
Sebelum Nyonya Brianna menceritakan tentang sebuah rahasia kenapa Gibson bisa lahir dari rahimnya, dia bertanya kepada, apakah Emrick Daim masih hidup atau sudah mati.
Gibson menjawab bahwa Emrick masih hidup. Lalu dia membangunkan lelaki pengecut itu saat diminta.
Ketika Gibson berbicara dengan Nyonya Brianna, memang kedengarannya santun tadi datar saja. Membuat Nyonya Brianna makin sedih.
Begitu Emrick siuman, dia langsung memandang sekelilingnya. Dan tak perlu lama seketika dia terkejut. Lebih terkejut lagi ketika melihat Nyonya Brianna yang menatapnya dengan tajam.
Air mukanya langsung pucat, ketakutan langsung menggerogoti nyalinya. Apalagi telah tahu semua ilmunya telah dimusnahkan oleh Gibson, dan kini dia telah lumpuh permanen. Makin membuatnya ketakutan.
Takut kalau Nyonya Brianna membunuhnya akibat perbuatannya di masa muda dulu terhadap wanita itu.
"Sekarang kamu dengarkan aku bicara, Lelaki Pengecut!" kata Nyonya Brianna menggeram seraya menatap Emrick Daim dengan sorot penuh dendam dan kebencian.
"Betapa sengsaranya aku menanggung penderitaan batin, demi agar anak yang ada di dekatmu itu lahir dengan selamat...."
Emrick hanya bisa menatap Nyonya Brianna dengan penuh ketakutan. Dia tidak bisa berbicara apa-apa.
Kalau mau bicara juga tidak bisa karena Gibson mengunci suaranya. Dia hanya bisa diam sambil menunduk seolah menyesali perbuatannya.
Kemudian Nyonya Brianna menceritakan secara singkat kisah asmaranya dengan Emrick Daim. Karena cintanya kepada lelaki itu, dia rela menyerahkan bunga sucinya dengan janji akan dinikahi.
Namun dengan kepengecutan dan kebejatannya, Emrick Daim meninggalkannya begitu saja dan tidak pernah menunaikan janjinya.
Sementara Nyonya Brianna telah mengandung janin lelaki pengkhianat itu. Hingga akhirnya dia melahirkan seorang anak laki-laki diluar hungan pernikahan.
Dikarenakan untuk menjaga martabat keluarga Nyonya Brianna disuruh menggugurkan kandungannya. Namun dia dan kakaknya, Selir Grizelle bersikeras menolaknya.
Akhirnya dia dibolehkan merawat kandungannya hingga sampai melahirkan saja. Setelah itu dia diharuskan membuang bayi itu kalau tidak ingin dibunuh sebelum lahir ke dunia.
Dengan amat terpaksa Nyonya Brianna menerima perjanjian itu. Sedangkan kakaknya, satu-satunya keluarga yang berpihak padanya tidak bisa berbuat banyak pula.
Singkat cerita, begitu Gibson lahir Nyonya Brianna cuma diberi kesempatan merawatnya sebulan. Itupun atas permohonan Selir Grizelle. Cuma diberi batas sebulan!
Kemudian Nyonya Brianna dipaksa membuang bayinya kepada pasangan keluarga miskin yang ternyata kedua orang tua Kaluna Lavanya.
"Sekian lama aku menanggung derita batin akibat dari kepengecutanmu, Emrick!" kata Nyonya Brianna di akhir ceritanya yang bernada duka, sedih sekaligus menggeram marah.
"Sekian lama aku merahasiakan hasil dari hubungan terlarang kita dari suamiku..., dari anak-anakku...," kata Nyonya Brianna makin pilu. Untuk kesekian kalinya dia menyeka air matanya dengan jemarinya yang gemetar.
Sementara Jenderal Lyman dapat merasakan penderitaan yang dialami istrinya yang malang itu. Sehingga meskipun dia sudah lama tahu kalau istrinya punya anak lain selain darinya, dia tidak mau mengungkit-ungkit.
Pederitaan sang istri tercinta sudah cukup. Jangan lagi dia menambah penderitaannya.
Lalu Nyonya Brianna berdiri dan terus melangkah menghampiri Emrick yang masih tertunduk ketakutan.
"Dan kamu tahu... selama itu pula aku telah melakukan dosa terhadap suamiku dan anak-anakku...," lanjutnya begitu berhenti 2 langkah di depan Emrick.
"Betapa... perbuatan jahatmu membuat aku menderita selama ini, Emrick...!" suara Nyonya Brianna agak meninggi menekan emosi dan kemarahannya yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Kenapa kamu tidak bicara? Apa kamu tiba-tiba bisu akibat dari dosa-dosamu?"
"Maaf, Nyonya, saya telah mengunci suaranya," kata Gibson memberi tahu.
Masih juga dia menyebut ibunya dengan sebutan nyonya. Sebagai isyarat kalau dia belum mengakui Nyonya Brianna adalah ibunya.
Sementara semua hadirin hanya terdiam menyaksikan adegan menyedihkan di depan mata mereka. Jelas mereka sudah terbawa hanyut akan suasana.
Sehingga Gibson masih memanggil ibunya dengan sebutan nyonya seolah tidak ada yang berani menegurnya.
Sedangkan Nyonya Brianna sejurus menatap Gibson dengan lembut sambil menekan perasaannya. Setelah melonggarkan sedikit keadaan dirinya, dia meminta Gibson membuka suara Emrick sambil menatap lelaki itu.
★☆★☆
Selepas Gibson membuka suaranya, langsung muntahlah ratapan memelas penuh penyesalan dari mulut kotor Penyair Putih tanpa dapat dicegah.
__ADS_1
Dia yang pandai berbicara dapat memilih kata-kata yang pas disertai dengan mimik yang meyakinkan. Sehingga bagi sebagian orang bisa saja terpengaruh akan kata-katanya yang cuma berisi omong kosong.
Sedangkan hati Nyonya Brianna sudah menjadi batu, tidak bakalan lagi terpengaruh dengan ucapan yang penuh kebohongan itu.
Dikumpulkan tenaganya di telapak tangan kanannya. Lalu selagi Emrick memuntahkan ratap penyesalannya, dengan cepat Nyonya Brianna melayangkan telapak tangan kananya, menampar wajah mesum lelaki itu.
Plaaak!
Keras, telak, kuat telapak tangan kanan Nyonya Brianna menampar wajah Emrick. Sehingga ratapan lelaki itu langsung berhenti, bahkan kepalanya sampai terputar ke kanan.
"1000x pun kamu memohon ampun kepadaku," kata Nyonya Brianna bernada dingin sekaligus menggeram marah di tengah rasa dukanya, "1000x pun kamu meminta maaf kepadaku, aku tidak akan pernah memaafkanmu...."
"Kasihanilah aku, Brianna," masih juga Emrick berani memelas minta dikasihani. "Kamu boleh melakukan apa saja padaku! Atau... pukullah aku sepuasmu...! Asal kamu mau memaafkanku...."
"Bahkan aku akan membunuhmu!" kata Nyonya Brianna bernada dingin penuh ancaman.
"Jangan, jangan..., Brianna!" Emrick makin ketakutan. "Jangan melakukan hal itu! Kasihan putra kita, dia akan kehilangan ayah kalau kamu membunuhku...."
Jika menuruti kehendak ingin rasanya Gibson menghancurkan mulut kotor Emrick. Dengan tanpa rasa malu masih berani menyebutnya sebagai anak setelah apa yang dia lakukan selama ini kepadanya.
Namun dia masih bisa mengontrol emosinya dan masih bisa menjaga sikap hormatnya kepada para junjungan yang ada di aula ini.
"Hah! Masih berani juga mulut kotormu itu menyebutnya anak setelah kamu mencampakkannya!" Nyonya Brianna makin berang, tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Masih berani juga kamu mengaku ayah di depannya, sedangkan kamu tidak pernah menolongnya di kala dia terlantar di jalanan! Pantaskah kamu disebut ayah?"
Dengan cepat dia menggerakkan kedua tangan hendak mencekik leher Emrick. Sedangkan lelaki bejat itu sudah memekik ketakutan. Maklum saja dia sudah tidak punya kesaktian lagi sekarang.
Namun Gibson lebih cepat lagi menangkap kedua tangan Nyonya Brianna dari belakang. Lalu membawanya menjauh dari Emrick yang tampak lega karena Gibson mencegah Nyonya Brianna membunuhnya.
Nyonya Brianna dapat merasakan sentuhan putranya saat membawanya menjauh.
Ini kali pertama lagi mereka saling bersetuhan setelah kejadian sewaktu Gibson mendorongnya hingga jatuh karena menolaknya untuk mengakuinya sebagai ibu.
Apakah hal ini suatu pertanda bahwa sebenarnya dalam hati Gibson mengakuinya sebagai ibunya?
Sayang, dia cuma bisa memandang tangan Gibson memegang erat kedua tangannya. Dia tidak bisa melihat wajah tampan putranya karena posisinya berada di belakangnya. Jadi dia tidak tahu air mukanya bagaimana.
Sedangkan Jenderal Lyman, melihat istrinya hendak membunuh Emrick, dengan cepat menghampiri sang istri dengan maksud mencegahnya. Tapi Gibson ternyata lebih cepat lagi mencegatnya.
Sementara para hadirin dapat melihat Gibson mencegat Nyonya Brianna yang hendak mencekik Emrick. Sebagian besar mereka menunjukkan keheranan atas aksi Gibson tersebut.
★☆★☆
Begitu Gibson telah melepaskan pegangannya, Nyonya Brianna segera berbalik menghadap putranya dan langsung melihat raut wajahnya yang datar tapi terselip rasa duka yang mendalam.
"Kenapa kamu menahanku membunuh lelaki itu?" tanya Nyonya Brianna langsung menurunkan intonasi suaranya menjadi bernada lembut. Sepasang matanya juga menatap lembut sang putra.
"Maaf, Nyonya, saya telah berlaku lancang terhadap Nyonya," kata Gibson bernada hormat dan santun. Tapi wajahnya tidak sinkron dengan nada suaranya. Datar!
"Aku tidak menyalahkan kamu mencegatku untuk membunuhnya," kata Nyonya Brianna berusaha tidak terpengaruh dengan wajah Gibson yang datar itu.
"Aku hanya ingin tahu kenapa kamu melarangku?"
"Maaf, Nyonya," sahut Gibson masih dengan sikap semula, "tidak pantas Nyonya membunuh hanya dilandasi karena dendam. Itu sama saja Nyonya melakukan kesalahan yang kedua."
Nyonya Brianna memahami betul ucapan Gibson itu dan membuatnya terkesan. Memang dasarnya Gibson ini berhati mulia, meski ayah biologisnya berhati bejat.
Tidak selamanya buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah ketentuan takdir.
Sementara para hadirin, melihat sikap yang ditunjukkan Gibson, mereka menduga kalau pemuda tampan berkulit coklat itu masih belum mengakui Nyonya Brianna adalah ibu kandungnya.
Namun mereka memuji sikap kedewasaan yang ditunjukkan Gibson barusan.
Sedangkan Putri Raisha makin simpati dan makin suka kepada Gibson. Dia memang pemuda yang pantas dijadikan teman hidup.
__ADS_1
Perlahan jemari tangan kanan Nyonya Brianna terangkat hendak membelai wajah putranya. Tapi buru-buru Gibson melangkah mundur. Sehingga Nyonya Brianna hanya membelai kehampaan. Sementara jemarinya itu masih menggantung di udara.
★☆★☆
Lalu Gibson berkata penuh hormat, namun bukan sikap seorang anak terhadap orang tuanya.
"Maaf, Nyonya, silahkan kembali ke kursi Nyonya! Urusan lelaki itu biar saya yang urus."
"Hhh..., kesalahanku memang amat besar terhadapmu, sehingga aku tidak pantas dimaafkan olehmu," kata bernada amat pilu Nyonya setelah menurunkan tangannya, sementara air matanya kembali terjatuh.
"Gibson, tidak bisakah kamu mengerti sedikit saja betapa ibumu selama ini menderita karena memikirkan kamu?" kata Jenderal Lyman mencoba membujuk agar hati Gibson tergugah.
Gibson tetap diam, tak memberi reaksi atau berkomentar.
"Seperti yang sudah kamu dengar dari cerita ibumu tadi," lanjut Jenderal Lyman, "kalau ibumu amat sangat terpaksa menyerahkanmu yang waktu itu masih bayi kepada orang lain, demi agar dirimu hidup...."
"Kalaulah bukan kasih sayang ibumu sejak kamu di kandungan, sementara dia mengandung benih lelaki yang amat dia benci, mungkin dia akan memenuhi permintaan orang tuanya untuk menggugurkan kandungnya."
"Kalau begitu alangkah baiknya waktu itu Nyonya Brianna menggugurkan kandungnya," kata Gibson bernada datar.
Tentu saja ucapan itu membuat hadirin terkejut bukan main. Meski diucapkan dengan pelan, tapi sungguh dahsyat akibat yang ditimbulkan.
Ucapan itu seolah tidak menghargai perjuangan Nyonya Brianna dalam mempertahankannya agar tetap hidup.
Namun Kaluna berpikiran lain. Dia dapat memahami penderitaan yang dirasakan kakaknya selama ini. Meski dia tidak menyalahkan perbuatan Nyonya Brianna, tapi menurutnya Nyonya Brianna pantas menerima perlakuan Gibson terhadapnya.
Sementara Nyonya Brianna hampir jatuh lemas akibat mendengar ucapan Gibson barusan. Untung saja cepat ditangkap oleh suaminya.
Hatinya yang sudah rapuh, bertambah rapuh mendengar ucapan mengerikan itu.
Lalu Jenderal Lyman segera membawa istrinya duduk di kursinya. Begitu Nyonya Brianna sudah duduk, Selir Grizelle dan Nyonya Carissa merangkulnya.
Tapi mereka belum berkomentar apa-apa selain menyabarkan agar Nyonya Brianna tetap tenang dan tegar.
Sementara Jenderal Lyman kembali ke hadapan Gibson. Tapi belum juga dia hendak berkata, Raja Darian menegurnya dan menyuruhnya kembali ke kursinya.
Dengan amat patuh Jenderal Lyman bergegas menuju ke kursinya, meski hatinya masih penasaran. Begitu sampai dia langsung duduk.
"Nak Gibson, bagaimana dengan Tuan Emrick itu?" tanya Raja Darian. "Apakah kamu sendiri yang akan menghukumnya?"
"Jikalau Yang Mulia Raja mempercayakan kepada hamba, hamba bersedia menghukum mati lelaki itu," sahut Gibson penuh hormat.
Mendengar ucapan Gibson itu, Emrick yang tadi menundukkan kepada langsung mendongak memandang Raja Darian dengan tatapan memelas.
"Ampun, Yang Mulia," mohonnya dengan ekspresi yang mengenaskan sambil menagis, "tolong kasihanilah hamba. Hamba sudah tidak bisa apa-apa lagi sekarang.... Putra hamba sudah menghukum hamba."
"Tuan Emrick, kamu sudah melakukan kesalahan besar, yaitu berkhianat kepada negara," kata Raja Darian seolah bertitah. "Maka tidaklah hukuman bagi kesalahan berat itu selain kematian."
Tentu saja Emrick makin ketakutan mendengar titah itu. Walaupun dia memohon hingga suaranya parau, hukiman mati tetap jatuh atasnya.
Kemudian Gibson berdiri di samping kiri Emrick yang terus memohon baik kepada Raja Darian maupun. Setelah menyembah hormat kepada Ratu Aurellia, Raja Darian dan Selir Heliana, Gibson meletakkan telapak tangan kanannya yang sudah teraliri tenaga sakti di atas kepada Emrick.
"Tunggu!" cegat Ratu Aurellia saat melihat telapak tangan Gibson bergerak turun.
"Putriku, dia adalah penjahat negara," kata Raja Darian seolah menerangkan. "Maka hukuman mati pantas untuknya."
"Kak Gibson, biar bagaimanapun Tuan Emrick adalah ayahmu juga," kata Ratu Aurellia seakan hendak mempengaruhi Gibson. "Apakah kamu tega membunuh ayahmu sendiri?"
"Ampun, Yang Mulia," kata Gibson menyembah penuh hormat. "Ayah hamba adalah ayahnya Lavanya, yang telah merawat kami di waktu kecil...."
"Sedangkan manusia ini hanyalah merupakan proses takdir sehingga saya tercipta di dunia. Sama sekali hamba tidak menganggapnya sebagai ayah."
Ratu Aurellia tidak bisa berkata-kata lagi kalau Gibson sudah berkata begitu. Sedangkan para hadirin juga tidak ada yang berkomentar.
★☆★☆★
__ADS_1