Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 93 BERHASIL MEMASUKI PENJARA BAWAH TANAH


__ADS_3

Setelah mengajak Gibson yang dijuluki Pendekar Penyair dan Fariza untuk meninjau kembali bangunan penjara bawah tanah, keempat pemuda-pemudi itu berunding tentang cara masuk ke dalam penjara itu yang lebih aman, tidak menimbulkan kegaduhan.


Perlu diketahui bahwa ketika mereka meninjau kembali penjara itu, ternyata sudah tidak dipagari oleh tirai pelindung ghaib lagi.


Akan tetapi di sekeliling bangunan itu di jaga ketat oleh pasukan elit istana dan jawara istana. Belum lagi di dalam bangunan itu, tentu lebih ketat lagi penjagaannya.


Dan ketika Dhafin melacak kembali keluarganya dan orang-orang yang ingin diketahui keberadaannya yang pernah dia kenal dengan Ilmu Pelacak Aura Sukma, dia mendapati mereka semua berada di penjara itu. Termasuk yang ada yaitu Raja Darian Cashel.


Ada satu cara yang mereka sepakati untuk bisa masuk ke dalam penjara itu tanpa berbuat onar. Yaitu dengan mereka menyamar sebagai prajurit militer.


Namun cara ini gampang-gampang susah juga. Mereka harus mencuri seragam prajurit dulu kalau begitu. Dan juga mereka harus merubah sedikit penampilan wajah kalau tidak ingin dicurigai dengan cepat.


Selesai membahas masalah itu, timbul persoalan lagi, kalau mereka berhasil masuk ke dalam, akan dibawa ke mana orang-orang yang akan diselamatkan itu?


Gibson langsung mengusulkan agar semua orang yang akan diselamatkan dievakuasi ke Kampung Naraya di ujung wilayah utara Kerajaan Bentala.


Tentu saja Dhafin tampak sedikit kaget saat Gibson menyebut daerah itu. Dengan bantuan gurunya dia ingat kalau pernah tinggal selama 5 tahun di daerah itu. Lebih tepatnya di Kampung Naraya.


Di belakang hutan Kampung Naraya ada jurang yang maha dalam. Di situlah dia pernah jatuh saat umurnya baru berusia 5 tahun. Setelah sebelumnya dia menyaksikan bibinya dibantai oleh 5 prajurit istana.


Dia masih ingat wajah kelima prajurit istana itu. Suatu saat dia akan membuat perhitungan dengan mereka.


"Kenapa kamu menyarankan harus mengevakuasi ke Kampung Naraya?" tanya Dhafin bernada heran. "Apa kamu mengenal tempat itu?"


Saat ini mereka tengah berada di sebuah hutan di luar kotaraja. Waktu itu malam sudah menenggelamkan mayapada dalam kegelapan.


Mereka tidak mau mengambil resiko untuk menginap di kampung terlebih lagi di kota. Karena mereka telah mendapat kabar kalau pihak istana tengah mencari pembunuh Penyair Pemetik Bunga.


Kemudian Gibson menceritakan secara singkat kenapa dia bisa mengetahui Kampung Naraya.


"Siapa itu Pangeran Revan?" tanya Kayshila saat Gibson telah selesai bercerita.


Yang menjawab pertanyaan itu adalah Fariza. Meski dia menuturkan secara singkat tapi cukup jelas. Yang intinya menjelaskan kalau Pangeran Revan termasuk keturunan mendiang Raja Neshfal Abraham.


Gibson menambahkan kalau Pangeran Revan merupakan Komandan 2 di Markas Centaurus. Sedangkan Komandan 1 adalah Pangeran Nelson Adelard.


Juga memberi tahu kalau Pangeran Revan adalah keponakan Pangeran Nelson yang juga sama-sama keturunan mendiang Raja Neshfal Abraham.


Dhafin sebenarnya kaget setelah mengetahui kalau Pangeran Revan ternyata saudara seayahnya. Dan kaget juga kalau ternyata Pangeran Nelson yang akan dia dan Kayshila temui adalah termasuk pamannya. Yang tentunya juga adalah paman Kayshila.


Tapi Dhafin masih bisa menyembunyikan keterkejutannya. Lain halnya dengan Kayshila, dia tidak sanggup menahan keterkejutannya dan langsung menatap Dhafin lekat-lekat.

__ADS_1


Dia tidak menyangka kalau Pangeran Nelson yang akan menjelaskan siapa orang tuanya sebenarnya adalah termasuk paman kekasihnya itu.


Tapi sampai sejauh ini dia belum curiga kalau dia dan Dhafin adalah satu ayah. Dia tidak mau berpikir macam-macam dulu. Kejelasan semuanya nanti setelah dia bertemu dengan Pangeran Nelson.


Lain halnya dengan Dhafin. Setelah mengetahui fakta terbaru ini, maka sebuah firasat seketika terbetik dalam hatinya bahwa jangan-jangan antara dia dengan Kayshila ada hubungan keluarga, lebih tepatnya saudara seayah.


Kalau sampai hal itu terjadi maka hubungan asmara di antara mereka tidak bisa berlanjut. Karena mereka masih satu darah.


Sedangkan di sisi lain, dia harus memendam kekecewaan lagi. Wanita yang berhati baik yang sudah dia cintai tidak bisa dimiliki. Karena ternyata gadis yang dicintai itu adalah saudara seayahnya.


Memikirkan hal itu membuat hati Dhafin terasa amat sakit sekali bagai teriris-iris.


Namun kalau memang kenyataanya seperti itu, dia harus menerima takdir. Meskipun amat pahit dia rasakan yang pahitnya mengalahkan empedu.


Kalau sudah begitu apa mau dikata, dia harus mencari wanita lain lagi sebagai kekasihnya, yang kebaikannya setara dengan Kayshila.


Namun apakah dia akan menemukan lagi wanita cantik yang kebaikannya sama dengan Kayshila?


Satu gadis yang dia tahu saat ini yang kebaikannya sama dengan Kayshila adalah Putri Agung Aurellia. Namun apakah dia berjodoh dengan gadis yang kecantikannya merupakan hasil dari buah karyanya?


Entah di mana gadis itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Tentu di usia yang sudah dewasa begini wajahnya pastilah semakin cantik laksana bidadari.


★☆★☆


Barulah hari ke 4 mereka menemukan yang mereka cari.


Lima orang prajurit militer istana tampak keluar dari dalam kedai menuju penambatan kuda yang ada di depan kedai. Langkah mereka begitu lebar-lebar dan cepat-capat.


Begitu mereka sudah berada atas kuda masing-masing, lalu membedal perut kuda dengan kaki mereka, maka tanpa tanggung-tanggang kelima kuda itu sektika berlari dengan kencang menyusuri jalan utama kota.


Saat itu hari sudah hampir malam. Kegelapan mulai menenggelamkan mayapada.


Tidak lama kemudian, 5 pengendara kuda ini sudah meninggalkan batas kota. Kini mereka tengah menyusuri sebuah jalan yang di kiri kanannya tumbuh pepohonan yang cukup rapak.


Belum lama mereka memacu kudanya dengan kencang, seketika mereka menghentikannya kuda tunggangan masing-masing dengan tiba-tiba. Apa sebabnya?


Ternyata 4 tombak di depan mereka sudah berdiri Dhafin sambil sedikit merentangkan kedua tangannya. Belum juga 4 prajurit militer itu dapat melakukan sesuatu, tiba-tiba mereka merasakan leher mereka menebal bagai dicengkeram oleh tangan yang besar.


Dan begitu Dhafin mengkeremus telapak tangan kananya, leher keempat prajurit militer itu langsung remuk. Tak lama mereka langsung tersungkur jatuh ke tanah dengan sudah tanpa nyawa.


Hampir bersamaan waktunya muncul dari atas pohon serta balik pohon Gibson, Fariza, dan Kayshila. Sementara Dhafin mendekati mayat prajurit militer yang terkapar diam di dekat kaki kuda mereka.

__ADS_1


Tak lama kemudian, keempat pemuda itu sudah memakai seragam 4 prajurit militer. Lalu mereka membuang mayat prajurit militer itu ke tengah hutan yang ada di pinggir jalan penggunung ini.


Setelah memperbaiki kembali atribut penyamaran mereka, kemudian mereka menaiki kuda, lalu memacu dengan kencang tunggangan mereka menuju kotaraja.


★☆★☆


Dengan sewajar mungkin Dhafin, Gibson, Fariza dan Kayshila melakukan penyamaran. Untung saja seragam prajurit dilengkapi dengan topi prajurit. Jadi, rambut mereka yang panjang bisa dimasukkan ke dalam topi.


Setelah turun dari kuda masing-masing, Dhafin dan kawan-kawannya mulai berjalan menuju pintu masuk penjara bawah tanah.


Penjagaan begitu ketat di pintu masuk itu dan penjaganya demikian banyak. Namun baik Dhafin, Gibson, Fariza maupun Kayshila berusaha untuk tidak melakukan atau bertingkah laku yang mencurigakan.


Sebenarnya Fariza dan Kayshila berdebar-debar jantung mereka melakukan tugas ini. Namun mereka tetap berusaha sesantai mungkin dan tidak tegang agar penyamaran mereka berjalan mulus.


"Selamat malam, semuanya," sapa Dhafin basa-basi kepada orang-orang yang menjaga pintu.


"Selamat malam, Komandan," balas semua penjaga itu nyaris serentak. Dari ekpresi dan sikap yang mereka tunjukkan, para penjaga itu belum menyadari kalau ada penyusup yang akan memasuki pertahanan mereka.


Dhafin dan rombongannya terus saja masuk begitu pintu masuk dibuka oleh seorang penjaga. Dan pintu kembali ditutup begitu mereka sudah masuk ke dalam.


Dhafin masih hapal betul seluk beluk penjara bawah tanah ini karena dia dan Brian pernah masuk ke sini. Jadi dia jalan bagian depan, sedangkan 3 yang lain mengikutinya dari belakang.


Mereka terus saja berjalan tanpa henti menyusuri anak tangga penurunan yang lumayan banyak. Bau apek dan lembab mulai terasa mengganggu hidung.


Begitu mereka hendak memasuki sebuah pintu menuju kamar penjara, Dhafin memberi isyarat kepada Gibson dengan kedipan mata.


Gibson paham kalau saatnya mereka beraksi untuk melumpuhkan penjaga pintu kamar tahanan yang cuma dijaga 2 orang.


Fariza dan Kayshila dibiarkan masuk duluan dan langsung menuju kamar tahanan. Sedangkan Dhafin dan Gibson, begitu sudah berada dekat di samping penjaga pintu, mereka melakukan gerakan yang amat cepat yang sukar diikuti oleh pandangan mata biasa.


Dengan keras dan kuat berisi tenaga dalam tinggi telapak tangan kanan Dhafin yang memerah bara menghantam kepala penjaga sebelah kiri hingga kepalanya hancur berantakan berikut dengan topi prajuritnya.


Darah segar bercampur otak yang sudah mencair menjiprat ke tembok ruangan. Sedangkan penjaga itu langsung jatuh tanpa sempat menjerit.


Sedangkan kepalan Gibson yang memancarkan sinar hijau langsung menghantam kepala penjaga sebelah kanan hingga kepala itu hancur bersama topi prajurit.


Setelah mereka melumpuhkan 2 penjaga pintu dan memasukkannya ke dalam, Dhafin segera menyegel pintu yang menjadi penghubung ke kamar tahanan dengan mantra ghaibnya.


Setelah itu mereka melangkah menyusul Fariza dan Kayshila menuju kamar tahanan.


★☆★☆

__ADS_1


__ADS_2