Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 45 PANAH YANG SALAH TARGET TAPI TEPAT


__ADS_3

Selama acara seleksi penerimaan calon siswa akademi militer, Aziel berkeliling kotaraja bersama Kelvin. Dengan banyaknya manusia yang datang ke kotaraja, siapa tahu kedua anak itu mendengar info-info penting dari mereka.


Sedangkan Keenan, sudah diterangkan sebelumnya bahwa sehari setelah peristiwa terbunuhnya Jenderal Rainer, hari pertama acara seleksi penerimaan, dia menemui Putri Cheryl Aurora.


Sementara Dhafin menemani Brian mencari informasi tentang para peserta Turnamen Beladiri Anak Bangsawan. Tapi dia menemani Pangeran Ke Dua itu sampai hari ke 2.


Hari ke 3 Dhafin mengajak Keenan untuk berkunjung ke Istana Kejora, kediaman Putri Aurellia Claretta.


"Buat apa kamu mengajak penyihir kecil ini ke rumah adikku?" tanya Brian heran campur curiga.


"Apa aku tidak boleh berkunjung ke kediaman adik perempuanmu, Pangeran?" kata Keenan seraya tersenyum penuh arti.


"Bukan begitu," kata Brian seolah menjelaskan makna pertanyaannya. "Pasti kalian punya tujuan ke sana."


"Untuk mengungkap misteri pembunuhan permaisuri yang dulu," sahut Dhafin.


"Apa kalian bisa?" tanya Brian seolah meragukan.


Mengungkap kejadian masa lalu dengan menggunakan ilmu sihir atau kekuatan ghaib bukan pekerjaan remeh, dan diperlukan tingkat kehebatan yang cukup tinggi.


Apa sudah sedemikian tinggi tingkat ilmu kedua bocah sakti ini sehingga berani melakukan pekerjaan itu?


"Makanya kamu ikut biar tahu," kata Dhafin.


Akhirnya, mau tidak mau Brian ikut juga. Padahal risetnya mengenai peserta lomba belum rampung betul.


Lantas, bagaimanakah perasaan Putri Aurellia mana kala Dhafin berkunjung lagi ke istananya?


Saat itu Putri Aurellia tengah berlatih memanah bersama Namira dan Naifa. Memang, kalau tidak sedang bepergian mereka berlatih memanah atau berkuda. Kebetulan saat ini mereka tengah berlatih memanah.


Putri Aurellia belajar memanah sejak umur 5 tahun. Karena memang kegemarannya memanah, walaupun dia sudah diusir dari lingkungan istana dan terkena penyakit kulit, dia tetap berlatih. Begitu halnya berkuda.


Diusia 8 tahun boleh dikata dia sudah hampir mahir dalam memanah untuk anak seusianya. Makanya diajarkan juga pada Namira dan Naifa.


Sementara pelayannya yang lain tak ada yang mau belajar memanah dengan alasan tidak menggemari. Tapi Aurellia tahu alasan mereka cuma kedok saja.


Belakangan ini Putri Aurellia tengah berlatih memanah dengan cara tidak melihat target. Rupanya dia mulai mengasah konsentrasi batinnya.


Sebelumnya dia sudah melihat target sasarannya sekitar 12 tombak di samping kirinya beberapa saat lamanya.


Busur sudah tergenggam di tangan kirinya. Anak panah sudah dalam posisi terpasang di senar busur. Jari tengah, telunjuk dan jempol kanannya sudah menjepit pangkal anak panah.


Sementara itu, tampak Brian, Dhafin dan Keenan tengah berjalan menuju ke arah jalur lintasan target sasarannya. Sebentar lagi mereka akan mengambil jalan berbelok untuk menuju ke tempat Putri Aurellia.


Kebetulan jalan menuju ke arah Putri Aurellia bertepatan dengan jalur lintasan target sasarannya.


Tidak lama kemudian, dengan cepat tangan kiri Putri Aurellia mengangkat busur tinggi-tinggi sambil 3 jari kanannya yang tadi menarik senar busur.


Lalu busur diturunkan dan diposisikan tepat di arah target sasaran. Sementara senar busur sudah ditarik dengan lebar dan kencang. Sedangkan 3 bocah tadi sudah menyusuri jalan ke arah Putri Aurellia.


Ketiga bocah itu masih sempat melihat tindakan Putri Aurellia. Dan Brian masih sempat berseru cukup keras mencegah tindakan adiknya. Tapi terlambat....


Swiiing....!


"Jangan, Aurellia...!"


★☆★☆


Anak panah sudah terlepas dari busur dan melesat dengan amat cepat tanpa si pemanah melihat target sasarannya. Barulah terdengar seruan Brian. Terlambat bukan?


Anak panah yang tidak tahu apa-apa itu terus melesat dengan kecepatan tinggi. Sasarannya bukan lagi target awalnya, melainkan Dhafin yang berjalan di samping kanan Brian.


Setelah melepas anak panah barulah Putri Aurellia menyadari ada seruan cukup keras mencegah tindakannya. Lantas dengan cepat dia melihat ke arah target sasarannya. Karena seruan itu dari arah situ.


Tapi baru dua helaan nafas melihat ke target sasaran, Putri Aurellia langsung menjerit histeris. Karena target sasaran panahnya ternyata kepala Dhafin.


"Aaa...!!!"


Begitu kerasnya jeritan histeris Aurellia mencetuskan keterkejutannya. Busur panah terlepas begitu saja dari genggamannya. Mata indahnya membulat besar menyaksikan kejadian mengerikan itu.


Sedangkan Namira dan Naifa yang baru selesai melepas anak panah sempat mendengar seruan Brian. Tapi belum sempat mencerna apa maksudnya, tak lama mereka mendengar jeritan Aurellia yang mengejutkan.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang mereka langsung berlari menghampiri sang putri setelah melepas busur mereka begitu saja.


Sementara anak panah terus melesat cepat tanpa henti. Dua helaan napas lagi ujung panah bakal menembus kepala Dhafin.


Namun bagaimana kejadiannya, tahu-tahu telapak tangan kanan Dhafin telah menggenggam kuat-kuat batang anak panah. Sempat melesat sedikit dari genggamannya sehingga ujung panah nyaris menembus keningnya.


Tapi Aurellia sudah meyakini kalau anak panahnya telah menembus kepala Dhafin. Sehingga membuatnya bertambah ketakutan, bertambah panik.


Namira dan Naifa yang sudah sampai di tempat Putri Aurellia langsung bertanya apa yang terjadi. Tapi Aurellia tidak menghiraukan. Dia langsung berlari cepat menghambur ke arah Dhafin.


Sementara Dhafin sudah menurunkan tangannya ketika Putri Aurellia sudah sampai di hadapannya. Dan seolah tidak menghiraukan kalau ada bocah lain di samping kiri Brian, Aurellia langsung memegang kedua tangan Dhafin.


Brian sempat mengerutkan keningnya sedikit saat melihat adiknya memegang tangan Dhafin. Tapi sejurus kemudian dia tersenyum kecil.


Sementara Keenan seolah tidak menghiraukan Aurellia, dia malah memandang dua pelayan cantik yang berlari kemari. Dan menatap cukup lama pada Namira.


"Ka... kamu tidak apa-apa, Kanda?" tanyanya gugup.


Gugup, panik serta ketakutan bercampur jadi satu dalam perasaan Aurellia. Sehingga mungkin tanpa sadar dia memanggil Dhafin dengan sebutan 'kanda'. Padahal sebelumnya cuma 'kakak'.


Kalau dia tidak memakai cadar, tentu akan terlihat wajah bidadarinya yang pucat. Hanya mata indahnya saja yang melukiskan semua perasaannya.


Sungguh dia meruntuki dirinya yang bodoh yang begitu ceroboh, tidak memperhatikan keadaan sekitar sebelum memanah.


Perlu diketahui, sebutan 'kanda' atau 'dinda' bagi orang Amerta, dan juga bagi kerajaan lainnya, hanya berlaku pada keluarga istana atau keluarga bangsawan.


Bisa juga berlaku pada orang berdasarkan pengangkatan menjadi keluarga bangsawan. Seperti pada Dhafin yang diangkat anak oleh keluarga Jenderal Felix. Makanya Ariesha memanggil Dhafin dengan sebutan kanda.


Jika seorang wanita bangsawan memanggil kanda pada seorang lelaki bangsawan yang tidak ada hubungan keluarga atau pengangkatan keluarga, panggilan itu berarti panggilan sayang. Atau panggilan kepada kekasihnya.


★☆★☆


Bukannya menjawab pertanyaan, Dhafin malah terkejut heran bidadari kecil ini memanggilnya kanda dan terus memegang kedua tangannya tanpa sungkan. Sampai-sampai dia menatap sang putri lekat-lekat.


"Jawab, Kanda! Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Aurellia lagi bernada cemas. Masih juga menyebut panggilan itu. Sepasang mata indahnya membinarkan sejuta rasa bersalah.


"Kamu tenang dulu, tidak usah panik begitu," kata Dhafin bernada kalem. Tapi hatinya mulai merasa tidak enak atas panggilan kanda kepadanya dan terus melekatnya kedua telapak tangan halus Aurellia di kedua lengannya.


"Bagaimana aku bisa tenang kalau kamu belum jawab, Kanda!" suara Aurellia kali ini seperti mau menangis.


"Aku tidak apa-apa," kata Dhafin, "kenapa kamu jadi panik dan ketakutan begitu?"


"Aku tadi melihat panahku menancap di kepalamu," kata Aurellia sambil terus memandang wajah Dhafin. Sinar matanya masih membinarkan kecemasan dan kepanikan meski tidak melihat terjadi apa-apa di kepala Dhafin.


"Panahmu tidak mengenai kepalaku karena aku telah menangkapnya," jelas Dhafin sambil menggerakkan tangan kanannya sedikit. "Ini panahmu di tanganku."


Gerakan tangan Dhafin itu mengandung dua maksud. Di samping menunjukkan panah gadis itu yang telah ditangkapnya, juga bermaksud menyadarkan Aurellia kalau gadis itu masih memegang kedua tangannya.


Kalau dalam keadaan biasa, tidak dalam mengobati atau menolong, dia masih canggung dan malu bersentuhan atau disentuh dengan seorang perempuan selain adiknya secara sengaja.


Namun sialnya, Aurellia malah cuma menengok sebentar tangan Dhafin yang menggenggam anak panahnya. Terus kembali menatap Dhafin. Tapi tidak lagi cemas. Namun rasa bersalah masih ada di pancaran mata indahnya.


Apakah Aurellia kalau dalam keadaan panik begini bisa tidak menyadari dia sedang melakukan apa terhadap seseorang?


"Aku minta maaf, aku tadi tidak tahu kalau...."


Sudahlah," kata Dhafin cepat memotong ucapan Aurellia. "Sekarang kamu tenang dulu. Tidak usah cemas lagi karena aku tidak apa-apa."


"Kalau kamu sudah tenang," lanjut Dhafin, "kamu bisa tahu sedang melakukan apa kepada orang."


"Memang aku melakukan apa?" tanya Aurellia jelas sekali merajuk manja.


"Aurellia! Apa telapak tanganmu itu ada perekatnya sehingga tidak mau lepas memegang tangan orang?" tanya Brian seolah menegur sekaligus mengingatkan.


Hati dan perasaan Aurellia sudah kembali tenang sekarang. Begitu mendengar teguran Brian dan melihat perbuatan memalukannya, apa yang terjadi selanjutnya?


"Eh!"


Langsung saja dia melepaskan pegangannya begitu saja sambil menjerit kecil. Terus dengan refleks mundur ke belakang 1 langkah.


Lalu membalikkan badan dengan cepat ke belakang menghadap Namira dan Naifa yang tengah berdiri 3 langkah dari tempatnya sambil menatapnya.

__ADS_1


Betapa rasa malu ini mau di taruh di mana? Kalau tidak memakai cadar tentu akan terlihat wajah cantiknya yang sudah seperti tomat.


Sementara Namira yang melihat tingkah konyol Aurellia merasa cemas. Kenapa Aurellia melakukan perbuatan memalukan seperti itu di tempat terbuka seperti ini?


Tidakkah dia takut kalau nanti Dhafin menganggapnya gadis yang tidak tahu sopan santun? Apalagi di sini ada anak lain yang belum dikenal.


Dengan cepat Namira menghampiri Aurellia. Lalu menarik Aurellia ke belakang, ke tempat berdirinya tadi. Terus mengomelinya panjang pendek dengan berbisik-bisik.


★☆★☆


Sedangkan Dhafin merasa lega Aurellia tidak memegang tangannya lagi. Jujur hatinya tadi sempat sedikit ketar-ketir.


Brian yang melihat sikap Dhafin itu langsung mengejeknya dengan pura-pura berkata ketus.


"Tidak usah berpura-pura merasa lega bidadari kecilmu itu tidak memegangmu lagi. Bukankah kamu tadi keenakan? Sekarang menyesal karena tidak lagi memegangmu 'kan?"


"Kamu bicara apa, Pangeran Aneh?" kata Dhafin bernada dingin sambil melirik Brian sebentar. Lalu mengamati anak panah di tangan kanannya.


Brian cuma mendengus kecil menanggapi ucapan sinis Dhafin. Lalu menoleh pada Keenan. Baru dia sadari kalau Keenan seperti sibuk dengan pikirannya sendiri sambil memandang Namira yang tengah berbisik-bisik dengan Putri Aurellia.


"Ada apa denganmu, Keenan?" tegur Brian. "Kenapa kamu memandang teman adikku dengan begitu rupa? Kamu menaksirnya?"


"Seharusnya nona baju hijau itu mengenalku," gumam Keenan seolah tidak menggubris candaan Brian. Suaranya pelan bagai berbisik. "Tapi kenapa dia bersikap seolah tidak mengenalku?"


"Kamu mengenalnya?" tanya Brian kini serius.


"Entahlah," ucap Keenan ragu. "Tapi sudahlah, nanti kita bahas. Kita selesaikan dulu tujuan kita ke sini."


Selesai mendengar ucapan Keenan barusan, Brian beralih menoleh pada Dhafin. Tapi baru saja menoleh sudah terdengar suara Dhafin bertanya.


"Tuan Putri! Sebenarnya kamu tadi sedang memanah apa atau siapa?"


Mendengar pertanyaan Dhafin yang mengejutkan itu, Aurellia sempat terkejut. Pertanyaan itu dianggap sebagai teguran. Maka rasa bersalah kembali mengusiknya.


Namun cepat-cepat dia memperbaiki sikapnya dan mengembalikan keanggunannya sebagai Tuan Putri. Lalu dia berbalik dengan anggun. Lalu berkata dengan penuh kesopan santunan.


"Aku minta maaf atas kelancanganku tadi. Tapi sungguh aku tidak bermaksud memanahmu, Kan... eh Kak Dhafin. Yang aku panah sebenarnya target di belakangmu itu."


Aurellia menunjuk target panahan di belakang 3 bocah itu. Sedangkan 3 bocah sakti itu, setelah melihat target panahan yang ditunjuk, mereka kembali menghadap ke depan.


"Oh tidak mengapa," kata Dhafin sambil tersenyum kecil. "Aku hanya sedikit terkejut saja. Tapi lain kali lebih hati-hati lagi melihat target."


"Maaf, tadi aku memanah tanpa melihat target," kata Aurellia memberitahu. "Makanya aku tadi tidak melihatmu."


"Oh, kamu sudah mulai belajar memanah tanpa melihat target?" tanya Brian terkejut bercampur senang.


"Iya, Kanda," sahut Aurellia dengan nada sedikit malu-malu. "Tapi belum mahir betul."


"Belum mahir tapi kamu sudah bisa memanah dengan tepat sasaran," kata Brian seraya melirik Dhafin sambil tersenyum menggoda.


Dhafin tahu Brian mencandainya. Tapi dia tidak menggubris. Dia melangkah ke hadapan Aurellia, terus menyerahkan anak panah yang salah target itu.


"Maaf kalau aku menghalangi target sasaranmu," kata Dhafin sambil masih mengangsurkan anak panah yang belum diambil oleh pemiliknya.


Bukannya mengambil anak panah yang diberikan Dhafin. Aurellia malah menatap wajah tampan Dhafin yang begitu tenang meneduhkan itu.


Setiap kali menatap wajah yang teduh itu, merasakan sorot mata yang penuh kearifan itu, berdekatan dengan sosok yang selalu bersikap tenang itu, hatinya terasa begitu tentram dan damai.


"Tuan Putri!" panggil Dhafin yang melihat Aurellia seperti termenung menatapnya.


"Oh!"


Aurellia lantas bangun dari lamunannya. Dengan agak keburu dia mengambil anak panahnya dari tangan Dhafin. Lalu Dhafin beranjak kembali ke tempatnya tadi.


Setelah memperbaiki perasaannya yang sempat terhanyut tadi, Aurellia berkata dengan nada anggun.


"Kanda Brian! Ada maksud apa kalian berkunjung ke istanaku? Sepertinya ada hal penting yang hendak diurus."


"Ya, benar," kata Brian membenarkan. "Tapi sebaiknya kita bicara di dalam saja."


"Oh, iya. Mari!"

__ADS_1


Kemudian dia melangkah hendak masuk ke istananya. Diikuti oleh Namira dan Naifa. Lalu 3 bocah sakti menyusul.


★☆★☆★


__ADS_2