
Menyukai seseorang, entah itu pemuda menyukai seorang gadis atau si gadis menyukai seorang pemuda, tentulah jalannya tidak semulus seperti yang diinginkan.
Menyukai seorang gadis tidak menutup kemungkinan ada pemuda lain yang menyukainya pula. Dan masalah itu merupakan sesuatu yang wajar dalam dunia percintaan.
Jikalau sudah terjadi demikian, dan salah satu dari kedua pemuda yang menyukai seorang gadis itu merasa tersaingi antara satu sama lain, tentulah rasa iri dan dengki, serta dendam.
Salah seorang di antara mereka berniat hendak menyingkirkan saingannya. Entah dengan cara apapun yang penting saingannya tersingkir.
Ternyata hal itu terjadi juga pada diri seorang pemuda yang bernama Wilson.
Seperti diketahui kalau dia menyukai keponakan Ketua Anthoniel yang bernama Sheila. Begitu pula sebaliknya, Sheila juga menyukai Wilson.
Meskipun hingga saat ini belum ada di antara keduanya saling menyatakan perasaan masing-masing.
Ternyata ada seorang pemuda yang dengki terhadap kedekatan yang terjalin di antara keduanya. Dia bernama Arsenio, salah satu ksatria elit Ketua Anthoniel.
Ksatria elit yang bernama Arsenio ini tentunya sudah mengenal Sheila, karena mereka satu markas. Dia juga memang telah menyukai Sheila, sebelum Wilson mengenal dan menyukai Sheila.
Bahkan Arsenio sudah menyatakan rasa sukanya kepada Sheila, bahkan sudah menembaknya sekalian.
Namun seperti sebuah ungkapan: kata tak berjawab, gayung tak bersambut.
Sheila ternyata tidak menyambut perasaan Arsenio yang menyukainya, yang menyatakan cinta kepadanya.
Bukan karena Arsenio adalah pemuda berwajah jelek, karena Arsenio termasuk pemuda tampan. Bukan karena Arsenio berwatak buruk, karena dia termasuk ksatria Ketua Anthoniel yang berprilaku baik. Bukan itu!
Sebabnya karena Sheila memang benar-benar tidak menyukai Arsenio, apalagi mencintai. Dia tidak mungkin menyukai pemuda yang tidak dicintainya. Meskipun pemuda itu, si Arsenio menyatakan cinta kepadanya. Hal itu bertentangan dengan prinsipnya.
Cinta tidak bisa dipaksakan....
Sedangkan Arsenio, awalnya tidak terlalu merasa kecewa dan sakit hati atas penolakan Sheila terhadapnya. Tapi ketika melihat hubungan Sheila dengan Wilson yang sudah seperti sepasang kekasih, tentu saja dia kecewa, sakit hati, dengki, dan dendam.
Kecewa dan sakit hati terhadap sikap Sheila yang seperti menyambut cinta Wilson. Padahal dia orang yang sudah lama bersama-sama Sheila, tapi tidak menyambutnya.
Sedangkan Wilson, orang yang baru datang langsung mendapat sambutan hangat dari Sheila. Maka timbul kedengkian, iri serta dendam di dalam hati Arsenio.
Sifar-sifat buruk itu seketika menyatu di dalam diri Arsenio, sehingga melahirkan niat jahat di dalam hatinya, yaitu hendak menyingkirkan Wilson.
Arsenio merasa yakin dapat menyingkirkan Wilson karena dia merupakan salah satu ksatria elit, pasukan paling tinggi tingkatannya di jajaran pasukan Ketua Anthoniel.
Dia memang sudah mendengar kalau Wilson juga termasuk ksatria elit Istana Centauri. Namun dia tidak perduli. Dia sudah merasa yakin bisa mengalahkannya.
★☆★☆
Belum jauh Tim Brian meninggalkan lembah tempat markas Ketua Anthoniel, seorang pemuda cukup tampan seketika berkelebat keluar dari persembunyian dan berdiri di hadapan mereka sejauh 3 tombak.
Tentu saja kejadian itu membuat 11 pemuda tampan itu sempat terkejut dan langsung berhenti. Dan tak lama mereka segera mengetahui siapa pemuda yang berdiri bagai menghadang di depan mereka, yaitu Arsenio.
Maka kesebelas pemuda yang tadi sempat menegang, kini telah bersikap santai lagi. Karena mereka tahu siapa itu seorang Arsenio.
"Hei, kenapa kamu tiba-tiba berada di sini, Arsenio?" sapa Jarrel bernada santai. "Apa ada masalah di markas?"
"Atau Ketua Anthoniel telah menunjuk Tuan untuk bergabung dalam tim saya?" tanya Brian ikut menyapa.
Arsenio tidak lantas menjawab atau menanggapi sapaan kedua pemuda itu. Sejenak dia menatap tajam kepada Wilson. Sikapnya sedikit kaku dan datar. Kilatan matanya menyiratkan permusuhan dengan pemuda itu.
"Tidak ada masalah di markas dan aku tidak ditunjuk untuk bergabung dalam Tim Brian," akhirnya Arsenio bersuara juga. Tapi nadanya agak kaku dan datar, seperti menekan sesuatu dalam gejolak perasaannya.
"Lantas kenapa kamu berada di sini seperti menghadang kami?" tanya Jarrel lagi bernada heran. "Apa kamu punya masalah?"
__ADS_1
"Ya, aku memang punya masalah," sahut Arsenio mengaku sambil kembali menatap Wilson.
Sedangkan Wilson ditatap demikian sebenarnya merasa aneh juga. Tapi tetap bersikap tenang dan santai saja. Tidak mau berpikiran macam-macam.
Dia tidak terlalu mengenal siapa itu seorang Arsenio. Dia cuma tahu kalau Arsenio termasuk jajaran ksatria elit Ketua Anthoniel. Itu saja, selebihnya belum tahu.
"Aduh..., Arsenio," gerutu Jarrel sekaligus mengeluhkan atas sikap teman akrabnya itu, "kamu lihat keadaan lah. Kamu tahu sendiri kalau aku sedang bertugas. Nantilah masalahmu kita selesaikan setelah aku pulang dari bertugas."
"Maaf, Jarrel, sepertinya masalahku harus diselesaikan sekarang," kata Arsenio kali ini bernada dingin sambil melirik Wilson. "Aku tidak bisa menunda lagi."
"Lantas masalah Tuan apa, Tuan Arsenio?" tanya Brian langsung. "Atau punya malasah dengan siapa?"
"Maaf, Pangeran, masalah saya ini hanya antara saya dengan Wilson," kata Arsenio masih bernada dingin. "Saya berharap yang lain tidak ikut campur."
Selama berada di markas Wilson hampir tidak pernah bertemu dengan Arsenio. Apalagi membuat masalah dengan pemuda itu.
Sekarang pemuda itu mengatakan punya masalah dengannya. Masalah apa? Apakah Arsenio....
"Hahaha..., dari tadi kamu ngomong bertele-tele," kata seorang pemuda berpakaian dari bahan kulit warna kuning keemasan sambil tertawa pelan, "ternyata kamu hanya ingin mengungkapkan rasa cemburumu kepada Saudara Wilson. Sungguh lucu."
Nada ucapan pemuda tampan berambut panjang itu jelas menyindir Arsenio.
"Yang lucu adalah dirimu, Pedang Emas," kata Arsenio bernada sinis, membalas sindiran pemuda berpakaian kuning emas itu. "Aku tahu kamu juga menyukai Sheila, bukan....?"
"Tapi sayangnya kamu begitu pengecut," lanjutnya, "membiarkan orang luar berkasih-kasihan dengan gadis yang kamu sukai. Sungguh lucu bukan?"
Mendengar percakapan antara Pedang Emas dengan Arsenio jelas membuat Wilson terkejut. Dia tidak menyangka kalau 2 ksatria hebat itu sama-sama menyukai Sheila, gadis yang juga dia sukai.
Kalau sudah begitu apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus mundur? Karena dia memang orang luar.
"Aku memang menyukai Sheila," kata Pedang Emas mengakui. "Tapi aku sadar diri, bukan aku pemuda yang menjadi pilihannya...."
"Jadi, kamu tidak perlu cemburu kepada siapa pun yang menyukainya."
★☆★☆
Baru saja Arsenio hendak berkata menanggapi ucapan pedas Pedang Emas, Jarrel langsung bertanya cepat menyela pembicaraan.
"Apa benar yang dikatakan Pedang Emas itu, Arsenio?"
Nada ucapan Jarrel barusan jelas mengandung teguran kepada teman akrabnya itu. Sementara dia juga jelas sudah mengetahui kalau Arsenio menyukai adiknya. Tapi adiknya tidak menyukai sahabatnya itu.
"Jarrel. Kamu adalah temanku, sahabat karibku," kata Arsenio menuntut rasa persahabatan Jarrel. "Tapi kenapa kamu tidak membantuku membujuk Sheila agar menyukaiku? Malah kamu membiarkan orang luar berkasih-kasihan dengan adikmu."
"Di mana rasa persahabatanmu kalau begitu?"
Jarrel tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Arsenio, atau menanggapi ucapannya. Satu sisi Arsenio adalah sahabatnya, di sisi lain dia tidak bisa memaksa adiknya untuk menyukai sahabatnya itu.
Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan atau menghakimi Wilson yang sepertinya telah menyukai Sheila adiknya.
Apakah yang harus dia lakukan kalau begitu? Atau dia harus memihak kepada siapa?
Sementara Brian, Aziel, Keenan, dan Kelvin jelas tidak bisa ikut campur dalam masalah ini. Meskipun hal itu ada sangkut pautnya dengan Wilson, teman mereka. Karena persoalan itu adalah persoalan cinta.
Sedangkan Andro juga sepertinya tidak mau ikut campur meski Wilson adalah sahabatnya, meski dia setuju kalau Wilson dengan Sheila memang menjadi sepasang kekasih.
Bahkan dia mencegah Pedang Emas yang hendak meladeni lagi berdebat dengan Arsenio.
Adapun 3 orang ksatria elit lainnya tampak seperti acuh tak acuh terhadap persoalan cinta seperti ini. Apalagi hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
__ADS_1
Sementara Wilson sendiri mulai memikirkan akan siapa seorang Arsenio itu dan jalan pikiran pemuda itu yang menurutnya picik.
Amat disayangkan, hanya karena persoalan cintanya yang tak terbalas, Arsenio seperti hendak menanggalkan kewibawaannya sebagai seorang ksatria.
Dan memikirkan tentang apa yang telah diucapkan Arsenio tadi, dia sudah bisa meraba ke mana arah yang dimaukan Arsenio, selain persoalan cemburu.
"Sepertinya masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh Wilson dan Tuan Arsenio, Tuan Jarrel," kata Brian memberi pemecahan kepada Jarrel. "Jadi, saya pikir biar mereka sendiri yang menyelesaikan."
"Apa yang dikatakan Pangeran Brian itu benar, Jarrel," kata Arsenio seolah mendukung usulan itu. "Jadi biarkan aku dan orang itu yang menyelesaikannya."
Sambil berkata begitu Arsenio menunjuk Wilson dengan jari telunjuknya. Jelas hal itu merupakan sikap yang tidak sopan pikir Wilson. Semakin jelas bagi Wilson kalau Arsenio hendak mengajak ribut dengannya.
Sementara Jarrel, karena Andro dan Pedang Emas juga menganjurkan seperti usulan Brian, mau tidak mau dia menyetujuinya juga. Meski dia sudah bisa menduga pasti akan ada perkelahian di antara keduanya.
★☆★☆
Kemudian, setelah Brian memberikan sedikit ucapan seperti wejangan, Wilson maju 3 langkah ke depan, terus menatap Arsenio dengan tajam. Tapi sikapnya masih tampak tenang.
"Tuan Arsenio, sebenarnya saya tidak menginginkan...."
Belum juga Wilson menyelesaikan kalimatnya, Arsenio langsung menyergahnya dengan cukup kasar dan jelas tidak menunjukkan kesopanan dan persahabatan..
"Sudah! Aku tidak mau berpanjang lebar terhadapmu!"
"Kalau begitu sekarang maumu apa?" kata Wilson bernada dingin. Jelas dari nada ucapannya, Wilson sudah mulai geram atas sikap Arsenio.
"Kita selesaikan urusan ini dengan pertarungan," sahut Arsenio bernada dingin tak bersahabat. "Jika kamu yang menang, aku bersedia mundur dan membiarkanmu memiliki Sheila...."
"Tapi jika aku yang menang, kamu harus bersedia menyingkir dari kehidupan Sheila."
"Kenapa kamu menyamakan Nona Sheila seperti barang yang harus diperebutkan, Arsenio?" kecam Wilson bernada geram. "Begitu rendahnya kamu menilai seorang Nona Sheila kalau begitu."
"Untung saja Nona Sheila tidak memilihmu sebagai kekasihnya, seorang lelaki pengecut yang berpikiran picik."
Mendengar ucapan Wilson barusan, baik Jarrel maupun Pedang Emas serta 3 ksatria elit lainnya merasa kagum akan sikap seorang Wilson. Diam-diam mereka memuji Wilson dalam hati.
"Tidak usah banyak bicara, Wilson!" bentak Arsenio. "Kalau kamu takut menghadapiku bilang saja, lalu segera mundur dari kehidupan Sheila!"
"Asal kamu tahu, Arsenio," kata Wilson seakan masih ingin menyadarkan Arsenio, "pertarungan tidak akan merubah keadaan. Nona Sheila tetaplah seorang nona yang siapa saja boleh mencintainya...."
"Tidak terkecuali aku meski aku akan kalah darimu."
"Dari tadi kamu hanya banyak bicara, Wilson," kata Arsenio bernada dingin bercampur sinis. "Apakah karena kamu takut menghadapiku?"
"Baiklah. Sepertinya kamu tidak bisa lagi diberi tahu, Arsenio," kata Wilson sudah hilang kesabaran.
"Aku akan melayani tantanganmu untuk bertarung," lanjut Wilson. "Tapi bukan dalam rangka memperebutkan Nona Sheila. Aku menerima tantanganmu hanya karena ingin membungkam kesombonganmu...."
"Alaaah...! Tidak usah banyak bicara. Bersiaplah!"
"Hiyaaat...!"
Berkawal dengan bentakan keras, setelah menghunus pedang, Arsenio langsung melesat ke depan menyerang Wilson dengan ganas.
Sementara Wilson tentu saja tidak tinggal diam. Setelah menghunus pedangnya pula, dia ikut melesat ke depan membalas serangan Arsenio.
Maka tidak butuh waktu lama, kedua pemuda tampan itu sudah terlibat dalam pertarungan hebat dan seru. Sedangkan 10 orang pemuda lainnya hanya bisa menonton pertarungan itu tanpa berani ikut campur, apalagi melerai.
★☆★☆★
__ADS_1