Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 39 FIRASAT DHAFIN


__ADS_3

Sehari sebelum seleksi penerimaan calon prajurit militer, Brian mengumpulkan teman-temannya; Dhafin, Aziel, Keenan, dan Kelvin.


Tempat pertemuan mereka kali ini di rumah salah seorang teman Brian di pinggir kotaraja sebelah tenggara. Letaknya dipinggir hutan dan agak jauh dari pemukiman lainnya.


Teman Brian itu bernama Chafik. Dia dari kalangan rakyat biasa. Tinggal seorang diri di rumah kecilnya ini karena kedua orang tuanya sudah meninggal karena sakit keras.


Dia yang bekerja sebagai tukang pikul barang di pusat kotaraja, hari ini tidak masuk kerja demi menyambut tamu agungnya, Pangeran Brian serta empat orang temannya.


Waktu itu masih terhitung pagi dan mereka sudah terlibat dalam pembicaraan. Kecuali Chafik yang cuma diam saja karena tidak mengerti apa yang dibicarakan.


Sampai hari ini Hendry belum bergabung bersama mereka. Dan itu jelas meresahkan Brian dan tiga anak lainnya. Kalau sampai Hendry tidak hadir juga saat turnamen telah dimulai, mereka harus memaksa Dhafin untuk bergabung dengan tim Brian meski Dhafin tidak mau ikut.


"Aku semakin yakin kalau Hendry sudah tertangkap oleh orang-orang Kerajaan Lengkara," kata Kelvin.


"Itu juga yang mengganggu pikiranku sampai sekarang," kata Brian seakan sepemikiran.


"Soal Hendry nanti kita bahas," kata Aziel mengusulkan. Nada suaranya dingin. "Kita bahas dulu soal turnamen yang akan digelar nanti."


"Usul Aziel benar, Pangeran," dukung Keenan. "Kita tunda membahas soal Hendry. Lagipula kalau dia tertangkap, niscaya dia tidak akan mati. Begitu juga yang terjadi pada Jarvis."


"Kalau Jarvis maupun Hendry tertangkap," kata Dhafin menguraikan ucapan Keenan, "mereka 'kan akan dijadikan pasukan khusus? Itu artinya mereka ditangkap bukan untuk dibunuh."


"Yang jadi masalah kalau pasukan khusus itu ternyata pasukan pembunuh yang sudah dicuci otaknya," kata Brian bernada khawatir.


Ucapan Brian barusan amat dimengerti oleh Dhafin, Aziel, Keenan, maupun Kelvin. Namun Chafik, mendengar kata cuci otak dia langsung heran bercampur bingung. Akhirnya mulutnya tak tahan untuk bertanya.


"Maaf, Pangeran. Cuci otak itu maksudnya apa?"


Brian tidak lantas menjawab pertanyaan wajar itu. Dia malah menoleh pada bocah berumur 10 tahun lebih yang duduk bersandar di sisi sebelah kanan ruang depan itu. Begitu juga yang lain.


Semua anak-anak itu berkumpul di ruang depan rumah Chafik. Karena Chafik tidak punya kursi, jadi mereka semua duduk melantai di atas tikar yang sudah lusuh.


Setelah mengamati Chafik beberapa saat, keempat teman Brian segera mengetahui kalau Chafik sebenarnya bukan terhitung anak yang bodoh. Tapi karena istilah cuci otak bukan istilah yang umum, wajar saja dia tak tahu.


Setelah menoleh pada Chafik, Brian memandang Keenan. Seolah menyuruh penyihir kecil itu yang menjawab.


Keenan yang mengerti arti tatapan Brian itu, lantas menoleh kembali pada Chafik. Lalu berkata menguraikan.


"Cuci otak disini maksudnya yaitu proses menghilangkan ingatan dan pikiran seseorang, terus mengganti dengan ingatan dan pikiran yang baru oleh orang tertentu sesuai dengan keinginan orang tersebut...."


"...Tujuannya agar semua yang diperintahkan atau yang dimaukan oleh si pencuci otak dapat dituruti oleh orang yang telah dicuci otaknya itu dengan patuh, tanpa membantah. Karena pikirannya sudah terpengaruh."


"Kamu mengerti, Chafik?" tanya Brian.


"Mengerti, Pangeran," sahut Chafik mantap seraya mengangguk-angguk. "Silahkan lanjutkan obrolannya!"


★☆★☆


"Kalau sampai hal itu terjadi," kata Aziel mengomentari ucapan Brian tadi, "tentu Dhafin dan Keenan tidak akan tinggal diam."


Ucapan Aziel ini mengandung arti bahwa jika Jarvis dan Hendry sudah terpengaruh pikirannya karena sudah dicuci otaknya, maka tugas untuk menormalkan mereka kembali diserahkan pada Dhafin dan Keenan.


Dan apa yang dikatakan Aziel barusan telah dipahami oleh Dhafin dan Keenan.


Baik Aziel, Kelvin dan tentu juga Keenan, sudah banyak mengetahui keterangan tentang siapa itu Dhafin dan kehebatannya dari Brian. Jadi mereka tidak meragukan Dhafin.


Sedangkan Dhafin juga telah mengetahui kalau Keenan menguasai ilmu sihir meski masih tingkat sedang.


Setelah mencermati ucapan Aziel tadi, barulah Brian sepakat untuk tidak membahas dulu soal Hendry.


"Baiklah. Kita fokus saja dulu membahas soal kesiapan kita menghadapi turnamen nanti."


"Dan kamu, mau tidak mau harus ikut dalam tim kami," kata Brian setelah menoleh pada Dhafin dengan nada memaksa, "sebagai gantinya Hendry."


"Apa sebenarnya yang kalian inginkan dengan ikut dalam turnamen yang menurutku tidak penting itu?" tanya Dhafin, tapi maksudnya menolak secara tersirat ajakan mereka.


"Kalau yang kalian inginkan untuk merebut piala," lanjutnya, "menurutku sia-sia saja kehebatan kalian dituangkan hanya untuk itu."

__ADS_1


"Aku tahu ucapanmu itu punya dua maksud," kata Kelvin bernada ketus. "Kamu menolak untuk bergabung dalam tim kami sekaligus kamu mencoba mempengaruhi niat kami yang sudah bulat untuk mengikuti turnamen."


Dhafin sedikit tercekat mendengar ucapan Kelvin. Anak itu bisa mengerti makna tersirat dari ucapannya. Baru dia sadar kalau teman-teman barunya ini anak-anak cerdas.


"Tapi asal kamu tahu," lanjut Kelvin masih ketus, "aku tidak terpengaruh dengan ucapanmu itu."


"Menurutmu hal terpenting itu apa, Saudara Dhafin?" tanya Keenan seolah tidak menghirau omelan Kelvin. Dia seperti menangkap makna tersirat lainnya dari ucapan Dhafin. Dia sudah tahu sedikit karakter Dhafin dalam berbicara.


"Brian!" Dhafin menoleh pada Brian. "Apakah kamu masih ingat dua pemanah waktu kejadian di gerbang kotaraja sebelah selatan?"


"Ya, aku masih ingat," sahut Brian setelah berpikir sebentar. Lalu bertanya bernada heran, "Kenapa kamu tiba-tiba membicarakan soal itu lagi?"


Brian sudah menceritakan kepada Aziel, Keenan, dan Kelvin mengenai rencana pemberontakan empat pejabat yang gagal. Termasuk menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di gerbang selatan kotaraja.


Tapi Brian menceritakan secara garis besarnya saja, tidak terperinci. Dan bagian peristiwa pemanahan luput dia ceritakan, seperti menganggap tidak penting karena memang pemanahnya tidak tertangkap.


Dan ketika mengetahui ternyata ada peristiwa pemanahan yang luput diceritakan Brian tentu saja membuat Aziel, Keenan dan Kelvin terkejut. Dan tiba-tiba Dhafin menyoal peristiwa itu lagi tentu ada maksudnya.


"Aku punya firasat dua pemanah itu akan melakukan tindakannya lagi," kata Dhafin mengungkapkan.


Tampak empat bocah sakti itu tercenung memikirkan firasat Dhafin. Jelas mereka peduli apa yang menjadi firasat Dhafin tersebut. Karena tingkat kebatinan bocah itu sudah lumayan tinggi.


Memang ada kemungkinan bahkan besar dua pemanah itu akan mengulangi perbuatannya. Tapi yang menjadi target mereka sekarang siapa?


Sementara Chafik si tuan rumah cuma duduk diam saja di tempatnya. Apa yang dibicarakan kelima bocah itu dia juga tidak terlalu mengerti dan sepertinya tidak perduli. Dia cuma menjadi pendengar saja.


★☆★☆


"Menurutmu siapa yang menjadi target mereka sekarang?" tanya Brian ingin tahu.


"Yang Mulia," sahut Dhafin tanpa ragu.


Bukan saja keempat bocah sakti yang kaget mendengar dugaan Dhafin itu, Chafik yang sebenarnya tidak terlalu pahan persoalan ikut terkejut pula.


"Aku rasa dua pemanah itu bukan pemanah ulung," kata Brian beranggapan. "Buktinya aku dapat menangkap panah salah satu dari mereka. Bahkan kamu juga dapat mengetahui kedatangannya dan menghindarinya."


"Apakah kamu masih ingat pemanah yang mana yang duluan sampai panahnya?" tanya Dhafin.


"Tapi bukan berarti dia pemanah ulung," kata Brian lagi seakan tahu maksud Dhafin. "Bisa jadi, panahnya duluan sampai karena dia yang memanah terlebih dahulu."


"Apa kamu tahu berapa jarak antara dua pemanah itu dengan target sasarannya?" tanya Dhafin lagi.


"Kalau itu aku tidak tahu," kata Brian mengaku. "Waktu itu aku tidak sempat lihat. Aku hanya tahu dari arah mana dua anak panah itu datang."


Sejenak Dhafin berhenti berbicara. Dipandanginya dulu Brian. Kemudian beralih memandang tiga bocah yang tampak serius sekali mendengar dia dan Brian berdialog.


"Apa kamu tahu jaraknya berapa, Saudara Dhafin?" tanya Keenan tiba-tiba memecah kebisuan.


"Antara 50-55 tombak," sahut Dhafin tanpa ragu.


"Bukankah waktu itu kamu juga tidak melihat dimana dua pemanah itu berada, Dhafin?" tanya Brian curiga. "Bagaimana kamu bisa tahu jaraknya?"


"Apakah kamu tidak tahu kalau ayahku dan Paman Lyman sempat melihat dua pemanah itu?" kata Dhafin seolah memberi tahu. "Jelas aku tahu dari ayahku."


"Pangeran! Jarak 50-an tombak ke atas itu hanya bisa dilakukan oleh pemanah ulung," kata Keenan menjelaskan. "Pemanah biasa belum bisa melakukannya."


"Apalagi targetnya adalah sasaran yang langsung mematikan; kepala dan leher," sambung Dhafin.


Brian terdiam memikirkan analisa Dhafin yang didukung oleh Keenan itu. Sebenarnya dia membenarkan analisa itu. Tapi dia masih terpengaruh dengan tindakannya yang berhasil menangkap anak panah yang mengarah kepada Dhafin.


"Kamu masih terpengaruh dengan tindakanmu yang berhasil menangkap panah salah satu dari mereka," kata Dhafin tahu apa yang dipikirkan Brian. "Kamu tidak sadar kalau perbuatan itu cuma pengalihan perhatian."


Brian mengangguk-angguk mendengar ucapan Dhafin barusan. Akalnya segera membenarkannya. Ya, cuma pengalihan perhatian.


"Panah yang mengenai Kapten Chris sampai ke sasaran saat Kapten Chris sedang berbicara," ungkap Dhafin.


"Jelas si pemanah ingin cepat-cepat menghabisi Kapten Chris," lanjutnya. "Tapi tidak berhasil karena Kapten Chris masih dalam pengaruh kekuatan ghaibku."

__ADS_1


Ketiga bocah sakti paham apa yang dimaksud kalimat terakhir ucapan Dhafin. Apalagi Brian sudah menceritakan pada mereka bagian itu.


Yang tidak paham dan semakin bingung adalah Chafik. Kepalanya semakin pusing memikirkan pembicaraan lima tamunya itu yang diluar penalaran anak-anak seusianya. Apalagi sampai menyebut kekuatan ghaib segala. Pusing!


Kenapa mereka tidak membicarakan masalah turnamen saja? Malah membahas masalah yang seharusnya para petinggi istana yang mengurusnya. Aneh mereka ini!


★☆★☆


"Kalau aku pikir-pikir," komentar Keenan, "sebenarnya tindakan dua pemanah itu sia-sia saja...."


"...Sudah jelas Kapten Chris dalam pengaruh kekuatan ghaib," lanjutnya. "Apalagi dua pejabat militer serta pasukannya datang ke tempat kejadian. Tapi mereka memaksakan diri membidik juga. Sia-sia saja 'kan?"


"Aku rasa mereka cuma mencoba peruntungan saja," kata Dhafin menduga. "Tapi tidak berhasil. Makanya aku berfirasat mereka akan melakukan tindakan yang ke dua. Dan kali ini adalah Yang Mulia."


"Apa dasar ucapanmu sehingga berfirasat bahwa target mereka yang berikut adalah Yang Mulia?" tanya Aziel yang sedari tadi diam saja mendengar.


"Apa kalian pikir drama rencana pemberontakan sudah berakhir?" tanya Dhafin seolah mengingatkan suatu hal yang penting.


Keempat bocah sakti menatap Dhafin lekat-lekat. Jelas saja mereka terkejut heran mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Pertanyaan yang sebenarnya pernyataan.


"Bukankah pihak istana sudah mengumumkan kalau keadaan sudah kembali aman?" kata Chafik yang tidak tahan untuk memuntahkan isi kepalanya yang naif itu.


"Tidak ada lagi yang namanya pemberontakan, Tuan Muda. Kenapa kamu bilang...."


"Kalau kamu tidak tahu apa-apa diam saja, Chafik!" sentak Kelvin bernada jengkel. "Tidak usah ikut bicara!"


Hati Chafik langsung mengkerut mendengar sentakan Kelvin. Dia lantas tidak jadi melanjutkan ucapan. Dan kembali terdiam dengan kepala tertunduk.


"Kamu dengarkan saja dulu, Chafik," kata Brian dengan lembut. "Nanti juga kamu akan mengerti."


Chafik cuma mengangguk. Tapi tanpa memandang siapa pun dari kelima bocah tamunya itu.


"Jelaskan ucapanmu, Dhafin!" pinta Aziel melanjutkan lagi pembicaraan yang sedikit tertunda akibat kenaifan Chafik.


"Asal kalian tahu," Dhafin melanjutkan bahasannya, "3000 lebih pasukan yang berkonsentrasi di luar perbatasan sebelah barat tidak ada satu pun yang berhasil ditumpas."


"Yang berikut," lanjutnya, "2500 anggota Gerombolan Pedang Tengkorak yang dipimpin oleh Wakil Ketua Galen tidak ada lagi di wilayah sebelah selatan."


"Dua keterangan ini aku dapatkan dari ayahku."


"Jadi maksudmu 3000 lebih pasukan itu masih kerja sama dengan Gerombolan Pedang Tengkorak untuk memberontak?" tanya Brian menebak.


"Tepat," kata Dhafin. "Mereka masih ada kerja sama."


"Kalau begitu siapa pemimpin 3000 pasukan itu?" tanya Kelvin kepada Brian dan Dhafin. "Apa kalian tahu?"


"Kamu masih ingat ucapan Pejabat Keegen saat menyebut orang yang juga bekerja sama dengan mereka?" Dhafin menoleh pada Brian yang juga menoleh padanya.


"Tuan Putri," sahut Brian. "Cuma itu yang dia sebut."


"Ya, Tuan Putri inilah yang menjadi pimpinan 3000 pasukan itu," kata Dhafin membenarkan.


"Tuan Putri masih belum jelas orangnya," kata Kelvin masih penasaran. "Tuan Putri siapa?"


"Siapa orangnya nanti kita akan ketahui," kata Dhafin. "Kita akan mengurus dulu masalah penting berikut."


"Masalah apa?" tanya Brian.


Dhafin tidak menjawab. Dia yang sudah duduk bersila sejak tadi diperbaiki sedikit. Badan ditegakkan seraya mengangkat kepala sedikit mendongak ke atas. Tapi matanya terpejam.


Bersamaan tangan kanannya digerakkan ke samping agak ke depan. Sedangkan telapak tangan terbuka lebar, sedikit ditekuk ke dalam dan menghadap ke langit.


Keempat bocah sakti paham Dhafin hendak mengerahkan kekuatan ghaibnya. Tapi kepada siapa? Mereka masih bertanya-tanya.


Sedangkan Chafik tidak paham sama sekali apa yang hendak dilakukan Dhafin. Tapi dia diam saja. Dari pada dibentak lagi.


Tidak lama kemudian telapak tangannya diputar. Hampir bersamaan terdengar jeritan dari atas atap rumah.

__ADS_1


"Aaa...!"


Semua orang terkejut mendengar suara jeritan itu. Lalu mereka berjamaah memandang ke atas atap.


__ADS_2