Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 131 PERTARUNGAN DI HALAMAN KEDIAMAN SELIR ASHANA Bag. 1


__ADS_3

Terang saja Raja Ghanim terkejut mendengar ucapan Pejabat Choman itu.


Lebih terkejut lagi Selir Ashana. Dia tidak menyangka pihak istana sudah begitu kurang ajarnya terhadap dirinya. Melontarkan tuduhan kepadanya secara serampangan.


Dia tahu perintah penangkapan itu pasti datang dari Bunda Suri Hellen. Atau hasil rekayasa Bunda Suri dan Pejabat Choman. Dan dibumbui oleh sang permaisuri yang berhati jahat yang memang hendak menjatuhkannya.


Sementara itu, Dhafin menganggap perbuatan Pejabat Choman sudah keterlaluan. Kalau tidak segera dibungkam, takutnya dia akan mencelakakan banyak orang.


Dhafin sudah bisa mengukur sampai di mana kesaktian Pejabat Choman. Dan dia tahu bagaimana cara membungkam orang tua itu.


Maka begitu Pejabat Choman sudah terlihat gelagat akan memerimtahkan anak buahnya untuk mengacau di kediaman Selir Ashana atau hendak memerintahkan menangkap dirinya dan Selir Ashana, dia segera bertidak.


Dengan cepat Dhafin mengangsurkan tangan kanannya ke depan setengah merentang. Dan begitu telapak tangannya yang terbuka lebar dengan jeriji agak menekuk ke dalam diputar, maka terjadi keanehan di sekitar Pejabat Choman.


Baru saja Pejabat Choman hendak memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menangkap Dhafin dan Selir Ashana, seketika langsung di urungkan. Karena tahu-tahu dia merasakan di sekelilingnya berputar-putar semacam hawa padat tak terlihat.


Terang saja Pejabat Choman terkejut dibuatnya. Tapi cuma sebentar. Karena pikirannya langsung memerintahkan kepadanya untuk segera mengambil tindakan.


Namun jelas dia terlambat. Sebelum dia berbuat sesuatu hawa padat itu dengan cepat langsung melilit sekujur tubuhnya dengan kuat bagai belitan ular besar.


Belitan tak terlihat itu adalah belitan mantra yang diciptakan oleh Dhafin melalui tenaga ghaib yang digabung dengan tenaga batinnya.


Meski dia berusaha memberontak tetap saja tidak bisa. Hawa padat itu terlanjur membelit kuat sekujur tubuhnya. Sehingga kedua kakinya merapat di tengah dan kedua tangannya menempel erat di badannya bagai direkat lem.


Semakin dia berusaha melepaskan belitan mantra tidak berwujud itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya, hawa padat itu semakin kuat dan erat membelitnya.


Meski dia menyalurkan tenaga sakti ke sekujur tubuhnya tetap juga sia-sia. Bahkan sekarang dia semakin tersiksa karena Dhafin sepertinya meningkatkan kekuatan ghaibnya pada belitan mantra di tubuhnya.


Yang dia mampu sekarang hanya berteriak-teriak dan memaki-maki panjang pendek.


Tentu saja semua orang terkejut heran melihat perubahan yang terjadi pada Pejabat Choman yang begitu tiba-tiba. Tak terkecuali 4 pengawalnya dan seluruh pasukannya. Tak ada angin tak ada hujan dia berteriak-teriak kesakitan.


Semua orang melihatnya seperti terlilit oleh seekor ular besar yang tak terlihat.


Dan mereka semua beberapa saat lamanya belum menyadari apa sebenarnya yang terjadi, kecuali Putri Lavina yang terus berada di samping Dhafin.


Dia belum paham apa yang dilakukan Dhafin, tapi dia tahu keanehan yang terjadi pada Pejabat Choman disebabkan oleh Dhafin. Dan dia tersenyum puas melihat ketersiksaan yang dialami pejabat culas lagi cabul itu.


Belum lama kejadian aneh terjadi pada Pejabat Choman, terjadi pula pada 4 orang pengawalnya sekaligus. Mereka kini juga terbelit hawa padat tak terlihat seperti Pejabat Choman.


Namun belitan mantra pada tubuh mereka tidak terlalu kuat seperti pada Pejabat Choman. Walau demikian mereka tidak bisa bergerak sama sekali, kecuali kepada yang bisa digerakkan.


"Keparat kamu, Bocah Rendahan!" maki Pejabat Choman terus berteriak-teriak. "Aaakh....!"


Sementara pasukannya yang kesemuanya adalah jawara istana yang berjumlah puluhan orang cuma bisa heran bercampur bengong melihat kejadian aneh yang menimpa Pejabat Choman dan 4 pengawalnya.


★☆★☆


"Ajak Bibi Galina masuk ke dalam, Tuan Putri!" pinta Dhafin kepada Putri Lavina. Setelah itu dia melangkah.


"Hati-hati, Kak," pesan Putri Lavina yang tahu akan tindakan Dhafin.


Kemudian dia kembali ke tempat Pelayan Galina dan berdiri di sampingnya seolah menjaganya. Tapi belum mengajak masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Sementara Dhafin terus melangkah. Lalu berhenti di samping Raja Ghanim yang masih bingung melihat nasib Pejabat Choman dan 4 pengawalnya.


"Yang Mulia, ijinkan hamba menyelesaikan masalah ini seorang diri," kata Dhafin seraya sedikit menoleh sedikit melirik. "Hamba harap Yang Mulia tidak mencampurinya."


"Mana bisa begitu, Nak," kata Selir Ashana cepat, tidak setuju. "Kamu melawan mereka seorang diri sama saja bunuh diri. Kamu harus meminta bantuan Yang Mulia."


"Yang Mulia Selir tenang saja," kata Dhafin berusaha menenangkan. "Hamba sudah melumpuhkan biangnya. Tinggal mengurus keroconya saja. Yang Mulia Selir tidak usah khawatir."


Raja Ghanim, Guru Zeroun, serta sepasang pengawal lantas memandang Dhafin secara serempak. Mereka tahu apa yang diucapkan pemuda itu.


Rupanya Dhafin-lah yang membuat Pejabat Choman dan 4 pengawalnya tidak berdaya.


Namun sepertinya Selir Ashana masih belum mengerti apa yang diucapkan Dhafin. Dia cuma memandang bengong pemuda tampan itu.


Sementara Dhafin, tanpa menunggu persetujuan Raja Ghanim kembali melangkah. Saat berpapasan dengan Guru Zeroun, dia cuma menoleh sedikit. Sedangkan dia terus saja melangkah.


Sedangkan Guru Zeroun bukannya tidak mau membantu Dhafin. Namun dia juga tidak bisa bertindak sekehendak hati. Dia akan dicap pemberontak kalau dia membantu Dhafin.


Sementara apa yang dipikirkan oleh Guru Zeroun begitu juga yang dipikirkan oleh Jenderal Kenzie dan istrinya. Mereka hanya bisa berdoa mudah-mudahan Dhafin bisa mengatasi puluhan jawara istana itu.


"Kanda, berikan titahmu untuk membantu Dhafin," pinta Selir Ashana sambil menatap penuh harap.


"Dia tidak mau melibatkan kita," kata Raja Ghanim seperti serba salah.


Mau membantu Dhafin tapi konsekuensinya dia akan dituduh membantu pengacau. Tidak dibantu takutnya Dhafin tidak bisa mengatasi lawan-lawan yang rata-rata berilmu tinggi.


"Yang Mulia tenang saja," kata Guru Zeroun seolah tahu kebimbangan Raja Ghanim. "Kalau pemuda itu dengan mudah melumpuhkan Pejabat Choman, yang di bawahnya lebih mudah lagi."


Lalu dia melonggarkan sedikit belitan mantra pada tubuh Pejabat Choman. Sehingga pejabat culas itu yang tadinya berteriak-teriak kesakitan seketika berhenti.


Kini dia sedikit lega, tidak lagi merasa kesakitan. Tapi tetap saja dia tidak bisa bergerak.


Baru saja Pejabat Choman hendak mendamprat Dhafin terpaksa urung, karena dia melihat Dhafin merentangkan kedua tangannya ke depan. Lalu tangan itu diangkat ke atas sedikit tinggi. Maka kembali terjadi keanehan.


Pejabat Choman dan 4 pengawalnya terangkat melayang di udara setinggi 1 tombak. Terang saja mereka seketika menjerit kaget. Menyusul wajah merasa langsung pias.


Kalau Dhafin mengangkat mereka lebih tinggi lagi, lalu menghempaskan ke tanah dengan kuat, tentu sakitnya tidak tara.


Namun Dhafin kembali melangkah membawa mereka ke hadapan pasukan jawara istana yang kini tengah bersiaga hendak menyerang.


Begitu sudah sampai di depan puluhan jawara istana, Dhafin menurunkan Pejabat Choman dan 4 pengawalnya. Sedangkan mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya manut saja apa yang diperbuat Dhafin.


Sama seperti puluhan jawara istana itu yang belum juga menyerang Dhafin. Padahal pedang mereka sudah terhunus dan sudah tersilang di depan dada.


"Lepaskan aku, Bocah Rendahan!" bentak Pejabat Choman berangnya minta ampun.


"Jangan berteriak-teriak terus, Tuan Pejabat," kata Dhafin sambil tersenyum seolah mengejek. "Nanti tenagamu cepat habis. Ingatlah umurmu sudah tua."


Setelah itu Dhafin memutar lelaki tua itu agar menghadap ke pasukannya, tanpa menghiraukannya yang terus berteriak-teriak. Lalu Dhafin berkata.


"Silahkan kamu perintahkan anak buahmu, yang mana di antara mereka yang kamu inginkan mati duluan."


"Keparat! Kamu sudah berbuat lancang terhadap seorang Pejabat Kepala!" kata Pejabat Choman penuh ancaman.

__ADS_1


Lalu dia memandang pada seluruh anak buahnya, terus memerintahkan untuk menyerang.


"Kalian semua, bunuh bocah sialan ini!"


★☆★☆


Tanpa menunggu 2x belasan jawara istana yang paling depan itu langsung menyerang Dhafin secara bersamaan.


Namun belum juga mereka dapat menjangkau Dhafin, dengan cepat Dhafin mengibaskan tangan kanannya dari kiri ke kanan.


Maka tidak butuh waktu lama gelombang angin panas yang dahsyat seketika menerjang mereka tanpa ampun.


Karena tidak mengira datangnya serangan dan jelas tidak melakukan persiapan, maka gelombang angin panas itu langsung menghantam tubuh mereka hingga terhempas dengan deras ke belakang bagai daun kering.


Sehingga sebentar saja sudah terdengar jeritan-jeritan kematian yang memilukan hati.


Sementara gelombang angin panas yang cukup besar hasil ciptaan Dhafin terus saja bergerak liar menerpa jawara-jawara itu dan puluhan kuda tunggangan mereka.


Maka hasilnya cukup mengerikan. Separuh dari jawara istana tidak sanggup menangkal gelombang itu, sehingga mereka terhempas jauh sambil menjerit keras.


Bukan itu saja. Kuda tunggangan juga ikut terhempas. Sedangkan yang masih hidup langsung berlari serabutan ke sekeliling areal kediaman Selir Ashana. Bahkan ada yang berlari keluar kediaman Selir Ashana.


Sementara jawara yang bisa bertahan tampak cukup kepayahan juga karena perjuangannya menangkal gelombang angin panas ciptaan Dhafin.


Sementara Dhafin sepertinya tidak mau memberi hati lagi pada pasukan istana. Kini di tangan kanannya sudah tergenggam Pedang Akhirat.


Maka dengan kecepatan kilat dia menerjang sisa pasukan yang tinggal berjumlah 30-an itu. Pedang bercahaya biru panas itu diayunkan dengan sebat dan lincah.


Demikian cepatnya dan kuatnya pedang bercahaya biru itu bergerak sehingga pada gebrakan pertama 5 nyawa telah melayang.


Pada gebrakan selanjutnya pasukan istana sudah bisa mengimbangi serangan-serangan dahsyat Dhafin.


Namun begitu pertarungan hampir mencapai sepeminum teh, kembali 5 nyawa melayang. Tak lama kemudian, 5 jawara lagi tumbang dengan bersimbah darah.


Sementara itu Pejabat Choman, demi melihat adegan yang berlangsung di depan matanya, seketika sepasang matanya terbelalak terkejut.


Sungguh dia tidak menyangka kalau kehebatan Dhafin benar-benar di luar dugaannya. Akhirnya dia menyesal membawa pasukan yang cuma sedikit.


Sementara itu pula Yang Mulia sudah masuk ke kediaman Selir Ashana bersama sang istri. Pelayan Galina juga sudah masuk sejak tadi. Namun Putri Lavina tetap di luar, menonton aksi memukau yang diperlihatkan Dhafin.


Jenderal Kenzie dan istrinya berjaga di depan pintu sembari menonton pertarungan. Sedangkan Guru Zeroun berada di samping Putri Lavina.


Sedangkan semua pasukan Raja Ghanim berjaga di sekitar depan pintu kediaman Selir Ashana.


Tanpa terasa pertarungan sudah berlangsung selama sepenanakan nasi. Sedangkan lawan Dhafin tinggal 7 orang jawara.


Namun sepertinya 7 calon mayat itu tinggal menunggu waktu saja akan menyusul kawan-kawannya ke neraka.


Dan benar saja. Pedang Akhirat berkelebat dengan amat cepatnya. Tahu tahu sudah menebas 5 nyawa.


Hampir bersamaan kedua kakinya bergerak dengan cepat. Lalu tanpa ampun 2 kepala terhantam dengan keras dan telak hingga kedua kepala itu pecah. Kemudian pemiliknya tumbang dengan bersimbah darah.


★☆★☆

__ADS_1


__ADS_2