
"Ah tidak apa-apa...," kilah Aurellia sambil menatap ke lain arah. "Aku memang terbiasa menahan rasa sakit."
"Baiklah, aku akan memberimu obat penahan rasa sakit dua butir."
Lalu Dhafin memerintahkan Ariesha untuk memberi pil obat yang dimaksud kepada Aurellia. Tanpa berlama-lama Aurellia langsung meminum dua obat anti perih setelah menerima dari Ariesha.
"Sebaiknya kamu berbaring, Tuan Putri!" pinta Dhafin. "Biar penyebaran racun bisa ular berjalan dengan cepat di seluruh tubuhmu."
Putri Aurellia tidak membantah. Mengambil sebuah bantal dan memposisikan di kepala, lalu dia berbaring terlentang. Sebelumnya memberikan dua buah bantal pada Dhafin karena anak muda itu memintanya.
Setelah Aurellia berbaring, Dhafin meletakkan dua bantal tadi di bawah kaki kiri Aurellia. Setelah itu meminta ijin untuk menyingkap sedikit kain bawah Aurellia.
Setelah Aurellia mengijinkan, Dhafin menaikkan kain bawah Aurellia berikut celana panjangnya hingga sebatas lutut. Lalu berkata bernada mengingatkan.
"Siap-siap, Tuan Putri! Aku akan mengaktifkan racun bisa ular."
Aurellia hanya mengangguk sambil terus menatap Dhafin.
Kemudian Dhafin membuka totokan di sekitar betis atas yang menahan penyebaran racun. Dan belum lama penyumbat racun dibuka, racun bisa ular seketika menyebar cukup cepat naik hingga ke paha Aurellia.
Selagi racun menyebar, Dhafin membuka kaus kaki kanan berikut kedua kaus tangan Aurellia. Setelah itu, untuk lebih cepat penyebaran racun, Dhafin membantunya dengan menyalurkan energi batin bersama energi ghaib ke tubuh Aurellia.
Tangan kanan Dhafin menggenggam telapak kaki kiri Aurellia yang mungil. Tidak lama kemudian, energi batin bersama energi ghaibnya telah mengalir ke tubuh Aurellia. Dua energi itu memacu dengan cepat penyebaran racun bisa ular ke seluruh tubuh Aurellia.
Ini kali pertama Dhafin menggunakan energi ghaibnya dalam melakukan pengobatan. Sebelumnya belum bisa karena belum efektif dalam pengobatan.
Energi ghaib baru bisa efektif saat tiga energi inti sudah mencapai tingkat tujuh. Sedangkan tiga energi inti itu tidak akan mencapai tingkat tujuh sebelum kekuatan atau energi batinnya mencapai tingkat tujuh pula.
Berkat ketekunannya dalam bersemedi satu pekan yang lalu kekuatan batinnya telah mencapai tingkat tujuh. Dan otomatis energi inti penyembuh, energi inti panas, dan energi inti dingin ikut naik ke tingkat tujuh.
Mulanya Aurellia belum merasakan perih pada kulitnya. Tapi rasa hangat mulai terasa. Lama kelamaan rasa hangat berubah menjadi panas, bersamaan rasa perih di permukaan kulitnya mulai terasa.
Begitu sepenanakan nasi berlalu, rasa panas di sekujur tubuhnya sudah seperti berada di bawah terik matahari di siang bolong. Dan rasa perih di kulitnya, terutama di lukanya semakin terasa.
Namun sekuat tenaga Aurellia menahan penderitaan itu demi agar dirinya tetap sadar. Demi agar dia tetap melihat Dhafin, demi agar dia tetap merasakan kehadiran Dhafin.
"Kalau kamu tidak kuat, aku akan memberimu pil penidur, Tuan Putri," kata Dhafin amat menyarankan. Terdengar dari nada suaranya seperti memohon.
"Iya, Tuan Putri," sambung Ariesha yang tidak tahan melihat Aurellia menahan sakit seperti itu. "Aku akan memberimu pil penidur ya!"
"Kalian tenang saja, aku masih bisa menahannya," Aurellia berusaha tetap tegar. Tapi suaranya seperti orang kelelahan.
"Kanda! Berapa lama lagi Tuan Putri harus seperti ini?" pertanyaan itu seolah memaksa Dhafin untuk cepat meyelesaikan penyembuhannya.
"Tidak lama lagi," sahut Dhafin.
Tampak Dhafin memeriksa luka-luka yang mengering di kedua kaki dan tangan Aurellia. Lalu memeriksa luka-luka di jidat gadis itu. Semuanya telah mengering. Dan kini seluruh kulit tubuh dan wajah Aurellia berubah berwarna merah.
★☆★☆
Dhafin merasa sudah cukup proses pengeringan luka dengan menggunakan racun bisa ular. Langkah selanjutnya mengeluarkan racun bisa ular. Dan tahap ini Dhafin mesti mengalami kebingungan kalau mengobati perempuan.
Masalahnya, dia harus menyalurkan energi inti penyembuh dan energi inti dingin berikut energi inti ghaib yang sudah menyatu dengan kekuatan batinnya ke dalam tubuh Aurellia melalui telapak tangan. Sedangkan telapak tangan itu harus menyentuh langsung tubuh Aurellia tanpa perantara.
Baik Brian maupun Ariesha tahu apa yang diresahkan oleh Dhafin. Memang tingkat kekuatan Dhafin saat ini masih belum bisa menyalurkan energinya ke dalam tubuh Aurellia dalam keadaan tubuh Aurellia ada penghalangnya.
__ADS_1
Sedangkan Grania, meski tahu Dhafin tengah bingung dan resah, tapi tidak tahu apa yang dibingungkan dan diresahkan.
Semetara Aurellia yang berperasaan sama dengan Grania, langsung bertanya kepada Dhafin. Saat ini dia masih berjuang menahan rasa sakit dan panas di tubuhnya.
"Ada apa, Kak Dhafin? Kamu sepertinya resah. Apa mengeluarkan racun bisa ular di dalam tubuhku susah?"
"Mengeluarkan racun bisa ular di tubuhmu tidak susah, Tuan Putri," Ariesha yang menyahuti. "Tapi...."
"Tapi apa, Ariesha?" tanya Aurellia penasaran.
"Begini, Tuan Putri," Ariesha mengatur ucapannya agar bisa diterima dengan baik oleh Aurellia. "Mengeluarkan racun bisa ular di tubuhmu tidak susah bagi Kanda Dhafin...."
"...Biasanya," lanjutnya, "Kanda menyalurkan energinya ke dalam tubuh pasien untuk mengeluarkan racun dengan menggunakan telapak tangan...."
"...Tapi telapak tangan Kanda harus menyentuh langsung dengan tubuh pasien, tanpa penghalang, agar energi Kanda cepat masuk ke dalam tubuh pasien. Biasanya Kanda menyalurkan energinya melalui punggung."
Aurellia tertegun sejenak memikirkan semua ucapan Ariesha. Sebenarnya sejak awal hatinya memang sudah menerima apapun cara atau metode pengobatan Dhafin. Termasuk Dhafin menyentuh tubuhnya.
Namun metode Dhafin itu mengharuskan dia bertelanjang setengah badan. Makanya sekarang dia jadi bimbang seolah melupakan tekad awalnya.
Apakah dia rela bertelanjang demi untuk memperoleh kesembuhan? Tentu tubuhnya yang berkulit buruk akan dilihat orang-orang yang ada di kamar ini.
"Aku rasa tidak ada alasan untuk kamu sungkan atau malu terhadap kami, Tuan Putri," tutur Ariesha tahu apa yang dipikirkan Aurellia. "Karena kita semua di sini adalah orang sejawat...."
"Yakin dan percayalah hal itu tidak masalah. Lagipula Kanda akan menutup matanya. Begitu juga dengan Kak Brian."
Akhirnya setelah diberi pengertian oleh Ariesha, Aurellia mau menerima sepenuh hati metode pengobatan Dhafin.
Maka tidak lama kemudian, Dhafin sudah duduk di belakang Aurellia yang setengah telanjang. Dhafin yang sudah memakai penutup mata menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Aurellia.
Tiga macam energi yang saling berbalut yang keluar dari telapak tangan Dhafin menjalar cukup cepat ke seluruh tubuh Aurellia. Bersamaan dengan itu hawa dingin yang sejuk merasuk ke dalam tubuhnya.
Sehingga tak butuh waktu lama, sinar kuning bening berbalut sinar putih dan putih bening membungkus seluruh tubuh Aurellia dari kepala hingga kaki.
Begitu dua kali penanakan nasi berlalu, tampak uap tipis warna merah pudar keluar dari kepala dan tubuh Aurellia. Kemudian uap itu lenyap begitu saja di udara.
Hampir bersamaan waktunya warna merah pada kulit Aurellia mulai pudar. Lama kelamaan berubah menjadi warna kulitnya yang asli. Namun tampak berbelang-belang bekas kulit lukanya yang terkelupas.
★☆★☆
Kurang lebih tiga kali penanakan nasi, racun bisa ular di tubuh Aurellia sudah hilang. Tubuh dan wajah Aurellia kembali berwarna putih belang-belang. Dan saat itu juga segel pelindung organ dalam di dalam tubuh Aurellia dicabut kembali oleh Dhafin.
Selanjutnya, tinggal mengatasi Racun Bunga Duka dan menormalkan kembali kulit Aurellia yang kini tampak berbelang-belang.
Sebagian penyakit Aurellia di tubuhnya sudah teratasi. Luka-luka yang menyebar di sebagian besar tubuhnya sudah mengering dan sembuh akibat racun bisa ular. Dan racun tidak lagi bereaksi di kulit tubuhnya.
Sekarang tinggal menghilangkan sisa racun yang masih mengendap di peredaran darah Aurellia. Pengobatan ini tidak perlu lagi dengan menyalurkan energi ke dalam tubuh. Cukup dengan meminum obat pil.
Sesuai anjuran Dhafin, untuk hari pertama Aurellia harus meminum dua butir obat sebanyak empat kali. Hari berikut Aurellia hanya meminum tiga kali tapi tetap dua butir.
Perlu diketahui, semenjak energi ghaib Dhafin sudah mencapai tingkat tujuh, semua obatnya baik itu pil, serbuk, maupun ramuan atau yang lain, semua diisi mantra ghaib. Tuannya agar keefektifannya berlipat ganda.
Untuk mengatasi belang-belang pada tubuhnya dan bau yang tidak sedap menguar dari tubuhnya, pengobatannya cukup dengan mandi.
Maka hari itu juga, yang waktu itu sudah siang, Aurellia mandi di ruang mandinya yang cukup luas. Air mandi Aurellia bukan air mandi biasa. Melainkan dicampurkan oleh tiga ramuan sekaligus oleh Ariesha dan Grania. Tentu sesuai anjuran Dhafin.
__ADS_1
Tiga ramuan itu antara lain ramuan serbuk anti racun. Serbuk ini membantu obat pil anti racun yang diminum agar proses pembersihan racun di dalam tubuh Aurellia lebih cepat dan lebih efektif.
Dua ramuan lainnya yaitu serbuk penghilang belang bekas luka pada tubuh dan penghilang bau busuk pada tubuh akibat luka Racun Bunga Duka.
Sebelum Ariesha dan Grania memandikan Aurellia, tidak lupa Dhafin mengisi mantra ghaib pada air mandi Aurellia yang sudah dicampur tiga ramuan serbuk tersebut.
Dan di siang itu pula Aurellia harus mandi dua ember air besar yang sudah disiapkan oleh Namira dan Naifa yang juga turut membantu proses pengobatan.
Proses pemandian ini Aurellia pastinya tanpa sehelai kain pun di tubuhnya, agar air ramuan obat bisa terguyur secara langsung di tubuhnya dan lebih sempurna. Dan cara memandikannya Ariesha dan Grania mengguyurkan air ramuan di tubuh Aurellia dari atas kepala.
Karena Dhafin mengisi energi panas pada air ramuan itu juga, maka tampak di sekujur tubuh dan kepala Aurellia menguarkan uap tipis warna putih dan kuning yang berpadu.
Tampak kulit luka yang berwarna coklat kehitaman yang sudah memgering mulai berguguran dari tubuh Aurellia satu demi satu. Dan begitu air ramuan pada ember pertama habis, sebagian besar kulit bekas luka sudah berguguran.
Dan begitu air ramuan pada ember ke dua habis, maka kulit bekas luka di tubuh Aurellia sudah hilang semua. Tinggal belang bekas luka yang masih setia di tubuhnya. Tapi bau busuk pada tubuh Aurellia sudah tidak menyengat lagi.
Perlu diketahui, selama proses pemandian Aurellia, Dhafin maupun Brian tidak ada di ruang mandi. Setelah melakukan tugasnya; mengontrol pemberian ramuan pada air mandi dan mengisi mantra ghaib pada air mandi, Dhafin keluar.
Sedangkan Brian yang tidak punya tugas selain hanya memperhatikan metode pengobatan juga ikut keluar.
★☆★☆
Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil....
Kurang lebih dua setengah hari Aurellia melakukan pengobatan terhadap penyakitnya akibat terkena Racun Bunga Duka.
Hari pertama Aurellia meminum obat empat kali dua butir. Dan mandi air ramuan tiga kali; menjelang pertengahan siang, sore hari dan menjelang pertengahan malam.
Di hari pertama pengobatan racun belum tuntas tapi cukup membawa hasil yang besar. Bau busuk di tubuh Aurellia sudah hilang. Kulit bekas luka juga sudah hilang. Tinggal belang bekas luka, tapi sudah memudar setengahnya.
Barulah hari kedua Aurellia hampir dinyatakan sembuh oleh Dhafin yang tiap kali pengobatan melakukan pemeriksaan. Racun di tubuhnya nyaris hilang. Belang pada permukaan kulitnya nyaris hilang juga.
Dan pada hari kedua ini ramuan mandi Aurellia ditambah dengan ramuan kecantikan. Ramuan ini bukan hanya menghilangkan bau badan, tapi juga membuat tubuh Aurellia menjadi wangi.
Perlu diketahui, selama mengobati Aurellia, terpaksa Dhafin harus menginap di Istana Kejora. Sedangkan Ariesha dan Grania, karena mereka termasuk yang memandikan Aurellia selain Namira dan Naifa, juga harus menginap.
Apalagi Aurellia yang meminta kedua gadis itu menginap di istananya. Dan Aurellia hanya mau kedua gadis itu yang memandikannya selain kedua pelayan setianya.
Siang itu Aurellia sudah selesai mandi ramuan yang ke dua pada hari ke tiga. Dia juga sudah bersalin pakaian yang bercorak indah. Saat ini dia tengah duduk bersandar di tepi pembaringannya di kamar pribadinya.
Sedangkan Brian, Ariesha dan Grania serta dua pelayan setia Aurellia juga berada di rungan ini. Sementara Dhafin saat ini seperti biasa melakukan pemeriksaan terhadap Aurellia.
Tampak anak muda itu memegang kaki kanan Aurellia yang putih dan muluuus. Mengangkat sedikit lalu mengamatinya cukup dekat. Mengelusnya dengan lembut sebentar.
Lalu berpindah ke tangan kanan Aurellia dan melakukan pemeriksaan yang sama seperti pada kaki. Dan kali ini melakukan pemeriksaan tambahan, yaitu mencium punggung pergelangan tangan Aurellia yang kini sudah berubah menjadi amat cantik dengan kulit putih mulus.
Semua apa yang dilakukan Dhafin tersebut tidak pernah lepas dari tatapan kedua mata Aurellia yang semakin indah. Saat Dhafin memegang kaki maupun tangannya, hatinya seketika berdesir halus. Desiran itu semakin terasa ketika Dhafin mengelus lembut keduanya.
Sekarang, bukan hanya hatinya yang berdesir. Jantungnya juga berdebar agak kencang. Betapa tidak? Wajah Dhafin yang tampan itu berada dekat dengan wajahnya yang tanpa cadar kurang Dhafin dua jengkal.
Maksud perbuatan Dhafin sebenarnya tidak lain melakukan pemeriksaan pada mata, wajah berikut bibir si gadis. Tapi kenapa Aurellia malah mengartikan lain?
Perasaannya semakin tidak karuan manakala wajah Dhafin menarik senyum. Dan jantungnya kini semakin berdetak kencang saat wajah tampan itu seketika mendekat perlahan ke bibirnya yang terbuka sedikit.
Sepasang matanya tidak sanggup lagi melihat adegan selanjutnya. Ditutupnya rapat-rapat seolah pasrah saja Dhafin mau apa....
__ADS_1
★☆★☆★