Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 169 PERTEMUAN RAHASIA 8 ORANG KEPENDEKARAN


__ADS_3

Jubah malam yang gelap hitam telah rata melingkupi seantero mayapada. Sementara selendang kabut bergelayut di udara cukup tebal, menebarkan hawa dingin yang hendak membekukan tulang.


Mayoritas orang-orang lebih banyak di dalam rumah dimalam yang dingin ini ketimbang di luar rumah. Bahkan sebagian orang masih berdiang di depan perapian atau tungku untuk mengusir rasa dingin yang amat.


Namun keadaan cuaca yang tidak bersahabat itu, ditambah lagi suasana yang begitu gelap, tidak membuat 4 sosok bayangan yang berkelebat menerobos gelapnya malam terhalangi.


Bahkan gerakan tubuh mereka begitu lincah dan cepat, seolah-olah mereka sudah menguasai medan area yang mereka lintasi.


Tampak kelebatan 5 sosok bayangan itu begitu cepat laksana 5 hantu gentayangan di malam hari melintasi atap rumah-rumah para penduduk.


Sepasang kaki mereka begitu ringan memijaki atap-atap rumah laksana kapas jatuh, tidak ada suara walau sedikit. Bahkan atap pun tidak bergeser dari tempatnya saat kaki mereka berpijak walau sedikit.


"Yang mana tempatnya, Hendry?" bertanya sosok bayangan berwarna biru langit dengan suara pelan.


"Di sana, di rumah paling terakhir di unjung kampung, Pangeran Pusat," sahut sosok bayangan coklat sambil menunjuk rumah yang dimaksud.


Rumah itu agak menyendiri dari pemukiman lainnya yang ada di perkampungan di ujung wilayah timur Kerajaan Bentala. Sementara kampung itu masih masuk dalam wilayah Kota Diandara.


"Apa kamu sudah yakin mereka berkumpul malam ini di rumah itu?" tanya sosok bayangan merah gelap.


"Tentu saja aku yakin, Gibson," sosok bayangan coklat yang ternyata Hendry kembali menyahut bernada yakin. "Silahkan kamu tanya si Tudung Hitam itu kalau kurang percaya!"


"Yang dikatakan Hendry benar, Pendekar Penyair," kata sosok bayangan hitam menguatkan keterangan Hendry tanpa ditanya. "Orang-orang sakti dari Kerajaan Lengkara memang sering mengadakan pertemuan rahasia di tempat itu dengan orang-orang sakti di Kerajaan Bentala ini."


"Sebaiknya kita cepat ke sana kalau begitu," kata sosok bayangan biru langit yang ternyata Pangeran Pusat alias Dhafin.


Selepas berkata demikian, dia melenting ke udara dengan cepat. Diikuti oleh sosok bayangan biru gelap lainnya yang kepalanya bertudung kain biru pula. Dia tidak lain adalah Pangeran Aziel.


Nyaris bersamaan Hendry, Gibson si Pendekar Penyair dan Zafer si Tudung Hitam ikut melenting pula ke udara. Sekejap mereka melenting ke udara, kejap berikut sosok bayangan mereka telah lenyap bagai ditelan gelap malam.


Tidak lama kemudian, tahu-tahu mereka sudah muncul di atas udara 1 tombak di atas rumah yang tersendiri di ujung kampung itu.


Laksana kapas jatuh sosok tubuh mereka begitu ringan mendarat di atas atap rumah itu. Setelah itu mereka langsung merebahkan tubuh dengan posisi tiarap di atap rumah yang terbuat dari genteng itu.


Tidak lama telinga mereka yang selalu awas sudah mendengar percakapan beberapa orang di dalam rumah. Sejenak mereka saling memandang satu sama lain.


Lalu Aziel yang berposisi paling ujung sebelah kiri menunjuk ke arah sebelah kirinya. Sebagai isyarat untuk memberi tahu kalau orang-orang di bawah sana berbincang di ruangan yang atapnya sebelah situ.


Begitu Dhafin yang berada di sisi kanannya mengangguk, maka Aziel beringsut perlahan ke sebelah kiri. Lalu diikuti oleh Dhafin, kemudian 3 orang lainnya mengikut.

__ADS_1


Begitu dirasa sudah cukup Aziel berhenti beringsut yang dikuti oleh yang lain. Lalu, tanpa ada yang komando masing-masing mereka membuka selembar atap genteng dengan perlahan dan hati-hati.


Ketika mereka sudah berhasil membuka 1 lembar atap, maka terlihatlah orang-orang yang bercakap-cakap di dalam sebuah ruangan yang cukup luas.


★☆★☆


Di ruangan seperti di tengah rumah itu terdapat 8 orang yang tengah membincangkan tentang hal-hal rahasia. Dari pakaian dan penampilan mereka yang beraneka ragam, bisa dipastikan kalau mereka berasal dari kalangan kependekaran.


Tiga orang di antara mereka adalah wanita. Seorang berusia kisaran 60-an tahun. Namun karena mungkin pandai merawat diri, tampangnya bagai wanita umur 40-an dan masih tampak cantik. Wanita berpakaian warna ungu tua itu dikenal sebagai Iblis Racun Betina.


Dua wanita lainnya berwajah cantik, berpakaian dengan model yang sama dari bahan kulit warna hitam. Baju mereka cukup ketat lengan pendek dan cuma setengah perut. Artinya perut bawah yang putih mulus berikut pusarnya kelihatan.


Celananya juga cukup ketat cuma sebatas paha. Sehingga menampakkan sebagian paha putihnya yang mulus.


Yang membedakan di antara pakaian mereka yaitu pakaian luar yang panjang tapi tak berlengan dan tak berkancing. Artinya dibiarkan terbuka.


Meski modelnya sama tapi beda warna; warna kuning dan warna putih. Mereka dikenal sesuai sifat dan penampilannya, yaitu Sepasang Mawar ******.


Di antara yang lelaki juga ada orang tua berumur setengah abad yang masih tampak gagah. Dia berpakaian panjang warna putih bersih.


Lelaki itu cukup pandai bersyair. Sehingga orang-orang menyebutnya Penyair Putih. Karena selalu berpakaian putih. Bukan hatinya yang putih, karena hatinya amat bejat dan cabul.


"Empat wilayah bagian ujung Kerajaan Bentala sudah dikuasai oleh para pemberontak," kata seorang lelaki tua berkumis dan berjanggut tebal seakan memberi informasi. Dia dikenal sebagia Golok Hitam.


"Memang patut diakui kehebatan pasukan Selir Heliana," kata lelaki tua berbaju kuning tulus memuji. "Tidak sampai 1 bulan mereka sudah menguasai 4 wilayah itu."


"Bahkan mereka sudah memporak-porandakan Gerombolan Pedang Tengkorak yang kamu pimpin, Ketua Baron," kata Mawar Kuning bernada lembut mendayu seraya mengerling pada lelaki berpakaian serba hitam.


"Anak buahmu sudah banyak yang terbunuh, Ketua Baron," kata Mawar Putih menyambung ucapan rekannya, "bahkan sudah 2 Wakil Ketua-mu yang terbunuh. Apa kamu punya rencana?"


"Setelah peristiwa kemarin," kata seorang lelaki tinggi besar yang bernama Ketua Baron, "aku berhentikan dulu anak buahku berkeliaran di Kerajaan Bentala."


Yang dimaksud Ketua Baron peristiwa kemarin, yaitu peristiwa terbunuhnya 200 lebih anggotanya serta seorang wakil ketuanya di sebuah hutan tidak jauh dari rumah Putri Arcelia. Tepatnya di ujung wilayah tenggara.


Rencananya Gerombolan Pedang Tengkorak hendak membunuh Putri Athalia dan Putri Arcelia. Namun kenyataannya semua anak buahnya dibunuh oleh pasukan Selir Heliana. Sedangkan wakil ketuanya telah dibinasakan oleh Pangeran Pusat.


"Idemu itu bagus juga, Ketua Baron," kata lelaki separo baya berpakaian indah warna biru muda mendukung pendapat Ketua Baron. "Setidaknya untuk mengurangi jatuhnya korban di pihak kita."


"Karena aku melihat pasukan Selir Heliana ini," lanjutnya, "tidak bisa dilawan dengan tanpa perencanaan yang matang."

__ADS_1


"Ucapanmu benar, Tuan Regulus," kata Penyair Putih. "Pasukan pemberontak ini terlalu tangguh kalau kita menghadapinya dengan serampangan. Sedangkan dengan rencana yang matang saja mereka masih susah dihadapi."


"Kalau begitu, bagaimana dengan rencana penyerangan Kerajaan Bentala?" tanya Golok Hitam. "Apa rencana itu Yang Mulia Raja Bastian tetap akan melaksanakannya?"


"Masih belum ada jawaban yang pasti dari beliau," sahut Tuan Regulus.


"Aku harap kamu bisa membujuk beliau untuk menunda sementara rencananya itu," kata Penyair Putih menyarankan.


"Apa kamu punya pendapat yang bagus, Penyair Putih?" tanya Iblis Racun Betina. "Atau punya firasat?"


"Aku yakin kalian sama juga dengan aku, tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah kekuatan yang ada pada pasukan pemberontak itu," kata Penyair Putih.


Semua yang ada di situ membenarkan tebakan Penyair Putih. Mereka memang tidak tahu berapa sebenarnya jumlah kekuatan yang ada pada pemberontak itu. Markas besarnya pun sampai saat ini belum mereka ketahui.


★☆★☆


"Tentu kita semua telah mengetahui rencana besar mereka," kata Penyair Putih melanjutkan, "yaitu hendak menggulingkan kekuasaan Bunda Suri Hellen."


"Apa kamu berpendapat kita biarkan saja mereka merebut Kerajaan Bentala, Penyair Putih?" tanya Mawar Kuning menebak.


"Benar, Mawar Kuning," kata Penyair Putih membenarkan. "Kita biarkan saja mereka merebut kerajaan itu. Setelah mereka berhasil merebutnya, tentu mereka akan mengeluarkan semua pasukannya untuk menjaga kerajaan ini."


"Dengan begitu kita bisa tahu berapa jumlah kekuatan mereka. Setelah itu kita membuat suatu rencana yang jitu untuk menyerang mereka."


Tidak ada yang membantah ide cemerlang Penyair Putih itu. Dan Tuan Regulus dan Ketua Baron sebagai orang sekatnya Raja Bastian berniat akan menyampaikan pendapat itu kepada pihak istana.


Orang-orang sakti itu terus saja berbincang mengenai banyak hal yang penting dan sifatnya rahasia.


Bukan saja mereka membicarakan apa yang telah terjadi di Kerajaan Bentala. Mereka juga membicarakan tentang beberapa hal penting yang ada di Kerajaan Lengkara.


Hal itu disampaikan oleh Tuan Regulus yang dibantu oleh Ketua Baron.


Bahkan Sepasang Mawar ****** yang juga termasuk orang dekatnya Putri Rayna Cathrine juga menyampaikan beberapa hal penting yang terjadi di Kerajaan Amerta, khususnya yang terjadi di lingkungan istana.


Pula ada hal atau informasi penting yang sampaikan dua wanita cantik dari Kerajaan Amerta itu. Bahwa Bunda Suri atau Putri Rayna Cahtrine telah berhasil mempelajari sebuah ilmu yang dahsyat yang nantinya akan dipergunakan untuk melawan Pangeran Pusat.


Sedangkan Raja Adrian, Raja Kerajaan Amerta juga tengah mempelajari sebuah ilmu yang dahsyat yang dengan ilmu itu nantinya akan menandingi Dhafin dan rekan-rekannya.


Tanpa mereka sadari apa yang mereka bicarakan itu telah didengar dengan baik oleh Dhafin dan rekan-rekannya.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2