kira aku tidak bisa mengalahkannya?" sungut Raniya tambah berang sambil mengikuti Pedang Kilat.


"Kamu terlalu lama menumbangkan lawan," kata Pedang Kilat masih santai. "Tidak sesuai perhitungan Pangeran Pusat."


Raniya segera terdiam mendengar ucapan itu yang seakan menegurnya. Meski masih jengkel dia harus menerima kenyataan dari ucapan Pedang Kilat.


Tapi masih tampak dari tarikan wajahnya kalau dia belum puas. Dan masih ada bias-bias kedongkolan.


Sementara para ksatria lainnya yang masih bersembunyi, melihat lawan sudah tumbang semua, mereka segera keluar dari persembunyian. Dan langsung menghampiri Dhafin yang sudah duduk berjongkok di samping sang pemimpin.


Seolah tanpa menghiraukan kalau semua anggota timnya sudah berkumpul di dekatnya, Dhafin mengerahkan mantra ghaibnya pada sang pemimpin. Atau lebih tepatnya menghipnotisnya.


Apa yang dilakukan Dhafin itu cukup membuat heran bagi para ksatria Ketua Carolus. Sampai-sampai Marlon yang tadinya hendak menegur adiknya, jadi tertunda karena melihat adegan yang dipertunjukkan oleh Dhafin.


Sementara Dhafin, setelah menghipnotis sang pemimpin, lalu dia bertanya tentang apa saja yang diketahui oleh lelaki itu tentang info-info istana.


Dan menyaksikan kejadian tersebut, membuat para ksatria Ketua Carolus bertambah terpukau heran. Dan mereka tambah kagum akan kehebatan yang dimiliki Dhafin. Tak terkecuali Raniya.


Tak lama kemudian, setelah puas mengorek informasi berharga dari sang pemimpin, lalu Dhafin membunuh lelaki tersebut dengan menghantam dadanya hingga remuk.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2