Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 227 BERAKHIRNYA TIRANI PUTRI RAYNA CATHRINE


__ADS_3

Putri Rayna seperti sudah terkurung di Istana Kerajaan, tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya menanti kedatangan Dhafin dan pasukannya.


Semua pasukannya yang berada di wilayah pinggiran Kerajaan Amerta sudah dibasmi oleh Dhafin dan pasukannya. Bahkan 4 kota yang berada agak berdekatan dengan pusat pemerintahan atau kotaraja Prajurit Keamanan Kota-nya sudah dibasmi juga.


Putri Rayna sudah tidak punya pasukan yang tangguh lagi selain yang ada di kotaraja.


Maka dia memerintahkan orang-orangnya untuk menarik Prajurit Keamanan Kota yang berada di beberapa kota yang berdekatan dengan kotaraja. Termasuk pasukan yang masih sekolah yang berada di markas militer di 3 kota.


Tujuan mereka ditarik untuk memperkuat pertahanan pusat pemerintahan, Istana Kerajaan Amerta.


Putri Rayna masih berbesar hati karena masih terbilang banyak pendekar istana yang bersamanya.


Dia juga masih cukup optimis untuk menangkal perlawanan Dhafin karena separuh dari anggota Gerombolan Pedang Tengkorak sudah berada di istananya. Termasuk ketuanya.


Tentu Gerombolan Pedang Tengkorak datang ke istana tidak melalui jalur biasa. Melainkan melalui portal jalur ghaib yang mereka namakan Portal Gerbang Hitam.


Karena kalau mereka melalui jalur biasa, pasukan Dhafin pasti akan melibasnya.


Adapun yang membuat Portal Gerbang Hitam tidak lain adalah Putri Rayna sendiri.


Sementara itu pasukan Ratu Aurellia dan pasukan Dhafin yang berjumlah sekitar 80.000 personil ternyata sudah berada di dalam kotaraja. Dan sekarang mereka tengah bergerak mendekati istana dari 2 penjuru, dari utara dan dari selatan.


Ya, mereka dengan mudah masuk ke dalam kotaraja karena tidak ada penjaga di pintu gerbang kotaraja. Semua pasukan berkonsentrasi menjaga pertahanan istana.


Akan tetapi sebelum pasukan besar itu sampai mendekati istana, terlebih dahulu dikirim sejumlah pasukan untuk memberitahu kepada seluruh penduduk yang tinggal di dekat istana untuk segera menyingkir ke pinggiran kotaraja.


Dan tidak ada penduduk kotaraja yang membangkang peringatan itu. Mereka langsung berbondong-bondong menyingkir ke pinggiran kotaraja. Bahkan ada yang sampai keluar kotaraja. Bahkan ternyata ada yang sudah menyingkir sebelum diperingatkan.


Karena mereka melihat pasukan yang begitu besar telah memasuki kotaraja. Di samping itu juga istana dipenuhi oleh banyak pasukan.


Mereka merasa kalau sebentar lagi pasti akan terjadi pertempuran besar-besaran di dekat istana. Apalagi mereka sudah mendapat kabar kalau sudah terjadi pula berbagai pertempuran di beberapa kota di luar kotaraja.


Mereka berpikir lebih baik menyelamatkan nyawa, dan merelakan harta mereka yang kemungkinan besar akan rusak.


★☆★☆


Pertempuran besar-besaran sepertinya memang tidak dapat dihindari lagi.


Seperti magnet bertemu besi, begitu pasukan Dhafin dan Ratu Aurellia bertemu dengan pasukan Putri Rayna yang berada di sekeliling luar tembok istana, maka terjadilah pertempuran yang dahsyat dan sengit.


Seperti biasa yang dilakukan oleh pasukan Dhafin dan Ratu Aurellia, yang lebih duluan maju untuk menyerang adalah para ksatria tangguh.


Sehingga sebelum pertempuran fisik terjadi, seperti biasa sebagian mereka mengirimkan serangan pembuka yang mengerikan.


Sekitar puluhan melontarkan pukulan maut jarak jauh. Sebagian yang lain mengirimkan serangan berupa ilmu kesaktian yang lain.


Sehingga sebentar saja sudah terdengar jeritan-jeritan kematian yang memilukan hati. Lalu disusul dengan tumbangnya sekitar ribuan pasukan istana.


Mengerikan! Dalam sekali gebrakan sudah ribuan nyawa yang melayang.


Tidak lama kemudian pertempuran saling hadap-hadapan langsung tergelar di siang bolong, di bawah terik sang Raja Siang.


Pedang-pedang terayun dengan ganas, saling berbenturan di udara menimbulkan suara dencingan logam yang menggiriskan hati.


Dan tidak butuh waktu lama darah-darah segar langsung merembes dan menciprat keluar. Ditingkahi oleh jeritan-jeritan kematian yang kembali terdengar. Menyusul tumbangnya sosok-sosok tanpa nyawa.


Dan sepertinya hari ini, di siang ini merupakan hari keguncangan bagi kekuasaan Putri Rayna di Kerajaan Amerta ini.


Pasukannya yang sebenarnya sudah gentar terhadap pasukan Dhafin dan Ratu Aurellia, sudah tampak kekalahan pada diri-diri mereka.


Satu demi satu mereka berguguran bagai hujan salju yang jatuh dari langit. Mereka terus saja bertumbangan seakan tidak mau berhenti.


Darah-darah segar sudah tergenang di sekeliling luar tembok istana. Menyebarkan bau anyir yang membuat perut mual.


Sehingga pertempuran belum menghabiskan 2x penanakan nasi, semua pasukan istana telah tumbang dengan bersimbah darah, dengan nyawa melayang.

__ADS_1


Tidak ada lagi pasukan yang dapat berdiri tegak di atas tanah selain pasukan Dhafin dan Ratu Aurellia.


Kemudian pasukan itu mundur menjauh dari tembok istana sekitar puluhan tombak. Lalu membentuk barisan berkelompok-kelompok.


Setelah itu para ahli sihir di masing-masing kelompok pasukan itu membuat tabir ghaib yang akan melindungi pasukan itu dari serangan.


Semetara itu di salah satu kelompok pasukan yang berisi para ksatria tangguh. Termasuk 100 Pengawal Khusus Ratu Aurellia.


Di situ ada Ratu Aurellia, Putri Kayshila, Putri Athalia, dan Putri Arcelia serta pengawal mereka masing-masing. Ada juga 2 ksatria dan pelayan cantiknya Dhafin.


Tentunya Dhafin juga ada di situ berdiri berdampingan dengan ketiga calon istrinya.


Baik Dhafin, Ratu Aurellia dan beberapa orang sakti yang ada di situ mengetahui kalau permukaan istana telah dipagari oleh tabir pelindung. Sehingga mereka jelas tidak bisa masuk ke dalam tembok istana.


Ratu Aurellia yang sudah memegang busur Panah Cakra Langit-nya menoleh pada kekasihnya, lalu bertanya.


"Apa aku sudah boleh melepas Panah Cakra Langit-ku, Kanda?"


"Ya, sebaiknya kamu segera melepaskannya," sahut Dhafin tanpa ragu.


Maka dengan cepat Ratu Aurellia mengarahkan busur panahnya ke depan ke atas langit. Lalu dia menarik senarnya dengan kencang. Saat senar tertarik, 3 buah anak panah langsung muncul.


Begitu senar panah dilepas, maka melesatlah 3 anak panah ke langit dan langsung mengarah ke atas langit istana. Kemudian 3 anak panah itu jatuh ke atas ketinggian istana di 3 tempat yang cukup berjauhan.


Setelah ujung 3 anak panah itu menghantam batas tabir ghaib yang dipasang oleh Putri Rayna, maka terdengarlah suara keras nan seram yang begitu berisik bagai suara bangunan kaca yang hancur.


Tentu saja kejadian menyeramkan itu membuat Putri Rayna dan Raja Adrian terkejut bukan main. Namun sepertinya Putri Rayna yang cepat mengerti keadaan tidak suka berlama-lama larut dalam keterkejutan.


Lalu dengan cepat dia perintahkan pasukan pemanah untuk menembakkan anak panah mereka ke luar tembok istana bagian depan. Maka tidak lama melesatlah sekitar 20.000 anak panah ke luar tembok istana.


Namun pasukan pemanah masih menyusulkan melepas anak panah mereka 3x berturut-turut. Sehingga berhamburlah 80.000 anak panah ke luar tembok istana.


Namun siapakah yang mereka panah? Sedangkan sasaran panah telah berlindung di dalam pagar pelindung.


Dan belum juga sempat Putri Rayna menitahkan apa-apa, dari atas langit istana meluncur turun dengan amat cepat 10 anak Panah Cakra Langit. Lalu 10 anak panah itu menghantam tanah pelataran di 10 tempat. Maka....


Blaaarrr...! Blaaarrr...!


Glaaarrr....!


★☆★☆


Terjadilah ledakan yang amat dahsyat 10x berturut-turut seakan hendak meruntuhkan langit. Membuat seluruh pelataran istana berguncang hebat bagai dilanda gempa.


Membuat tembok istana bergetar hebat. Bahkan istana juga ikut bergetar hebat. Sampai-sampai kaca-kaca jendela istana pecah berantakan.


Akibat dari serangan menyeramkan itu membuat ribuan pasukan istana terlontar ke udara bagai kapas tertiup angin.


Membuat Putri Rayna dan Raja Adrian serta orang-orang sakti yang bersama mereka terpaksa harus mengerahkan kesaktian untuk menangkal gelombang serta suara ledakan yang amat dahsyat itu.


Begitu suasana kembali reda, maka tampaklah fenomena mengerikan di sekitar pelataran istana. Hampir seluruh pasukan istana telah tumbang jadi mayat mengerikan. Termasuk ribuan anggota Gerombolan Pedang Tengkorak.


Yang masih tegak berdiri hanyalah para pendekar sakti, termasuk Ketua Gerombolan Pedang Tengkorak dan beberapa tetuanya.


Namun belum juga mereka bisa mengambil napas dengan lama, muncullah Dhafin dan Ratu Aurellia beserta ribuan ksatria tangguh dari balik tembok istana.


Dan tanpa basa-basi Dhafin dan Ratu Aurellia beserta para ksatria tangguh mereka langsung menyerang Putri Rayna dan orang-orang yang bersamanya.


Dhafin dan Ratu Aurellia langsung menyerang Putri Rayna. Brian memilih lawan kakaknya, sendiri, Raja Adrian. Pangeran Aziel Delvin memilih melawan Ketua Baron. Sedangkan yang lainnya langsung menyerang para pendekar istana yang masih hidup.


Sehingga tidak lama kemudian pertempuran yang sesungguhnya langsung tercipta di depan pelataran istana. Pertempuran dahsyat dan sengit para jago-jago pada masing-masing kubu.


Tampak yang paling hebat di antara orang-orang istana itu hanyalah Putri Rayna, Raja Adrian dan Ketua Baron. Lalu para pengawal mereka serta beberapa orang pendekar.


Sedangkan para pendekar istana lainnya, begitu pertempuran sudah berlangsung 3x penanakan nasi, mereka sudah bertumbangan satu demi satu dengan nyawa telah melayang.

__ADS_1


Namun tidak beberapa lama kemudian, kembali bertumbangan para pendekar lainnya. Kemudian menyusul para pengawal Putri Rayna dan Raja Adrian.


Sehingga kini yang masih bertarung Dhafin dan Ratu Aurellia melawan Putri Rayna, Brian melawan Raja Adrian, dan Aziel Delvin melawan Ketua Baron.


Akan tetapi, setelah Putri Kayshila membunuh lawannya, dia langsung melesat ke arah Raja Adrian yang bertarung mati-matian melawan Brian.


Begitu dia sudah cukup dekat dengan Raja Adrian, Putri Kayshila langsung melontarkan Serat Sutra Merah-nya dari telapak tangan kirinya. Dan langsung menjerat tubuh Raja Adrian bagian atas. Sehingga membuat serangannya terganggu.


Sehingga sabetan Pedang Sakura Hitam-nya Brian tidak bisa lagi ditangkis. Maka ujung pedangnya menyabet dada Raja Adrian. Tapi karena tubuh bagian atasnya telah terlilit serat sutra halus, maka pedang Brian tidak bisa melukai tubuh Raja Adrian.


Tentu saja Brian terkejut menyaksikan hal itu. Tapi tak urung dia menyusulkan serangan berikut dengan mengirimkan tendangan terputar ke wajah Raja Adrian.


Sehingga membuat Raja Adrian terjajar ke belakang beberapa langkah dan hampir jatuh terjengkang. Tapi tidak jadi karena ujung Pedang Mawar Merah Kayshila telah menahan tubuhnya.


Bukan hanya menahan, pedang Kayshila langsung menembus punggung kirinya hingga ke dada kiri. Membuatnya mengeluh tertahan dengan wajah yang menegang menahan sakit.


Darah langsung keluar dari luka tusukan itu, kemudian dari mulutnya.


Setelah mencabut pedangnya dari tubuh Raja Adrian, Kayshila langsung berpindah ke hadapan Raja Adrian. Dan langsung menatapnya dengan tajam sambil tersenyum sinis bercampur dingin. Lalu berkata.


"Apa kamu masih mengingat aku, Adrian? Orang yang dulu pernah kamu patahkan kakinya?"


Wajah angkuh Raja Adrian seketika berubah pucat. Tentu dia masih mengingat wanita itu. Dan langsung timbul kengerian dalam dirinya kalau Kayshila akan berbuat yang sama.


Tapi seketika hatinya terkejut ketakutan mana kala Kayshila berkata lagi dengan nada makin dingin menyeramkan.


"Sekarang aku akan membalasnya! Bukan mematahkan kakimu, tapi memotongnya....!"


Setelah selesai berkata begitu, belum sempat Ratu Adrian menghindar, Kayshila langsung mengayunkan pedangnya dengan cepat menebas putus kedua kaki Raja Adrian.


Terang saja Raja Adrian menjerit sekeras kerasnya bersamaan tubuhnya langsung rebah bagai pohon pisang ditebang.


★☆★☆


Belum lama terdengar suara jeritan Raja Adrian, menyusul kemudian teriakan Ketua Baron yang terlempar cukup jauh akibat kalah adu kesaktian dengan Aziel.


Tubuhnya baru berhenti terlempar begitu menghantam salah satu pilar istana. Setelah tubuhnya jatuh menggelosor ke bawah, lalu diam selamanya. Tampak mulutnya memuntahkan darah cukup banyak.


Sementara itu pertarungan antara Dhafin dan Ratu Aurellia melawan Putri Rayna masih terus berlangsung.


Sepasang kekasih itu cukup sulit membunuh Putri Rayna. Karena ternyata pedang pusaka mereka tidak bisa melukai tubuh sang putri. Rupanya Putri Rayna melapisi sekujur tubuhnya dengan mantra kekebalan.


Di samping itu juga Putri Rayna bertarung menggunakan sihirnya. Membuat Dhafin dan Ratu Aurellia semakin sulit mengalahkannya.


Akhirnya Dhafin dan Ratu Aurellia merubah mode serangan dengan tanpa menggunakan pedang. Sementara pertarungan di antara mereka sudah berlangsung hingga malam hari.


Hingga suatu ketika Dhafin dan Putri Rayna sama-sama terjajar sehabis kedua telapak tangan mereka saling bentrok.


Begitu Dhafin berhenti terjajar, saat Putri Rayna masih terjajar, Dhafin langsung mengerahkan ilmu Pengunci Raga-nya hingga level tinggi. Membuat tubuh Putri Rayna berhenti terjajar.


Bukan hanya itu. Sekujur tubuh Putri Rayna langsung diam laksana patung.


"Cepat panah, Aurellia!" seru Dhafin dengan cepat dan cukup keras. "Panah ke dua dada dan keningnya!"


Tanpa menunggu lama, setelah memanggil panahnya, Ratu Aurellia langsung melesatkan 3 anak panah ke arah yang disebut Dhafin.


Karena Putri Rayna masih menjadi patung, maka dengan mudah 3 anak panah itu menghantam pertengahan kening dan kedua dadanya, kiri dan kanan. Bahkan ketiga anak panah itu amblas masuk ke dalam tubuhnya.


Beberapa kejap kemudian sekujur tubuh Putri Rayna seketika hancur berkeping-keping dan beserakan di udara. Lalu berubah menjadi tepung berwarna biru keputihan.


Dengan binasanya Putri Aurellia dan terbunuhnya Raja Adrian, maka berakhir sudah kekuasaan mereka di Kerajaan Amerta.


Bersamaan dengan itu berakhir sudah pertempuran yang berlangsung dari siang hingga malam hari.


Dengan demikian Dhafin dan Ratu Aurellia beserta pasukan mereka berhasil memenangkan pertempuran dengan cukup telak sekaligus berhasil merebut kembali Kerajaan Amerta.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2