
Penyair Pemetik Bunga menghantamkan pedangnya dengan amat kuat dan cepat ke pedang Gibson. Jelas hantaman itu teraliri tenaga dalam dan kesaktian yang tinggi.
Sedangkan tangkisan pedang Gibson bukan tangkisan pedang biasa. Jelas tangkisan itu teraliri tenaga dalam dan kesaktian yang tinggi pula.
Apakah yang terjadi setelahnya akibat bertemunya 2 kekuatan tenaga dalam yang hebat itu?
Traaang...!
Duuummm...!
Seketika terjadi ledakan atau dentumam yang cukup dahsyat. Sehingga tempat di sekitar situ bagai diamuk prahara. Bumi berguncang laksana terjadi lindu lokal.
Tampak gelombang ledakan terus menjalar ke segala arah. Menyapu apa saja hingga membentuk lingkaran yang besar dan membumbung tinggi ke udara hingga menghalangi pandangan. Gelombang ledakan itu baru berhenti pada radius sekitar 7 tombak.
Apa yang terjadi dengan kedua petarung itu?
Penyair Pemetik Bunga terlempar ke belakang sejauh 3 tombak. Namun dia masih bisa mengendalikan lontaran tubuhnya sehingga mendarat di tanah cukup lunak.
Sedangkan Gibson memang tidak terlempar. Tapi kedua kakinya melesak sejengkal ke dalam tanah. Sementara keadaan di sekitar tempatnya berpijak telah bersih bagai habis disapu.
Sementara Dhafin, Kayshila serta gadis baju ungu yang berada sekitar belasan tombak dari area pertarungan tidak mengalami kejadian berarti akibat ledakan tadi. Hanya saja Dhafin belum sempat mengobati gadis baju ungu itu karena suasana tempat itu masih gaduh.
Begitu keadaan alam sudah kembali tenang, barulah Dhafin mulai mengobati gadis baju ungu itu. Karena dia masih pingsan, maka Kayshila membantu mendudukkan gadis baju ungu itu.
Sementara Penyair Pemetik Bunga, begitu sepasang kakinya sudah berpijak kokoh di atas tanah, setelah menggenjot kedua kakinya dengan kuat, lalu melesat ke arah Gibson dengan amat cepat seraya mengayunkan pedangnya dengan santer.
Sedangkan Gibson kali ini tidak menanti lagi serangan. Dia melesat pula dengan cepat ke depan menyongsong serangan penyair cabul sambil mengayunkan pedangnya yang memancarkan sinar kuning.
Sehingga ketika 2 pemuda itu bertemu, tidak butuh waktu lama pertarungan kembali tercipta. Dan pertarungan kali ini merupakan pertarungan yang amat seru. Di mana jurus-jurus pedang yang lihai dan cepat dipertunjukkan.
Denting suara logam saling beradu terdengar nyaring sekaligus menggidikkan, membuat suasana tempat itu menjadi horor. Belum lagi percikan lidah api saat 2 senjata pedang saling baku hantam di udara.
Sementara hawa di sekitar pertarungan berubah menjadi panas. Karena energi yang dikeluarkan oleh kedua petarung itu ternyata energi panas. Ditambah lagi mentari bersinar terik di siang bolong itu. Makin menambah suasana menjadi panas.
Dua pemuda masih terus berjuang mempertahankan nyawa atau menghilangkan nyawa. Gerakan mereka dalam memainkan jurus-jurus pedang amat lincah dan cepat. Bagi orang awam terasa sulit mengikuti pertarungan mereka saking cepatnya.
Sehingga yang terlihat hanyalah bayangan putih dan bayangan merah saling sambar. Ditingkahi oleh sinar kuning dan sinar putih yang baku hantam. Terus menciptakan bunga api yang menyebar ke udara.
Memang patut diakui kehebatan Penyair Pemetik Bunga. Dia menyombongkan kehebatannya bukanlah sesuatu yang kosong. Dan bisa dikatakan pantas kalau dia berlaku sombong atas kehebatan ilmunya.
Sedangkan Gibson lebih patut lagi diakui kehebatannya. Karena pertarungan sudah menghabiskan waktu 3x penanakan nasi, dia masih mengikuti pola serangan dan kecepatan bertarung Penyair Pemetik Bunga.
Itu artinya Gibson belum mengeluarkan semua kehebatan yang dia miliki. Sementara penyair cabul itu sudah mati-matian menyerang Gibson, namun belum juga dapat menumbangkannya. Walaupun dia juga masih aman-aman saja.
★☆★☆
Sementara itu, Dhafin sudah sejak tadi menyembuhkan luka dalam gadis baju ungu itu yang memang tidak terlalu parah.
Saat ini mereka tengah menonton pertarungan antara Gibson dengan Penyair Pemetik Bunga sambil berbincang. Lebih tepatnya yang saling ngobrol adalah Kayshila dan gadis baju ungu. Sedangkan Dhafin cuma meyaksikan pertarungan, tak menimbrungi kedua gadis itu berbicara.
__ADS_1
Sebenarnya Kayshila sudah menduga kalau gadis baju ungu yang hampir digagahi oleh penyair cabul pernah dikenalnya. Hanya saja dia masih belum yakin dengan dugaannya itu.
Sebenarnya Kayshila hendak menolong gadis baju ungu yang ternyata adalah Fariza Luna. Tapi Dhafin tidak mengijinkan. Karena sudah menduga kalau ada orang yang akan menolong Fariza Luna. Dan ternyata memang benar Gibson telah berhasil menyelamatkannya.
Makanya begitu Nona Fariza terkapar pingsan, Kayshila langsung mengamankannya dengan membawanya kemari.
Sedangkan Nona Fariza, begitu melihat Kayshila, menduga hal yang sama. Yaitu dia juga pernah kenal dengan Kayshila. Dan ternyata dugaannya benar saat Kayshila memperkenalkan dirinya. Tak lupa memperkenalkan Dhafin pula.
Perlu diketahui bahwa Dhafin dan Kayshila, saat datang ke mari, mereka sudah membuka penyamarannya. Jadi tidak terlalu lama bagi Fariza untuk mengetahui teman akrabnya dulu itu.
Begitu juga dengan Dhafin yang sejak kecil hingga sudah dewasa seperti saat ini wajah tampannya tidak terlalu banyak mengalami perubahan. Fariza sudah pernah melihatnya waktu kecil. Jadi tidak susah untuk mengetahuinya.
Setelah mereka meluapkan kegembiraan yang bercampur haru karena telah bertemu kembali, mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing selama terpisah 8 tahun lamanya.
Tapi Kayshila belum menceritakan kalau dia sebenarnya seorang bangsawan, lebih tepatnya seorang putri pangeran.
Setelah mendengar cerita Kayshila kalau selama 8 tahun dia terus bersama Dhafin, Fariza jadi curiga kalau antara Dhafin dan Kayshila pasti ada hubungan spesial.
Tapi nanti dia akan menanyakan kejelasannya saat berdua saja dengan Kayshila. Kalau bertanya sekarang sementara masih ada Dhafin, Fariza malu juga.
Setelah Kayshila menceritakan kenapa dia dan Dhafin bisa sampai di sini, giliran Fariza sekarang bercerita kenapa dia bisa sampai nyasar di tempat ini.
Fariza menuturkan bahwa sebenarnya dia dalam rangka menjalankan tugas rahasia dari Yang Mulia Ratu (tanpa menyebut nama sang ratu).
Tanpa sengaja dia bertemu dengan pemuda yang selalu dirindukan ingin berjumpa, yaitu Gibson di salah satu kota di Kerajaan Bentala. Maka dia mengikuti terus ke mana Gibson pergi.
Singkat cerita, sampai akhirnya Fariza mengejar pemuda pujaan hatinya itu hingga ke ujung kotaraja sebelah barat Kerajaan Amerta.
Kayshila menuturkan bahwa hampir saja Penyair Pemetik Bunga mencelakainya kalau tidak ditolong oleh Gibson. Dan saat ini kedua pemuda itu masih saling bertarung dengan sengit.
★☆★☆
Kembali ke pertarungan....
Gibson merasa sudah cukup mengikuti pola serangan dan merasakan tenaga sakti yang dikerahkan oleh Penyair Pemetik Bunga. Sementara saat ini pertarungan sudah menghabiskan sekian banyak jurus.
Maka pada adegan selanjutnya Gibson merubah pola serangannya. Dan perlahan demi perlahan menaikkan kekuatan energi saktinya.
Awalnya penyair cabul itu belum menyadari. Namun begitu 4 jurus telah berlalu dia baru menyadari. Tapi kesadaran itu tidak ada artinya. Karena dia sudah mencapai puncak dalam mengerahkan seluruh kekuatannya. Sedangkan Gibson sudah tahu sampai dimana kekuatannya.
Sehingga belum sampai sepenanakan nasi berlalu dia sudah terdesak. Perlahan demi perlahan dia terdesak. Hingga akhirnya dia terdesak hebat.
Penyair Pemetik Bunga lebih banyak menangkis serangan daripada menyerang saat ini. Karena kesempatannya untuk menyerang balik nyaris tidak ada.
Dengan kuat dan cepat Gibson mengayunkan pedangnya menyerang sasaran mematikan di tubuh si penyair cabul. Tapi masih bisa ditangkis oleh penyair cabul.
Namun dia kembali meringis menahan sakit karena tangannya sudah kesemutan. Dan terjajar lagi ke belakang satu langkah.
Sedangkan Gibson kembali menghantamkan pedangnya dengan kuat 2x berturut-turut.
__ADS_1
Hantaman pedang pertama Penyair Pemetik Bunga masih bisa menangkis dengan sudah payah. Hantam pedang ke 2 juga masih dapat ditangkis.
Tapi menyebabkan tangan yang menggenggam pedang terhempas ke samping kanan. Tapi pedang masih tetap tergenggam di tangan kanan.
Selagi pertahanan penyair cabul terbuka lebar, tanpa membuang kesempatan Gibson segera memutar tubuh seraya mengirimkan tendangan melayang terputar kaki kiri.
Bughk!
"Akh...!"
Begitu keras dan kuatnya tendangan belakang Gibson itu menghantam dadanya. Hingga dia terjajar beberapa langkah belakang sambil menjerit tertahan. Namun dia berusaha untuk tidak terjatuh.
Tapi baru saja kaki Penyair Pemetik Bunga berhenti, Gibson mengibaskan pedangnya dengan kuat dari atas sebelah kanan ke bawah sebelah kiri.
Maka dari pedangnya itu keluar sinar melengkung bagai bulan sabit warna kuning dan langsung melesat ke arah penyair cabul dengan cepat.
Sedangkan penyair cabul tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar. Maka dengan nekad dia menyilangkan pedangnya di depan dada menangkis sinar kuning yang sudah dekat ke arahnya.
Usahanya itu memang berhasil membuat sinar kuning melengkung itu terbelah dua. Namun sebagai akibatnya dia terlontar cukup jauh kebelakang.
Mulutnya yang menjerit keras memuncratkan darah segar menjiprat ke udara. Sedangkan pedangnya terlepas dari genggamannya. Dan sebelum jatuh ke tanah, pedang itu sudah berubah kembali menjadi kipas.
Sementara Penyair Pemetik Bunga, begitu tubuhnya jatuh ke tanah berumput menimbulkan bunyi gedebuk yang cukup keras.
Untuk beberapa saat lamanya penyair cabul cuma terbaring diam di atas tanah berumput. Tapi dadanya tampak turun naik dengan kencang. Sementara mulut penuh belepotan darah.
Tak lama kemudian, perlahan dia beringsut bangkit. Tapi tubuhnya tampak limbung saat kakinya berpijak di tanah kembali. Kepalanya terasa pusing. Sepasang mata kejinya menatap nanar pada Gibson yang masih berdiri kokoh di tempatnya.
Sejenak dia mengerahkan tenaga saktinya ke seluruh tubuhnya untuk menormalkan kondisinya yang terasa kepayahan. Lalu kedua kakinya direnggangkan ke samping sedikit.
Kemudian dia menggerakkan kedua telapak tangannya di depan dada beberapa kali dengan gerakan tertentu dan aneh. Maka seketika kedua tangannya hingga ke siku terbungkus sinar putih yang mengeluarkan hawa panas.
Sementara Gibson telah tahu kalau Penyair Pemetik Bunga hendak mengadu kesaktian ke padanya.
Maka setelah menyembunyikan pedangnya kembali, dia juga melakukan gerakan telapak tangan yang aneh di depan dada beberapa kali.
Begitu kedua telapak tangannya berhenti, tahu-tahu kedua telapak tangannya terbungkus sinar merah bagai bara. Dan begitu Penyair Pemetik Bunga mendorong kedua telapak tangannya ke depan dia juga ikut mendorong kedua telapak tangannya ke depan.
Maka dua sinar berbeda warna tapi sama-sama menghantar hawa yang amat panas melesat dengan kecepatan tinggi ke depan. Dan begitu kedua sinar itu bertemu pada titik pertengahan....
Blaaarrr....!
"Aaa...!"
Maka kembali terdengar ledakan yang amat dahsyat. Bumi kembali lindu. Langit seakan mau runtuh.
Sedangkan Penyair Pemetik Bunga seketika terhempas ke belakang cukup jauh. Mulutnya yang menjeritkan kematiannya kembali memucratkan darah ke udara. Tampak dadanya hancur remuk.
Begitu dia jatuh ke tanah bagai sampah busuk, terguling beberapa kali. Setelah itu tidak berkutik lagi. Bajunya yang berwarna putih tampak kotor oleh darah.
__ADS_1
Sementara Gibson masih tetap kokoh di tempatnya. Tak ada pengaruh apa-apa yang berarti padanya. Hannya wajahnya saja yang sedikit menegang.
★☆★☆★