Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 33 MENCIUM TAPI BUKAN MENCIUM


__ADS_3

Terang saja Brian tercengang hebat melihat kelakuan Dhafin di depan matanya itu. Sampai-sampai kedua matanya itu melotot besar saking kagetnya bercampur marah.


Sedangkan Grania langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, tidak sanggup melihat adegan memalukan itu.


Gadis pemalu itu belum tahu apa itu cinta dan bagaimana adegan percintaan. Tapi dia tahu apa yang hendak dilakukan Dhafin terhadap Aurellia adalah adegan berciuman. Seharusnya orang yang akan dicium itu malu. Tapi kenapa dia yang paling malu?


Sementara Namira dan Naifa yang duduk di kursi sebelah kiri pembaringan begitu jelas melihat adegan itu.


Namira yang mengerti apa yang hendak dilakukan Dhafin langsung melengos ke arah lain sambil menutup mulutnya. Adegan itu tidak sanggup dia lihat. Suara pekikannya berusaha dikunci rapat-rapat dengan telapak tangannya.


Sedangkan si mungil Naifa terpaku diam dengan bola mata membesar. Dia terus memelototi adegan itu saat demi saat.


Sementara pikiran Ariesha berkecamuk melihat adegan itu. Apakah adegan itu termasuk dari proses pemeriksaan? Atau memang Dhafin benar-benar hendak mencium Aurellia?


Dia tahu kakaknya itu terkadang meminta upah yang aneh-aneh kepada pasiennya. Bukannya meminta uang dari hasil pengobatannya, malah meminta upah yang tidak disangka-sangka.


Tapi kenapa sekarang Dhafin langsung mengambil upahnya duluan tanpa negosiasi dulu dengan Aurellia?


"Dhafin! Apa yang akan kamu lakukan?"


Bentakan kemarahan Brian cukup keras seakan hendak meledakkan seisi ruangan ini. Matanya tidak sanggup lagi melihat wajah Dhafin yang semakin dekat dengan bibir merah Aurellia.


Dan bentakan itu membuat Grania dan Namira terkejut bukan main. Sampai-sampai mereka memandang ke arah Brian yang semakin tegang.


Namun Namira tidak bisa melihat Brian dengan jelas karena ada di seberang pembaringan. Malah dia melihat lagi bibir Dhafin semakin dekat dengan bibir Aurellia.


Sementara gadis yang hendak dicium diam saja bagai patung. Seolah antara pasrah atau tidak bisa melakukan apapun.


Yang bisa dilakukan hanya memejamkan sepasang matanya rapat-rapat. Jemari halusnya hanya bisa meremas seprai pembaringannya dengan kuat. Tidak bisa berbuat lebih untuk mencegah perbuatan Dhafin.


Tampak pipi putih mulus halusnya sudah merah dadu pertanda menahan malu sebenarnya. Tapi kenapa dia tidak bisa melakukan apa-apa?


Brian langsung berdiri dari kursinya dengan cepat. Namun belum juga dia bertindak sesuatu terhadap Dhafin, seketika Dhafin menghentakkan tangan kirinya ke arah Brian dengan cepat. Telapak tangannya terbuka lebar menghadap Brian.


Hampir bersamaan seketika tubuh Brian terhenti seperti menabrak tembok tak berwujud. Brian tahu apa yang dilakukan Dhafin terhadapnya.


Seketika dia mengerahkan tenaga dalamnya dan energi kesaktiannya ke telapak tangan kanannya. Maksudnya hendak membobol tembok tak berwujud di depannya.


Tapi belum juga niatnya dilakukan, terdengar Ariesha berseru agak keras mencegahnya.


"Kak Brian! Jangan lakukan apapun!"


"Apa kamu membiarkan kakakmu hendak mencium adikku?" bentak Brian menggeram marah.


"Tidak!" Ariesha tetap mencegah. "Tidak seperti itu. Kenyataannya tidak seperti yang kita bayangkan."


Sementara tangan kiri Dhafin masih terentang ke arah Brian, bibirnya sudah sampai ke tujuan.... Eh salah. Maksudnya hidungnya yang lebih tepat sampai ke bibir merah Aurellia. Hidungnya?!?!


Ya hidungnya. Itupun tidak sampai bersentuhan betul, hanya nyaris. Siapa yang menyangka kalau sebenarnya hidungnya yang mencium bibir Aurellia.


Lebih tepatnya Dhafin hanya melakukan pemeriksaan dengan mengendus bibir Aurellia, apakah Racun Bunga Duka sudah hilang atau masih ada.


Karena bibir biasanya tempat yang paling lama racun itu tinggal dan paling terakhir juga pergi.


Siapa yang menyangka kalau begitu?


Sementara Naifa masih saja melihat adegan itu tanpa memicing barang sesaat pun. Hatinya menghitung berapa lama Dhafin menaruh hidungnya di bibir Aurellia.


"1 2 3 4 5 6 7 8 9 10...."


★☆★☆


Nyaris tepat hitungan ke sepuluh Dhafin segera menarik hidung, bibir berikut wajahnya dari wajah Aurellia. Tepatnya bibir Aurellia. Lalu berkata seolah memberi tahu.


"Sudah selesai, Tuan Putri."


"Sudah selesai apa?" gumam Aurellia dalam hati.


Cepat-cepat dia membuka kedua matanya. Tapi tidak ada lagi Dhafin di dekat wajahnya. Lalu segera sepasang mata indahnya mengejar kemana anak muda itu berada.

__ADS_1


Sementara itu Dhafin melangkah perlahan menuju kursinya sambil melirik Brian dan berkata menegur.


"Kenapa kamu berteriak seperti perawan menolak nikah hah? Kalau sampai seisi istana ini mendengar suara jelekmu itu, apa tidak bikin masalah?"


Ucapan itu mengandung kemarahan dan teguran yang seharusnya dengan suara setidaknya cukup keras. Tapi suara Dhafin begitu tenang dan dingin. Layaknya dia tidak marah, padahal sedang marah.


"Perawan gundulmu!" dengus Brian tidak mau kalah. "Kamu hendak mencium adikku di depan hidungku kamu pikir aku diam saja hah?"


"Kamu pikir aku mencium adikmu pakai apa?" kata Dhafin dengan intonasi suara seperti tadi sambil duduk di kursinya, tenang dan dingin. "Apa kamu tidak berpikir aku sejak awal bikin apa saja?"


"Tapi perbuatanmu tadi itu siapa yang bakalan menyangka kalau kamu sebenarnya melakukan pemeriksaan?" berang Brian tetap membela diri.


"Dasar otak kotormu saja yang berpikir yang tidak-tidak."


"Bukan cuma aku, Dhafin. Semua orang yang ada di sini pasti berpikir yang tidak-tidak seperti yang aku pikirkan."


"Tapi kenyataannya tidak 'kan?"


Brian langsung terdiam mendengar ucapan Dhafin yang memang benar itu. Hanya matanya saja yang masih melotot garang kepada Dhafin seolah hendak menelannya.


"Sudahlah, sebaiknya kamu duduk dulu!" ucapan Dhafin seolah hendak menenangkan Brian, tapi sesungguhnya mencandainya lagi. "Tidak usah terus bersikap seperti perawan menolak dijodohkan begitu."


Baru saja Brian hendak membalas ucapan Dhafin itu, si gadis pendiam Grania sudah duluan berbicara dengan nada lugu dan polosnya.


"Apa Kak Dhafin pernah melihat anak perawan hendak dijodohkan? Apa sikapnya seperti Pangeran Brian?"


Gadis pendiam itu, hampir tidak pernah terdengar suaranya saat di tengah orang yang belum akrab dengannya. Namun sekali dia berbicara membuat pikiran orang berkecamuk. Mau marah... iya, mau kesal... iya, mau ketawa juga iya.


Aurellia yang mendengar ucapan polos itu sedapat mungkin menahan tawa, tapi hasilnya dia senyum dikulum juga.


Sedangkan Namira sebenarnya mau ketawa, tapi sekuat tenaga dia tahan. Dia seorang pelayan tidak boleh kurang ajar dengan nona bangsawan.


Sementara Naifa tidak melakukan reaksi apa-apa saking polosnya, malah Ariesha mendelikkan matanya pada Grania karena gusar.


Sedangkan Brian yang tadinya hendak duduk pelan-pelan, seketika pantatnya langsung jatuh di kursi dengan cepat sakin kagetnya mendengar ucapan Grania yang polos itu. Sementara Dhafin cuma tersenyum saja.


★☆★☆


"Nona Grania!" seketika Dhafin berkata seakan menasehati, padahal sesungguhnya mencandai. "Kalau nanti Paman Lyman menjodohkanmu dengan seorang lelaki, jangan kamu bersikap seperti Pangeran Brian ini ya!"


"Iya, Kak," kata Grania tanpa sadar kalau dikerjai.


Brian mendelik gusar pada Dhafin, Ariesha malah kembali mendelikkan matanya pada Grania karena gusar lagi. Bisa-bisanya dia walau dikerjai tapi tidak sadar?


"Iya, Kak, iya, Kak! Apa kamu tidak tahu kalau kamu dikerjai oleh Tabib Aneh itu?" gerutunya makin kesal.


"Apa iya Kak Dhafin tega mengerjaiku?" tanya Grania tidak percaya.


"Sudah! Kamu dia saja!" dengus Ariesha.


Sementara itu, Aurellia masih tersenyum dikulum. Terus terang dia merasa terhibur dengan suasana seperti ini. Punya banyak teman ternyata satu hiburan tersendiri. Tentunya teman yang baik.


Sejenak dia lupakan dulu pemeriksaan aneh Dhafin tadi. Kalau diingat dia jadi malu sendiri.


Masa' dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah Dhafin seolah hendak menciumnya, walau kenyataannya tidak. Setidaknya mendorong tubuh Dhafin ke', atau menamparnya sekalian.


Tapi apakah dia tega? Dan kenyataannya memang dia tak bisa melakukan apapun seolah dia pasrah. Seolah....


Sedangkan Ariesha, sehabis mengomeli Grania, lalu dia berkata kepada Dhafin dengan nada gusar sekaligus merajuk.


"Kanda! Sebaiknya kamu beritahu cepat kepada Tuan Putri bagaimana hasil pemeriksaan terakhirmu yang aneh itu! Jangan malah mencandai orang!"


"O iya, hasil pemeriksaan sekarang bagaimana?" nimbrung Aurellia yang sebenarnya berusaha mengalihkan pikirannya yang masih berkecamuk akibat mengingat adegan tadi.


"Baiklah," Dhafin menetralkan keadaannya untuk kembali serius. "Sebelumnya aku minta maaf karena tidak minta ijin dulu untuk memeriksa bibirmu."


"Kalau kamu tidak berpikir yang macam-macam, aku tidak mengapa," kata Aurellia menanggapi sambil tersenyum lembut.


Brian saat ini sudah kembali tenang. Sikap santainya yang anggun sudah tampak ketika dia duduk. Tidak mau lagi mengajak Dhafin untuk ribut.

__ADS_1


"Tadi itu sebenarnya aku terlalu terbawa perasaan senang melihat hasil kerjaku yang berhasil dengan sempurna," ungkap Dhafin.


"Hasil kerjamu yang berhasil itu maksudmu Racun Bunga Duka sudah tidak ada lagi di tubuh Aurellia?" tanya Brian ingin meyakinkan dugaan.


"Bukan cuma itu, tapi lebih dari itu," sahut Dhafin yang membuat Grania bingung dengan jawaban itu.


Dia bukannya gadis yang tidak cerdas. Tapi ucapan Dhafin memang terkadang membingungkan. Orang tua saja bisa dibuat bingung oleh Dhafin, apalagi anak kecil sepertinya.


"Maksud ucapan Kak Dhafin itu apa, Ariesha?" tanyanya berbisik sambil agak mendekatkan kepalanya pada Ariesha.


"Aku juga belum terlalu paham," sahut Ariesha mengaku juga dengan berbisik. "Yang jelas Tuan Putri sudah sembuh dari Racun Bunga Duka. Tapi sesuatu yang lebih itu aku belum mengerti."


Tampak Grania manggut-manggut sambil menatap secara seksama pada Aurellia yang menguarkan aura mempesona.


Sedangkan Brian nyaris paham betul ucapan Dhafin itu. Terlebih lagi Namira yang sudah bersama Aurellia sejak Aurellia umur enam tahun.


Ketika sebelum Putri Aurellia terkena Racun Bunga Duka, kulit tubuh dan kulit wajahnya tidak sehalus dan semulus seperti sekarang ini.


Sejak dulu Putri Aurellia memang sudah cantik. Namun sekarang kecantikannya melebihi dari yang dulu. Mungkin inilah maksud ucapan Dhafin 'lebih dari itu'.


"Kak Dhafin! Bisakah kamu jelaskan 'lebih dari itu' itu maksudnya apa?" tanya Aurellia penasaran. "Janganlah kamu berbicara yang membuat orang jadi bingung."


"Sepertinya Namira lebih tahu dariku," gumam Dhafin yang masih memperhatikan Namira.


Sedangkan yang diperhatikan terus saja menatap Aurellia. Binaran sepasang mata indahnya memendarkan kekaguman.


★☆★☆


Semua orang langsung memandang Namira. Sedangkan Namira malah beralih menatap Dhafin. Tapi cuma empat helaan napas.


Dari empat helaan napas itu dia tahu kalau ternyata Dhafin memperhatikannya dari tadi. Artinya Dhafin ternyata tahu apa yang dia pikirkan. Sekaligus ucapan Dhafin itu mengesahkan dugaannya.


Tapi dia cuma bisa beradu pandang empat helaan napas.


Karena dia tak sanggup lagi berlama-lama memandang ketampanan Dhafin yang memendarkan sejuta pesona dan karisma. Lantas buru-buru menunduk dalam-dalam.


Sedangkan Brian kini yakin dengan dugaan kuatnya.


"Benarkah Namira lebih tahu?" Aurellia kembali menatap Dhafin dengan ekspresi makin penasaran.


"Nanti kamu tanyakan sendiri," Dhafin tidak mau terlalu lama membahasnya. "Yang jelas, kamu sudah bersih dari Racun Bunga Duka...."


"Aku sudah perkirakan," lanjutnya, "kalau siang ini akhir dari pengobatanmu. Artinya tidak ada lagi Racun Bunga Duka dalam dirimu. Kamu sudah benar-benar bersih darinya."


Sebenarnya sudah sejak tadi hati Aurellia merasa senang kalau dia sudah sembuh. Namun setelah mendengar pernyataan yang jelas dan tegas dari Dhafin akan hal itu, hatinya semakin bertambah senang gembira.


Rasa senang ini juga tampak pada dua pelayannya dan dua sahabat barunya. Makin membuatnya senang sekaligus terharu.


"Tahukah kamu kenapa paling akhir aku periksa adalah bibirmu, Tuan Putri?" tanya Dhafin seakan memberi teka-teki. "Sementara sebelum-sebelumnya aku belum periksa."


"Bisakah kamu langsung menjelaskan saja tanpa harus berteka-teki begitu, Kak Dhafin?" kata Aurellia memohon dengan mimik memelas.


Dhafin tersenyum sebentar melihat ekspresi Aurellia. Pesona dan kecantikan gadis itu sedikit mengusik sesuatu yang masih bersembunyi di palung hatinya. Cuma sedikit?!?!


"Karena bibir adalah tempat yang paling lama racun itu tinggal dan paling terakhir hilang kalau diobati...."


"...Kalau pada bibir masih ada bau yang aneh, berarti racun masih ada. Meskipun pada tubuh sudah tidak ada bau yang aneh lagi. Kalau bibir sudah tidak berbau aneh lagi, berarti racun sudah hilang...."


Aurellia kini mengerti bahwa pemeriksaan terakhir itu ternyata menentukan tentang masih ada tidaknya Racun Bunga Duka dalam dirinya. Dan yang bisa mengetahui hal yang tersembunyi seperti itu adalah tabib yang handal.


Setelah agak lama tercenung, seketika Aurellia teringat akan sesuatu, terus ditanyakan kepada Dhafin.


"Oh iya, bentuk racun itu seperti apa sebenarnya? Dan bagaimana racun itu bisa terkena korbannya?"


Pertanyaan seperti ini ternyata hendak ditanyakan juga oleh semua yang ada disitu. Tampak dari ekspresi wajah mereka yang seperti tersadar akan sesuatu.


Namun sebenarnya pertanyaan itu yang ditunggu-tunggu oleh Dhafin dari kemarin. Tujuannya jelas ingin mengungkap sesuatu yang sebenarnya sudah ditanyakan kepada Aurellia. Tapi gadis itu belum menjawab.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2