Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 133 SANG UTUSAN


__ADS_3

Sebentuk cahaya berbentuk bola sebesar kepala bayi warna hitam dengan kecepatan tinggi melesat ke arah Dhafin. Saking cepatnya bola cahaya itu datang, rasanya sulit bagi Dhafin untuk menghindar.


Sementara Dhafin telah mengetahui kalau ada serangan mendadak dari arah kiri. Maka dengan cepat diangkat tangan kirinya ke samping.


Telapak tangannya yang terbuka lebar seketika mengeluarkan sinar putih bening. Terus sinar itu melebar membentuk lingkaran perisai.


Maka bola cahaya hitam yang mengarah pada Dhafin langsung menghantam lingkaran perisai itu.


Blap!


Laksana sebuah benda masuk ke dalam air, cahaya bola hitam itu lantas masuk ke dalam lingkaran perisai bening, lalu lenyap tanpa bekas.


Sementara Dhafin masih merasakan serangan dadakan yang datang dari belakang.


Belum lama cahaya bola hitam melesak masuk ke dalam perisai bening, sesosok bayangan merah berkelebat dengan amat cepat menerjang Dhafin dari belakang.


Pedang bermata tunggalnya mengayun sebat hendak menebas leher Dhafin dari belakang.


Namun Dhafin yang memang sudah menyadari adanya serangan dadakan ke 2, dengan lebih cepat lagi tubuhnya melenting ke udara cukup tinggi. Sehingga serangan dadakan itu gagal.


Pedang bermata tunggal itu cuma menebas angin dan lewat di bawah kaki Dhafin.


Sementara Dhafin terus melenting ke belakang. Lalu berjumpalitan beberapa kali. Terus mendarat manis dan ringan 3 tombak lebih di belakang sosok berpakaian merah yang menyerang dengan pedang tadi.


Belum lama kedua kaki Dhafin mendarat ringan di atas tanah, sesosok bayangan hitam berkelebat dengan cepat ke arah Pejabat Choman.


Saking cepatnya kelebatan sosok bayangan hitam itu, tahu-tahu di samping kanan Pejabat Choman telah berdiri seorang pemuda tampan dengan rambut panjang terurai.


Pemuda itu berpenampilan mentereng. Berpakaian rangkap dengan baju luar berupa pakaian panjang warna hitam.


Sedangkan di depan pejabat cabul itu juga berdiri seorang pemuda tampan berambut agak panjang yang juga berpenampilan mentereng.


Pakaiannya berwarna merah hampir semodel dengan pemuda berpakaian hitam. Dialah yang menyerang Dhafin dengan pedang tadi.


Tampak pemuda itu menyarungkan pedangnya di sebelah kiri. Lalu sejenak memandang mayat-mayat jawara istana yang mati mengenaskan.


Kemudian beralih menatap Dhafin dengan tajam. Sementara dia tetap berdiri di tempatnya. Sikapnya seolah mengawasi kalau-kalau Dhafin hendak menyerang Pejabat Choman.


Namun Dhafin tidak melakukan apapun, tetap diam saja ditempatnya berdiri sambil bersedekap. Tapi matanya memandang kedua pemuda yang baru datang itu secara seksama.


Sedangkan Pejabat Choman, melihat kedua pemuda berpenampilan mentereng itu bukan main senangnya hingga membuatnya tersenyum sumringah.


Wajahnya yang tadi pucat ketakutan kini sudah kembali seperti semula, wajah yang sangar lagi culas. Sikapnya juga kembali normal, angkuh dan arogan.


"Pangeran Marvin, Pangeran Cullen...," sebut Pejabat Choman bernada senang sambil memandang kedua pemuda itu.


"Tenang dulu, Paman," kata pemuda berbaju hitam yang bernama Pangeran Marvin, "aku akan membuka mantra yang mengunci tubuh paman."


"Ayo, cepatlah!" kata Pejabat Choman bernada gembira.


"Cullen! Kamu jaga pemuda itu jangan sampai menggangguku!" kata Pangeran Marvin berpesan.


Pangeran berwajah angkuh lagi keras itu cuma menoleh sedikit kebelakang sambil bergumam kecil. Setelah itu dia kembali menatap tajam pada Dhafin yang tetap berdiri diam di tempatnya.


★☆★☆


Lalu Pangeran Marvin melangkah ke belakang Pejabat Choman. Setelah itu dia menempelkan kedua telapak tangannya di punggung lelaki tua itu.


Tapi kedua telapak tangannya tidak menempel langsung pada punggung Pejabat Choman, melainkan menempel pada suatu hawa padat yang kenyal dan alot.


Tak lama Pangeran Marvin sudah mengerahkan tenaga saktinya untuk melepas atau meretas belitan mantra pada tubuh Pejabat Choman.


Kedua telapak tangannya yang mengeluarkan cahaya warna putih perlahan-lahan melingkupi hawa padat tak berwujud yang membelit tubuh sang pejabat. Hingga akhirnya sinar putih itu utuh melingkupi belitan mantra.


Sementara Dhafin tampak diam di tempatnya. Dia tidak terlalu melihat apa yang dilakukan Pangeran Marvin karena terhalangi oleh Pangeran Cullen. Tapi dia tahu apa yang dilakukan Pangeran Marvin.


Apakah benar Dhafin tetap diam saja?

__ADS_1


Orang-orang melihatnya seperti tidak melakukan apa-apa. Tapi siapa sangka kalau telapak tangan kanannya sedikit bergerak pertanda kembali mengkoneksikan energi ghaibnya ke belitan mantranya pada Pejabat Choman.


Dhafin tidak menambah daya belitan mantranya. Dia hanya ingin merasakan sampai di mana usaha Pangeran Marvin dalam melepas mantra ghaibnya.


Sekarang, kedua tangan Pangeran Marvin sudah bergetar pertanda seluruh kekuatannya dikerahkan untuk meretas belitan mantra pada tubuh Pejabat Choman. Dan Dhafin dapat merasakan hal itu.


Namun, sudah sampai begitu kekuatan Pangeran Marvin dikerahkan, belum juga dapat meretas belitan mantra itu. Padahal Dhafin tidak sampai penuh energi saktinya dikerahkan dalam mantranya itu, meskipun di atas setengah.


Ketika Dhafin merasa Pangeran Marvin sudah penuh mengerahkan energi saktinya, tapi belitan mantra belum juga meretas, akhirnya Dhafin melepas mantra ghaibnya.


Baru 2 helaan napas Dhafin melepas belitan mantranya, sinar putih yang tadi melingkupi belitan mantra seketika buyar berantakan. Hampir bersamaan Pejabat Choman telah bebas bergerak.


"Hahaha...! Kamu telah berhasil melepas kekuatan sihir Bocah Sialan itu!" kata Pejabat Choman sambil tertawa senang. "Terima kasih, Pangeran, terima kasih."


Pangeran Marvin dibilang begitu diam saja. Sementara pikirannya masih bingung, apakah kejadian tadi karena dia berhasil meretas mantra Dhafin, atau Dhafin sendiri yang melepasnya?


"Pangeran Marvin, Pangeran Cullen! Ayo, mari kita habisi Pengacau Keparat itu!" ajak Pejabat Choman seraya bersiap-siap menyerang Dhafin.


"Paman Choman! Hentikan perbuatanmu itu!" seru Raja Ghanim tiba-tiba.


Dia segera melangkah lebar-lebar dan cepat, menghampiri kedua putranya dan Pejabat Choman. Sementara Jenderal Kenzie mengikuti dari belakang.


Kedua pangeran dan Pejabat Choman segera berbalik dan memandang Raja Ghanim. Begitu Raja Ghanim sampai kedua pangeran segera berlutut menyembah hormat sambil mendoakan keselamatan.


Sedangkan Pejabat Choman, jangankan menyembah hormat, malah dia memandang sinis pada sang raja. Sama sekali tak ada hormatnya kepada sang raja.


"Kenapa kalian datang ke mari?" tanya Raja Ghanim bernada tajam kepada kedua putranya. "Bukankah kalian baru datang ke kotaraja dari perguruan kalian?"


"Ampunkan kami, Ayahanda," kata Pangeran Marvin penuh hormat. "Kami diperintah oleh Nenenda Hellen untuk menangkap pengacau yang katanya ada di sini."


"Sebaiknya kalian segera kembali ke istana saja!" titah Raja Ghanim bernada berat penuh wibawa. "Tidak usah menambah kekacauan di sini!"


Baik Pangeran Marvin maupun Pangeran Cullen jelas tidak berani membangkang perintah ayahanda mereka, meski mereka masih enggan meninggalkan tempat ini selama masih ada Dhafin yang mereka anggap pengacau.


★☆★☆


Tapi beda halnya dengan Pejabat Choman. Jelas dia tidak senang dengan ucapan Raja Ghanim yang menyuruh kedua putranya pulang.


"Pemuda itu bukan pengacau, Paman," bantah Raja Ghanim tegas. "Dia adalah seorang tabib yang datang ke mari demi untuk menyembuhkan istriku."


"Apakah kamu tidak merasakan keanehan pada Pemuda Rendahan itu?" kata Pejabat Choman bernada sinis. "Dia dan seorang temannya telah membunuh semua prajurit yang mengawal putrimu di Kota Arthia. Kamu juga sudah tahu peristiwa itu bukan?"


"Sekarang dia mengacau di sini dengan membunuh jawara istana dan 4 pengawalku," lanjutnya. "Apakah kamu belum menyadarinya?"


"Aku tidak perduli dia membunuh pengawalmu atau siapa," kata Raja Ghanim. "Yang aku perduli dia datang ke mari dengan niat baik untuk menyembuhkan istriku."


"Rupanya kamu sudah terpengaruh sihir Pemuda Sialan itu," dengus Pejabat Choman makin berang. "Sama seperti putrimu yang juga sudah terkena sihirnya...."


"Seluruh pengawalnya telah dibunuh oleh Pemuda Sialan itu," lanjutnya, "malah putrimu datang ke kotaraja bersama Pemuda Keparat itu dengan santai-santai saja. Bukankah kalau begitu putrimu sudah tersihir olehnya?"


Putri Lavina tampak berang mendengar Pejabat Choman menuduh Dhafin yang bukan-bukan. Dia hendak menyatroni pejabat cabul itu dan membantahnya.


Tapi Guru Zeroun melarangnya dan menyuruhnya tetap diam di tempatnya. Meskipun menuruti, tapi Putri Lavina tidak bisa menahan kebenciannya kepada pejabat itu.


Sedangkan Raja Ghanim terdiam sejenak. Seolah tengah memikirkan apa yang dikatakan Pejabat Choman. Tapi sebenarnya bukan. Dia malah merasa aneh, kenapa malah seperti dia membela Dhafin?


"Boleh hamba berbicara, Yang Mulia?" tanya Dhafin seolah menyela percakapan Raja Ghanim dengan sang pejabat.


Pangeran Marvin, Pangeran Cullen dan Pejabat Choman serempak berbalik dan langsung menatap Dhafin. Sedangkan Pejabat Choman menatapnya dengan penuh kebencian.


"Silahkan, Anak Muda!" kata Raja Ghanim tanpa mikir.


"Hamba sebenarnya adalah seorang utusan," kata Dhafin bernada tenang. Sebenarnya dia setengah berbohong.


"Seorang utusan?!" kejut Pejabat Choman bernada sinis. "Utusan siapa?"


"Maaf, Tuan Pejabat, saya tidak bisa mengatakannya," kata Dhafin masih tenang.

__ADS_1


"Keparat!"


Pejabat Choman hendak menerjang ke arah Dhafin. Tapi segera ditahan oleh Pangeran Marvin dan membujuknya agar tetap tenang.


"Kalau kamu seorang utusan pasti punya tujuan datang ke kotaraja," kata Raja Ghanim menebak.


"Benar, Yang Mulia," kata Dhafin membenarkan. "Hamba datang ke kotaraja dengan tujuan ingin mengajak berunding Yang Mulia dan petinggi-petinggi istana?"


"Berunding tentang masalah apa?" tanya Raja Ghanim penasaran.


"Maaf, Yang Mulia, nanti hamba akan mengutarakannya di istana," kata Dhafin masih berteka teki.


"Oh, rupanya kamu ingin mengadakan perundingan di istana," kata Raja Ghanim. "Baik, aku menunggumu di istana. Kapan kamu akan ke istana?"


"Besok saat matahari sudah naik seperempat."


"Hei, Bocah Rendah! Katakan saja di sini apa yang hendak kamu bicarakan!" kata Pejabat Choman makin berang. "Sebab kamu tidak akan bisa masuk ke dalam istana keburu nyawamu sudah hilang."


"Apakah kamu mengancamku, Tuan Pejabat?" tanya Dhafin tetap bersikap tenang.


"Terserah kamu mau mengartikan apa," kata Pejabat Choman bernada dingin. "Yang jelas kamu akan mendapat sambutan yang istimewa kalau berani masuk istana."


"Kita lihat saja, Tuan Pejabat," kata Dhafin tak terpengaruh sama sekali akan ancaman Pejabat Choman. "Apakah ancamanmu berarti bagiku atau malah kamu akan melihat kejutan istimewa dariku nanti."


"Bagus!" kata Pejabat Choman sambil tersenyum sinis. "Kalau begitu aku menunggumu di gerbang istana. Di sana aku akan menghantar nyawamu ke neraka."


"Anak Muda. Kamu tenang saja, aku akan menjamin keselamatanmu," kata Raja Ghanim menjanjikan perlindungan. "Silahkan kamu datang sesuai keinginanmu."


"Yang Mulia. Aku cukupkan Penguasa Langit sebagai penjamin keselamatanku. Kalau Tuan Pejabat itu ingin bermain kasar denganku, aku akan meladeninya."


Setelah berkata begitu Dhafin menempelkan telapak tangannya di dada kirinya. Kejap berikut seluruh tubuhnya diselubungi sinar putih. Tak lama, sinar itu lenyap berikut Dhafin sudah hilang dari pandangan.


★☆★☆


Kepergian Dhafin secara tiba-tiba, apalagi dengan cara berteleportasi membuat Putri Lavina terkejut bukan main. Dia terkejut bukan karena apa, melainkan hilangnya lagi kesempatan bersama Dhafin.


Dengan berteleportasi begitu jelas dia tidak tahu ke mana pastinya Dhafin pergi. Sukur-sukur masih ada di sekitar kotaraja. Kalau berada di kota lain yang entah di mana, tentu dia kerepotan sekali mencarinya.


Sementara itu, terjadi pembicaraan yang cukup sengit antara Raja Ghanim dengan Pejabat Choman. Tidak lama kemudian Tidak lama kemudian, Pejabat Choman pulang ke istana dengan membawa amarah lantaran Raja Ghanim menunjukkan sikap seolah membela Dhafin.


Sedangkan Pangeran Marvin dan Pangeran Cullen meski berada di pihak Pejabat Choman dalam masalah ini, tapi mereka tidak menunjukkan penentangannya terhadap Raja Ghanim.


Akhirnya kedua pangeran itu ikut pulang juga ke istana bersama Pejabat Choman. Sementara Raja Ghanim memutuskan untuk bermalam di kediaman istrinya. Besok pagi baru dia akan pulang ke istana sebelum waktu yang dijanjikan Dhafin untuk datang ke istana.


Adapun Guru Zeroun memutuskan untuk pulang ke rumahnya di pusat kotaraja. Sedangkan sepasang pengawal, Raja Ghanim menahan mereka untuk tetap berada di kediaman Selir Ashana.


Sementara Putri Lavina yang hendak keluar mencari Dhafin, jelas ditahan oleh bundanya. Juga ditahan oleh Raja Ghanim serta sepasang pengawal.


Jelas mereka mengkhawatirkan keadaan Putri Lavina kalau berada di luar sendirian. Sepertinya situasi sekarang ini sedang tidak baik-baik saja.


Kalau begitu ke manakah perginya Dhafin?


Rupanya dia masih berada di kotaraja. Dan rombongan Pangeran Revan telah menemukannya. Tepatnya yang menemukan adalah Keenan dengan Ilmu Pelacak Aura Sukma-nya.


Dan ternyata pula dalam rombongan Pangeran Revan, ada Yang Mulia Ratu bersama 4 pengawal cantiknya serta Jenderal Jessica bersama 2 sahabatnya.


Tidak hanya itu. Putri Kayshila Dellia dan Jenderal Fariza Luna juga ada.


Jelas Dhafin mengkhawatirkan keberadaan gadis-gadis cantik itu di kotaraja secara bersama-sama.


Namun ketimbang memikirkan kekhawatirannya itu, lebih baik dia fokus dulu mempersiapkan sebuah rencana bersama mereka semua untuk besok kala dia datang ke istana.


Akhirnya berundinglah mereka di sebuah tempat tersembunyi di kotaraja.


Apa yang akan dilakukan besok mereka rundingkan di situ. Dan diputuskan yang akan masuk duluan ke istana sebagai utusan perundingan dengan pihak istana adalah Dhafin dan Brian.


Sedangkan Yang Mulia Ratu terpaksa menyetujui keputusan itu, meskipun dia ingin ikut bersama kedua orang yang disayanginya itu.

__ADS_1


Kalau dia ngotot ingin ikut jelas tidak ada yang setuju. Akhirnya dia diam saja. Tapi dia berdoa semoga besok mereka berdua tidak kenapa-napa yang kenapa-napa....


★☆★☆★


__ADS_2