
Keberadaan Dhafin di kotaraja sudah diketahui oleh orang-orang penting istana. Seperti Bunda Suri Hellen Gretha, Pejabat Choman Gerald, dan Raja Ghanim Altezza.
Bunda Suri Hellen dan Pejabat Choman jelas langsung mencurigai keberadaan Dhafin. Apalagi mereka mendapat laporan bahwa Dhafin telah membunuh semua prajurit yang mengawal Putri Lavina.
Maka saat itu juga Bunda Suri Hellen memerintahkan Raja Ghanim untuk menangkap Dhafin. Namun Raja Ghanim tidak terlalu merespon perintah itu. Dia sengaja mencari alasan agar Dhafin tidak cepat-cepat ditangkap.
Perlu diketahui, Raja Ghanim sebenarnya memiliki pasukan terselubung yang berkekuatan tidak sedikit. Juga memiliki pasukan rahasia yang melaporkan apa saja yang terjadi di luar istana.
Dia mendapat laporan dari salah seorang kepercayaannya kalau kedatangan Dhafin di kotaraja dibawa oleh putrinya. Dan tujuan putrinya membawa Dhafin ke kotaraja adalah untuk menyembuhkan istri ke 4-nya.
Makanya dia berusaha mengulur-ulur waktu untuk tidak segera menangkap Dhafin.
Tapi, karena Raja Ghanim tidak segera melaksanakannya, Bunda Suri Hellen segera memerintahkan Pejabat Choman yang mengurus hal itu.
Maka Pejabat Choman memerintahkan pasukannya ke kediaman Selir Ashana Bellanca untuk menangkap Dhafin.
Namun apa lacur, pasukan istana itu jangankan berhasil menangkap Dhafin, masuk ke gerbang kediaman Selir Ashana saja mereka tidak bisa. Seperti ada tembok ghaib yang memagari areal kediaman Selir Ashana.
Ketika kejadian itu dilaporkan ke Pejabat Choman, sang pejabat langsung ke kediaman Selir Ashana. Dan mendapati kenyataan juga bahwa areal kediaman Selir Ashana telah dipagari oleh mantra ghaib.
Berkali-kali dia dan 4 pengawalnya membobol tembok ghaib itu dengan kesaktian mereka, namun tembok itu tidak juga hancur.
Perlu diketahui, seluruh penghuni kediaman Selir Ashana tidak mengetahui apa yang terjadi di luar gerbang kediaman sang selir, juga tidak mendengar apa-apa.
Jadi, kedatangan pasukan istana dan keributan yang dilakukan Pejabat Choman dan 4 pengawalnya mereka tidak mengetahuinya.
Yang mengetahui cuma Dhafin. Tapi dia tidak menggubris dan tidak memberi tahu juga kepada Selir Ashana maupun yang lainnya.
Di samping dia masih sibuk mengobati sang selir, Dhafin juga tidak ingin penghuni kediaman Selir Ashana heboh dengan kedatangan pasukan istana.
Akhirnya dengan tangan hampa Pejabat Choman bersama pasukannya pulang ke istana. Terus melaporkan kejadian tersebut kepada Bunda Suri Hellen.
Dan sang selir jahat itu kembali memerintahkan putranya, Raja Ghanim untuk mengurus kasus ini. Namun sang raja boneka tidak terlalu menggubrisnya. Malah mengatakan agar menunggu saja Dhafin yang membukanya sendiri.
Padahal dia sudah memasang beberapa orangnya di sekitar kediaman istri tercintanya itu. Saat tirai pelindung yang dipasang Dhafin sudah terbuka, orangnya dengan cepat melaporkan padanya.
Setelah itu dia akan ke kediaman Selir Ashana tanpa harus mendapat ijin dari ibunya, Bunda Suri Hellen.
★☆★☆
Setelah Dhafin merasa rampung menyembuhkan Selir Ashana dan juga memberikan resep ajaibnya untuk menjaga agar Selir Ashana tetap cantik dan bugar, Dhafin bersiap-siap meninggalkan kediaman Selir Ashana.
Sebelumnya tidak lupa membuka segel yang melindungi areal kediaman Selir Ashana.
Ketika itu waktu sudah menunjukkan sore hari.
Seperti yang dilakukan waktu dulu saat Dhafin hendak pergi, Pelayan Galina memberi Dhafin sekantong penuh kepingan uang.
Jelas Dhafin hendak menolak, tapi Pelayan Galina sudah menaruh pundi uang itu tangan Dhafin.
"Aku bukan membayar upah dari pengobatanmu terhadap Yang Mulia, Nak Dhafin," kata Pelayan Galina cepat mendahului Dhafin yang hendak bicara. "Aku hanya memberimu bekal buat perjalananmu."
"Ah, Bibi, ini terlalu banyak," Dhafin masih berusaha menolak.
__ADS_1
Dia hendak mengembalikan pundi uang itu tapi Putri Lavina yang hampir senantiasa menempel di sisi Dhafin lantas merebut pundi uang itu dan langsung memasukkan ke balik baju Dhafin tanpa minta ijin kepada orangnya.
"Kalau kurang aku akan menambahnya," kata Putri Lavina seraya tersenyum.
"Eh, tidak usah, Tuan Putri," tolak Dhafin cepat. "Ini saja sudah terlalu banyak."
Dari dalam muncul Selir Ashana yang didampingi oleh Jenderal Elaina. Karena keluar dari kediamannya, meski di depan rumah Selir Ashana tetap memakai cadar.
Selir Ashana tidak ingin dulu mengekspos diri kalau dia sudah sembuh total. Apalagi dengan penampilan barunya seperti sekarang.
Cukup orang-orang tahu kalau dia sudah sembuh, tidak perlu sampai melihat penampilan barunya. Hal itu pula sesuai yang dianjurkan oleh Dhafin.
"Kamu belum mengambil upah, kamu sudah mau pergi, Nak," kata Selir Ashana bernada lembut penuh keibuan.
"Ah, tidak perlu, Yang Mulia," kata Dhafin penuh hormat. "Yang Mulia sudi menerima keberadaan hamba di sini, itu sudah lebih dari cukup."
"Lagipula Bibi Galina sudah memberi hamba sejumlah uang," lanjutnya. "Jadi, hamba tidak memerlukan apa-apa lagi."
"Jangan begitu," kata Selir Ashana. "Bibi Galina cuma memberi bekal perjalananmu, bukan upah untuk hasil kerjamu dalam mengobatiku. Tentu tarif pengobatanmu lebih tinggi lagi 'kan?"
"Hamba mengobati Yang Mulia atas dasar dorongan hati," kata Dhafin masih menghindar. "Tidak perlu Yang Mulia memikirkan untuk memberi upah kepada hamba. Kebaikan Yang Mulia kepada hamba sudah melebihi dari segalanya."
Selir Ashana tidak lagi membujuk Dhafin agar menerima upah darinya. Selama pemuda itu berada di kediamannya, dia melihat kalau Dhafin memiliki budi pekerti yang baik.
Jadi wajar saja kalau Dhafin tidak mau menerima upah atas kerjanya.
"Baiklah kalau begitu. Tapi rumahku ini selalu terbuka untuk kapan saja kamu mau datang."
"Terima kasih atas kebaikan, Yang Mulia."
"Hamba mau ke istana, Yang Mulia."
Tentu saja Selir Ashana dan Jenderal Elaina tampak heran mendengar Dhafin mau ke istana. Mereka bertanya-tanya mau apa Dhafin ke istana?
Sedangkan Putri Lavina menatap Dhafin sejenak. Benaknya mencoba menerka apa yang akan dilakukan Dhafin di istana nanti.
Baru saja Selir Ashana hendak bertanya kepada Dhafin, seketika diurungkan. Karena telinganya mendengar suara dari luar gerbang cukup keras.
"Yang Mulia Raja telah tiba!"
Dua orang pelayan yang kebetulan berada di halaman bagian depan langsung menuju ke pintu gerbang. Dan tanpa berlama-lama mereka langsung membuka pintu gerbang yang tadinya tertutup.
Begitu pintu gerbang sudah terbuka lebar, rombongan Yang Mulia segera masuk. Sedangkan 2 pelayan lelaki pembuka gerbang langsung berlutut penuh hormat.
Di antara rombongan Raja Ghanim, ada seorang lelaki yang rambutnya sudah memutih semua. Dia adalah Guru Zeroun.
Tidak ketinggalan pula Pengawal Pribadi Raja Ghanim, yaitu Jenderal Kenzie Cazim.
★☆★☆
Begitu rombongan Raja Ghanim sampai di depan teras kediaman Selir Ashana, mereka segera turun dari kuda masing-masing.
Pasukan yang mengikuti Raja Ghanim tidak banyak. Tapi kalau dilihat mereka semua rata-rata berilmu tinggi.
__ADS_1
Raja Ghanim memandang istrinya yang datang menghampirinya. Kemudian sang istri berlutut menyembah hormat begitu sudah sampai di depannya.
"Keberkahan dan keselamatan terlimpah kepada Yang Mulia," ucap Selir Ashana penuh takzim.
"Bangunlah, Dinda!"
Raja Ghanim segera membangunkan Selir Ashana. Lalu memandang istrinya itu, lebih tepatnya memperhatikan keadaannya.
Dia tidak lagi mencium bau tidak sedap keluar dari tubuh sang istri, malah aroma wangi yang segar dan lembut menguar dari istrinya.
"Kamu sudah sembuh, Dinda?" tanya Raja Ghanim bernada gembira sambil memegang telapak tangan kanan Selir Ashana yang begitu mulus laksana sutra.
"Benar, Yang Mulia," sahut Selir Ashana penuh luapan kegembiraan, "hamba sekarang sudah sembuh."
Bukan main senangnya Raja Ghanim mendengar hal itu. Lantas dia segera memeluk sang istri dengan erat.
Sedangkan Selir Ashana meluapkan kerinduannya dalam pelukan sang suami tercinta. Selama 2 tahun lebih tidak melihat suaminya betapa kerinduan ini amat sangat.
Sementara sepasang suami istri itu saling berpelukan, Guru Zeroun menatap Dhafin yang berdiri di samping Putri Lavina. Sedangkan Dhafin sendiri menatap Raja Ghanim dengan sorot mata yang berubah-rubah.
"Yang Mulia, sepertinya kita kedatangan tamu yang istimewa," kata Guru Zeroun yang tak lepas menatap Dhafin.
Raja Ghanim yang mendengar ucapan Guru Zeroun segera melepas pelukannya pada Selir Ashana. Lantas memandang Guru Zeroun, lalu bertanya.
"Siapa tamu istimewa itu, Guru Zeroun?"
"Kita akan menyapanya dulu, Yang Mulia," kata lelaki tua itu yang tak lepas menatap Dhafin.
Raja Ghanim lantas memandang ke arah mana Guru Zeroun memandang. Baru 2 kejapan dia menatap Dhafin, seketika keterkejutan langsung menyentak hatinya.
Dia kini seakan melihat seseorang yang sudah lama tidak dilihatnya pada Dhafin.
"Apa tuan yang menyembuhkan Yang Mulia Selir?" tanya Guru Zeroun penuh sikap sopan santun.
"Kesembuhan itu berasal dari Sang Penguasa Langit, Tuan," kata Dhafin kalem-tenang bernada bijak lagi santun. "Manusia hanyalah sebagai perantara kesembuhan itu datang."
Waktu pertama kali melihat Dhafin, Jenderal Kenzie sudah terkesan akan ketenangan sikap pemuda itu. Sekarang dia mendengar ucapannya yang bagai untaian nasehat itu, membuatnya amat tertarik ingin mengenal Dhafin.
"Kanda Ghazam...," tanpa sadar Raja Ghanim menyebut nama itu. Sepasang matanya yang berkaca-kaca dan membinarkan penyesalan terus menatap Dhafin.
Gumaman Raja Ghanim terdengar agak pelan, tapi cukup didengar oleh Selir Ashana, Guru Zeroun, Jenderal Kenzie dan istrinya, Jenderal Elaina, serta Putri Lavina.
Lantas mereka semua memandang Dhafin kecuali Guru Zeroun yang tak pernah lepas menatapnya.
Sedangkan Jenderal Kenzie yang barusan menoleh pada Raja Ghanim karena mendengar gumamannya barusan, kembali menatap Dhafin.
Sementara yang ditatap laksana telaga yang diam. Sikap Dhafin tetap tenang dan santun. Wajahnya tak terlihat ekspresi apapun selain ketenangan jiwanya dan keteguhan sikapnya.
Sementara Raja Ghanim seakan tidak menghiraukan keadaan sekitar. Seolah tidak tahu kalau istrinya mengikuti. Dia melangkah dengan penuh penyesalan menuju Dhafin.
Sedangkan Dhafin terus menatap Raja Ghanim yang semakin dekat padanya. Tatapannya begitu dingin dan datar.
Orang-orang melihatnya seperti tenang-tenang saja. Tapi siapa sangka dia menekan dendamnya yang sudah berkarat di dalam dirinya.
__ADS_1
Kalau tidak melihat keadaan sekitarnya, dia sudah membunuh pembunuh ayahnya itu dengan sekali pukulan mematikan sebelum sampai ke hadapannya.
★☆★☆★