Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 214 PETAKA MENIMPA RANIYA DAN NAURA


__ADS_3

Selimut malam telah jatuh sejak tadi. Kegelapan malam yang pekat telah menghampar ke seantero mayapada.


Sementara itu langit tanpa Dewi Malam bergelayut. Hanya sinar redup gemintang yang berkerlap-kerlip. Namun tentu saja sinar itu belum mampu menindih kelamnya gelap malam.


Sementara itu, di tengah kegelapan malam, di tengah cuaca dingin yang seakan hendak membekukan tulang, tampak 2 sosok bayangan berkelebat menyusuri sebuah hutan yang agak lebat.


Begitu cepatnya kelebatan kedua sosok bayangan itu, sehingga terlihat bagai kelebatan hantu yang sedang bergentayangan.


Begitu ditelisik lebih dekat pemilik kedua sosok bayangan itu ternyata 2 orang gadis berambut panjang. Dan begitu diperhatikan secara cermat mereka ternyata adalah Raniya dan Naura.


Bagaimanakah ceritanya kedua gadis cantik itu bisa berkeliaran di tengah kegelapan malam seperti ini, yang sepertinya mereka itu tengah mengejar orang?


Seperti diceritakan sebelumnya kalau Raniya bertekad hendak mengikuti Tim Dhafin. Lebih tepatnya mengikuti Dhafin, pemuda yang ternyata sudah mencuri sekeping perasaan cintanya.


Tentunya dengan terpaksa Naura mengikuti ke mana pun Raniya pergi. Karena dia memang sahabat sejati yang tidak ingin temannya menempuh bahaya sendiri.


Awalnya mereka tentu kehilangan jejak ke mana harus mencari Dhafin dan kelompoknya. Karena sejak mereka bertolak hendak mengikuti Dhafin mereka sudah kehilangan sosok Dhafin dan 4 orang rekannya.


Namun mereka masih jelas mendengar ke tempat mana Dhafin dan kelompoknya menuju dan misi apa yang hendak dilakukan di tempat itu.


Tapi tempat yang hendak di tuju itu mereka tidak tahu di mana letaknya. Apalagi mereka belum pernah ke tempat tersebut.


Lebih tepatnya tempat yang hendak mereka tuju adalah salah satu tempat di Kota Eliot, kota yang masih dalam wilayah bagian barat Kerajaan Amerta.


Perlu di ketahui bahwa Kota Eliot itu merupakan tetangga kota yang beberapa hari yang lalu diserang oleh Dhafin Cs dan pasukan Ketua Carolus.


Namun sekarang kota itu sudah terisi Prajurit Keamanan lagi. Ditambah dengan pasukan istana.


Setelah bertanya kepada beberapa orang, akhirnya Raniya dan Naura tahu di mana Kota Eliot berada. Maka tanpa berlama-lama mereka langsung menuju ke kota tersebut.


Namun ketika hari sudah memasuki malam, dalam perjalanan mereka menuju Kota Eliot, mereka sempat melihat kelebatan 2 sosok bayangan yang hendak menuju Kota Eliot juga.


Dua sosok bayangan itu cukup jauh di depan mereka. Sehingga mereka cukup sulit memastikan siapa kedua sosok bayangan itu. Mereka hanya bisa memastikan kalau kedua sosok bayangan itu adalah 2 orang laki-laki.


Tetapi Raniya maupun Naura kuat menduga kalau 2 sosok bayangan itu adalah Dhafin dan Pedang Kilat. Hal itu berdasarkan dari model dan warna pakaian yang kedua sosok bayangan itu pakai.


Hingga suatu ketika kedua sosok bayangan yang mereka kuntit itu hilang di balik pepohonan. Tapi Raniya dan Naura terus saja berkelebat cepat menuju ke tempat hilangnya kedua sosok bayangan itu.


★☆★☆


Begitu sampai di tempat hilangnya kedua sosok bayangan yang mereka kuntit itu, Raniya dan Naura segera berhenti. Setelah itu mereka langsung memindai keadaan sekitar demi mencari kedua lelaki yang mereka kuntit.


Sementara keadaan sekitar mereka diselubungi oleh kegelapan. Namun karena kedua mata mereka sudah terlatih dengan baik, mereka dapat melihat cukup jelas keadaan sekitar.


"Ke mana perginya Kak Dhafin dan Pedang Kilat tadi, Naura?" tanya Raniya yang masih mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


"Aku tidak tahu pasti," sahut Naura yang juga masih mengedarkan penglihatannya ke sekitarnya. "Tapi mereka hilang di sini."


"Apa mereka sudah tahu kalau kita telah menguntit mereka?" kata Naura selanjutnya bertanya.


"Bisa jadi begitu," kata Raniya sependapat. "Makanya mereka langsung bersembunyi."


"Atau... jangan-jangan berbelok ke lain arah," duga Naura.


Raniya tidak mengatakan apa-apa atau menanggapi. Dia diam saja sambil terus mengamati keadaan sekitar.


Cukup lama mereka mengamati keadaan hutan di sekitar mereka, tapi belum juga mendapat titik terang di mana kedua lelaki yang mereka kuntit tadi. Namun selagi mereka asyik mengamati keadaan sekitar, tiba-tiba....


"Apa kalian mencari aku?"


Seketika terdengar sebuah suara agak pelan dan kalem dari belakang mereka. Tapi suara itu tentu saja membuat Raniya maupun Naura amat kaget bukan main. Dengan cepat mereka langsung membalikkan tubuh menghadap ke sumber suara itu.


Di situ, berjarak 2 tombak ternyata sudah berdiri seorang laki-laki muda. Wajahnya lumayan tampan. Berambut panjang di kuncir. Berpakaian panjang warna biru.

__ADS_1


Sepertinya lelaki muda itu yang disangka Raniya dan Naura sebagai Dhafin. Tapi lelaki itu jelas bukan Dhafin.


Tampak bibirnya tersenyum menyeringai yang begitu menjijikkan. Sepasang matanya menatap liar penuh nafsu kotor kepada kedua gadis cantik itu.


Tentu saja Raniya maupun Naura bertambah terkejut menyadari kemunculan lelaki muda itu yang tidak mereka sangka. Sekaligus merasa tertipu karena yang mereka sangka Dhafin ternyata bukan.


Naluri akan adanya bahaya segera terbetik dalam hati mereka. Dan tanpa berlama-lama langsung menghunus pedang, langsung bersiaga perang.


Tapi belum juga mereka sempat bertanya kepada lelaki yang baru muncul itu, seketika terdengar lagi suara ucapan yang tidak keras dan kalem dari arah belakang mereka.


"Sepertinya mereka mencari aku...."


Tentu saja kedua gadis cantik itu kembali terkejut mendengar akan hal itu. Maka dengan cepat mereka menoleh ke belakang.


Ternyata di situ dengan jarak yang hampir sama juga sudah berdiri seorang lelaki berpakaian panjang warna merah. Memang penampilannya agak mirip Pedang Kilat, tapi jelas lelaki itu bukan Pedang Kilat. Mereka tertipu lagi.


Tampak sepasang mata lelaki itu menatap liar dan nakal kepada kedua gadis cantik itu. Bibirnya juga tersenyum lebar bagai seringai seekor serigala yang siap menerkam.


Menyadari kenyataan akan adanya bahaya, Raniya maupun Naura tidak mau terlalu larut dalam keterkejutan.


Dengan cepat mereka mengambil posisi berdiri saling memunggungi. Raniya menghadap ke lelaki berbaju biru, sedangkan Naura menghadap ke lelaki berbaju merah.


"Siapa kalian?" bentak Raniya cukup keras bernada dingin. "Mau apa dengan kami?"


"Jangan terlalu galak-galak, Nona. Tidak baik bidadari secantik kamu berbuat begitu...."


"Tapi biasanya gadis galak itu permainan dan goyangannya sungguh memuaskan...."


Ucapan-ucapan kotor yang menjijikkan segera menyambut pertanyaan Raniya. Namun bukan berasal dari lelaki baju biru maupun berbaju merah. Ucapan-ucapan kotor yang berbeda suara itu berasal dari samping kiri-kanan Raniya.


Ternyata di situ pula sudah berdiri santai dua lelaki dengan jarak tidak terlalu berbeda dengan 2 lelaki sebelumnya. Mereka juga masih muda. Lelaki di sebelah kiri berpakaian ringkas warna putih, sedangkan sebelah kanan berompi warna coklat.


Selepas terucapnya kalimat-kalimat kotor itu, keempat lelaki mesum itu langsung tertawa lepas penuh nafsu.


★☆★☆


Raniya dan Naura mau tidak mau harus terkejut lagi atas kemunculan kedua lelaki barusan. Bulu kuduk mereka seketika meremang ngeri mendengar ucapan-ucapan kotor keduanya.


Belum lagi suara tawa keempat lelaki itu yang begitu menjijikkan terdengar di telinga kedua gadis cantik itu. Apalagi sepasang mata mereka terus saja menatap liar penuh nafsu birahi.


Kengerian akan bahaya yang lebih menakutkan sekaligus menyakitkan segera terlintas di benak kedua gadis itu. Namun mereka sekuat tenaga memompa keberanian dan selalu waspada, jangan sampai lengah walau sedikit.


Masalahnya mereka sudah dikurung oleh 4 lelaki bengis dari 4 penjuru. Mereka sudah melihat jelas kalau keempat lelaki itu membawa niat jahat kepada mereka.


"Siapa kalian?" Naura yang membentak dengan suara keras kali ini. "Jangan mencoba macam-macam dengan kami kalau tidak ingin mati!"


"Jangan membuang tenaga percuma dengan berteriak seperti itu, Nona Manis," kata lelaki baju merah bernada lembut. "Permainan inti belum dimulai."


"Keparat!" berang Naura sudah tidak bisa menahan amarah lagi. "Mulut kotormu rupanya minta dirobek! Hiyaat...!"


Berkawal bentakan keras gadis itu langsung melesat cepat menyerang lelaki baju merah. Pedangnya yang sudah terhunus diayunkan dengan sebat mengancam daerah yang mematikan dari tubuh lelaki itu.


"Hiyaaat...!"


Pada waktu yang bersamaan pula, seolah sudah bersepakat sebelumnya, setelah membentak keras Raniya juga melesat cepat menyerang lelaki berbaju biru.


Dengan sebat pedangnya langsung terayun mengancam leher lelaki baju biru itu.


Sementara pedang Naura terus bergerak cepat hendak membelah kepala lelaki baju merah. Namun lelaki itu sepertinya mengetahui gelagat akan datangnya serangan.


Begitu pedang Naura sudah berada di atas kepalanya, dengan gerakan lebih cepat lagi lelaki itu bergeser ke samping kiri agak ke belakang sambil memiringkan badannya.


Sehingga pedang Naura luput dari target. Malah cuma menebas angin.

__ADS_1


Sedangkan pedang Raniya, belum juga mencapai sasaran, lelaki baju biru dengan cepat menggeser tubuhnya ke belakang 2 langkah. Sehingga pedang itu juga hanya menebas angin.


Namun kedua gadis yang amarahnya sudah tersulut akibat kehormatannya dilecehkan itu, tidak berhenti sampai di situ. Mereka terus menyerang kedua lelaki lawan mereka tanpa tanggung-tanggung.


Sehingga tak lama kemudian Raniya dan Naura sudah terlibat dalam pertarungan dengan kedua lelaki bejat itu.


Sedangkan 2 lelaki lainnya cuma menonton saja dari luar arena sambil tersenyum-senyum mesum. Tapi jelas mereka menyimpan niat licik di dalam hati. Saat melihat kedua gadis itu lengah, mereka langsung melumpuhkan keduanya dengan menotoknya. Itu rencana mereka.


Awalnya baik lelaki baju biru maupun lelaki baju merah seperti meremehkan kedua gadis itu. Atau lebih tepatnya mereka bertarung cuma setengah-setengah.


Tujuan mereka ingin melumpuhkan kedua gadis itu tanpa harus bertindak keras. Mereka berpikir amat sayang kalau menikmati kedua gadis itu dalam keadaan terluka.


Namun mereka tidak tahu kalau kedua gadis itu masuk dalam jajaran ksatria elit Ketua Carolus. Kehebatan mereka dalam bertarung tidak diragukan lagi.


Sehingga di awal-awal pertarungan kedua lelaki itu hampir saja kecolongan. Untung saja mereka cepat menyadari dan tidak lagi meremehkan keduanya. Mereka harus menghadapi keduanya dengan serius kalau tidak mau mereka yang malah menemui kesengsaraan.


Maka mereka segera menghunus senjata masing-masing berupa pedang. Terus menghadapi serangan-serangan ganas kedua gadis itu dengan jurus-jurus dahsyat yang mereka miliki.


★☆★☆


Pertarungan sudah cukup lama berlangsung, kira-kira sudah lebih satu penanakan nasi. Tapi kedua lelaki itu belum juga dapat melumpuhkan Raniya maupun Naura.


Semetara kedua lelaki yang menonton di luar arena, saat ini mereka tidak lagi tersenyum-senyum menjijikkan. Perasaan mereka kini malah didera kekhawatiran. Masalahnya kedua gadis cantik itu belum juga bisa dilumpuhkan.


Maka, setelah menghunus pedang masing-masing, tanpa sungkan mereka segera membantu kedua kawannya mengeroyok kedua gadis itu. Lelaki baju putih menyerang Raniya, lelaki berompi coklat menyerang Naura.


Kira-kira pertarungan mencapai lebih dari4x penanakan nasi, barulah keempat lelaki bejat itu dapat melumpuhkan Raniya dan Naura tanpa melukai segores pun.


Dengan gerakan amat cepat lelaki baju biru menotok punggung sebelah kiri Raniya ketika gadis itu sibuk menangkis serangan lelaki baju putih.


Sedangkan lelaki berompi coklat berhasil menotok dada atas Naura sebelah kanan saat sang gadis juga sibuk menangkis serangan lelaki baju merah.


Hingga akhirnya baik Raniya maupun Naura langsung menggelosor jatuh ke tanah berumput dengan tanpa berkutik. Kebetulan tempat mereka terjatuh cukup berdekatan. Sedangkan pedang mereka terlepas dari genggaman meski jatuh tak jauh dari mereka.


"Fuuuhhh...! Akhirnya kedua kelinci cantik ini dapat juga kita lumpuhkan," kata lelaki baju biru setelah menghela napasnya dengan lega.


Saat ini keempat lelaki bejat lagi mesum itu sudah berdiri mengitari kedua gadis yang sudah tidak berkutik itu. Sepasang mata kotor mereka begitu liar memandang sekujur tubuh kedua gadis itu.


Mereka melihat kedua gadis itu tampak diam seperti pasrah. Namun siapa sangka keduanya berusaha mengerahkan tenaga murni demi melepas totokan di tubuh mereka.


"Sebaiknya kita garap di mana kedua gadis ini?" tanya lelaki baju putih sambil menyeringai buas. Sepasang matanya tak pernah lepas memandang dada montok Naura yang sekal.


Naura memang berpakaian ringkas dan cukup ketat. Sehingga memetakkan lekuk tubuhnya yang menggiurkan.


"Menikmati kesenangan surgawi dalam ruangan sudah biasa," komentar lelaki baju biru. "Sekali-kali di tengah hutan seperti ini tidak ada salahnya."


"Ide yang menarik," sambut lelaki baju merah.


Sementara Raniya dan Naura, meski berusaha keras memunahkan totokan di tubuh mereka, namun tetap tidak bisa. Rupanya totokan di tubuh mereka begitu kuat.


Sedangkan keempat lelaki yang sudah birahi itu, tanpa berlama-lama segera bersiap hendak menggarap kedua korban mereka. Dengan sedikit kasar mereka menyeret keduanya sehingga terpisah agak jauh.


Tentu saja Raniya dan Naura langsung membentak-bentak keras penuh kemarahan atas perlecehan yang dilakukan terhadap mereka. Menyusul makian-makian berpadu jeritan-jeritan kemarahan dilontarkan tiada henti.


Namun keempat lelaki itu tidak perduli dengan suara-suara seperti itu. Seolah racauan-racauan kedua gadis cantik itu seperti lantunan-lantunan penyemangat akan aksi bejat mereka yang akan terlaksana.


Formasi pertarungan inti seperti pada pertarungan pemanasan tadi. Lelaki baju biru dan lelaki baju putih akan bertarung melawan Raniya. Sedangkan lelaki baju merah dan lelaki berompi coklat akan bertarung melawan Naura.


Ya, keempat lelaki bejat itu bertarung bukan akan menumpahkan darah. Tapi mereka bertarung akan merenggut kesucian kedua gadis malang itu.


Sungguh amat miris!


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2