Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 87 PERTEMPURAN DI LUAR BATAS PERKAMPUNGAN KOTA ARTHIA


__ADS_3

Di kotaraja di Kerajaan Amerta....


Dhafin dan Kayshila cukup leluasa berkeliling kotaraja dengan mereka melakukan penyamaran. Meskipun sewaktu memasuki gerbang masuk kotaraja, mereka diperiksa oleh prajurit penjaga dengan cukup ketat.


Seandainya mereka tidak melakukan penyamaran, bisa dipastikan mereka akan ketahuan. Karena di gerbang masuk itu sudah terpampang nama-nama serta gambar orang-orang yang menjadi buronan kerajaan.


Di antara nama-nama buronan kerajaan itu ada nama Dhafin, Brian, dan Putri Agung Aurellia.


Dhafin sempat terkejut heran melihat gambar wajahnya ketika dewasa sama persis dengan wajahnya sekarang ini. Namun begitu mengetahui kalau Putri Rayna juga punya ilmu sihir, dia tidak heran lagi. Pasti ini pekerjaannya.


Dhafin dan Kayshila sudah mengunjungi tempat di mana Istana Kejora pernah berdiri. Dsn memang di tempat itu tidak ada lagi Istana Kejora berdiri. Yang sekarang berdiri kokoh dan megah adalah Akademi Kemiliteran Putri.


Menurut cerita warga kotaraja bahwa tempat pendidikan militer itu didirikan oleh Raja Darian untuk mengenang putrinya yang hilang. Dan Awalnya sekolah keprajuritan itu bernama Akademi Kemiliteran Putri Aurellia.


Tapi begitu Raja Adrian yang menjadi penguasa nama kata terakhir sekolah itu dihapus. Maka jadilah sekolah itu hingga sekarang bernama Akademi Kemiliteran Putri. Dan memang di situ khusus putri yang bersekolah.


Dhafin juga masih sempat mendapat cerita dari warga bahwa sebab hancurnya Istana Kejora diakibatkan oleh sebuah tenaga sakti yang maha dahsyat yang menghantam istana itu. Saking kerasnya daya ledak tenaga sakti itu, hingga mengguncang seluruh kotaraja.


Sekitar 100 lebih prajurit penjaga dan para pelayan Istana Kejora yang menjadi korban dalam peristiwa itu. Namun Putri Agung dan keempat temannya tidak ditemukan dalam peristiwa itu. Orang-orang istana waktu itu menduga kuat kalau mereka diculik.


Ketika Dhafin menanyakan siapa keempat teman Putri Agung yang ikut diculik itu. Maka warga itu menjawab bahwa mereka adalah Nona Ariesha, Nona Grania, Namira, dan Naifa.


Si warga juga menambahkan bahwa semenjak hilangnya Putri Agung dan keempat temannya, tidak lama kemudian menyusul hilang pula sebagian besar peserta turnamen beladiri waktu itu, baik anak laki-laki maupun perempuan.


Setelah puas mendapat informasi tentang hancurnya Istana Kejora dan hilangnya sekian banyak anak secara misterius, Dhafin mengajak Kayshila untuk memantau rumahnya dan rumah Grania dari kejauhan.


Dhafin memutuskan memantau terlebih dahulu untuk menjaga kemungkinan jangan sampai rumah Jenderal Felix, ayah angkatnya sudah ditempati pejabat pemerintahan Raja Adrian.


Dan ternyata memang benar. Rumah megah itu sudah ditempati oleh pejabat pemerintahan Raja Adrian. Sama halnya juga dengan rumah Grania, bukan lagi ditempati oleh keluarga Jenderal Lyman, melainkan juga ditempati oleh pejabat Raja Adrian.


Lantas di mana ibu dan 2 saudara angkat Dhafin serta keluarga Jenderal Liyman sekarang berada?


Selepas memantau kedua kediaman itu, Dhafin mencari informasi di mana keluarganya dan keluarga Grania sekarang. Sedangkan Kayshila selalu setia menemani sang kekasih dalam setiap aksinya.


Sambil mencari informasi, dia mengajak Kayshila untuk menemui beberapa kenalannya di kotaraja waktu kecil dulu. Di antaranya Gibson dan Chafik. Siapa tahu juga mereka tahu di mana keluarganya dan keluarga Grania berada.


Namun sayang, tenyata beberapa kenalannya itu sudah tidak ada lagi. Menurut warga bahwa mereka ikut menjadi korban penculikan.


Dan sayangnya pula tidak ada seorang warga pun yang tahu di mana keluarganya dan keluarga Grania berada. Yang mereka tahu semua pelayan rumah kedua keluarga itu dibantai oleh pasukan Raja Adrian.


Akan tetapi warga belum mendengar kabar kalau mereka telah dibunuh. Karena setiap pejabat pemerintahan Raja Darian dan keluarganya, jika dibunuh diumumkan ke seluruh Kerajaan Amerta.


Dengan cara biasa Dhafin tidak bisa menemukan kedua keluarga itu. Akhirnya dia mencari mereka dengan mengerahkan Ilmu Pelacak Aura Sukma.


★☆★☆

__ADS_1


Suatu siang di luar batas perkampungan Kota Arthia sebelah selatan berjarak kira-kira 7-8 mil....


Panasnya mentari di siang bolong rupanya bukan menjadi penghalang berarti bagi 3000 lebih pasukan istana Kerajaan Bentala. Mereka terus saja bergerak menyusuri sebuah jalan lebar dan berlembah.


Jalan itu memang jalur utama dari kotaraja menuju wilayah utara Kerajaan Bentala. Dan hanya jalur itu yang paling mudah dan dekat kalau ke wilayah utara. Hanya saja harus melewati lembah yang cukup dalam dan luas.


Pasukan istana yang cukup banyak itu terus saja bergerak memasuki lembah yang luas itu. Saat ini sudah separuh pasukan istana berada di dalam lembah.


Sebagiannya masih berada di lereng lembah yang yang tidak terlalu curam. Sebagian lainnya masih berada di luar lembah.


Pasukan itu terdiri dari pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki. Di antaranya ada sekitar 1000 orang pasukan pemanah yang berkendaraan kuda.


Pasukan yang berjumlah cukup besar itu terus bergerak semakin memasuki lembah. Dan tidak lama kemudian, seluruh pasukan itu sudah berada di tengah lembah.


Dan belum lama mereka menyusuri jalan di pertengahan lembah, tiba-tiba dari arah belakang pasukan sebelah kiri dan sebelah kanan di atas lembah meluncur ratusan anak panah dengan cepat dan santer.


Swiiing...! Swiiing...!


Swiiing...! Swiiing...!


Saking cepat dan santernya luncuran dua kelompok anak panah itu, pasukan bagian belakang terlambat menyadari. Sehingga ratusan anak panah itu menancap di tubuh mereka tanpa kenal ampun. Maka sebentar saja sudah terdengar jeritan-jeritan kematian saling susul.


Tentu saja kejadian yang tiba-tiba itu membuat semua pasukan yang belum mampus terkejut bukan main. Tidak terkecuali para komandan dan jawara istana.


Namun belum juga keterkejutan mereka lenyap, kembali meluncur ratusan anak panah dari dua arah yang sama. Dan kali ini 2x berturut-turut. Sehingga jumlah anak panah yang menyasar ke pasukan istana bertambah banyak.


Baru saja para komandan itu memerintahkan pasukannya untuk berlindung di balik perisai masing-masing, tiba-tiba lagi dari atas lembah bagian depan pasukan sebelah kiri dan kanan juga meluncur ratusan anak panah yang tidak kalah cepat dan santernya.


Dan bagian depan ini bukan hanya sekali. Akan Tetapi 3x berturut-turut. Sehingga jumlah anak panah yang menghujani para pasukan mencapai ribuan. Sehingga kalau dilihat seperti hujan lebat yang tiba-tiba jatuh dari langit mengguyur semua pasukan dan tunggangannya.


Karena saking banyaknya hujan anak panah yang datang, apalagi dari 4 arah di depan dan belakang, meski ada yang masih sempat melindungi diri dengan perisai, namun banyak yang tidak sempat berlindung di balik perisai.


Sehingga sebentar saja lembah itu kembali terdengar jeritan-jeritan kematian yang melengking setinggi langit. Ditingkahi oleh tubuh-tubuh berseragam dan hewan tunggangan bertumbangan saling susul menyusul.


Sementara para komandan dan puluhan kepala regu serta 100 lebih jawara istana sibuk menghalau hujan anak panah yang mengarah ke mereka dengan senjata masing-masing. Tapi masih ada juga di antara mereka yang terkena anak panah. Bahkan tidak sedikit.


Sedangkan yang lainnya, meski selamat dari tertancap anak panah, namun kuda tunggangan mereka tidak ada yang selamat. Sehingga mereka yang selamat cuma bisa berdiri di atas kaki.


★☆★☆


Cuma beberapa saat tragedi penyerangan secara tiba-tiba itu terjadi. Tetapi hasilnya sungguh mencengangkan sekaligus mengerikan. Setidaknya separuh lebih pasukan istana telah berguguran tanpa nyawa.


Melihat kenyataan yang memilukan itu membuat para komandan militer dan pimpinan jawara istana menggeram setengah mati.


Saat ini mereka hanya bisa bingung sekaligus jengkel di tempat masing-masing. Karena sampai saat ini mereka belum bisa memastikan dari mana datangnya serangan anak panah yang begitu tiba-tiba itu.

__ADS_1


Namun tampak mereka sudah memasang kewaspadaan penuh. Sepasang mata mereka tidak pernah lepas mengamati keadaan sekitar. Senjata masih tergenggam di tangan masing-masing.


Sementara seluruh pasukan juga tampak sudah bersiaga penuh. Senjata pedang sudah terhunus di tangan kanan. Perisai selalu siap melindungi di tangan kiri.


Sedangkan pasukan panah yang bersenjatakan senapan panah juga sudah waspada. Anak panah selalu siap disenapannya. Perisai yang di tangan kiri juga selalu siap melindungi.


Tapi mereka sekarang sudah tak punya tunggangan karena sudah mati tertancap anak panah. Dan jumlah mereka juga tinggal separuhnya dari jumlah 1000.


Kini mereka cuma berpijak di atas kaki. Sementara di sebelah kaki-kaki mereka berpijak terbaring mayat-mayat pasukan istana yang mati tanpa perlawanan. Bahkan tidak sedikit yang saling tumpang tindih.


Dan sekarang mereka semua bersepakat dalam satu perasaan, yaitu sama-sama merasakan ketegangan yang menjengkelkan. Karena hingga saat ini mereka belum bisa memastikan musuh berada di mana.


Mereka hanya tahu musuh berada di atas lembah. Tapi tepatnya mereka tidak tahu pasti. Apalagi di sekitar daerah ini merupakan hutan yang cukup lebat. Pohon tumbuh cukup rapat-rapat.


Selagi semua pasukan istana dikurung oleh ketegangan, tiba-tiba dari arah atas lembah sebelah depan pasukan berkelebat sekitar 50 puluh sosok tubuh yang muncul dari balik pepohonan.


Saking cepatnya kelebatan tubuh mereka seolah-olah bayangan yang melesat. Dan tahu-tahu sudah berada di kaki lembah.


Tentu saja para komandan dan pimpinan jawara terkejut ketika melihat puluhan sosok bayangan yang meluncur amat cepat itu. Namun beberapa komandan segera bangun dari keterperangahan.


Begitu mereka melihat 50 sosok bayangan itu sudah berada di kaki lembah, langsung mereka perintahkan para pemanah untuk memanah 50 sosok bayangan itu.


Namun baru juga regu pemanah bergerak maju ke depan, 5 sosok bayangan yang ternyata Yang Mulia Ratu Agung dan 4 Pengawal Pribadi-nya melakukan aksi yang sungguh mengagumkan.


Seketika 5 gadis cantik itu mengibaskan kedua telapak tangan mereka ke depan. Maka bersamaan dengan itu masing-masing dari telapak tangan mereka meluncur dengan amat cepat kepingan-kepingan kelopak bunga dengan 5 warna yang berjumlah amat banyak.


Saking cepatnya lesatan kepingan-kepingan kelopak bunga yang memendarkan cahaya 7 warna itu, langsung menghantam regu pemanah yang tadi diperintahkan memanah.


Sehingga kembali terdengar jeritan-jeritan kematian yang disusul dengan tumbangnya 200-an regu pemanah.


Kepingan-kepingan kelopak bunga yang mengeras bagai kepingan logam yang berjumlah ribuan itu terus saja melesat dan menyasar siapa saja yang terdekat.


Beberapa komandan perang serta beberapa jawara istana, termasuk beberapa pimpinannya masih bisa menghalau datangnya serangan aneh berupa kepingan-kepingan kelopak bunga.


Namun 3 orang komandan dan semua kepala regu serta puluhan jawara istana ikut menjadi korban serangan aneh itu. Di tubuh-tubuh mereka yang bertumbangan tertancap beberapa keping kelopak bunga.


Sementara kepingan-kepingan kelopak bunga terus melesat ke belakang dan menghantam semua regu pemanah yang terisa serta ratusan prajurit pejalan kaki tampa kenal ampun.


Jeritan-jeritan kematian yang begitu menyayat hati semakin sering terdengar. Ditingkahi oleh tumbangnya sosok-sosok tubuh pasukan istana.


Sementara itu, Yang Mulia Ratu dan puluhan pasukannya sudah sampai di hadapan pasukan istana. Dan tanpa menghentikan gerakan, mereka langsung menyerang para komandan dan puluhan jawara istana.


Namun belum lama 50 orang sakti tadi sampai di hadapan lawan, dari atas lembah bagian belakang seketika melesat ratusan pasukan gabungan.


Begitu mereka sampai di hadapan pasukan pejalan kaki yang tersisa, mereka langsung menyerang dengan cepat dan dahsyat.

__ADS_1


Sedangkan pasukan istana yang tersisa yang memang sudah siap balas menyerang pula. Sehingga tak butuh waktu lama, pertempuran segera tercipta di tengah lembah yang cukup luas dan cukup dalam itu.


★☆★☆★


__ADS_2