Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 31 APAKAH RASA NYAMAN BERARTI CINTA?


__ADS_3

Aurellia kembali memandang Dhafin untuk kesekian kalinya. Kini tuan muda tampan itu tenggelam dalam semedinya. Sikapnya begitu tenang. Seluruh tubuhnya diam, tanpa ada gerakan sedikitpun laksana patung yang duduk.


Ketika dia menengok Brian, pangeran tampan itu juga tengah larut dalam alam semedinya. Bisa-bisanya dua anak muda itu dalam suasana seperti ini melakukan semedi?


Aurellia belum begitu mengenal Dhafin. Bertemu dengannya pun baru dua kali, empat hari yang lalu saat kembali dari safar jauh dan saat ini.


Sungguh dia tidak pernah menyangka ada seorang tabib yang masih berusia muda seperti Dhafin. Membayangkan saja belum pernah. Bagaimana tingkat kehebatannya dalam dunia ketabiban dia belum bisa menduga-duga.


Namun kenapa hati kecilnya merasa yakin kalau Dhafin bisa menyembuhkannya? Apakah dia terlalu percaya kepala Brian kalau semua teman kakaknya itu pastilah orang-orang yang baik. Karena Brian amat ketat dalam memilih teman.


Sepertinya bukan itu yang memicu keyakinannya. Mungkin inilah takdir baik yang dianugerahkan Penguasa Langit kepadanya.


Untuk menyambut anugerah itu, Penguasa Langit menghembuskan keyakinan di dalam hati kecilnya, agar dia siap menerima anugerah yang besar itu. Takdir kesembuhan akan Penguasa Langit anugerah kepadanya melalui Dhafin.


Mungkin keyakinan itu juga untuk menghilangkan keraguan di dalam dirinya kalau nantinya Dhafin menyentuh tubuhnya yang terlarang secara langsung, itu semata-mata karena memang metode penyembuhan.


Ataukah mungkin ada alasan lain sehingga Dhafin terpaksa harus menyentuh tubuhnya secara langsung?


Akan tetapi apapun itu semua dia harus mempersiapkan hati dan perasaannya untuk menerima bagaimanapun metode Dhafin dalam mengobatinya. Karena hati kecilnya yakin Dhafin pasti bisa menyembuhkannya.


Baru saja dia memantapkan dirinya, terdengar suara Ariesha bertanya dengan nada sopan dan hormat. Suaranya itu sekaligus memecah kebisuan.


"Boleh hamba berbicara, Tuan Putri?"


Aurellia memandang Ariesha sejenak. Lalu berkata bernada penuh persahabatan.


"Aku harap kamu maupun Grania bersikap biasa saja terhadapku, tidak usah berlaku hormat yang berlebihan seperti itu. Bukankah kita sudah berteman? Masa' sesama teman berbicara resmi dan formal?"


"Tuan Putri! Tidakkah itu melanggar etika keluarga istana?" kata Ariesha seolah mengingatkan Aurellia. "Kami mana berani berlaku lancang seperti itu."


Aurellia mengalihkan pandangannya dari Ariesha, lalu memandang lurus ke depan dan berkata.


"Sejak lima tahun yang lalu aku bukan lagi keluarga istana," ungkap Aurellia bernada sedih bercampur kecewa sekaligus mengungkapkan kemarahan.


Seharusnya ketika Aurellia bersedih hati seperti itu racun akan bereaksi. Dan itu amat perih sekali dirasakan Aurellia. Tapi saat ini sepertinya racun tidak bereaksi pada lukanya. Dan dia juga tidak merasakan perih. Apakah hal ini akibat obat yang Dhafin berikan? Tapi Aurellia belum menyadari.


"...Mereka mengeluarkan aku dari tempat yang semestinya masih rumahku juga, hanya lantaran aku terkena penyakit yang mereka anggap kutukan...."


"Maaf, Tuan Putri, kalau ucapan hamba membuat Tuan Putri bersedih hati," kata Aurellia bernada menyesal. Kepalanya sedikit tertunduk antara sikap hormat dan merasa bersalah.


Mendengar ucapan Ariesha yang bernada hormat padanya, Aurellia cepat-cepat menetralkan keadaan dirinya kembali. Lalu memandang Ariesha sambil berkata.


"Bisakah kamu bersikap biasa saja, Ariesha? Apakah aku harus mengulang-ulang permintaanku ini biar kamu menurutinya?"


Aurellia berkata bernada biasa saja, tapi tampaknya seperti merajuk.


"Baik, baik, Tuan Putri! Ham... eh aku akan menurutimu, aku akan menurutimu," kata Ariesha sedikit tergagap dan terkejut mendengar ucapan Aurellia yang seperti kesal karena tidak mau menuruti permintaan itu.


★☆★☆


Melihat sikap Ariesha yang agak konyol itu membuat Aurellia sedikit terhibur. Kalau tidak memakai cadar akan tampak kalau dia tersenyum gembira. Lalu dia beralih memandang Grania yang juga memandangnya.


Tapi gadis pemalu dan pendiam itu, begitu ditatap Aurellia, dia malah langsung tertunduk malu. Seakan merasa kepergok karena terus memandang Aurellia.


Aurellia hanya tersenyum saja melihat sikap gadis berambut coklat kehitaman itu. Lalu kembali memandang Ariesha dan berkata bernada tanya.


"Kamu mau bicara apa, Ariesha?"

__ADS_1


Sikap dan tutur kata Aurellia memang layaknya gadis yang sudah dewasa. Keadaan memang mengharuskannya demikian, mendewasakan dirinya yang masih terbilang gadis kecil.


Kalau dia tidak bersikap dewasa dalam menghadapi musibah yang menimpanya ini, mungkin dari dulu dia sudah bunuh diri karena putus asa.


"Aku... aku hanya mau bilang," Ariesha masih agak canggung bersikap biasa kepada Putri Aurellia, "jika nanti Kanda Dhafin menyentuk tubuh Tuan Putri secara langsung, itu dilakukan amat terpaksa. Aku harap Tuan Putri bisa memakluminya...."


"...Dan kamu harus yakin dan percaya kalau Kanda Dhafin dapat menyembuhkan penyakitmu, Tuan Putri...."


"Ya, aku memang harus yakin dan percaya kalau Kak Dhafin bisa menyembuhkanku...."


"Tapi... kalau dia sedang bersemedi begini, kapan akan mengobatiku?" gumam Aurellia agak bingung sambil memandang Dhafin.


"Apakah kamu sudah siap, Tuan Putri?" tiba-tiba Dhafin bertanya yang membuat Aurellia sedikit terkejut.


"Aku sudah siap," sahut Aurellia setelah menetralkan perasaannya yang tadi sempat terkejut. "Kamu bisa memulainya sekarang."


Dhafin mengeluarkan secarik kain cukup tebal warna hitam dari balik bajunya. Lalu membentuknya sedemikan rupa, terus mengikatnya di bagian kepalanya hingga menutup matanya. Kemudian berkata bernada memerintah.


"Tolong buka sedikit pakaian bagian dadamu, Tuan Putri!"


Aurellia menatap Dhafin sejenak. Melihat anak muda itu menutup mata dengan kain bibirnya mengulas senyum. Sebenarnya dia merasa malu kalau Dhafin melihat dadanya yang hampir dipenuhi luka.


Tapi hatinya tidak juga melarang kalau seandainya Dhafin tidak memakap penutup mata.


Aurellia mengerti perintah itu. Dhafin akan menyalurkan energi penyegel atau lebih tepatnya pelindung dari telapak tangannya ke dalam rongga dadanya melalui dadanya. Dan telapak tangan Dhafin harus bersentuhan langsung dengan kulit dadanya tanpa ada penghalang.


Tapi sebelum Aurellia membuka pakaian bagian depannya, dia menanyakan dulu kepada kedua pelayannya untuk memastikan apakah pintu kamar sudah dikunci.


Begitu Naifa sudah memberi tahu kalau pintu sudah dikunci, Aurellia membuka sabuk logam berwarna kuning keemasan yang melilit pinggangnya. Lalu membuka sedikit pakaian luarnya yang berwarna kuning gading bagian dada.


Di dalam pakaian luarnya ternyata masih ada pakaian warna putih. Lalu disingkap juga tidak terlalu lebar. Dan masih ada lagi pakaian tipis warna hitam berkancing. Lalu dibuka beberapa kancingnya.


★☆★☆


Aurellia dibuat terkejut melihat Dhafin melangkah ke pembaringannya dengan biasa, seperti orang melihat. Padahal matanya ditutup kain cukup tebal. Cepat-cepat dia menguncupkan baju luarnya dengan kedua tangannya hingga menutupi dadanya.


"Kamu bisa melihat?" Aurellia tidak bisa menahan keterkejutannya sambil terus menatap Dhafin yang kini sudah berdiri dekat dengannya. "Padahal kedua matamu tertutup kain...."


"Aku melihat dengan menggunakan mata batin, Tuan Putri," jelas Dhafin, "bukan dengan mata kasar. Kamu tenang saja."


Seolah mengerti Aurellia membuka kembali bajunya yang tadi menguncup. Maka sebagian dadanya yang berbukit kembar yang masih kecil tampak lagi.


Sedangkan Dhafin sudah duduk di depan samping kanan sang putri. Tampak telapak tangan kirinya tegak lurus terbuka ke samping di depan dadanya. Sedangkan telapak tangan kanan perlahan naik menuju dada Putri Aurellia.


"Hhm...."


Aurellia bergumam pelan saat telapak tangan kanan Dhafin yang telah dibungkus sinar putih berbalut sinar kuning bening sudah rapat menyentuh dadanya.


Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam hati Aurellia saat telapak tangan Dhafin menyentuh lembut dadanya. Ya malu, ya risih, ya... seperti ada semacam perasaan aneh muncul tiba-tiba mengusik relung hatinya.


Cuma beberapa saat dia memejamkan mata. Setelah itu kembali menatap Dhafin dengan lekat, dengan lembut.


Sejak pertama kali bertemu, dia mulai kagum terhadap Dhafin. Dan kekaguman itu semakin tebal saat mengetahui tentang pribadi anak muda itu.


Di tengah kekagumannya itu, ada semacam perasaan nyaman ketika memandangnya dan berdekatan dengannya. Seperti yang dirasakan saat ini.


Sedangkan yang ditatap, kepalanya lurus ke depan sedikit tertunduk. Seolah tidak menggubris tatapan Aurellia. Bahkan mungkin juga tidak menggubris perasaannya?

__ADS_1


Tak lama berselang Aurellia merasakan ada semacam hawa hangat merasuk ke dalam rongga dadanya. Lalu hawa hangat itu seolah membungkus seluruh organ dalam di tubuhnya.


Semua orang yang ada di kamar pribadi Aurellia tertegun menyaksikan pekerjaan Dhafin tersebut. Tidak ada yang memicingkan mata barang sebentar saja menyaksikan kejadian aneh sekaligus ajaib itu.


Dhafin bisa menyegel organ dalam orang untuk melindunginya dari racun. Bukankah itu aneh dan ajaib?


Beberapa saat Dhafin menempelkan telapak tangannya di dada Aurellia, kemudian di tarik kembali. Sedangkan hawa hangat masih tetap di dalam rongga dada Aurellia melindungi organ dalamnya.


"Kamu boleh menutup kembali dadamu, Tuan Putri!"


"Aku seperti merasakan hawa hangat di dalam tubuhku," kata Aurellia seakan melapor setelah merapikan kembali pakaiannya.


"Itu hawa penyegel organ dalammu," jelas Dhafin sambil membuka penutup matanya dan memasukkan kembali ke balik bajunya. "Sekarang organ dalammu aman. Jadi, saat aku mengaktifkan racun bisa ular ke seluruh tubuhmu, organ dalammu tidak terkena racun bisa ular."


"Sebenarnya aku masih belum mengerti apa fungsi racun bisa ular itu terhadap penyakitku ini?"


"Untuk mengeringkan luka di tubuhmu akibat Racun Bunga Duka," sahut Dhafin sambil bergingsut ke kaki Aurellia.


Begitu Dhafin sudah duduk di depan ujung kaki Aurellia, lalu dia membuka kaus kaki kiri Aurellia. Maka tampaklah telapak kaki kirinya yang berwarna merah seperti darah. Luka di beberapa bagian itu telah mengering.


"Kamu lihat ini, Tuan Putri!" Dhafin menunjuk luka di telapak kaki kiri Aurellia. "Luka di telapak kakimu ini telah kering akibat dari racun bisa ular."


Bukan hanya Aurellia yang bisa melihat apa yang ditunjuk Dhafin itu. Semua orang yang ada di situ bisa melihat. Kecuali Namira dan Naifa. Karena posisi duduk mereka berada di belakang Dhafin.


Untuk sengaja berpindah posisi demi untuk melihat luka kering majikan mereka, jelas mereka tidak berani. Mereka masih tahu diri sebagai pelayan yang tidak boleh lancang. Meski Aurellia memperlakukan mereka sebagai temannya.


"...Seharusnya," lanjut Dhafin, "kulit di telapak kakimu ini berwarna biru kehitaman. Menjadi merah seperti ini akibat bertemunya Racun Bunga Duka yang sudah mencemari darahmu dengan racun ular berbisa...."


"Kalau tidak salah tadi kamu bilang akan menjalarkan racun bisa ular ke seluruh tubuhku," kata Aurellia bernada ngeri bercampur cemas. "Betul?"


"Ya, betul," Dhafin mengerti apa yang dicemaskan Aurellia. "Dan memang terasa sakit sekali dan panas. Tapi kalau kamu tidak mau merasakannya, aku akan memberimu obat pil penidur biar kamu tidak sadarkan diri."


Aurellia termenung sejenak memikirkan ucapan Dhafin itu. Kalau dia tidak sadarkan diri, itu artinya dia tidak bisa melihat wajah tampan Dhafin yang meneduhkan. Sedangkan wajah teduh itu merupakan sumber kekuatan baru baginya untuk tetap bertahan hidup.


★☆★☆


"Kalau aku meminum pil anti perih, apa masih terasa sakit?" tanya Aurellia berharap tidak sakit. Tapi biarpun sakit, asalkan tetap memandang wajah Dhafin, dia akan menahannya.


Dhafin tidak lantas menjawab pertanyaan itu. Dia cuma tersenyum sambil memandang wajah Aurellia yang masih tertutup cadar sebentar. Lalu beralih mengamati telapak kaki kiri Aurellia yang lukanya sudah mengering.


"Kenapa kamu rela menahan sakit, Tuan Putri?" tanya Dhafin tanpa menoleh, tapi masih tersenyum.


Aurellia berusaha menahan keterkejutan dan kekikukannya mendengar pertanyaan itu. Mana mungkin dia mau berterus terang mengungkapkan perasaannya. Konyol!


Sedangkan Ariesha, dari pertanyaan itu dia dapat memahami kalau obat anti nyeri atau perih tidak berpengaruh terhadap rasa sakit akibat bisa ular yang menjalar di tubuh Aurellia. Meskipun ada pengaruhnya, tapi cuma sedikit saja.


Dan pemahaman Ariesha sama dengan pemahaman Grania. Cuma mereka tidak memahami kenapa Aurellia sampai rela menahan rasa sakit seperti pertanyaan Dhafin?


Sedangkan Brian yang duduk tidak jauh di samping Aurellia amat paham kenapa adiknya itu sampai mau rela menahan rasa sakit tersebut.


Tentulah gadis kecil yang sudah berpikiran dewasa itu tidak mau barang sesaat pun luput dari menatap wajah Dhafin. Brian tahu kalau di dalam hati gadis itu sudah terpupuk perasaan suka terhadap Dhafin.


"Oh Aurellia, kenapa begitu cepat kamu menyukai Dhafin?" batinnya. "Tidakkah kamu sadar kalau lelakimu itu kelak sudah dewasa, pasti banyak gadis-gadis cantik yang akan menyukainya. Tentu kamu banyak saingan nanti...."


Memikirkan hal itu Brian jadi pusing sendiri. Bagaimana kalau kelak Ariesha juga menyukai Dhafin, karena mereka berdua hanyalah saudara angkat?


Tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat nanti mereka akan saling menyukai. Ini yang amat ditakuti olehnya. Itu artinya dia pasti akan....

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2