Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 158 KERAGUAN RATU AURELLIA AKAN CINTA SEJATINYA


__ADS_3

Dhafin tinggal di Kampung Tolucan selama 2 hari. Dalam waktu itu dia dan para pemuka kampung telah membicarakan banyak hal mengenai kesiapan pasukan yang ada di kampung itu.


Adapun kekuatan jumlah pasukannya sekitar 30.000-an lebih personel. Mereka semua berasal dari berbagai kalangan dan berbagai tempat. Sebagian ada dari Kerajaan Lengkara. Sebagiannya dari kerajaan-kerajaan kecil yang sudah ditaklukkan oleh Kerajaan Lengkara.


Hanya saja di antara kerajaan-kerajaan kecil itu, cuma kerajaan Putri Athalia yang diketahui keturunan keluarga istananya masih hidup, yaitu Putri Athalia dan adik laki-lakinya yang juga ada di sini.


Itulah makanya Putri Athalia diangkat sebagai pemimpin Kampung Tolucan.


Hingga saat ini mereka belum pernah bentrok dengan pasukan manapun. Terkhusus terhadap pasukan Kerajaan Lengkara. Mereka hanya memantau saja sejauh mana pergerakan kerajaan besar itu.


Karena target mereka adalah menggulingkan kerajaan yang sudah menjadi penjajah itu. Lalu mengembalikannya kepada pemiliknya yang sah.


Maka dari situ Dhafin telah memperoleh informasi tentang kekuatan pasukan Kerajaan Lengkara, termasuk jumlah pasukannya yaitu sekitar 100.000-an lebih personel. Termasuk jenis-jenis pasukan yang ada di dalamnya.


Juga Dhafin diberi tahu bahwa di dalam kekuatan Kerajaan Lengkara ada seorang wanita penyihir yang hebat. Namanya Penyihir Hadara. Penyihir ini yang pernah diceritakan Keenan waktu mereka masih kecil.


Dan Keenan sudah memberitahukan sedikit kehebatan wanita penyihir itu. Sedangkan keterangan Nenek Kaira melebihi lagi dari apa yang diceritakan Keenan.


Ketika mereka menyinggung soal Putra Mahkota yang sah Kerajaan Lengkara, yaitu Pangeran Agung Aziel, maka Dhafin memberitahukan kalau dia sudah bertemu dengan Pangeran Agung, bahkan berteman baik.


Setelah itu Dhafin menyebutkan ciri-ciri Pangeran Aziel kepada mereka ketika diminta. Akhirnya mereka yakin kalau yang dijumpai Dhafin itu memang Putra Mahkota yang sah.


Memang orang-orang Kampung Tolucan tidak dituntut untuk mencari keberadaan Pangeran Agung. Akan tetapi mereka mengetahui perihal Pangeran Agung dan keluarganya yang lain. Dan mereka menerangkan hal itu kepada Dhafin.


Ada 2 kelompok tersendiri yang berkonsentrasi mengurus masalah pewaris tahta Kerajaan Lengkara yang sah. Yang mana 2 kelompok itu merupakan mitra orang-orang Kampung Tolucan.


Mereka semua mempunyai 1 tujuan, yaitu menggulingkan kekuasaan Raja Bastian Lamont, lalu mengembalikan Kerajaan Lengkara kepada pewarisnya yang sah, yaitu Pangeran Agung Aziel.


Adapun di mana tempat 2 kelompok itu bermarkas cuma Putri Athalia dan 2 pengawal cantiknya yang mengetahui. Karena memang Putri Athalia ini, di samping sebagai pimpinan tertinggi Kampung Tolucan, juga sebagai duta untuk melakukan kerja sama dengan kelompok lain.


Jadi, di antara ketiga kelompok itu, cuma orang-orang penting saja yang saling berhubungan. Adapun selain orang yang ditunjuk tidak boleh saling berhubungan.


Hal ini dimaksudkan agar keberadaan mereka benar-benar terjaga dari pihak Kerajaan Lengkara.


Dengan tidak saling berhubungannya di antara mereka, maka markas masing-masing mereka tidak banyak yang tahu. Kecuali orang yang benar-benar terpercaya.


Ada informasi penting yang Dhafin dapatkan dari para pemuka kampung. Yaitu informasi mengenai keinginan Kerajaan Lengkara dan sekutunya, Gerombolan Pedang Tengkorak untuk menyerang Kerajaan Bentala.


Mengenai kapan penyerangan itu akan dimulai, belum ada informasi yang jelas. Namun rencana penyerangan itu diduga kuat adalah benar.


Sementara itu, hubungan antara Dhafin alias Ghavin dengan Putri Athalia semakin akrab saja. Meskipun mereka belum begitu lama saling kenal dan bertemu.


Mungkin karena sudah jodoh yang ditetapkan oleh Penguasa Langit.


Dan sekarang Putri Athalia makin percaya diri berduaan, berjalan, bahkan berbicara dengan Dhafin. Karena sekarang dia sudah sembuh dari penyakit kulit. Bahkan sekarang wajahnya lebih cantik dari sebelumnya.


Nenek Kaira telah mengajarkan kepada Dhafin ilmu untuk melihat Tanda Keluhuran dari ketiga calon istrinya. Dan Dhafin dapat menguasai ilmu tersebut dengan cepat dan dengan baik.


Maka Dhafin melihat sendiri Tanda Keluhuran pada Putri Athalia dengan menggunakan ilmu tersebut.


Dan ternyata Tanda Keluhuran pada Putri Athalia yang ada di pertengahan keningnya berupa sebentuk bulan sabit berwarna kuning bercahaya melengkung sebelah kanan.


Dengan bukti itu, Dhafin mulai percaya apa yang diramalkan Nenek Kaira. Dia memang ditakdirkan memiliki 3 istri.


Kalau dia hanya menikahi Ratu Aurellia, tanpa menikahi 2 wanita yang sudah ditakdirkan untuknya juga, maka pernikahan itu akan menghancurkan 3 negeri; Kerajaan Bentala, Kerajaan Lengkara, dan Kerajaan Amerta.


Sedangkan Putri Athalia, dengan bukti itu semakin bertambah yakin kalau Pangeran Ghavin adalah jodohnya. Dan Putri Athalia semakin mencintai jodohnya itu.


Sebelum Dhafin meninggalkan Kampung Tolucan, Putri Athalia dengan berani menyatakannya kepada Dhafin. Setelah itu dia bertanya dengan serius kepada Dhafin.


"Apakah nantinya kamu juga akan mencintaiku, Yang Mulia?"


"Kamu tenang saja," sahut Dhafin bernada lembut. "Aku akan berusaha mencintai jodohku...."


Lalu Dhafin mengecup kening atas Putri Athalia, setelah itu dia lenyap dari genggaman Putri Athalia.


"Terima kasih, Yang Mulia...."

__ADS_1


Putri Athalia berkata lirih sambil tersenyum manis sambil memandang tangannya yang tadi menggenggam tangan Dhafin.


★☆★☆


Sebelum pergi ke Negeri Tabir Ghaib, lebih tepatnya ke Istana Centauri, Dhafin singgah sebentar di Kota Nehan, melihat situasi terakhir di sana semenjak dia tinggalkan.


Ternyata di sana masih setia Gibson, Aziel, dan Zafer serta beberapa jawara lainnya menjaga kota itu. Lalu Dhafin menanyakan keadaan penduduk kota yang ternyata masih dalam keadaan aman terkendali.


Tidak lupa memeriksa pasukan yang baru bergabung di Markas Militer Kota Nehan.


Sebenarnya dia hendak membicarakan beberapa hal penting bersama rekan-rekan yang ada di Kota Nehan, terutama pada Aziel. Tapi dia tangguhkan dulu.


Nanti setelah urusannya dengan Ratu Aurellia selesai, baru dia bicarakan beberapa hal penting itu. Terutama rencana penyerangan Istana Kerajaan Bentala.


Setelah merasa kunjungan singkatnya di Kota Nehan cukup, Dhafin langsung menuju Istana Centauri di Negeri Tabir Ghaib dari Kota Nehan melalui Gerbang Cahaya.


Dia memang sudah menguasai pembuka portal menuju negeri itu karena sudah diajarkan oleh Pangeran Revan.


Setibanya di Istana Centauri, dia langsung menemui Ratu Aurellia yang kebetulan berada di kediamannya, yang diberi nama Istana Kejora. Nama yang sama dengan kediamannya dulu di Kerajaan Amerta.


Mengetahui Dhafin menemuinya di istananya, Ratu Aurellia langsung diserang berbagai macam perasaan; marah, kesal, sedih, pilu, khawatir.... Yang ujung-ujungnya dia tetap gembira bertemu Dhafin lagi.


Kalau Dhafin menemuinya seorang diri, pasti akan mengobrolkan tentang hal yang khusus. Maka semua pengawal cantiknya dia suruh pergi.


Terserah mau ke mana asal jangan mengganggu obrolannya dengan yayangnya.


Begitu 4 pengawal cantiknya sudah raib semua, sang ratu langsung memeluk Dhafin dengan erat tanpa sungkan. Pelukan sebagai tanda cinta kepada sang pujaan hati.


Dhafin juga malah balas memeluk dengan erat tapi penuh kelembutan. Penuh dengan perasaan kasih yang amat sangat. Penuh dengan perasaan sayang yang tulus.


Akhir-akhir ini Dhafin semakin menyadari kalau cinta sejatinya memang pada Yang Mulia Ratu. Apalagi setelah mendengar semua penuturan Nenek Kaira tentang ramalannya.


Setelah mendengar penuturan Nenek Kaira sewaktu dia masih di Kampung Tolucan, rasa cinta Dhafin terhadap sang ratu semakin dalam.


Sementara Ratu Aurellia, merasakan pelukan Dhafin kali ini terasa beda, dia semakin erat memeluk Dhafin. Semakin meresapi kehangatan pelukan itu.


"Apakah kamu mau menjadi kekasihku, Aurellia?" tanya Dhafin bernada lembut dan amat syahdu terdengar di telinga Ratu Aurellia.


"Kalau kamu mau menjadi kekasihku, kamu harus mendengarkan dulu apa yang akan katakan padamu."


"Katakan saja."


"Tapi tidak begini juga, Aurellia," kata Dhafin seolah menegur. "Tidak nyaman berbicara dalam keadaan berpelukan begini."


"Aku belum pernah merasakan pelukanmu seperti ini, Kak," kata Ratu Aurellia mengungkapkan keluhannya. "Kalau aku melepaskannya, aku takutnya tidak akan merasakan pelukan seperti ini lagi."


"Mulai dari sekarang kamu akan selalu merasakan pelukan mesra dariku. Aku janji."


Lantas Ratu Aurellia melepas pelukannya pada Dhafin. Tapi kedua tangannya langsung bertaut di leher Dhafin. Sementara wajahnya yang tanpa mengenakan cadar begitu dekat jaraknya dengan wajah Dhafin.


"Benarkah?" tanyanya ingin meyakinkan sambil tersenyum ceria.


"Benar," sahut Dhafin sungguh-sungguh. "Tapi kamu harus mendengarkan dulu apa yang akan aku katakan."


"Baiklah."


Ratu Aurellia melepaskan tangannya yang tadi bertaut di leher Dhafin. Kemudian mereka duduk di kursi yang ada di ruangan pribadi Ratu Aurellia. Tak lupa Dhafin menyuruh Ratu Aurellia mengambil cermin sebelum mereka berbincang.


Meski sedikit heran sedikit heran tapi Ratu Aurellia mengambilkan juga.


★☆★☆


Beberapa saat lamanya saat mereka sudah duduk di kursi, Dhafin belum juga berbicara. Seakan pemuda itu masih merasa enggan untuk berbicara.


Sedangkan Ratu Aurellia yang tak tahan hendak menegur. Tapi seketika tidak jadi karena tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.


"Eh, bukankah kamu pergi mengobati pasien di tempat Nona Athalia?" tanya Ratu Aurellia bernada curiga. "Apakah pasiennya laki-laki atau wanita?"

__ADS_1


"Aku harap kamu tidak curiga yang macam-macam dulu," kata Dhafin mengingatkan. "Dengarkan dulu apa yang akan aku katakan."


"Kalau begitu katakanlah, Kak! Jangan membuatku penasaran dan curiga yang macam-macam."


Akhirnya Dhafin menjelaskan kalau pasien yang dia obati itu adalah Nona Athalia sendiri. Lalu menjelaskan sedikit tentang Putri Athalia yang ternyata seorang putri raja.


Sampai di situ Dhafin perlu menenangkan perasaan Ratu Aurellia dulu sebelum melanjutkan ucapannya. Setelah perasaan Ratu Aurellia tenang, lalu Dhafin menuturkan saat dia mengobati Putri Athalia.


"Sekarang kamu dengarkan apa yang akan aku katakan," kata Dhafin setelah selesai menuturkan tentang proses pengobatannya terhadap Putri Athalia, "dan jangan kamu potong selagi aku berbicara!"


"Baiklah. Aku akan mendengarkannya."


Sejenak Dhafin menarik napas dalam-dalam untuk melonggarkan pernapasannya.


"Apa yang dulu aku katakan padamu tentang ramalan guruku memang benar," kata Dhafin mulai bertutur. "Kita tidak bisa bersatu dalam pernikahan karena akan menghancurkan 3 negeri...."


"Kecuali aku harus memenuhi persyaratan untuk bisa menikah denganmu tanpa menghancurkan 3 negeri," lanjutnya.


"Apa persyaratannya, Kak?" tanya Ratu Aurellia tidak tahan.


"Aku harus memiliki 3 orang istri baru hal itu tidak akan terjadi," kata Dhafin berusaha lembut dan tenang dalam berbicara.


"Ma... maksudmu?" Ratu Aurellia sudah siap-siap untuk kaget.


"Selain kamu aku jadikan sebagai istri, aku juga harus menikahi 2 wanita lainnya sesuai ketentuan yang sudah diramalkan," kata Dhafin tetap hati-hati.


"Apa... ?!"


Bukan main terkejutnya Ratu Aurellia mendengar ucapan Dhafin barusan. Dia lebih baik disambar petir daripada mendengar ucapan itu.


Ucapan itu begitu lembut dan tenang diucapkan oleh Dhafin, tapi terasa amat sakit didengar di telinga.


Dia boleh menikah dengan Dhafin alias Pangeran Ghavin, tapi di samping itu Dhafin harus mempunyai 2 orang istri lainnya selain dirinya.


Artinya Dhafin mentigakan cintanya. Artinya dia memiliki seorang kekasih yang mana cintanya itu diberikan juga kepada wanita lain.


Dari dulu dia tidak pernah bermimpi kalau kekasihnya kelak akan mempunyai wanita lain selain dirinya. Apalagi ini lebih dari satu wanita.


Tapi... apakah dia harus menerima persyaratan itu demi cintanya terhadap Dhafin meski bertentangan dengan hati nuraninya?


Kalau dia menerima persyaratan itu, itu artinya dia membuat sejarah baru dalam hidupnya. Yang mana dulunya dia sudah bertekad untuk memiliki seorang suami yang cintanya itu hanya untuknya.


Sejurus lamanya Ratu Aurellia hanya terhenyak diam tanpa berkata apa-apa. Tapi matanya yang bagai bintang kejora masih lekat menatap Dhafin. Tapi pandangannya sudah nanar akibat tergenang air mata.


Perasaannya saat ini serasa tercabik-cabik. Hatinya bagai teriris-iris sembilu. Cinta yang dia rasakan saat ini begitu pahit. Dia berbagi cinta dengan wanita demi mempertahankan cinta sejatinya.


Apakah dia sanggup?


Perlahan wajah cantiknya tertunduk, seakan tidak sanggup menatap pandangan Dhafin yang meneduhkan. Tidak sanggup menatap seorang pemuda yang cintanya harus berbagi kepada wanita lain.


Sementara itu Dhafin yang juga masih menatap Ratu Aurellia sekarang menangkap adanya keraguan dalam diri wanita cantik itu.


Dia belum pernah tahu tekad Ratu Aurellia yang hanya menginginkan 1 cinta dari seorang kekasih. Tapi dari sorot mata dan tarikan wajah bidadari Istana Centauri itu, dia tahu kalau Ratu Aurellia belum bisa menerima pembagian cinta.


"Aku menyerahkan keputusannya padamu, Yang Mulia," kata Dhafin bernada lembut dan tenang. "Dan aku tidak akan memaksa Yang Mulia untuk memilih."


Kemudian Dhafin berdiri sambil masih menatap Ratu Aurellia dan bersiap-siap meninggalkan ruangan pribadi Ratu Aurellia. Tapi sebelum pergi dia sempatkan untuk berkata.


"Aku memang mencintai Yang Mulia, amat mencintai. Tapi aku tidak sanggup mengorbankan banyak orang demi untuk mempertahankan cinta sejatiku...."


Kemudian Dhafin pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Ratu Aurellia yang air matanya sudah mengalir di pipi halusnya.


Begitu Dhafin sudah benar-benar tidak ada, tangisnya langsung meledak.


Dia menangis sejadi-jadinya seorang diri. Menangisi nasibnya yang benar-benar menyedihkan. Menangisi cinta sejatinya yang amat sukar digapainya.


Menangisi pemuda yang seakan tidak mau perduli akan perasaannya yang hancur....

__ADS_1


Apakah dengan begitu cintanya benar-benar hancur?


★☆★☆★


__ADS_2