
Sementara itu Dhafin dan gadis bercadar terus meluncur turun ke dalam jurang tanpa henti. Meski merasa ngeri namun Dhafin dapat menekan perasaannya. Tangan kirinya tetap merangkul pinggang si gadis agar tidak menjauh darinya.
Sedangkan gadis bercadar, pada saat terjun ke jurang tadi belum merasakan ngeri. Apalagi dia menutup mata. Karena dia tahu Dhafin pasti bakalan mengajaknya lompat ke jurang.
Tapi dia jadi terkejut mana kala cadarnya langsung terbetot oleh angin yang kencang karena saking derasnya mereka meluncur turun. Karena terkejut akhirnya kedua mata indahnya dibuka.
Begitu matanya terbuka saat itu juga dia makin terkejut. Jantungnya serasa mau copot. Kengerian langsung merongrongnya hingga membuatnya menjerit histeris dengan begitu lepas.
"Aaa...!!!"
Karena saking kaget bercampur ketakutan, pelukannya pada Dhafin terlepas. Dan hampir saja dia terpisah dari Dhafin kalau Dhafin tidak lebih kencang merangkul pinggangnya.
Tentu saja Dhafin terkejut akan kelakuan gadis yang sudah tak bercadar itu. Ditambah lagi gadis itu menjerit secara tiba-tiba. Tetapi cepat-cepat dia menguasai diri kalau tidak ingin gadis itu kenapa-kenapa.
Lalu Dhafin meminta gadis itu agar tetap tenang, jangan panik. Kembali memerintahkan memeluknya lagi dan kembali menutup mata.
Mulanya gadis yang ternyata memiliki wajah cantik itu belum mengindahkan permintaan Dhafin karena masih panik. Tapi begitu Dhafin mengulangi perintahnya gadis itu kembali memeluk Dhafin dan memejamkan matanya.
Tanpa terasa sepasang bocah itu sudah sepenanakan nasi melayang-layang di udara.
Dhafin mencoba menengok ke bawah. Dia perkirakan ±1 mil lagi mereka sampai di dasar jurang. Sementara dia dan gadis berbusana putih masih terus meluncur ke bawah.
Begitu matanya melihat pohon agak besar menonjol di lamping jurang, seketika telapak tangan kanannya yang bebas menghentak ke pohon itu.
Maka sebentuk hawa bening dan padat menyulur ke pohon itu dengan cepat. Lalu ujung hawa padat yang menyerupai selendang bening itu langsung melilit erat dan kuat batang pohon itu. Dan hampir bersamaan Dhafin dan gadis baju putih berhenti meluncur.
Merasa tubuhnya seperti tidak lagi meluncur turun, gadis itu menjadi heran. Tapi belum berani membuka mata. Dia merasa seperti masih melayang di udara. Terbukti kakinya dirasa belum memijak benda padat.
"Kak, apa yang terjadi?" tanyanya tak bisa menahan keheranannya. "Kenapa kita berhenti meluncur?"
"Kita sedang bergantung di pohon, Nona," sahut Dhafin sekenanya. Karena dia susah menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Tapi Nona jangan melakukan apapun dulu," pesan Dhafin. "Aku akan berusaha agar kita mendarat di dasar jurang dengan aman."
"Hm...."
Si gadis hanya bergumam saja. Kepalanya masih bersandar di dada kiri Dhafin sambil mata terpejam. Kedua tangannya masih erat merangkul bocah tampan itu.
Sementara Dhafin sejenak mengamati permukaan lamping jurang seolah mencari pohon yang tumbuh di lamping jurang. Begitu dia menengok ke bawah, sekitar 200-an tombak dia melihat pohon yang semisal tumbuh di lamping jurang.
Terus di bawah pohon agak besar itu tumbuh pepohonan baik besar maupun kecil. Di situlah dasar jurang.
★☆★☆
Kemudian Dhafin menguncup telapak tangan kanannya dengan cepat. Seolah hawa bening yang membentuk selendang itu terputus, maka mereka kembali meluncur deras ke bawah yang membuat si gadis sedikit terkejut.
Begitu mereka sudah berada di bawah tentangan pohon yang tadi dilihat Dhafin, dengan cepat dihentak telapak tangannya ke pohon itu. Maka sebentuk hawa padat menyulur dengan cepat dan terus ujungnya melilit pohon itu dengan kuat.
Kembali mereka menggantung di udara. Tapi kaki mereka sudah lumayan dekat dengan pucuk pepohonan di dasar jurang. Lalu entah apa yang dilakukan Dhafin, perlahan mereka turun ke bawah hingga kaki mereka sudah menyentuh dedaunan pohon yang lumayan besar.
Namun mereka terus saja bergerak turun hingga akhirnya kedua kaki mereka hinggap di dahan besar. Setelah itu, saat dirasa kondisi dan posisi berpijaknya sudah mapan, dia memberitahukan kepada si gadis kalau mereka sudah berada di dasar jurang.
Perlahan gadis manis berkulit kuning langsat itu membuka matanya. Lalu mengangkat kepalanya dari bersandar di dada Dhafin yang nyaman, melihat keadaan sekeliling yang segera disadari berada di atas pohon besar.
"Apa pijakanmu sudah kokoh, Nona?" tanya Dhafin. "Aku hendak melepas rangkulanku."
Gadis baju putih tidak menjawab. Dia lantas menatap wajah tampan si bocah yang cuma sejengkal dengan wajahnya. Sedangkan si bocah berpaling ke arah lain seolah mengamati sekitarnya.
Tapi baru beberapa helaan napas menatap Dhafin, dia langsung terkejut gugup karena tersadar dia masih memeluk Dhafin.
Dengan panik dia melepas pelukannya dan mencoba menjauh dari Dhafin. Karena rangkulan Dhafin sudah kendur, maka dia terjajar 3 langkah ke belakang. Hampir saja dia terpeleset jatuh kalau tak cepat ditangkap oleh Dhafin.
__ADS_1
"Nona tidak apa-apa?" tanya Dhafin dengan cemas. "Nona melihat sesuatu? Ular?"
Tanpa menunggu jawaban si gadis dan tanpa menghirau kalau si gadis gemetar gugup karena Dhafin memegang lengan atasnya, Dhafin segera melayangkan pandangan ke sekelilingnya. Bahkan sampai ke bawah mereka.
Tapi Dhafin tidak melihat sesuatu yang memicu rasa takut. Apalagi melihat ular. Lantas kembali menatap si gadis yang masih gemetar gugup.
"Aku tidak apa-apa, Kak Dhafin," tutur si gadis dengan suara sedikit gemetar. "Tolong lepaskan peganganmu."
"Tadi Nona hampir jatuh," kata Dhafin menerangkan. "Makanya aku cepat-cepat menangkapmu. Benar Nona baik-baik saja?"
"I-iya."
Perlahan Dhafin melepas pegangannya, terus mundur 2 langkah. Tapi dia masih memandang si gadis yang dia rasa seperti orang ketakutan.
Rupanya bocah itu belum bisa membedakan perempuan yang gugup karena menahan rasa malu dengan panik karena ketakutan. Dasar bocah!
Sementara si gadis pelan-pelan menata dirinya yang tadi sempat gugup karena menahan malu. Dia tak menyangka karena rasa takutnya yang sangat membuatnya tak terkendali. Memeluk lelaki asing tanpa rasa malu.
"Bisa kita turun sekarang, Kak Dhafin?" tanya si gadis yang sedikit sudah bisa menguasai perasaannya yang sempat amburadul. Dia berkata tanpa melihat Dhafin karena rasa malu masih mengungkungnya.
"Sebentar. Nona ini sebenarnya siapa?" Dhafin mulai menyadari kalau gadis itu bersikap seperti sudah mengenalnya. "Dari mana Nona tahu namaku?"
"Apakah secepat itu kamu melupakanku?" kata si gadis agak lirih menekan kesedihannya.
"Aku serius, Nona," kata Dhafin sungguh-sungguh. "Aku belum mengenalmu, bagaimana bisa mengingat?"
★☆★☆
Dengan memberanikan diri si gadis menatap Dhafin lekat-lekat. Dilihatnya Dhafin memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Kemudian setelah tercenung beberapa saat, baru disadari kalau sebelumnya Dhafin memang belum pernah melihat wajahnya. Meskipun sekarang dia tanpa cadar tetap saja Dhafin tidak mengenalnya.
Pantas saja Dhafin tak mengenalnya. Arnel yang menjadi momen yang berkesan akan pertemuannya dengan bocah itu tak lagi menancap di sanggulnya.
Entah di mana arnel kesayangan itu hilang dia tak tahu lagi. Seketika saja dia sedih akan hal itu.
"Kita turun ya, Kak Dhafin," pinta si gadis seperti enggan membicarakan siapa dirinya yang seakan sudah dilupakan oleh Dhafin.
Sejenak Dhafin memandang wajah sedih si gadis yang entah karena apa. Tentu saja membuatnya heran. Tapi dia tidak mau memaksa untuk tahu mengapa. Mungkin lain kali saja dia bertanya.
"Ayo!" sahut Dhafin sambil tersenyum.
Melihat senyum Dhafin yang menawan itu membuat si gadis tak tahan lama-lama menatapnya. Lalu dengan ringan dia melompat ke bawah. Dhafin mengikutinya. Tak lama kemudian mereka sudah berpijak di tanah berumput.
Sejenak mereka melayangkan pandangan ke sekitarnya. Sambil masih memandang sekitarnya si gadis bertanya.
"Sekarang kita akan ke mana, Kak?"
"Apa kamu tidak mau memberi tahu namamu dulu, Nona?" tanya Dhafin menagih lagi. "Kan tidak enak cuma kamu yang tahu namaku, sedangkan aku tidak tahu namamu."
"Apa kakak masih ingat anak perempuan yang kakak sembuhkan akibat kakinya patah?" tanya si gadis seolah menguji ingatan Dhafin.
"Ya, tentu saja aku masih ingat," sahut Dhafin tidak butuh waktu lama untuk mengingat. "Teman yang baik akan selalu diingat."
"Dari mana kakak tahu kalau aku orang baik?" tanya gadis itu seolah tidak percaya ucapan Dhafin. "Padahal kita bertemu tidak lama. Itupun cuma di turnamen."
Sebenarnya tadi Dhafin baru menerka-nerka saja siapa gadis ini dengan menghubungkan kepada gadis kecil yang pernah dia sembuhkan.
Tapi sekarang dia yakin kalau gadis yang dia sembuhkan setahun yang lalu adalah gadis di depannya ini dengan ucapannya barusan.
"Nona Kayshila Dellia," sebut Dhafin seraya tersenyum gembira, nadanya penuh sukacita. "Senang bertemu denganmu lagi."
__ADS_1
Betapa bahagianya perasaan gadis yang ternyata Nona Kayshila Dellia adanya. Wajah cantiknya yang tadi bersedih dan murung, kini kembali ceria dengan berhias senyum manisnya. Dhafin ternyata masih mengingatnya.
"Aku kira kamu sudah melupakanku, Kak," kata Kayshila sedikit merajuk sambil melengos ke arah lain.
Jelas dia malu memperlihatkan ekspresinya yang amat bahagia itu. Ditambah lagi dia tak sanggup menatap lama-lama senyum Dhafin yang membuat jantungnya berdebar kencang itu.
"Teman sebaik Nona Kayshila mana boleh dilupakan," kata Dhafin dengan tulus dan tetap menjaga sikap santunnya.
Kayshila butuh menetralkan perasaannya sejenak ketika mendengar pujian Dhafin yang sudah 2x dilontarkan itu. Agar tidak larut dalam pujian itu, dia mengulang lagi pertanyaannya di awal tadi.
"Sekarang kita akan kemana, Kak?"
"Entahlah, aku belum tahu," sahut Dhafin sambil kembali mengamati keadaan sekitar yang tampak asing baginya. "Rasanya aku belum pernah ke sini."
Dia kembali teringat beberapa tahun yang lalu pernah terjatuh juga ke dalam jurang. Tapi tempat dan suasananya jauh berbeda dengan di sini.
"Apa Nona sudah pernah ke sini?" tanya Dhafin yang entah bercanda atau serius.
"Memang aku kurang kerjaan apa mau-maunya bertamasya ke tempat seperti ini?" omel Kayshila memberengut.
Dhafin tersenyum mendengar gerutuan Kayshila. Tapi dia tetap saja mengamati keadaan sekitar, mencari tempat atau arah yang bisa mereka lalui.
"Coba kita berjalan ke sana!" ajak Dhafin seraya menunjuk ke arah samping kirinya.
"Aku manut saja ke mana kamu mengajakku, Kak Dhafin," kata Kayshila seakan pasrah.
Tanpa berlama-lama, akhirnya mereka berjalan ke arah yang ditunjuk Dhafin.
★☆★☆
Sambil melangkah ringan sepasang bocah itu saling berbincang-bincang, menceritakan kenapa mereka bisa saling bertemu.
Kayshila menuturkan mengapa dia bisa dikejar-kejar oleh orang-orang bertopeng hitam yang kata Dhafin mereka adalah Gerombolan Pedang Tengkorak.
Waktu itu dia baru saja hendak kembali ke perguruannya sehabis pulang ke rumahnya selama sepekan. Begitu dia hampir sampai ke perguruannya, dari jauh dia melihat pemandangan yang amat mengerikan.
Tampak di halaman perguruan belasan saudara seperguruannya yang dewasa bergelimpangan dengan bersimbah darah. Sedangkan murid-murid senior tengah bertarung dengan Gerombolan Pedang Tengkorak. Termasuk gurunya pula.
Dia tidak tahu bagaimana nasib murid-murid yang seumuran dengannya. Termasuk tidak tahu pula nasib Nona Fariza Luna dan 3 teman akrabnya yang lain. Waktu itu dia dalam keadaan panik ketakutan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Begitu beberapa anggota Gerombolan Pedang Tengkorak melihatnya langsung mengejarnya. Sedangkan dia yang masih ketakutan sempat bingung harus berbuat apa. Tapi akhirnya dia melarikan diri hingga tanpa sengaja bertemu dengan Dhafin.
Ketika giliran Dhafin menuturkan kenapa bisa sampai di tempat yang menyebabkan dia dan Kayshila saling bertabrakan, dia cuma menuturkan secara singkat. Tapi sudah mencakup semua alur ceritanya.
"Apa kakak bisa memperkirakan ke mana kira-kira keempat kawan kakak menghilang?" tanya Kayshila setelah Dhafin selesai bercerita.
"Entahlah, Nona, mereka menghilang ke mana," tutur Dhafin mengaku. "Aku juga tidak mengira kalau kami muncul dengan berbeda-beda tempat begini."
"Kak Dhafin. Bisakah kamu memanggilku dengan nama saja tanpa harus menyemat kata Nona?" kata Kayshila merasa risih dipanggil nona terus. "Aku cuma anak orang biasa, bukan bangsawan."
"Baiklah kalau itu maumu, Kayshila," kata Dhafin sambil tersenyum. "Tapi kamu tetaplah Nona dihatiku."
Kayshila hanya tersenyum mendengar ucapan terakhir Dhafin. Sejurus dia melirik si bocah. Dan lagi-lagi dia melihat senyum menawan anak muda itu. Buru-buru dia memandang lagi ke depan.
Sementara itu waktu sudah semakin jauh merangkak. Matahari sudah tergelincir ke arah barat. Panasnya semakin menyengat seolah hendak membakar mayapada.
Sedangkan 2 bocah yang beranjak remaja itu terus saja menyusuri dasar jurang sambil terus berbincang-bincang. Entah sudah berapa ratus langkah mereka berjalan. Seakan tidak terasa karena mereka terus saja saling ngobrol.
Sepertinya keakraban sudah mulai terjalin di antara mereka.
★☆★☆★
__ADS_1