Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 113 AKU YAKIN KAMULAH JODOHKU


__ADS_3

Tidak ada yang bisa memaksa Ghavin Aldebaran alias Dhafin membuka jati dirinya. Mereka cukup kewalahan untuk memojokkan Dhafin atau memaksa Dhafin untuk mengaku tentang jati dirinya yang sebenarnya.


Ada saja jawabannya yang logis atau penuturannya yang tepat dalam menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan baik oleh Selir Heliana, Putri Clarabelle, maupun Putri Richelle.


Sedangkan Putri Kayshila yang juga hadir dalam pertemuan khusus itu melakukan sandiwara yang sempurna dalam menghadapi permasalahan.


Semalam dia dan Dhafin memang sudah bersepakat untuk bekerja sama agar rahasia tentang jati diri Dhafin tetap menjadi rahasia mereka berdua.


Dia berakting seolah-seolah ikut menyerang Dhafin dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak. Dan memang pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Kayshila amat berbobot. Padahal sudah diatur sebelumnya oleh Dhafin.


Sementara Ariesha yang sudah tahu karakter kakaknya itu sejak kecil, tidak ikut-ikutan memaksa Dhafin dalam mengungkap tentang jati dirinya. Jadi dia cuma diam saja mendengarkan.


Dia sebenarnya ingin menanyakan kepada Dhafin tentang kejelasan suatu tempat sewaktu Dhafin terjatuh di jurang dahulu. Namun bukan di sini tempatnya. Dia akan menanyakannya nanti pada waktu dan tempat yang tepat.


Sedangkan bagi Yang Mulia Ratu sebenarnya tidak terlalu memusingkan tentang jati diri Dhafin. Mau Dhafin berterus terang mengungkap siapa dirinya atau tidak, Yang Mulia Ratu tidak mempermasalahkan.


Yang dia perlukan dari Dhafin hingga saat ini adalah cinta pemuda itu terhadapnya. Itu yang lebih penting baginya ketimbang mengetahui jati diri Dhafin.


Dulu Dhafin sudah memberitahukan kepadanya kalau Dhafin tidak boleh mencintainya. Alasannya karena Dhafin berfirasat kalau dia bakalan menjadi orang besar kelak.


Dan ternyata firasat Dhafin memang tepat. Dia menjadi Ratu Istana Centauri, penguasa dua pasukan yang cukup besar dan hebat; Pasukan Istana Centauri dan Pasukan Jubah Merah yang ada di Markas Centaurus.


Dhafin sudah menyatakan kalau pemuda itu tidak pantas mencintai dirinya. Karena Dhafin berasal dari latar belakang yang tidak jelas. Sedangkan dirinya berasal dari keluarga istana.


Maka yang pantas menjadi pasangannya adalah orang besar pula sesuai apa yang dituturkan Dhafin dahulu.


Oleh karena itu, yang menjadi permasalahkan dia saat ini dan selalu mengganggu pikirannya adalah bagaimana jika Dhafin mengetahui kalau Putri Aurellia yang pemuda itu ingin menemuinya adalah Yang Mulia Ratu.


Maka akan semakin jauh jarak cinta antara dia dengan Dhafin. Dan Dhafin akan semakin menjauhinya.


Untung saja semalam Kayshila tidak membocorkan tentang siapa dia sebenarnya kepada Dhafin. Rupanya Kayshila benar-benar menjaga kepercayaan.


Dan tanpa Yang Mulia Ratu dan Dhafin sadari kalau sebenarnya Kayshila memegang rahasia masing-masing dari kedua orang yang memiliki cinta yang unik itu.


Sementara itu, ketiga pendiri Istana Centauri sudah tidak lagi memaksa Dhafin memberi tahu tentang jati dirinya.


Maka Yang Mulia Ratu teringat kalau Dhafin hendak membicarakan tentang pembebasan Raja Darian yang dipenjara di penjara bawah tanah. Lantas dia menanyakan hal itu kepada Dhafin.


"Tuan Dhafin, apa maksudmu hendak membicarakan tentang pembebasan Yang Mulia Raja Darian kepadaku?"


"Ampun, Yang Mulia," kata Dhafin penuh hormat. "Sebenarnya tujuan hamba ke Istana Centauri ini, selain ingin mengobati Tuan Putri Faniza, hamba juga ingin meminta bantuan Tuan Putri Aurellia dalam hal itu."


"Karena hamba mendapat kabar kalau Tuan Putri Aurellia ada di Istana Centauri ini," lanjutnya.


★☆★☆


Sejenak ketiga pendiri Istana Centauri dan Yang Mulia Ratu serta Ariesha saling berpandangan. Jelas mereka heran Dhafin ingin meminta bantuan pada Putri Aurellia untuk membebaskan ayahnya.


"Kenapa kamu ingin meminta bantuan kepadanya, Tuan?" tanya Yang Mulia Ratu bernada heran. "Apa kamu yakin dia mampu?"


Setiap kali berbicara dengan Dhafin Yang Mulia Ratu harus tetap menjaga intonasi bicara. Dia harus tetap menjaga sikap anggunnya agar gejolak perasaannya tidak terlalu kentara.


Apalagi dari ucapan Dhafin barusan mengandung arti Dhafin pasti akan bertemu dengan Putri Aurellia. Makanya sedapat mungkin nada suaranya tetap dijaga agar Dhafin tidak curiga kalau nanti berbicara dengan Putri Aurellia.


"Hanya dia yang bisa membantu dalam meretas Segel Jaring Langit yang menyegel bilik penjara Yang Mulia Raja Darian," sahut Dhafin. "Kalau dia sudah menguasai ilmu Panah Cakra Langit, aku yang dia bisa."


"Karena hanya Panah Cakra Langit yang bisa memunahkan Segel Jaring Langit," lanjutnya.


"Siapa yang memiliki Segel Jaring Langit, Dhafin?" tanya Selir Heliana. "Apa Rayna Cathrine?"


"Benar, Yang Mulia," sahut Dhafin membenarkan, "dialah yang memiliki ilmu itu dan memasangnya di bilik penjara Yang Mulia Raja."


Mendengar nama Putri Rayna Cathrine disebut tubuh Yang Mulia Ratu sedikit gemetar karena menahan geram dan amarah yang bergejolak. Dendamnya terhadap wanita pembunuh ibunya itu seketika menyala.


Tapi cepat-cepat dia segera menguasai diri dan menetralkan perasaannya agar tidak tampak terutama oleh Dhafin.

__ADS_1


Kemudian Selir Heliana memberitahukan kalau Putri Aurellia belum berhasil menyempurnakan ilmu itu. Sedangkan dia sendiri tidak bisa menyempurnakan.


Maka Dhafin mengatakan kalau dia bisa menyempurnakannya, karena sejak awal dia yang membentuk ilmu langka itu di dalam tubuh Putri Aurellia.


Sementara Putri Clarabelle dan Putri Richelle juga memberitahukan kalau energi sakti murid mereka, 4 Pengawal Pribadi Ratu juga belum mencapai tingkat sempurna.


Energi sakti yang dimaksud adalah energi sakti yang berasal dari Putri Aurellia.


Sekali lagi Dhafin menyanggupi untuk menyempurnakan ilmu mereka itu. Karena sejak awal Dhafin juga yang membentuk keempat energi sakti itu di dalam tubuh masing-masih keempat gadis cantik itu.


Akan tetapi Dhafin meminta kepada Putri Clarabelle dan Putri Richelle agar membantunya menyuplai tenaga dalam selama proses penyempurnaan nanti. Di samping itu pula Brian, Keenan dan Gibson membantunya juga.


Sementara itu pula, Selir Heliana mengungkapkan suatu fakta bahwa Raja Darian Cashel dan Putri Rayna Cathrine adalah 2 keponakannya. Dan artinya pula bahwa semua anak-anak Darian Cashel adalah cucu-cucunya.


Meskipun keponakannya, tapi Selir Heliana mengecam tindakan Putri Rayna yang merebut kekuasaan adik tirinya sendiri. Bahkan memperalat cucunya yang bernama Raja Adrian dalam merebut kekuasaan.


Dia juga mengungkapkan rasa kecewanya terhadap Raja Darian atas tindakan yang terburu-buru menuduh Putri Aurellia yang telah membunuh ibunya, tanpa menyelidiki kasus tersebut terlebih dahulu.


Akhirnya terungkap juga kalau yang membunuh Permaisuri Michellia, bundanya Putri Aurellia adalah Putri Rayna Cathrine.


★☆★☆


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, dari tengah hari hingga seperempat malam, akhirnya proses penyempurnaan energi sakti terhadap kelima gadis cantik telah selesai.


Sebelumnya Yang Mulia Ratu sempat kebingungan saat Dhafin meminta dipertemukan dengan Putri Aurellia. Karena Putri Aurellia adalah dirinya sendiri.


Namun dia mendapat akal. Maka dia memberitahukan kepada Dhafin kalau dalam beberapa hari ke depan dia akan bersemedi di ruangan khususnya di istananya. Dan selama bersemedi dia tidak bisa diganggu.


Tapi dia sudah meluaskan Dhafin untuk bertemu dengan Putri Aurellia kapan saja. Dan kalau ada apa-apa, silahkan berhubungan dengan Putri Kayshila atau ketiga pendiri Istana Centauri.


Rupanya Yang Mulia Ratu pandai juga bersandiwara.


Untung saja Dhafin tidak terlalu curiga. Dan proses penyempurnaan energi sakti berjalan lancar. Hingga selesai pada malam hari.


Pada keesokan paginya....


Tampak Dhafin berjalan ringan memasuki sebuah taman yang cukup luas, indah dan asri. Di taman itu beraneka ragam bunga serta tanaman.


Di taman itu terdapat beberapa teduhan berbentuk payung amat besar. Di bawah teduhan-teduhan itu terdapat 2 kursi panjang bersandar yang saling membelakangi.


Di salah satu teduhan duduk Yang Mulia Ratu yang berpakaian seperti waktu Putri Aurellia masih kecil dulu. Posisi duduknya membelakangi arah kedatangan Dhafin.


Sementara Dhafin yang sudah berjalan menuju tempat Putri Aurellia duduk, terus saja melangkah tanpa henti. Dan begitu berjarak 5 langkah di samping kiri Putri Aurellia, dia berhenti.


Begitu merasakan Dhafin sudah berada di dekatnya, Putri Aurellia segera menoleh pada Dhafin. Setelah meyakini kalau yang menghampirinya itu adalah Dhafin, tanpa ragu dia segera menanggalkan cadarnya.


"Tuan Putri," sapa Dhafin sambil tersenyum.


Binaran matanya begitu bahagia bisa melihat kembali wajah yang amat cantik mempesona itu. Delapan tahun lamanya tidak melihatnya.


Dan begitu melihatnya lagi, hati Dhafin tidak bisa memungkiri kalau dia terpesona. Dan kembali hatinya tergetar untuk yang kedua kalinya.


Sejak kecil dia sudah terpesona akan wajah putih halus hasil karyanya itu. Saat sudah dewasa seperti ini dia malah tambah terpesona.


"Kak Dhafin," Putri Aurellia membalas sapaan sang pujaan hati. Senyumnya langsung terkembang begitu manis.


Dengan cepat Putri Aurellia berdiri dan langsung melangkah menghampiri Dhafin. Terus berhenti tepat satu langkah di depan Dhafin.


Sejenak mereka saling tatap dengan sorot mata yang begitu lembut. Saling melempar senyum yang termanis yang mereka miliki.


"Tuan Putri, boleh... aku memelukmu...?" pinta Dhafin sedikit takut-takut.


Putri Aurellia tidak menjawab. Tapi dia yang segera maju, terus memeluk Dhafin dengan erat, dengan lembut, dengan penuh perasaan.


Sedangkan Dhafin juga balas memeluk gadis cantik itu dengan lembut dengan penuh perasaan.

__ADS_1


Air mata bahagia bercampur haru segera tertumpah di pipi halus Aurellia. Sudah sekian lama dia memendam rindu kepada Dhafin, dengan segera dia tumpahkan semuanya.


"Apakah kamu bahagia bertemu denganku lagi?" tanya Dhafin dengan lembut sambil membelai rambut Putri Aurellia dengan lembut pula.


"Sangat. Aku sangat bahagia sekali, Kak," sahut Putri Aurellia. "Aku harap kita tidak akan berpisah lagi."


"Bagaimana denganmu?" kata Putri Aurellia balas bertanya. "Apakah bahagia juga?"


"Aku juga amat bahagia bisa bertemu kembali denganmu, Tuan Putri," ungkap Dhafin jujur.


Untuk beberapa saat lamanya kedua muda-mudi itu saling berpelukan. Tak lama kemudian, perlahan-lahan mereka saling melepas pelukan. Terus kembali saling tatap.


Perlahan Dhafin mengangkat kedua telapak tangannya ke wajah cantik laksana bidadari itu. Terus kedua jempolnya menyeka air mata Putri Aurellia dengan lembut.


Sedangkan Putri Aurellia betul-betul meresapi sentuhan lembut jeriji Dhafin yang membelai lembut wajahnya.


★☆★☆


Tak lama kemudian, kedua muda-mudi itu duduk di kursi panjang di bawah teduhan. Sedangkan jemari mereka seakan tidak mau lepas terus saja saling menggenggam dengan erat.


"Kak, apakah kamu sudah bisa mencintaiku?" tanya Putri Aurellia agak pelan bagai terdengar lirih.


Dhafin melepas genggaman tangannya pada Aurellia, terus menghadap ke depan. Lalu berkata bernada setengah mendesah.


"Aku tidak boleh mencintaimu."


"Kamu masih saja mengucapkan perkataan itu," kata Putri Aurellia dengan gaya merajuk manja. "Apakah kamu tidak lihat kalau aku bukan orang besar. Firasatmu tidak terbukti, Kak."


Dhafin tidak menanggapi ucapan gadis cantik itu. Dia terdiam sejenak seolah termenung akan ucapan itu.


"Sekarang aku mau tanya lubuk hatimu yang paling dalam, apakah kamu mencintaiku?"


Ini pertanyaan yang berat bagi Dhafin. Jelas, hatinya yang terdalam sebenarnya memang mencintai Putri Aurellia. Hanya saja dia tidak boleh memperturutkan perasaannya.


Kalau hal itu terjadi, maka dia harus membuka jati dirinya yang sebenarnya. Karena yang boleh berpasangan dengan Putri Agung alias Ratu Agung adalah orang yang sepantaran dengan Ratu Agung.


Sedangkan Dhafin tidak ingin menjadi pasangan Yang Mulia Ratu, karena dia belum mau membuka jati dirinya.


Ada satu hal mendasar lagi kenapa dia tidak berani mencintai Putri Aurellia. Dia takut membuat gadis itu terluka dan kecewa yang kedua kalinya setelah gadis itu pernah terluka dan kecewa akibat perbuatan ayahnya.


"Kak, jawablah!"


Perlahan Dhafin menoleh menatap wajah Putri Aurellia. Menatap mata yang indah bertaburkan cinta itu. Menyunggingkan senyum pesona penuh kelembutan. Lalu berkata.


"Tidak usah dulu membahas soal itu. Biar kita jalani dulu hubungan kita sebagai sahabat. Biarkan nanti waktu yang akan menjawab. Kalau kita benar-benar berjodoh, itu pasti akan terjadi."


"Tapi aku merasa yakin kalau kamu adalah jodohku, Kak."


"Jangan dulu terburu-buru merasa yakin seperti itu, Tuan Putri," Dhafin sabar memberi pengertian. "Pikirkan masak-masak dulu agar kamu tidak terluka dan kecewa untuk kesekian kalinya."


"Kamu yang berhasil menyembuhkan luka yang parah di hatiku," Putri Aurellia mulai menangis sedih, "kamu yang berhasil melenyapkan kekecewaan di hatiku...."


"...Terus kalau aku tidak mencintai pria hebat seperti itu," lanjutnya makin deras air matanya, "apakah aku bisa dikatakan adil kalau begitu?"


"Aku merasa yakin kamulah jodohku, Kak...."


Dhafin merengkuh gadis itu, membawanya dalam pelukan lembutnya, mengecup ujung kepalanya. Sementara Putri Aurellia, diperlakukan seperti itu malah air matanya semakin deras.


"Ada banyak hal yang perlu kamu ketahui tentang cinta, Tuan Putri. Terkadang cinta itu tidak mesti harus saling memiliki...."


Dhafin terus saja membujuk Putri Aurellia agar jangan terburu-buru mencintainya. Masih banyak hal yang Putri Aurellia harus ketahui. Jangan sampai Putri Aurellia kecewa lagi untuk yang kesekian kalinya.


Akan tetapi Putri Aurellia tetap saja kekeh pada pendiriannya. Bahwa dia tidak salah memilih pemuda yang dicintainya. Karena dia yakin....


"...Kamulah jodohku, Kak...."

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2