Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 205 MENIKMATI MALAM DI GARDU JAGA


__ADS_3

Wilson menoleh sekaligus menghadap dengan perlahan di depan Sheila. Dan betapa terkejutnya dia kalau ternyata Sheila tengah memandangnya. Mungkin lebih tepatnya tengah menatapnya.


Untung saja tadi dia tidak ngomong atau bertingkah yang tidak-tidak. Kalau sampai hal itu terjadi tentu saja dia akan malu.


Sedangkan Sheila, begitu Wilson menghadap ke arahnya, cepat-cepat melengos ke arah lain. Wajahnya tentu saja langsung memerah bagai tomat karena tertangkap basah. Aduh malunya!


Belum hilang rasa kagetnya, Wilson yang melihat wajah cantik Sheila yang berubah merah kembali terkejut. Tapi kali ini terkejut khawatir, takutnya terjadi sesuatu pada gadis cantik itu.


"Nona kenapa?" tanya Wilson langsung. Jelas sekali rasa khawatir dari nada suaranya. "Apa Nona kedinginan?"


"Oh tidak, tidak apa-apa, Kak Wilson," kilah Sheila cepat berusaha menahan rasa malunya. Dia berkata tanpa memandang Wilson.


"Tapi wajah Nona memerah begitu," masih juga Wilson membahas merah wajah si gadis. "Mungkin ada yang bisa saya bantu barangkali?"


"Tidak usah, Kak," kata Sheila masih berkilah masih belum berani menengok. "Aku tidak apa-apa kok."


Sekian helaan napas Wilson masih memandang wajah tomat Sheila. Tapi dia tidak ingin lagi bertanya apa-apa meski masih penasaran.


Setelah itu Wilson berusaha merilekskan dirinya yang masih agak canggung dengan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tidak lama dia sudah menyadari kalau ternyata gardu jaga ini terletak di salah satu sudut areal markas Ketua Anthoniel.


Sementara Sheila, merasa Wilson masih saja terus berdiri, dengan berani mengambil inisiatif menawarkan pemuda itu duduk. Tentunya sambil memandangnya.


"Kak Wilson, apa tidak capek berdiri terus? Duduklah di gardu sini!"


Wilson yang lagi asyik mengamati keadaan sekitar yang gelap segera memandang Sheila kembali. Tapi dia cuma terdiam, tidak segera memenuhi permintaan Sheila. Malah dia bertanya bernada sungkan.


"Apa boleh saya duduk di situ?"


"Ya bolehlah, Kak," kata Sheila dengan gaya bicara sedikit berhias nada kemanjaan. "Kita 'kan ronda malam ini."


"Apa Kakak mau meninggalkan aku?" lanjutnya. "Sungguh Kak Wilson amat tega kalau begitu."


Saat mengucapkan kalimat tersebut, nada dan gaya suara Sheila berubah menjadi merajuk, tapi merajuk manja.


Mendengar gaya bicara Sheila membuat Wilson seketika tersenyum simpul. Entah apa yang membuat pemuda itu tersenyum?


Sedangkan Sheila jelas tidak melihat senyum yang menawan itu karena dia masih melengos ke arah lain.


Tak lama kemudian, Wilson duduk di gardu jaga di samping kanan Sheila berjarak hampir satu depa.


Tampak Wilson masih agak canggung. Bayangkan saja mereka cuma berdua di gardu jaga ini, tidak ada orang lain. Bahkan nyamuk pun tidak mau menemani. Membuat jantung Wilson makin berdebar kencang.


Sementara itu, untuk beberapa saat lamanya gardu jaga dibungkus oleh kesunyian, dibungkam oleh kebisuan. Karena perbincangan di antara mereka terhenti, dibekap oleh kecanggungan.


"Sudah cukup lama ya kita tidak bertemu. Kabar Nona bagaimana?"


Akhirnya Wilson merobek kesunyian, membuyarkan kebisuan dengan bertanya.


"Iya ya, sepertinya sudah 10 hari," tanggap Sheila dengan baik tapi masih agak canggung. "Aku baik, Kak. Kamu sendiri bagaimana kabarnya."


"Saya juga baik-baik saja, Nona Sheila, masih dalam perlindungan Sang Penguasa Langit," kata Wilson juga masih canggung dan sikapnya tetap sopan.


Setelah itu suasana kembali sunyi membisu. Tapi tak lama Wilson berkata lagi bernada tanya yang sepertinya cuma sekedar bertanya saja, cuma ingin mencari topik perbincangan.


"Apa di markas ini perempuan diperbolehkan ikut ronda juga, Nona Sheila?"


"Iya benar, Kak," sahut Sheila mulai menanggapi dengan semangat, berusaha untuk tidak canggung. "Perempuan diperbolehkan ikut ronda, bahkan punya jadwal."


"Kalau seperti kita begini?" tanya Wilson seperti sudah menemukan topik. "Maksud saya anggota rondanya laki-laki dan perempuan. Apa boleh?"


"Sebenarnya... tidak ada jadwal campuran," ungkap Sheila. "Laki-laki ya sama laki-laki, perempuan sama perempuan. "Tapi jika hal itu terjadi tidak dilarang. Hanya saja... tidak boleh sering-sering."


"Tapi kamu tenang saja, Kak," kata Sheila cepat seolah hendak menenangkan perasaan Wilson. "Dalam sebulan ini, baru lagi malam ini ada ronda campuran."


★☆★☆


Kembali suasana ditelan oleh kebisuan seakan topik pembicaraan telah hilang terbawa hembusan angin malam yang dingin. Tapi tak lama terdengar lagi suara Wilson berucap.


"Engng... Nona Sheila...."


Belum juga Wilson menyelesaikan ucapannya Sheila memotongnya dengan cepat. Nadanya jelas memberengut manja.

__ADS_1


"Kak Wilson, bisakah kamu memanggil namaku saja tanpa harus menyertakan dengan sebutan 'nona'?"


"Takutnya saya berlaku tidak sopan, Nona Sheila," kata Wilson bernada sungkan, lebih tepatnya sopan.


"Apakah kamu tidak mau akrab dengan aku?" Sheila mulai memancing untuk saling mengungkap perasaan. Malah berani juga menatap Wilson.


"Karenanya, ngomong aku-kamu saja kamu seperti enggan," lanjutnya, "menyebut namaku saja kamu harus menyertakan dengan sebutan 'nona'...."


"Atau... karena kamu takut kekasihmu akan marah kalau kita sampai akrab? Karenanya, kamu seperti menjaga jarak dengan aku."


"Ti... tidak begitu, Nona..., eh She... Sheila...," malah Wilson jadi gugup Sheila menyerangnya bertubi-tubi hingga dia tergagap begitu.


Melihat tingkah lucu Wilson itu Sheila hampir tertawa. Tapi berusaha ditahan, tetap memasang sikap memberengut. Tapi berengutnya itu malah tampak menggemaskan.


"Tidak begitu bagaimana, Kak Wilson?" Sheila masih terus mendesak.


"Saya..., eh aku...," Wilson masih saja tampak gugup.


"Bicara yang jelaslah, Kak! Aku tidak paham," Sheila masih berusaha mati-matian menahan tawanya.


"Aku... tidak tahu kalau ada gadis yang marah jika aku mendekatimu," kata Wilson mulai kembali lancar berbicara. "Tapi sungguh aku belum punya kekasih."


"Masak?!" Sheila memasang mimik seolah tidak percaya.


"Aku dengar, bahkan sudah melihat sendiri juga," lanjut Sheila yang tampaknya menggoda Wilson, "kalau gadis-gadis Istana Centauri rata-rata cantik-cantik. Masakan tidak ada yang menarik hatimu, terus kamu jadikan kekasih?"


"Entahlah, aku tidak tahu," kata Wilson setelah beralih menatap langit yang bertabur berjuta-juta gemintang. "Yang jelas aku belum punya kekasih...."


"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Wilson tanpa menoleh. "Apakah kamu sudah punya kekasih? Atau jangan-jangan ada yang marah kita sedang berdua di sini."


Wilson sudah mendengar dari Andro kalau Sheila belum punya kekasih. Tapi dia ingin mendengar langsung dari Sheila tentang kebenarannya.


"Aku juga belum punya kekasih," aku Sheila dengan jujur dan tidak ingin mempermainkan Wilson.


Demi mendengar pengakuan Sheila barusan Wilson langsung menoleh dan menatap Sheila, menatap wajah cantiknya lekat-lekat seolah ingin memastikan kalau Sheila tidak berdusta.


"Kenapa kamu menatapku begitu?" kata Sheila tersipu malu ditatap Wilson demikian.


Wilson segera tersenyum mendengar pertanyaan Sheila barusan. Tambah tersenyum ketika kembali melihat rona merah di pipi putih halus Sheila.


★☆★☆


Setelah beberapa saat menikmati wajah cantik Sheila, pandangan Wilson beralih menatap gemintang, sama seperti yang sedang dilakukan Sheila saat ini.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Kak," tagih Sheila sambil menoleh dan melirik sebentar pada Wilson. "Kenapa kamu menatapku begitu?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin melihatmu saja," sahut Wilson jelas berkilah tanpa menoleh apalagi melirik. "Apakah sekarang sudah tidak boleh lagi?"


"Kakak ini aneh. Ya tidak apa-apalah," Sheila makin santai berbincang. "Hanya aku merasa aneh saja tiba-tiba kamu menatapku seperti itu...."


"Pasti kamu ingin mengatakan sesuatu 'kan?" lanjutnya. "Hanya saja kamu tidak mau berterus terang. Iya 'kan?"


"Kira-kira aku mau mengatakan apa kepadamu?" tanya Wilson bernada menggoda sambil tersenyum.


"Ih, Kakak yang tahulah. Masak tanya aku...."


Sepasang muda-mudi itu terus saja berbincang-bincang santai. Terkadang saling bercanda-gurau yang tentunya mengundang tawa yang lepas.


Mereka tidak perduli lagi dengan malam yang semakin larut. Tidak perduli lagi dengan hawa dingin yang makin menusuk sum-sum. Lebih tidak perduli lagi suasana alam sekitar yang demikian gelap.


Malam ini seolah-olah cuma milik mereka berdua.


Sepasang muda-mudi itu terus saja berbincang-bincang seakan tidak takut kehabisan topik perbincangan. Semakin lama mereka saling ngobrol makin tercipta jalinan keakraban yang begitu indah.


Sampai akhirnya mereka saling menceritakan tentang pengalaman hidup dan jati diri mereka masing-masing.


Maka dari perbincangan mereka itu diketahui bahwa Wilson ternyata dari kalangan masyarakat biasa dan sedari kecil kedua orang tuanya tidak ada. Sedangkan saudara dia tidak punya.


Dia cuma hidup sebatang kara sejak kecil. Hidup sebagai gelandangan yang bekerja apa saja demi mendapatkan makan. Hingga akhirnya dia 'diculik' oleh Pasukan Jubah Merah.


Awalnya dia mengira kalau dia diculik. Tak tahunya dia ternyata diselamatkan hidupnya dari kesengsaraan. Digembleng untuk dijadikan sebagai pasukan tangguh seperti yang dia sudah capai sekarang ini.

__ADS_1


Wilson juga menceritakan secara singkat mengenai kehidupan di Markas Centaurus yang sekarang sudah dipindahkan ke Negeri Tabir Ghaib, dan berdekatan dengan Istana Centauri.


Dia juga menceritakan secara global tentang orang-orang yang berada di Markas Centaurus yang semuanya adalah laki-laki. Sedangkan Istana Centauri khusus di huni oleh perempuan.


Juga menceritakan tentang hal-hal lain baik tentang Markas Centaurus maupun Istana Centauri sesuai yang ditanyakan oleh Sheila.


Adapun ketika Sheila bertanya tentang Ratu Agung Aurellia, Wilson cuma memberitahukan kalau dia adalah Ratu Kerajaan Negeri Tabir Ghaib yang berkuasa atas Istana Centauri dan Markas Centaurus.


Juga berkuasa atas Kerajaan Bentala di luar Kerajaan Negeri Tabir Ghaib.


Adapun tentang hal-hal pribadi Ratu Aurellia Wilson tidak menjawab. Dia menyarankan untuk bertanya kepada Pangeran Brian tentang hal itu. Karena Pangeran Brian adalah kakak seayahnya Ratu Aurellia.


Sekarang giliran Sheila yang menceritakan tentang jati dirinya.


Dia merupakan putri salah seorang pejabat istana. Lebih tepatnya salah seorang komandan pasukan militer.


Namun ayahnya telah mati terbunuh akibat melawan kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Putri Rayna Cathrine yang sekarang telah berkuasa di Kerajaan Amerta.


Dan dikabarkan ibunya juga telah dibunuh dalam peristiwa berdarah itu.


Cuma dia dan Jarrel, kakak kandungnya yang masih hidup. Itupun telah diselamatkan oleh Ketua Anthoniel, adik ayahnya.


Sedangkan istri dan putra pertama pamannya itu ikut terbunuh dalam peristiwa berdarah itu. Cuma anak perempuannya yang berhasil dia selamatkan yang umurnya 2 tahun di atasnya.


★☆★☆


Sepasang muda-mudi itu masih saja berbincang-bincang seolah ingin menghabiskan malam dengan bergadang.


Hingga suatu ketika Sheila bertanya yang tidak disangka-sangka oleh Wilson.


"Kak Wilson, apakah tadi kamu sempat melihat bintang jatuh?"


Wilson tidak langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan malah memandang Sheila beberapa saat.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang hal itu?" Wilson malah balik tanya.


"Jawab saja, Kak, iya atau tidak!" kata Sheila merajuk manja.


"Iya, aku sempat melihat," Wilson mengaku juga. "Memangnya kenapa?"


"Siapa yang kamu pikirkan ketika melihat bintang jatuh?" tanya Sheila terus mendesak.


Saat ini dia sudah tersenyum lagi, senyuman yang mengandung banyak arti.


"Kamu sendiri bagaimana? Apa juga sempat melihat bintang jatuh?" bukannya menjawab, Wilson malah balik bertanya.


Jelas dia sungkan untuk berterus terang. Lebih tepatnya merasa malu.


"Aku juga sempat melihat bintang jatuh," sahut Sheila sambil tersenyum riang sambil memandang gemintang.


"Siapa yang kamu pikirkan saat itu?" tanya Wilson ingin tahu, berharap Sheila mau menjawabnya segera.


"Adalah, tapi rahasia," sahut Sheila membuat Wilson penasaran. "Kamu sendiri juga tidak mau menjawab."


"Ya... aku juga rahasia kalau begitu," kata Wilson sambil tersenyum.


"Ih, ikut-ikutan ya?"


Kembali sepasang muda-mudi itu larut dalam obrolan santai yang penuh canda ringan.


Akan tetapi sudah sampai sejauh itu obrolan mereka, belum ada di antara mereka yang saling mengungkapkan perasaan mereka kalau sebenarnya mereka saling suka.


Belum ada yang berani saling menembak di antara masing-masing mereka.


Namun mereka sudah semakin akrab saja. Bagai terlihat kalau mereka sudah resmi sebagai sepasang kekasih, meskipun belum saling menyatakan secara terus terang.


Sementara itu malam terus merangkak perlahan tapi pasti. Suasana gelap makin dibungkus oleh hawa dingin yang hendak membekukan tulang.


Sedangkan selendang kabut tebal bergelayut malas di udara. Kadang bergerak pelan terhembus oleh angin malam yang juga membawa aroma dingin.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2