
Tampak Putri Faniza memacu kudanya dengan laju yang sedang menuju sebuah tempat di suatu pagi yang cerah. Tidak lain dia hendak menemui Chafik di tempat biasa. Maksudnya di tempat biasa Chafik melatih ilmu beladiri serta kesaktiannya.
Sudah hampir sebulan Chafik sering berlatih sendiri, tanpa bergabung dengan rekan-rekannya. Sedangkan pada 5 hari ini dia berlatih tiap hari.
Sejak dia berteman dengan Putri Faniza, cuma putri cantik tapi masih pemalu itu yang menemaninya. Maksudnya menemani Putri Faniza cuma menonton saja.
Tapi terkadang gadis cantik itu memperagakan sendiri adegan beladiri yang dimainkan Chafik. Maksudnya sekedar iseng saja, bukan bersungguh-sungguh.
Awal kali mereka berkenalan ketika Putri Faniza tengah berjalan-jalan sendirian. Tentunya dengan mengendarai kuda. Tanpa sengaja dia sampai ke tempat ini, tempat yang biasa Chafik berlatih.
Ngobrol punya ngobrol ternyata mereka ada kecocokan dalam menjalin pertemanan. Akhirnya mereka berteman hingga sekarang. Bahkan belakangan ini semakin akrab.
Begitu sampai Putri Faniza segera turun dari kudanya. Sejenak dia memperhatikan Chafik yang sedang berlatih memainkan tombak.
Kemudian menambatkan kudanya di pohon kecil yang ada di situ, di dekat kuda Chafik. Lalu pergi menuju pohon tumbang dan duduk di situ. Kembali dia asyik memperhatikan Chafik berlatih.
Sebenarnya dia hendak menghentikan latihan Chafik karena ada hal penting yang hendak ditanyakan atau dibicarakan. Tapi dia tidak tega juga, sepertinya Chafik belum lama berlatih.
Namun tak lama kemudian, Chafik berhenti berlatih. Begitu menyadari kalau Putri Faniza sudah ada di tempat ini dia segera menghampirinya. Setelah duduk di batang pohon tumbang tak jauh di sebelah kiri Putri Faniza, diletakkan tombaknya di dekatnya sebelah kirinya.
"Tumben masih pagi-pagi begini kamu sudah datang," sapa Chafik membuka pembicaraan. "Sepertinya ada hal penting yang kamu hendak sampaikan, Tuan Putri."
"Kak Chafik, katanya sebentar lagi perang melawan Kerajaan Bentala," kata Putri Faniza langsung pada pokok pembicaraan. "Apa benar?"
"Bukankah selama ini perang melawan kerajaan itu sudah berlangsung," sahut Chafik.
"Kalau itu aku sudah tahu," kata Putri Faniza memperbaiki jawaban Chafik yang tidak sesuai keinginannya. "Maksudku penyerangan terhadap Istana Kerajaan Bentala. Apa benar?"
"Iya, benar. Sebentar lagi kita akan menyerang ke sana," sahut Chafik. "Ngomong-ngomong kamu tahu dari mana informasi ini?"
"Kapan, Kak?" tanya Putri Faniza seakan tidak menggubris pertanyaan bernada heran dari Chafik.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Tuan Putri," kata Chafik tetap menagih. "Kamu tahu dari mana?"
"Jawab dulu pertanyaanku, Kak Chafik," kata Putri Faniza tetap ngotot. "Kapan penyerangan terhadap Istana Kerajaan Bentala?"
Chafik menatap Putri Faniza sejenak, lalu melayangkan pandangan ke sekeliling sambil menjawab.
"Pastinya aku belum tahu. Hanya saja rencana-rencana penyerangan sudah dibicarakan. Mungkin dalam dekat ini."
Putri Faniza tidak bertanya lagi. Dia terdiam seakan memikirkan sesuatu. Sedangkan Chafik kembali menoleh kepadanya. Lalu berkata menagih pertanyaannya yang belum dijawab.
"Apa kamu tidak mau menjawab pertanyaanku tadi?"
"Apakah itu penting bagimu, Kak?" Putri Faniza malah bertanya seolah menghindar.
"Asal kamu tahu, informasi mengenai rencana penyerangan terhadap Istana Kerajaan Bentala belum diberitahukan kepada Pasukan Istana Centauri secara umum. Cuma orang-orang tertentu saja yang tahu."
"Adalah aneh kalau kamu yang bukan termasuk jajaran pasukan juga mengetahui. Kamu mengetahui dari siapa kalau begitu?"
"Kalau aku jawab kamu tidak marah?" kata Putri Faniza seperti ragu-ragu.
"Jawab saja, aku tidak marah!"
"Aku... aku... mengetahuinya dari Pangeran... Revan...," sahut Putri Faniza tersendat-sendat seraya kepalanya tertunduk karena menahan malu.
★☆★☆
"Bagaimana ceritanya kamu bisa tahu dari Pangeran Revan?" tanya Chafik tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa selain keheranan.
"Aku... aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan Nona Jessica," sahut Putri Faniza masih malu-malu.
Chafik cuma mengangguk-angguk mendengar jawaban Putri Faniza barusan, tanpa merasa curiga apa-apa.
"Kak, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Putri Faniza setelah agak lama mereka membisu.
"Mau tanya apa?" tanggap Chafik.
"Kalau aku menyukai Pangeran Revan, menurutmu bagaimana?" tanya Putri Faniza berterus terang meski malu-malu.
__ADS_1
"Apa kamu siap bersaing cinta dengan Nona Jessica?" tanggap Chafik dengan nada biasa-biasa saja, tanpa ada rasa cemburu.
"Apa kamu tidak cemburu kalau aku menyukai orang lain?" Putri Faniza malah balik bertanya bernada heran.
"Kamu menyukai orang lain apa urusannya denganku, Tuan Putri," kata Chafik malah heran.
"Selama ini kita bersama kamu tidak ada rasa terhadapku, Kak?" Putri Faniza makin heran.
"Aku hanya menganggapmu sebagai teman, Tuan Putri," kata Chafik jujur. "Aku tidak berani lebih dari itu."
"Kenapa kamu tidak berani menyukaiku?" tanya Putri Faniza menyelidik.
"Hehehe..., kamu tidak menyukaiku. Iya 'kan, Tuan Putri?" kata Chafik bernada bercanda sambil terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Buktinya kamu menyukai Pangeran Revan."
"Kalau aku tidak menyukai Pangeran Revan dan menyukai kamu, bagaimana menurutmu?" kata Putri Faniza malah serius.
"Eh, kamu malah serius," kata Chafik seperti menyesal dengan candaannya.
"Jangan, kamu tidak boleh menyukaiku!" kata Chafik bersungguh-sungguh. "Kamu lanjutkan saja menyukai Pangeran Revan. Aku akan mendukung. Tapi kamu harus siap-siap bersaing cinta dengan Nona Jessica."
"Benaran kamu tidak menyukaiku?" tanya Putri Faniza ingin memastikan lagi.
"Benar, Tuan Putri."
"Kenapa?"
"Aku masih sayang leherku untuk dipenggal oleh Yang Mulia Raja kalau aku menyukaimu," sahut Chafik berkilah.
"Kamu pasti bohong," duga Putri Faniza yakin. "Bukan itu alasannya 'kan?"
Chafik terdiam, tidak menanggapi ucapan Putri Faniza yang benar itu.
"Kamu menyukai seseorang, Kak Chafik?" tanya Putri Faniza menyelidik.
"Orang biasa dan jelek seperti aku ini mana ada yang menyukai, meskipun aku menyukainya," sahut Chafik setengah berterus terang. "Kamu mau menjadi temanku itu sudah merupakan anugerah bagiku."
"Siapa yang kamu sukai, Kak?" tanya Putri Faniza seakan tidak menggubris celotehan Chafik.
"Menurutku kamu memang pantas menyukai Pangeran Revan. Beliau seorang pangeran, dan kamu seorang putri raja. Pasangan yang serasi bukan?"
"Siapa yang kamu sukai, Kak?" tanya Putri Faniza tanpa menggubris celotehan Chafik.
"Sudahlah...."
Kak, katanya kamu mengganggapku sebagai teman," kata Putri Faniza terus memaksa Chafik untuk berterus terang. "Aku juga sudah berterus terang tentang siapa yang aku sukai. Masa' yang kamu sukai kamu tidak mau mengatakan padaku?"
"Aku bukannya tidak mau mengatakannya padamu," kata Chafik mulai luluh. "Aku malu mengatakan padamu. Nanti kamu malah menertawakan aku."
"Katakan dulu siapa yang kamu sukai!"
"Tuan... Putri... Evelyne...," sahut Chafik tersendat-sendat sambil menundukkan kepala karena merasa malu.
"Seleramu ternyata tinggi juga," sambut Putri Faniza dengan sumringah. "Bagus, bagus! Aku mendukungmu, amat mendukungmu!"
"Tapi aku hanya sekedar suka saja loh, Tuan Putri," kata Chafik mengingatkan. "Tidak sampai ingin memiliki."
"Kamu ini bagaimana sih?" protes Putri Faniza. "Yang kamu sukai itu kamu harus memilikinya."
"Bagiku, orang yang aku sukai tidak mesti harus aku miliki," kata Chafik mengungkapkan perasaannya yang terdalam. "Bagiku menyukai sudah cukup."
Putri Faniza terdiam seribu bahasa mendengar ungkapan perasaan sahabatnya itu. Dia demikian, cuma sekedar menyukai Pangeran Revan. Belum sampai berkeinginan ingin memiliki dan dimiliki.
★☆★☆
Rencana penyerangan terhadap Istana Kerajaan Bentala sudah disusun dengan rapi. Strategi dan siasat apa yang diterapkan sudah dirancang.
Siapa yang menjadi Komandan Perang Tertinggi sudah ditunjuk, yaitu Ratu Agung Aurellia.
Sementara Komandan Pasukan juga sudah ditunjuk. Kelompok-kelompok yang bekerja sama dengan Istana Centauri, ketuanya merupakan Komandan Pasukan-nya.
__ADS_1
Kecuali Putri Athalia. Dia menyerahkan jabatan Komandan Pasukan kepada adik laki-lakinya. Karena dia tidak ingin terpisah dengan Dhafin.
Sedangkan Komandan Pasukan Jubah Merah dan pasukan laki-laki pemberian Raja Ghanim dipimpin oleh Pangeran Revan. Sementara Pasukan Istana Centauri Putri dan pasukan perempuan pemberian Raja Ghanim dipimpin oleh Putri Kayshila.
Juga termasuk dalam pasukan ini adalah Sepasang Pengawal; Jenderal Kenzie dan Jenderal Elaina.
Perlu diketahui dalam perang ini 'pasukan rampasan' untuk sementara waktu belum dipakai. Karena mereka masih dalam proses 'pencucian otak' di Istana Centauri. Termasuk bekas murid Perguruan Tapak Sakti.
Nanti setelah mereka selesai menjalani proses pencucian otak barulah mereka bisa dipakai.
Perlu diketahui bahwa dalam perang ini Putri Evelyne maupun Putri Lavina tidak ikut.
Alasannya, Putri Lavina tidak suka peperangan. Dia lebih suka menikmati hidupnya tanpa harus saling menumpahkan darah.
Di samping itu juga dia tidak perduli siapa yang mati dalam perang nanti. Yang penting bundanya sudah aman di Istana Centauri.
Adapun Putri Evelyne, dia melihat perang ini adalah perang saudara. Dia tidak sanggup melihat saudara-saudaranya mati terbunuh di depan matanya. Cukuplah dia melihat Pangeran Marvin, kakaknya mati terbunuh.
Meskipun dia tidak melihat secara langsung kakaknya mati, tapi kematian kakaknya masih membekas dalam ingatannya hingga sekarang.
Dia hanya berpesan agar tidak membunuh bundanya. Dan disetujui oleh kaum elit Istana Centauri kalau Selir Caltha Fiona tidak ikut dalam perang.
Adapun ayahandanya, Raja Ghanim, tidak ada yang setuju saat dia mengajukan untuk tidak membunuhnya. Karena Raja Ghanim termasuk target yang harus mati dalam perang ini.
Dosanya yang telah membunuh Pangeran Agung Ghazam dan kedua istrinya tidak bisa dimaafkan.
Saat Putri Evelyne memohon pada Selir Heliana juga tidak berhasil. Sang selir juga beralasan yang sama.
Saat dia memohon kepada Selir Ashana agar membujuk Selir Heliana untuk meluluskan permintaannya, mengingat Raja Ghanim adalah suami sang selir, Selir Ashana juga tidak bisa.
Dia sudah cukup menderita selama menjadi suami Raja Ghanim. Kalaulah nantinya sang raja yang malang itu mati dalam perang ini, itu sebagai penebus dosanya selama ini.
Meskipun hati kecilnya tidak merelakan Raja Ghanim mati, tapi hal itu pantas baginya.
Alternatif terakhir Putri Evelyne memohon kepada Dhafin agar membujuk Ratu Aurellia untuk mempertimbangkan permintaannya itu.
Akhirnya Dhafin meminta untuk bertemu dengan Ratu Aurellia, Selir Heliana, Pangeran Nelson, Putri Clarabelle, Putri Richelle, Pangeran Revan, Putri Kayshila, dan Zafer. Mereka semua itu adalah jajaran keluarga.
Hadir juga di situ Putri Evelyne sendiri sebagai pemohon.
Dhafin mengajukan permohonan Putri Evelyne kepada hadirin agar Raja Ghanim tidak terhitung dalam target dalam perang ini.
Dia mengajukan beberapa alasan. Di antaranya Raja Ghanim sudah bertobat dari dosa-dosanya yang telah lalu. Juga kondisi terakhir Raja Ghanim sudah menjadi tahanan Bunda Suri Helen Gretha.
Semua alasan Dhafin tidak diterima semua yang ada di situ. Malah Selir Heliana suatu rahasia siapa Dhafin sesungguhnya.
"Hatimu itu sebenarnya terbuat dari apa, Ghavin cucuku? Ayahandamu dan bundamu mati dibunuh oleh penjahat itu, kamu masih mengajukan agar tidak membunuhnya."
Terang saja semua orang yang ada di situ kaget mendengar ucapan Selir Heliana barusan, termasuk Dhafin dan Putri Evelyne.
Ratu Aurellia, Putri Kayshila dan Zafer kaget bukan kerena Selir Heliana menyebut nama asli Dhafin. Tapi mereka kaget karena dari mana Selir Heliana tahu nama asli Dhafin. Yang artinya pula telah tahu Dhafin itu siapa.
Sedangkan yang lain, meskipun sudah menduga kalau Dhafin adalah Pangeran Agung Ghavin Aldebaran, tapi tak urung kaget juga saat Selir Heliana menyebutnya secara yakin.
"Aku sudah mengetahui siapa dirimu, cucuku," lanjut Selir Heliana. "Kamu tidak bisa lagi menutup diri dari kami."
Lalu dia menjelaskan dari mana dia tahu siapa Dhafin sebenarnya, yaitu dari 3 peramal sakti. Juga menjelaskan hal-hal penting dari keterangan 3 peramal sakti itu yang perlu diketahui oleh jajaran keluarga yang ada di ruangan pertemuan di kediaman Selir Heliana.
Setelah mendengar penjelasan Selir Heliana yang gamblang itu dan mendapat pengakuan dari Dhafin, semua jajaran keluarga menjadi gembira, bahkan amat gembira.
Sedangkan Putri Evelyne jadi terdiam begitu mengetahui siapa Dhafin sebenarnya. Orang yang pernah dia sukai ternyata adalah saudara sepupunya.
Sementara Dhafin karena sudah ditahu siapa dirinya, sejenak dia tidak bisa berkata apa-apa. Tapi tak lama Dhafin mengajukan lagi permohonan Putri Evelyne itu.
Akan tetapi para hadirin tetap tidak bisa meluluskan permohonan itu. Apalagi mengetahui kalau Dhafin alias Pangeran Ghavin adalah Pangeran Agung yang tidak boleh lembek dalam perkara ini.
Terutama yang bersikukuh mengharapkan kematian Raja Ghanim adalah Putri Kayshila.
Akhirnya Dhafin meminta maaf kepada Putri Evelyne karena tidak bisa membantunya dalam perkara ini. Mengingat kesalahan Raja Ghanim sudah teramat besar yang tidak bisa dimaafkan.
__ADS_1
Tapi Pangeran Ghavin berjanji akan menyelamatkan bundanya, sesuai yang disepakati oleh hadirin.
★☆★☆★