Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 29 BISA ULAR MEMBAWA KEBERUNTUNGAN


__ADS_3

Rencana pemberontakan terhadap Kerajaan Amerta, atau lebih tepatnya rencana penggulingan kekuasaan Raja Darian Cashel telah diredam sebelum pemberontakan meletus.


Beberapa orang pejabat serta sebagian jajaran pemerintahan yang terlibat dalam rencana pemberontakan ini telah divonis mati. Sedangkan para prajurit yang ikut terlibat, baik yang ada di kotaraja maupun di dua kota yang Pejabat Kota-nya ikut terlibat berhasil diamankan.


Bahkan tidak sedikit pasukan elit juga ikut terlibat. Karena seorang pimpinan pasukan elit juga ikut terlibat. Namum berhasil pula diamankan.


Kesimpulannya, rencana pemberontakan terhadap Kerajaan Amerta berhasil digagalkan dalam waktu lima hari tanpa ada konflik senjata yang berarti.


Adapun sekitar 3000 lebih pasukan pemberontak yang tengah berkonsentrasi tidak jauh di luar wilayah kerajaan telah melarikan diri entah kemana. Diduga pasukan pemberontak berikut pimpinannya itu melarikan diri, saat mereka mengetahui kalau Dhafin dan Brian telah berhasil membekuk para pimpinan besar mereka.


Rupanya rencana pemberontakan para pengkhianat yang sudah terencana selama bertahun-tahun memang benar-benar sudah matang. Mereka tinggal menunggu kematian Raja Darian.


Ketika Raja Darian telah berhasil mereka bunuh, maka meletuslah pemberontakan. Karena mereka tahu, kalau Raja Darian telah mati, berarti separuh kekuatan Kerajaan Amerta telah musnah.


Akan tetapi konyolnya, rencana yang sudah demikian rapih itu harus gagal total karena ulah dua orang bocah, Dhafin dan Brian. Mereka membekuk gembong pemberontak yang tidak tahu ilmu bela diri itu dengan mudah. Konyol! Konyol!


Dengan keadaan yang sudah kondusif ini, Kerajaan Amerta kembali aman sentosa. Seluruh rakyat tidak lagi merasa ketakutan akan adanya perang. Keadaan sudah kembali aman dan tenteram.


★☆★☆


Namun apakah rasa aman dan tenteram itu dapat dirasakan oleh Putri Aurellia Claretta? Jawabannya sepertinya tidak. Sejak berusia lima tahun hingga sepuluh tahun seperti sekarang ini dia tidak pernah lagi merasakan kenyamanan dan ketenteraman seutuhnya.


Hampir tiga bulan dia meninggalkan kotaraja dan sekarang sudah kembali lagi. Tapi dia merasa bukanlah pulang ke kampung halamannya. Karena di kotaraja keluarganya nyaris tidak ada yang memperdulikannya. Apalagi ayahandanya.


Ketika dia berusia lima tahun bundanya, yang waktu itu adalah permaisuri, telah meninggal. Siapa sangka saat kematian bundanya merupakan awal penderitaan baginya. Karena semua orang telah menuduhnya sebagai pembunuh bundanya sendiri. Betapa konyolnya tuduhan itu!


Betapa konyolnya lagi sekaligus amat menyakitkan baginya Raja Darian, ayahandanya mempercayai begitu saja, tanpa mencari tahu apa sesungguhnya yang terjadi.


Sehingga turunlah titah mengerikan sekaligus menyakitkan dari sang ayahanda, bahwa para selir dan putra-putri ayahandanya yang lain tidak ada yang boleh mendekatinya. Artinya dia dikucilkan dari lingkungan keluarga istana.


Dan sejak saat itu pula dia tidak pernah lagi mendapat kasih sayang ayahandanya, bahkan tidak pernah menengoknya. Kematian bundanya rupanya membuat ayahandanya amat terpukul. Wanita yang amat dicintainya, kenapa putrinya yang amat dia sayangi tega membunuhnya?


Penderitaan sepertinya tidak akan pernah lenyap dari Putri Aurellia. Ketika usianya menginjak tujuh tahun, tiba-tiba dia terkena suatu penyakit dimana mayoritas kulitnya luka bernanah dan terkelupas yang menguarkan bau yang tidak sedap. Tentu saja kejadian itu membuat dia makin terpuruk.


Ketika hal itu diketahui oleh Raja Darian, maka sang raja langsung mengeluarkannya dari lingkungan istana. Sang raja tidak mau anak durhaka yang terkutuk tinggal di lingkungan istana.


Akan tetapi meskipun sang ayahanda membencinya, tetap dibuatkan tempat tinggal. Maka dibuatkanlah istana kecil di sebelah utara kotaraja.


Awalnya dia cuma tinggal bersama empat orang pelayan. Beberapa bulan kemudian dia baru dikirimkan beberapa orang pelayan untuk membatu membersihkan istananya. Juga dikirimkan 50 Prajurit Militer untuk menjaga istananya. Diberi fasilitas Pengawal Khusus Putri Raja kalau dia hendak bepergian jauh.


Satu-satunya keluarga yang sudi menengoknya hanyalah kandanya dari selir lain, Pangeran Brian Darel. Cuma pangeran itu yang berani menentang keputusan Raja Darian. Bahkan sebenarnya Brian membenci ayahandanya itu.


Seorang raja yang arif bijaksana, selalu bersikap adil dan penuh kelembutan kepada rakyatnya. Namun begitu tega kepada darah dagingnya sendiri. Bukankah itu suatu hal yang ironis?


Untungnya pula Pendeta Noman diperkenankan mengunjunginya. Memberikan siraman rohani padanya agar supaya tetap tabah menjalani musibah dan cobaan yang menimpanya itu.


Pendeta Noman selalu menekankan padanya bahwa penyakit yang menimpanya itu bukanlah suatu kutukan seperti yang dirumorkan hingga sekarang. Melainkan itu adalah takdir langit untuk menguji kesabarannya.


Penguasa Langit mempersiapkannya untuk menjadi manusia yang mulia kelak, jika dia berhasil melewati berbagai ujian yang menimpanya.


★☆★☆


Pagi itu langit amat cerah, nyaris tidak ada awan yang menggantung. Sang mentari menaburkan sinar lembutnya seakan menyapa seantero mayapada, bahwa dia akan selalu memberi harapan baru agar seluruh penghuni mayapada semangat dalam menjalani hidup.


Seperti halnya Putri Aurellia Claretta di pagi yang cerah ini, secerah harapannya untuk tetap semangat menjalani hidup. Dia tidak mau selalu terpuruk dalam kesedihan. Dia harus tetap ceria menjalani penderitaannya.

__ADS_1


Dia tengah berjalan-jalan di halaman belakang rumahnya sambil bersenandung dengan suara yang amat merdu. Dan burung-burung berkicau riang seolah menyepadani suara merdu sang putri kecil.


Seorang pelayan muda berusia setahun di atasnya terus mengikuti di belakangnya. Sepertinya pelayan kecil itu juga tengah menikmati senandung merdu dari Tuan Putri-nya.


Tampak dari wajahnya yang cantik nan imut memendarkan keceriaan. Bibirnya yang senantiasa tersenyum bergerak-gerak mengikuti lirik lagu yang disenandungkan Putri Aurellia dengan suara pelan.


Seketika Putri Aurellia merandek. Senandung merdunya pula ikut terhenti. Pelayan kecilnya yang dua langkah di belakangnya juga ikut merandek. Tapi tak lama, pelayannya itu bertanya heran.


"Ada apa, Tuan Putri?"


"Ssst! Kamu jangan ribut, Namira!" kata Putri Aurellia bagai mendesis sambil menyilangkan jari telunjuk kirinya yang terbungkus sarung tangan hitam di bibirnya yang tertutup cadar.


"Iya, tapi ada apa, Tuan Putri?" pelayan kecil yang dipanggil Namira tetap ngotot ingin tahu kenapa Putri Aurellia seketika merandek, tapi dengan suara pelan.


"Coba kamu lihat itu di depan sana!" tunjuknya lurus ke depan masih dengan suara pelan.


Pelayan Namira menggeser posisi berdirinya sedikit ke kanan. Lalu memandang ke arah yang ditunjuk Putri Aurellia. Sepasang matanya lantas memandang seekor kelinci berbulu putih bersih dua tombak lebih di depan mereka.


"Aku panggilkan Naifa ya,Tuan Putri," kata Pelayan Namira tahu maksud Putri Aurellia, "biar bantu kita menangkapnya?"


"Tidak usah," tolak Putri Aurellia lembut. "Biar aku sendiri yang menangkapnya."


"Eh, mana bisa begitu, Tuan Putri?" protes Namira.


"Sudah, jangan membantah, Namira," Putri Aurellia tetap menolak. "Kamu tetap di sini saja, jangan bergerak!"


Pelayan Namira yang tadi bermaksud ingin membantu Putri Aurellia jadi urung. Dia tetap patuh diam di tempatnya.


Putri Aurellia segera membuka kedua kasutnya yang berwana merah. Menyisakan kaus kakinya yang juga merah tapi tampak berbercak kering. Kemudian Putri Aurellia kembali melangkah perlahan-lahan sambil bernyanyi lagi.


Namun begitu empat langkah lagi Putri Aurellia menjangkau kelinci cantik itu, tiba-tiba muncul seekor ular sebesar jempol kaki dari balik semak-semak tidak jauh dari kaki kirinya. Dan tanpa malu-malu sang ular langsung memagut punggung telapak kaki kirinya dengan cepat dan kuat.


"Aaakh...!"


Terang saja Putri Aurellia langsung menjerit cukup keras. Menjerit karena kaget bercampur ketakutan, sekaligus menjerit karena kesakitan akibat terpagut ular.


Sedangkan kelinci cantik tadi lantas melarikan diri pula karena kaget mendengar jeritan Putri Aurellia.


Sementara sang ular, bagai lelaki brengsek yang habis merenggut keperawanan anak gadis orang, langsung melarikan diri begitu saja tanpa ada rasa tanggung jawab. Dasar ular brengsek!


"Tuan Putri...!"


Pelayan Namira seketika menjerit kaget mendengar jeritan Putri Aurellia yang menakutkan. Dia langsung menghambur cepat ke arah Putri Aurellia yang sudah hampir jatuh.


Namun gerakan sang pelayan kalah cepat oleh sosok bayangan biru yang disusul oleh sosok bayangan hijau. Sosok bayangan biru yang duluan sampai langsung menangkap tubuh Putri Aurellia yang hampir jatuh.


Sosok bayangan biru yang ternyata seorang anak muda berusia 11 tahun berpakaian warna biru muda yang berposisi di sebelah kiri Aurellia perlahan mendudukkan tubuh Aurellia di atas rumput tebal yang masih berembun.


Sedangkan sosok bayangan hijau yang juga seorang anak muda berusia hampir 11 tahun kini sudah berada di sebelah kanan sang putri. Lalu dia ikut duduk melutut sama dengan kawannya yang sudah mendudukkan Aurellia.


Menyusul kemudian Pelayan Namira. Lalu dua orang gadis kecil. Dan tak lama beberapa pelayan yang lain yang tadi sempat mendengar jeritan Putri Aurellia dan seruan agak keras Pelayan Namira.


Semua pelayan tidak berani terlalu mendekat ke tempat Putri Aurellia didudukkan. Karena ternyata anak muda berbaju hijau itu adalah Pangeran Brian. Dan tentunya anak muda berbaju biru temannya itu adalah Tuan Muda Dhafin.


Para pelayan itu cuma duduk melutut empat langkah di dekat Putri Aurellia sambil menatap khawatir kepada tuan putri mereka.

__ADS_1


Yang berani mendekat hanyalah dua gadis kecil yang tidak lain adalah Nona Muda Ariesha Divya dan putri Jenderal Lyman yang bernama Nona Muda Grania Friska. Nona Grania ini adalah teman baru Ariesha.


Masing-masing kedua gadis kecil itu membawa tas dari kulit yang disampirkan di belakang punggung mereka.


★☆★☆


"Ada apa, Tuan Putri?" tanya Dhafin yang masih memangku duduk sang putri.


"Kamu tidak merasa jijik...," kata Aurellia yang masih tersadar tapi suaranya mulai melemah. Dia menatap sendu wajah Dhafin yang tidak menunjukkan rasa jijik terhadap bau busuk badannya.


"Tidak usah pikir macam-macam dulu, Aurellia," tegur Brian cepat yang amat khawatir kondisi adiknya yang melemah. "Cepat katakan ada denganmu?"


"...Aku sepertinya... dipagut ular...," sahut Aurellia masih bersuara lemah.


"Sebelah mana?" tanya Dhafin cepat.


"Punggung telapak kaki kiri...."


"Ariesha! Ambilkan pil anti nyeri dua butir!" perintah Dhafin tanpa menoleh.


Sementara Ariesha mengambilkan obat yang dimaksud di dalam tas obat-obatan, Dhafin menyuruh Brian menggantikannya memangku Aurellia. Setelah itu dia membuka kaus kaki kiri Aurellia perlahan-lahan.


Begitu telapak kaki kiri Aurellia terbuka, maka tampaklah kakinya seperti terkena luka di beberapa bagian dan terkelupas. Tadinya bagian yang luka itu berair. Tapi kini telah mengering. Dan kini telapak kaki kirinya sudah berubah warna merah darah. Bisa ular rupanya sudah bekerja.


Lalu dengan cepat Dhafin menyingkap sedikit kain bawah Aurellia berikut celana panjangnya sebatas lutut. Maka tampaklah warna merah sudah mencapai pertengahan betis Aurellia yang hampir dipenuhi luka berair itu.


Sedangkan Putri Aurellia tentu saja merasa risih melihat perbuatan Dhafin itu. Tapi kondisinya yang masih lemah membuat dia tidak bisa mencegah perbuatan pemuda tampan itu. Dia hanya mampu menatap dengan berbagai ekspresi saja sambil menahan nyeri.


Dengan cepat Dhafin melakukan beberapa totokan di betis atas Aurellia dekat lutut. Maka penjalaran bisa racun terhenti sampai di situ.


Setelah itu Brian memasukkan dua butir pil anti nyeri ke dalam mulut Putri Aurellia setelah Ariesha memberikan kepadanya. Tentunya setelah cadar Aurellia dibuka sedikit.


Sementara itu Dhafin mengamati dua lubang kecil di punggung telapak kaki kiri Aurellia, tempat pagutan ular tidak bertanggung jawab tadi. Kemudian dia mengangkat telapak kaki itu untuk lebih mendekatkan ke hidungnya.


Aurellia yang melihatnya bukan hanya merasa risih, tapi juga terkejut tidak percaya. Dengan enaknya Dhafin melakukan perbuatannya tanpa merasa jijik sama sekali. Dia saja terkadang merasa jijik saat mencium bau busuk pada lukanya itu. Tapi pemuda ini....


"Tuan Putri tenang saja, tidak perlu berpikir macam-macam," kata Ariesha yang masih berada di sebelah kiri Aurellia sambil tersenyum manis. "Kanda hamba adalah tabib. Berdoalah, mudah-mudahan Kanda hamba bisa mengobati Tuan Putri."


Aurellia baru tersadar kalau masih ada orang lain di sebelahnya. Dia menatap Ariesha yang masih tersenyum cukup lama. Dia seperti pernah melihat wajah itu. Tapi belum sempat dia berpikir jauh, dia sudah mendengar suara Dhafin yang bernada gembira berkata.


"Kita bisa memotong waktu penyembuhan dengan bisa ular beracun ini, Brian."


Sepasang matanya dengan cepat menatap Dhafin. Didapati anak muda itu tersenyum. Dia belum pernah melihat senyum yang amat menawan seperti itu sebelumnya selain pada pemuda ini.


"Maksudmu?" tanya Brian belum mengerti. Dia melirik sebentar Dhafin memakaikan kembali kaus kaki kiri Aurellia dengan perlahan-lahan seperti membukanya tadi.


"Bisa ular ini ternyata membawa keberuntungan bagi Tuan Putri."


"Aku masih belum mengerti."


"Nanti aku jelaskan. Sebaiknya bawa masuk dulu Tuan Putri ke dalam."


Brian tidak bertanya lagi. Dia segera membopong Aurellia di kedua tangannya. Setelah itu melangkah menuju ke istana kecil milik Aurellia. Dhafin juga mengikuti dengan berjalan bersisian.


Sedangkan Ariesha dan Grania mengikuti di belakang. Para pelayan menyusul kemudian.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2