
Akhirnya dengan terpaksa Yang Mulia mengijinkan Putri Agung untuk tetap tinggal di Istana Kejora.
Namun kira-kira sebulan setelah pertemuan Putri Agung Aurellia dengan Yang Mulia Darian, terjadi peristiwa mengerikan di Istana Kejora.
Kala itu di suatu malam yang berhiaskan bintang berkelipan, di atas atap Istana Kejora yang datar, Putri Aurellia bersama 4 kawan akrabnya tengah duduk santai sambil berbincang-bincang.
Mereka membincangkan 5 bocah sakti, pembimbing mereka yang telah pergi meninggalkan kotaraja. Tujuan 5 bocah sakti itu sudah jelas, yaitu mencari informasi mengenai keberadaan Hendry.
Sekaligus juga mencari dimana markas Putri Raina Cathrine, dalang pembunuh Permaisuri Michella. Juga mereka ingin mencari lebih jauh informasi mengenai Gerombolan Pedang Tengkorak.
Kelompok aliran sesat itu diduga kuat dalang dari rencana pembunuhan Yang Mulia waktu acara Turnamen Beladiri Anak Bangsawan tempo hari.
Informasi ini Putri Aurellia beritahukan kepada Ariesha dan Grania. Karena kedua gadis yang semakin cantik saja itu baru saja libur dari sekolah akademi militer. Jadi, kepergian 5 bocah sakti itu mereka belum tahu.
"Dasar bocah-bocah aneh!" gerutu Ariesha. "Urusan orang dewasa mereka juga mau ikut campur. Mengapa mereka tidak menikmati masa kanak-kanak mereka barang beberapa tahun lagi?"
"Aku juga sudah melarang mereka pergi," kata Aurellia memberi tahu, "Tapi mereka bersikeras untuk pergi."
"Sebenarnya mereka pergi itu punya tujuan khusus pula," ungkap Namira.
"Oh iya, baru aku ingat," kata Aurellia. "Sebelum pergi Kak Dhafin memberitahukan kepadaku kalau dia ingin mengembara mencari sepupu perempuanmu, Ariesha."
"Sebenarnya aku tidak yakin kalau sepupuku masih ada," kata Ariesha sedikit haru. "Tapi bunda merasa yakin kalau dia masih hidup."
"Takdir siapa yang tahu, Ariesha," kata Namira.
"Kalau 4 bocah aneh lainnya tujuan khusus mereka apa?" tanya Grania ingin tahu sekali.
"Kak Aziel memberi tahu padaku kalau dia sebenarnya tengah mencari adik perempuannya yang hilang," kata Namira yang memang cukup akrab dengan Aziel.
"Sama juga dengan Kak Keenan," kata Naifa menginfokan juga, "dia juga sedang mencari seseorang."
Selagi kelima gadis cantik itu asyik berbincang-bincang, tiba-tiba mereka merasa ada semburat cahaya terang dari belakang mereka.
Seketika mereka berhenti berbicara, lalu secara bersamaan menoleh ke belakang. Maka tampaklah oleh mereka semburat cahaya terang berbentuk pintu setinggi 5 hasta, selebar 3 hasta.
Di sisi luar cahaya terang itu berwarna merah muda. Sedangkan di dalamnya berwarna putih bercampur kuning.
Bukan main terkejutnya kelima gadis itu melihat pintu cahaya yang muncul secara tiba-tiba. Mereka dapat melihat jelas pintu cahaya itu meski cahayanya cukup terang.
Belum hilang keterkejutan mereka, tiba-tiba muncul dari dalam pintu cahaya itu gadis-gadis muda berpakaian seragam kain panjang berwarna biru muda. Mereka pula mengenakan sabuk dari logam berwarna merah. Di punggung mereka tersampir pedang.
Begitu keluar dari pintu cahaya, gadis-gadis cantik yang berjumlah 10 itu langsung berkelebat cepat, lalu berdiri mengelilingi Aurellia dan 4 kawannya seolah mengepung.
Namun sikap mereka menunjukkan pengtakziman. Ditandai dengan duduk berlutut dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada berikut kepala ditundukkan.
Belum juga kelima gadis kecil itu berbuat sesuatu, muncul lagi sesosok wanita yang masih tampak muda berwajah cantik. Mengenakan pakaian panjang bermotif indah berwarna merah.
★☆★☆
Begitu kelima gadis kecil itu sudah dapat menguasai diri, mereka segera mengambil kuda-kuda bersikap waspada. Namun mereka heran juga atas sikap 10 gadis muda itu. Mengepung tapi bukan untuk menyerang. Malah mereka bersikap hormat.
Sementara wanita muda berbusana merah dengan senyum lembut melangkah ringan menghampiri Putri Aurellia dan keempat kawannya. Tidak ada gelagat permusuhan dari wajah cantiknya.
Begitu sudah cukup dekat dengan kelima gadis kecil, wanita muda yang senantiasa tersenyum itu berhenti melangkah. Terus memberikan pengtakziman dengan duduk berlutut dan menangkupkan telapak tangan di depan dada sambil kepala ditundukkan.
"Keselamatan dan kesejahteraan terlimpah kepada Yang Mulia Putri Agung," kata wanita muda itu lembut penuh ketundukan. "Terimalah salam hormat dari kami."
"Siapa kalian?" tanya Aurellia bernada datar penuh ketegasan. "Apa maksud kalian datang kemari?"
"Kami adalah utusan dari Istana Centauri untuk menjemput Yang Mulia Putri Agung," sahut wanita itu masih bersikap takzim.
"Istana Centauri?" kata Aurellia merasa asing dengan nama itu. "Di kerajaan mana itu?"
"Istana Centauri terletak di Negeri Tabir Ghaib, Yang Mulia," sahut wanita muda itu lagi.
__ADS_1
Sejenak kelima gadis kecil itu saling berpandangan satu sama lain. Benak mereka masih dilingkupi tanda tanya tentang apa yang dibicarakan wanita muda itu.
"Aku belum mengerti tempat yang kamu sebutkan itu," kata Putri Aurellia masih datar. "Lebih aku tidak mengerti kalian tiba-tiba mau menjemputku. Apa maksud kalian?"
"Ampun, Yang Mulia. Kejelasannya nanti Yang Mulia tanyakan di hadapan Yang Mulia Ratu. Kami hanyalah utusan penjemput Yang Mulia Putri Agung."
Aurellia menoleh pada Ariesha, lalu bertanya.
"Apa kamu bisa mengira-ngira apa maksud kedatangan orang-orang ini?"
"Besar kemungkinan maksud mereka menjemputmu yaitu Yang Mulia Ratu mengajakmu tinggal di Istana Centauri," papar Ariesha menebak.
Wanita muda berbusana merah itu tampak sedikit terkejut. Menandakan tebakan Ariesha benar.
"Untuk apa Penguasa Istana Centauri mengajakku tinggal di istananya?" gumam Aurellia seakan bicara sendiri.
"Mungkin... kamu akan diberi kedudukan tinggi di sana," ungkap Ariesha lagi. "Terlihat dari cara mereka memberi takzim kepadamu. Seakan-akan kamu sudah menjadi bagian dari Istana Centauri."
"Apa ucapan sahabatku ini benar?" tanya Aurellia setelah menoleh kembali pada wanita muda itu.
"Benar, Yang Mulia," sahut wanita itu seolah tidak mau bertele-tele.
"Sayang sekali," kata Aurellia setelah tercenung beberapa saat, "dengan terpaksa aku tidak bisa memenuhi ajakan ratumu. Aku sudah punya tempat tinggal di sini. Lagipula aku tidak gila dengan kedudukan."
"Ampun, Yang Mulia," kata wanita muda masih bertakzim, "hamba harap Yang Mulia tidak menyulitkan tugas kami. Waktu kita terbatas. Silahkan Yang Mulia dan 4 teman Yang Mulia masuk ke Gerbang Cahaya."
"Aku tidak bisa dipaksa, Wanita Utusan," kata Aurellia tegas.
"Ampunkan atas kelancangan hamba, Yang Mulia."
Lalu wanita muda itu seketika mengibas telapak tangan kanannya ke depan. Maka melesatlah 5 hawa bening tak berwujud sebesar gundu ke masing-masing 5 gadis itu.
Baik Aurellia maupun 4 kawannya tidak menyadari kehadiran 5 serangan ghaib itu. Dan tahu-tahu 5 hawa padat langsung menghantam titik tidur mereka. Maka tentu saja mereka langsung pingsan dibuatnya.
★☆★☆
"Cepat kalian semua masuk ke Gerbang Cahaya!" perintah wanita muda setelah berdiri. "Waktu kita tinggal sedikit."
Tanpa membantah 10 gadis utusan segera berkelebat masuk ke Gerbang Cahaya dengan membawa 5 gadis kecil. Kemudian wanita muda menyusul di belakang.
Begitu satu langkah lagi masuk ke Gerbang dia berhenti. Lalu tangan kanannya diangkat setengah merentang ke samping agak ke depan. Telapak tangan yang menghadap langit terbuka dan jerijinya agak di tekuk.
Maka tak lama seketika muncul dari telapak tangannya bola cahaya berwarna putih berbungkus hijau. Lalu bola cahaya itu dibuang ke belakang. Terus berkelebat masuk ke Gerbang Cahaya.
Belum lama tubuhnya tenggelam masuk ke Gerbang Cahaya, seketika pintu ajaib itu langsung menyusut,
lalu lenyap.
Sedangkan bola cahaya yang cukup terang tadi terus meluncur ke bawah dan langsung menghantam atap Istana Kejora yang datar. Maka....
Buuummm!!!
Blaaarrr!!!
Seketika terdengar ledakan maha dahsyat 2x berturut-turut membuat kotaraja bergetar hebat bagai dilanda gempa. Malam yang tadinya sunyi langsung pecah berantakan. Suasana kotaraja yang sudah terlelap dalam tidur seketika terbangun bagai dibetot setan.
Para penduduk segera keluar rumah dan langsung memandang ke sudut utara kotaraja. Dan betapa tercengangnya mereka menyaksikan apa yang terjadi sebenarnya di sana.
Tampak cahaya raksasa berbentuk tempurung terbalik berwarna putih berbalut hijau meluluh lantahkan Istana Kejora hingga menjadi puing-puing yang menyebar ke segala arah. Menciptakan kepulan debu yang membumbung tinggi ke angkasa.
Semua prajurit penjaga Istana Kejora bersama belasan ekor kuda bersama beberapa kereta yang telah hancur terhempas bagai daun kering akibat terkena gelombang ledakan yang hendak meruntuhkan langit itu. Semua prajurit itu mati dengan jantung hancur.
Sedangkan para pelayan yang berada di dalam istana tak usah ditanyakan lagi nasib mereka. Mereka semuanya mati dengan lebih mengenaskan lagi. Terkena gelombang ledakan sekaligus tertimbun reruntuhan bangunan istana.
Sementara itu, beberapa pejabat tinggi militer langsung menuju ke tempat ledakan. Sebagiannya mengerahkan para prajurit keamanan dan prajurit militer ke tempat kejadian.
__ADS_1
Sementara itu pula seluruh keluarga istana amat terkejut mendengar suara ledakan itu. Lebih terkejut lagi suara ledakan amat keras itu berasal dari sudut utara kotaraja. Itu artinya di sana tempat kediaman Putri Aurellia.
"Putri Agung, Yang Mulia," kata Permaisuri Chalinda bernada amat cemas.
"Aku akan ke sana," kata Yang Mulia yang kebetulan berada di Istana Kristal Biru, kediaman permaisuri sambil mengenakan pakaian kebesarannya.
"Hamba mohon ikut, Yang Mulia," pinta permaisuri. Wajah cantiknya sudah sangat sedih dan khawatir.
"Tidak usah, Dinda. Kamu di sini saja."
"Hamba khawatir Putri Agung terjadi apa-apa, Yang Mulia."
"Berdoa saja mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa."
Setelah itu Yang Mulia langsung keluar dari kamar setelah mengambil pedangnya. Sedangkan permaisuri kembali duduk di tepi pembaringan dengan wajah sedih.
Sementara Nyonya Carissa juga amat sedih dan cemas bukan main. Masalahnya putrinya ada di Istana Kejora. Sedangkan ledakan maha dahsyat itu berasal dari sana.
Sebenarnya dia ingin ikut Jenderal Felix yang sudah pergi ke sana. Tapi suaminya itu jelas melarang. Apalagi kedua bayi kembarnya terbangun akibat suara ledakan. Dia hanya bisa berdoa mudah-mudahan Ariesha tak apa-apa.
★☆★☆
Cahaya berbentuk tempurung raksasa yang menghantar gelombang ledakan beradius 50 tombak lebih telah sirna. Getaran akibat suara ledakan sudah berhenti. Namun debu akibat hancuran bangunan istana masih mengepul di udara meski sudah tipis.
Sedangkan Istana Kejora yang tadi masih berdiri kokoh di sudut utara kotaraja kini telah lenyap. Berganti dengan puing-puing reruntuhan yang tak berguna yang berserahkan tak tentu arah.
Taman yang tadinya indah, kini rusak berantakan. Pepohonan yang tadi tumbuh di sekitar situ, semuanya telah tumbang.
Prajurit penjaga yang berjumlah 100 orang lebih bergelimpangan bagai sampah. Sedangkan para pelayan istana tertimbun dalam reruntuhan bangunan.
Sungguh, pemandangan ini amat mengerikan sekaligus mengenaskan. Sampai-sampai beberapa pejabat militer yang sudah sampai di lokasi kejadian belum bisa berbuat apa-apa. Mereka cuma tercengang menyaksikan pemandangan itu.
Terutama Jenderal Felix dan Jenderal Lyman. Putri mereka tadinya masih berada di Istana Kejora. Tapi istana itu kini sudah rata jadi tanah. Betapa perasaan mereka saat ini berkecamuk. Hati mereka sungguh teriris.
Tak lama 500 lebih prajurit dan pejabat militer rendah telah tiba di lokasi. Lalu pejabat militer rendah itu mengatur para prajurit itu untuk mengamankan lokasi.
Sebagian mengevakuasi mayat 100 lebih prajurit penjaga. Sebagiannya diperintahkan menggali reruntuhan bangunan untuk mencari mayat Putri Agung dan yang lainnya.
Hampir bersamaan kegiatan itu berlangsung, Yang Mulia, Pendeta Noman, dan Jenderal Myles serta puluhan pasukan elit pengawal raja telah tiba pula.
Dan Yang Mulia langsung terpaku diam seraya menatap nanar puing-piung reruntuhan itu. Tidak bisa lagi dilukiskan kesedihannya saat. Kini istana putrinya telah hancur. Bersama hancur pula perasaannya.
Belum juga dia mencurahkan kasih sayangnya kepada putrinya yang selama 5 tahun dia sia-siakan itu. Bahkan putrinya belum pula memaafkan dirinya.
"Apa sebenarnya yang terjadi di sini, Pendeta?" tanya Yang Mulia dengan suara lemah menahan kesedihan yang mendalam.
"Besar kemungkinan ada pelepasan energi sakti yang maha dahsyat di sini, Yang Mulia," duga Pendeta Noman.
"Kenapa sasarannya adalah istana putriku?" suara Yang Mulia makin sedih. "Pertanda apa ini sebenarnya?"
Pendeta Noman belum bisa menjawab pertanyaan Yang Mulia. Sedangkan pejabat militer yang lain masih saja diam seribu bahasa.
Sementara Jenderal Felix dan Jenderal Lyman masih larut dengan perasaan sedih mereka. Sepasang mata mereka yang nanar tidak pernah lepas menatap puing-puing yang tak berguna itu.
Sementara pecarian mayat Putri Aurellia dan yang lainnya masih terus berlangsung. Pencarian itu sampai pagi dan sudah berulang 3x dan sudah seluruh reruntuhan digali.
Namun yang didapat hanyalah mayat para pelayan istana. Putri Aurellia, Ariesha, Grania, Namira, dan Naifa tak ditemukan. Sampai pun 100 prajurit menelusuri hutan di sekitar situ, kelima gadis itu tetap tidak ditemukan.
Kenyataan ini membuat Yang Mulia bingung sekaligus harap-harap cemas. Lalu dia bertanya kepada para pejabatnya itu kemana mereka semua.
Beberapa pejabat militer berpendapat kalau kelima gadis itu telah diculik. Sedangkan Pendeta Noman menyatakan kalau mereka telah dibawa pergi. Dibawa pergi oleh siapa Pendeta Noman tidak bisa memastikan.
Akhirnya Yang Mulia memerintahkan untuk mencari kelima gadis itu ke seluruh penjuru Kerajaan Amerta. Sementara kesatuan Pasukan Penyelidik Rahasia bertambah tugasnya, yaitu mencari 5 gadis itu di luar Kerajaan Amerta.
★☆★☆
__ADS_1