
Dhafin masih saja terdiam, belum menjawab pertanyaan Aurellia. Padahal bukan cuma gadis yang sekarang sudah seperti bidadari kecil itu yang menanti jawabannya, semua orang yang ada disitu juga demikian.
Sementara Brian yang terus menatap Dhafin tahu kalau diamnya Dhafin itu bukan memikirkan jawaban dari pertanyaan adiknya. Pasti anak muda itu memikirkan sesuatu di balik jawaban pertanyaan adiknya.
"Kanda! Apa kamu tiba-tiba pikun atau kehilangan ingatan?" gerutu Ariesha menegur. Sekaligus memecah kebisuan. "Kenapa pertanyaan Tuan Putri belum juga dijawab?"
"Nona Ariesha! Aku rasa kandamu itu sudah pikun," tutur Brian dengan gaya santainya. "Tidakkah kamu perhatikan kondisinya yang sudah jadi orang tua sebelum waktunya?"
Aurellia yang hampir tak pernah lepas memandang Dhafin seketika tersentak kaget. Wajah Dhafin yang tadinya serius, tenang, dingin tiba-tiba tersenyum.
Ibarat mengamati air yang amat tenaaang... sekali. Seketika kejatuhan sesuatu di atasnya dan menciptakan gelombang. Siapa yang tidak kaget?
Sementara itu Dhafin yang tersenyum santai cuma menoleh dan melirik sedikit pada Brian. Kemudian memandang pada Aurellia, lalu berkata.
"Racun itu ada dua bentuk. Yang pertama berupa tepung seperti pupur dan berwarna putih. Dan racun itu bisa direkayasa dalam bentuk pupur...."
"...Sehingga kalau orang tidak telili, dia akan menyangka kalau itu adalah pupur. Padahal sesungguhnya itu adalah Racun Bunga Duka."
"Kalau begitu, jelas banyak orang tidak akan tahu kalau bentuk seperti itu ternyata Racun Bunga Duka," kata Aurellia menanggapi. "Karena bentuknya seperti pupur."
"Yaaah... racun itu memang termasuk salah satu jenis racun aneh yang dibuat oleh orang yang benar-benar mempuni dalam ilmu racun," ungkap Dhafin.
Mendengar penjelasan Dhafin tersebut, baik Ariesha, Grania, maupun Namira dan Naifa langsung bergidik ngeri. Salah satu bentuk racun itu seperti pupur yang biasa mereka para wanita pakai.
Bagaimana jika mereka juga memakai pupur yang ternyata terdapat Racun Bunga Duka?
Tapi yang cepat merasa aman adalah Ariesha. Karena setiap alat kecantikan yang dia pakai pasti sudah dalam pemeriksaan Dhafin sebelumnya.
"Bentuk kedua berupa apa?" tanya Aurellia ingin tahu.
"Kalau bentuk pertama tadi kebanyakan yang terkena dan memang sasarannya adalah perempuan, sedangkan bentuk ke dua ini bisa terkena pada perempuan dan bisa juga pada laki-laki."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Aurellia heran dan sepertinya yang lain juga merasa heran bahkan campur terkejut. Tidak terkecuali Brian.
"Karena yang kedua ini berupa cairan. Warnanya hijau bening sedikit agak kental," sahut Dhafin menjelaskan. "Bentuk racun ini bisa dicampurkan pada ramuan untuk mandi atau wewangian yang dioles di badan."
"Sekarang kalian bisa memikirkan bagaimana racun itu bisa terkena pada korbannya," tutur Dhafin selanjutnya.
Sejenak suasana di ruang pribadi Aurellia itu disergap kebisuan. Tampak masing-masing orang sepertinya tengah memikirkan semua keterangan Dhafin tentang Racun Bunga Duka.
"Tuan Putri! Sekarang kamu sudah terbebas dari Racun Bunga Duka," kata Dhafin memberi anjuran yang memecah kebisuan. "Kedepannya kamu harus berhati-hati lagi agar tidak terkena racun lagi."
"Ya, aku akan menuruti anjuranmu," kata Aurellia seraya tersenyum.
★☆★☆
Dhafin baru sedikit mendapat keterangan mengenai Putri Aurellia terkena racun. Tentunya dari Brian. Dan Brian memang tidak banyak memberi keterangan saat dia bertanya banyak tentang hal itu.
Dan Dhafin juga tidak memaksa Brian untuk menjawab semua pertanyaannya. Mungkin kejadian ini merupakan sesuatu yang sifatnya pribadi bagi Aurellia, dan tidak ingin semua orang tahu, meskipun pada teman-temannya.
Akan tetapi di lain sisi, sesuatu yang tersembunyi di balik kejadian itu tidak akan terungkap kalau Aurellia tidak mau cerita. Dhafin berfirasat kalau kejadian itu merupakan unsur kesengajaan. Artinya Aurellia sengaja diracuni.
Menurut keterangan Brian bahwa Aurellia terkena penyakit kulit saat gadis itu berumur tujuh tahun. Saat ini Aurellia sudah berumur sepuluh tahun. Berarti Aurellia menderita penyakit kulit sudah tiga tahun lamanya.
Semua orang menganggap bahwa penyakit Aurellia itu akibat terkena kutukan. Dan Aurellia juga sudah mengakuinya di hadapan Dhafin. Barulah tiga hari yang lalu terungkap kalau penyakit itu bukanlah kutukan, melainkan akibat Racun Bunga Duka.
Sekarang fakta menunjukkan kalau penyakit yang menimpa Aurellia kemarin-kemarin bukanlah kutukan, melainkan akibat racun. Dan sekarang faktanya juga kalau Aurellia sudah sembuh.
Bahkan keberhasilan metode penyembuhan yang baru pertama kali dilakukan oleh Dhafin ini diluar dugaannya. Maksudnya, Dhafin tidak menyangka kalau setelah selesai melakukan pengobatan, kulit tubuh dan wajah Aurellia lebih bagus dari sebelum dia terkena racun.
Namun yang Dhafin garis bawahi disini adalah klaim kutukan. Tentu ada latar belakang sehingga orang-orang mengklaim penyakit Aurellia sebagai kutukan.
Hal itu ditanyakan Dhafin kepada Brian. Namun Brian tidak menjawab secara jelas.
Dhafin tidak bisa memaksa Brian untuk berterus terang. Dan tidak perlu merasa kecewa.
__ADS_1
"Tuan Muda Dhafin! Sepertinya sangat sulit untuk menghindari racun itu," tiba-tiba Namira memberanikan diri untuk bicara, "karena wujudnya amat susah dibedakan dengan sesuatu yang bercampur dengannya. Besar kemungkinan Tuan Putri akan terkena lagi."
Ucapan Namira yang lumayan panjang lebar itu sekaligus memecah kebisuan. Semua orang yang ada disitu memandangnya, seolah ucapannya menyita perhatian.
Sejenak Dhafin menatap pelayan cantik itu. Tepatnya memperhatikan perubahan wajahnya. Dia tahu maksud ucapannya. Tadi waktu gadis manis itu berkata tanpa memandangnya. Tapi posisi gadis itu menghadap ke arahnya.
"Sepertinya kamu mengkhawatirkan seseorang akan berbuat jahat lagi terhadap Tuan Putri-mu, Namira," kata Dhafin terus menatap Namira.
Namira sontak menatap Dhafin, tapi tidak lama. Lantas dia beralih menatap Aurellia. Sedangkan Aurellia yang tadinya tertunduk bagai termenung malah menatap Dhafin. Binar mata indahnya jelas terkejut.
Sementara Brian yang masih menoleh dan memandang Namira, melihat ekspresi pelayan cantik itu saat mendengar ucapan dan menatap Dhafin, lantas menarik senyum. Meski kecil tapi punya makna.
Saat Dhafin mengucapkan ucapan barusan, Namira agak terkejut tapi bukan takut atau khawatir. Malah Dhafin melihat binaran matanya memendarkan sebuah harapan.
Seperti saat ini, saat menatap Putri Aurellia, mata indahnya semakin memendarkan harapan akan sesuatu. Ditambah ekspresi wajahnya bagai memohon agar sang putri berbicara mengungkap sesuatu.
Dhafin kini beralih memandang Aurellia. Sedangkan Aurellia kembali tertunduk, kembali termenung. Dhafin menduga kalau mungkin sebenarnya bidadari kecil itu hendak mengatakan sesuatu atau hendak mengungkap sesuatu, tapi masih berat untuk mengutarakannya.
★☆★☆
Tampak bibir merah Dhafin bergerak hendak berkata, tapi keburu Ariesha sudah berkata duluan bernada menegur.
"Kanda! Tidak usah kamu menebak-nebak dulu apa yang dikatakan Kak Namira. Kamu jawab dulu pertanyaannya!"
"Racun Bunga Duka bukan jenis racun murahan yang dengan gampangnya orang bisa mendapatkannya...."
Dhafin berkata dengan santainya, padahal keterangannya itu amat berharga bagi semua orang yang ada disitu, kecuali Brian. Dia sudah mendengar keterangan tentang racun itu dan Racun Bunga Cinta dari Dhafin.
"...Racun itu salah satu jenis racun aneh yang jarang digunakan. Kalau bukan pada target yang amat penting, orang tidak akan menggunakan racun itu...."
"...Lagipula racun itu amat mahal. Hanya kalangan bangsawan saja yang bisa membelinya."
Ariesha, Grania, Namira serta Naifa hampir bersamaan menatap Aurellia. Jelas mereka paham makna ucapan Dhafin. Aurellia merupakan target amat penting untuk....
"Berarti aku adalah target yang amat penting untuk....," kata Aurellia terputus seolah tidak sanggup melanjutkan kalimat saking pahamnya keterangan Dhafin barusan.
Bukan cuma Aurellia yang sontak menatap terkejut mendengar ucapan Brian itu. Semua orang, kecuali Dhafin, melakukan hal yang sama seperti Aurellia. Seakan mereka juga baru sadar kalau Brian juga pernah diracuni.
Tapi Namira dan Naifa tidak lama menatap Brian. Karena mereka sadar kalau mereka hanyalah pelayan. Mereka berbuat demikian terdorong rasa terkejut saja.
Sedangkan Dhafin menoleh dan melirik sedikit pada Brian. Masih ada satu target penting pembunuhan, yaitu Yang Mulia. Tapi Brian tidak menyebutkannya pada Aurellia meskipun dia tahu.
Dhafin belum bisa menduga apa sebabnya. Yang jelas kemungkinan besar Brian punya alasan tersendiri.
"Kenapa aku dan kamu bisa menjadi target penting pembunuhan, Kanda?" tanya Aurellia. Masih menyisakan keterkejutan di wajahnya. Dan sekarang bercampur bingung tidak mengerti.
"Aku belum tahu pasti," sahut Brian mengaku. "Yang jelas ada orang yang sengaja mau melenyapkan kita."
"Dan yang pasti pula orang yang hendak membunuh kalian mengerti akan pengaruh kalian di lingkungan istana," kata Dhafin menambahkan.
Aurellia dan Brian segera menatap Dhafin bersamaan. Dan Aurellia makin heran dan bingung setelah mencerna ucapan Dhafin itu. Mereka punya pengaruh di lingkungan istana? Pengaruh macam bagaimana?
"Apakah kamu menduga aku punya pengaruh di lingkungan istana, Kak Dhafin?" tanya Aurellia.
"Bisakah kamu jelaskan kenapa kamu dikeluarkan dari istana dan menganggap dirimu bukan lagi keluarga istana?" Dhafin malah bertanya.
Aurellia tidak lantas menjawab pertanyaan itu, malah beralih menatap Brian dengan sedikit tajam. Sedangkan Brian seolah tahu arti tatapan tajam itu langsung berkata.
"Aku belum mengatakan apa-apa kepada bocah aneh itu tentang kamu selain waktu kamu terkena racun itu."
Setelah mendengar ucapan Brian itu, Aurellia kembali memandang Dhafin yang masih memandangnya. Kemudian kepalanya kembali tertunduk dengan perlahan.
Baru dia ingat kalau dua hari yang lalu dia berucap demikian seakan tanpa disadari. Dan ternyata ucapan itu dijadikan oleh Dhafin sebagai senjata untuk mengorek pribadinya.
Dia bukan tidak percaya kepada teman-teman barunya ini, terkhusus terhadap Dhafin. Namun dia tidak mau dulu melibatkan rahasia pribadinya kepada sembarang orang selain kepada dua pelayannya ini.
__ADS_1
Biarlah kesedihannya akibat dikucilkan dari keluarga dia rasakan sendiri. Biarlah amarahnya dia redam sendiri akibat tidak dipedulikan oleh ayahandanya.
Satu-satunya orang yang dia harapkan akan melindunginya, ternyata berbalik membencinya.
Sungguh hal itu mengguratkan kesedihan yang mendalam. Menorehkan duka yang amat perih. Mengobarkan api amarah yang berusaha dia redam sekuat tenaga.
Dia sembuh dari Racun Bunga Duka. Namun kedukaan dan amarah tetap bersarang di hatinya yang kecewa. Betapa malangnya dirinya....
★☆★☆
"Tuan Putri! Aku bisa menyembuhkan Racun Bunga Duka dalam dirimu, tapi tidak bisa menyembuhkan amarah dan kesedihanmu...."
Mendengar ucapan itu, hati Aurellia tersentak. Baru saja ucapan itu terngiang di dalam batinnya, Dhafin sudah mengucapkannya dalam lisan.
Siapakah anak muda ini sebenarnya? Kenapa dia bisa tahu apa yang terucap di dalam batinnya?
"...Kecuali kamu sendiri yang berusaha untuk menyembuhkannya...," lanjut Dhafin.
Tampak sepasang mata indah Aurellia meremang berkaca-kaca. Menahan air mata yang memberontak hendak keluar.
"Kecuali aku sendiri yang meyembuhkannya?" batin Aurellia. "Bisakah aku berusaha seorang diri? Kalau kamu tahu sebenarnya aku tak sanggup berjuang seorang diri...."
"...Tapi..., kalau aku mengutarakan tentang deritaku ini kepadamu, bisakah kamu membantuku?"
Aurellia terus berkecamuk dalam batinnya. Sementara Ariesha memandang haru terhadap Tuan Putri. Ucapan kakaknya memang benar, meskipun Aurellia sembuh dari racun, tapi kesedihannya tidak juga sembuh.
Betapa Aurellia memang menanggung derita di dalam batinnya. Tapi dia belum bisa menduga apa penyebabnya.
Aurellia mengatakan kalau penyakit yang dia derita sebelumnya adalah kutukan. Meskipun tidak benar, tapi tentu ada latar belakang tentang tuduhan itu.
Selama dia dan Grania berada di Istana Kejora, Aurellia belum pernah bercerita masalah pribadinya, apalagi tentang penderitaan yang gadis itu alami.
Sedangkan dia juga tidak mau memaksa Aurellia untuk mengungkapkan tentang penderitaan yang dia alami. Meskipun tahu gadis itu pasti punya masalah besar.
Jangan bilang tentang Grania. Dia bukan tidak perduli dengan penderitaan orang lain. Tapi dia gadis pendiam yang lebih banyak mendengar daripada bicara.
Sementara itu, Dhafin terus mengamati keadaan diri Aurellia sambil menanti gadis itu menjawab pertanyaannya. Namun lama dia menunggu, tak juga ada jawaban.
Baiklah. Jika tidak mau berbagi duka kepada orang lain, kenapa harus dipaksakan?
"Brian! Sepertinya urusanku disini sudah selesai," kata Dhafin seketika memecah kebisuan.
Ucapan Dhafin yang begitu tiba-tiba sontak membuat terkejut Aurellia dan Namira hingga mereka menatapnya.
"Kalau urusan sudah selesai, itu artinya dia akan pergi dari sini," batin Namira. "Sedangkan Tuan Putri...."
"Hhhh, sayang sekali," kata Brian seraya menghempaskan napas beratnya.
Setelah itu Dhafin beranjak dari kursi, terus memandang Aurellia sebentar. Lalu memberi hormat dengan meletakkan telapak tangan kanannya di dada sambil menunduk sedikit.
"Tugasku sudah selesai, Tuan Putri. Aku mohon diri."
Tanpa menanti perijinan atau apalah dari Aurellia, Dhafin berbalik terus melangkah menuju pintu.
Brian yang juga sudah berdiri, menatap Aurellia sebentar sambil berkata.
"Sebaiknya kamu tetap saja memakai cadar, Aurellia. Dengan keadaanmu yang sekarang ini, aku khawatir akan menimbulkan masalah yang baru."
Setelah itu dia beranjak mengikuti Dhafin. Sedangkan Aurellia masih terpaku diam sambil terus menatap kepergian Dhafin.
Ketika sepasang matanya yang masih berkaca-kaca tidak lagi melihat Dhafin dan Brian, air matanya langsung berlinang.
Kenapa dia menangis? Apakah menangisi kepergian Dhafin? Atau menangis karena mengira dia telah menyinggung perasaan Dhafin?
Kenapa tadi dia menyembah hormat padanya seolah menganggapnya bukan teman? Apakah....
__ADS_1
★☆★☆★