
Malam telah terkembang. Kegelapan telah membungkus seantero areal markas Ketua Anthoniel.
Sementara di langit kelam tak ada bulan yang bergelayut manja. Juga tak nampak kerlipan gemintang. Karena malam ini langit terselubung awan tebal. Sehingga membuat langit menjadi hitam kelam.
Suasana sekitar markas yang cukup besar itu dihujam oleh hawa dingin yang berkesiuran terbawa angin.
Namun hawa dingin yang menusuk tulang itu sepertinya tidak membawa pengaruh bagi Wilson yang tengah berjalan-jalan melintasi sebuah jalan di markas yang seperti perkampungan itu.
Pemuda tampan yang berambut sedikit panjang itu rupanya tidak sendirian. Dia berjalan-jalan bersama seorang pemuda jawara elit markas Ketua Anthoniel.
Mereka memang sudah saling kenal sewaktu sama-sama berperang merebut Kerajaan Bentala tempo hari.
Sambil melangkah tenang dan ringan tampak mereka asyik berbincang-bincang. Sudah cukup lama mereka saling ngobrol, tiba-tiba jawara yang dikenal bernama Andro itu berkata bernada tanya.
"Tidakkah kamu rindu pada Nona Sheila, Wilson?"
Tentu saja pertanyaan yang tidak disangka-sangka itu membuat Wilson terkejut. Sehingga sepasang kakinya seketika berhenti melangkah.
Terus menoleh pada Andro yang juga berhenti melangkah, lalu menatap pemuda itu dengan sorot mata yang penuh keheranan bercampur rasa gembira.
Heran, mengapa Andro tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa pemuda itu tahu kalau dia menyukai Sheila?
Gembira karena kembali mengingat sang gadis yang memang tidak bisa dipungkiri kalau dia menyukainya. Dan sepertinya Andro mengetahui.
Ditatap sedemikian rupa Andro cuma senyum-senyum saja. Dia juga balas menatap Wilson, tapi dengan sorotan seolah menggoda Wilson.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu, Andro?" tanya Wilson setelah kembali melangkah dan menoleh ke depan.
"Aku tahu kamu menyukai keponakan ketua itu 'kan?" kata Andro yang juga kembali ikut melangkah. Nada suaranya jelas menggoda.
"Sok tahu amat sih kamu ini," kata Wilson seolah acuh tak acuh. "Dari mana kamu tahu? Perasaan... aku tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang Nona Sheila kepadamu."
"Apa kamu pikir aku tidak memperhatikan saat kalian berkenalan terus berbincang-bincang sewaktu di masa perang tempo hari?"
"Sialan kamu!" gerutu Wilson sambil menepuk ringan pundak kiri Andro. "Ternyata selain sebagai seorang jawara, kamu juga bertugas sebagai penyelidik hubungan orang."
"Hahaha...!" Andro cuma tertawa ringan menanggapi ucapan Wilson barusan. "Tapi aku benar 'kan, kamu menyukai Nona Sheila?"
"Ya..., aku memang menyukainya," aku Wilson akhirnya. "Tapi cuma sekedar suka saja. Aku cukup tahu diri...."
"Gadis secantik Nona Sheila," lanjutnya, "mana mungkin belum punya kekasih. Apalagi di markas ini banyak jawara tampan. Tentulah salah seorang di antara mereka membuatnya tertarik, terus dijadikan kekasihnya."
"Gadis secantik Nona Sheila mana mungkin belum punya kekasih...," kata Andro menirukan gaya bicara Wilson meski tidak sama persis.
Sambil berkata begitu dia memandang langit yang seketika saja menjadi cerah. Terus dia melanjutkan ucapannya setelah berhenti melangkah sambil menahan langkah Wilson.
"Kamu lihat! Betapa hebatnya ucapanmu itu sehingga membuat langit tiba-tiba saja menjadi cerah...."
Ketika mendengar Andro berkata demikian, entah sadar atau tidak Wilson ikut-ikutan memandang langit.
Dan hal itu jelas membuatnya heran, lebih tepatnya takjub. Begitu cepatnya keadaan alam berubah. Belum lama langit terselubung awan tebal nan pekat kelam seakan mau turun hujan. Namun tiba-tiba saja tampak cerah, nyaris tidak berawan.
Memang tak ada Dewi Malam menghiasi langit. Namun berlaksa-laksa bintang yang bertaburan di langit, cukup membuat suasana malam ini begitu syahdu.
Dan belum lama Wilson memandang langit, di kejauhan langit sana tampak oleh sepasang matanya bintang berekor jatuh ke bumi dengan cepat.
__ADS_1
"Langit telah mendengar keluhanmu, Wilson," terdengar Andro berceloteh lagi, "langit telah mendengar keresahan hatimu...."
"Dia langsung memberikan jawaban yang menggembirakan. Langit telah menentukan kalau Nona Sheila adalah jodohmu...."
★☆★☆
Tentu saja ocehan Andro itu menurut Wilson merupakan ucapan yang berlebihan. Dia tidak percaya akan hal itu. Suasana alam yang tiba-tiba berubah bukan karena ucapannya. Itu hanya kebetulan saja.
Meskipun bertepatan dengan hal itu bintang berekor jatuh, yang kata orang-orang bahwa siapa yang melihatnya dan memikirkan seorang wanita yang disukainya, itulah jodohnya.
Tapi Wilson tidak percaya akan anggapan yang mirip ramalan itu.
"Kamu semakin ngawur dalam berbicara, Andro," kata Wilson seolah menegur sambil kembali melangkah. "Ucapanku barusan tidak ada hubungannya dengan keadaan alam. Kejadian itu hanya kebetulan saja."
"Tapi kamu sempat melihat bintang jatuh tadi 'kan?" tanya Andro yang juga ikut melangkah. "Bersamaan dengan itu Nona Sheila ada dalam pikiranmu juga 'kan?"
"Ya, aku memang sempat melihat bintang jatuh," kata Wilson jujur. "Tapi aku tidak percaya kalau Nona Sheila adalah jodohku."
"Wilson, dengar!" kata Andro bermimik serius. "Nona Sheila belum punya kekasih. Meski di sini banyak jawara tampan, tapi tidak ada seorang pun yang menarik hatinya."
"Teruuus... kamu sekarang tiba-tiba menjadi seorang peramal, dan meramalkan seolah-olah aku berjodoh dengan Nona Sheila. Begitu?"
"Wilson..., ini serius...."
"Sudahlah!" kata Wilson jengah. "Berhentilah membahas soal itu! Kalau sampai Nona Sheila mendengarnya, apa kamu mau bertanggung jawab?"
Baru saja Andro hendak menanggapi ucapan Wilson itu, terdengar sebuah suara perempuan muda memanggil namanya. Datangnya dari samping kanan mereka.
"Kanda Andro!"
Baru 3 helaan napas Wilson menoleh, seketika saja dia langsung terkejut bukan main. Betapa tidak?
Di situ, sekitar 3 tombak dari tempat mereka berdiri, ada 2 orang gadis cantik tengah berdiri sambil menghadap ke arah mereka. Di belakang mereka terdapat bangunan kecil semacam gardu jaga.
Seorang di antara gadis itu berpakaian ringkas warna jingga. Rambutnya panjang dengan ujung melengkung dikuncir ekor kuda. Dia-lah tadi yang memanggil Andro.
Gadis yang satu berpakaian rangkap dan panjang dengan baju luar berwarna ungu muda. Rambutnya juga panjang dengan sebagian ditata rapi dan indah di atas kepalanya.
Gadis itulah yang membuat Wilson terkejut hingga membuat jantungnya berdebar. Masalahnya gadis itu adalah Nona Sheila. Dan gadis itu juga memandang ke arahnya dengan binaran mata berjuta arti.
Selagi Wilson masih berdiri diam bagai orang bengong sambil menatap Sheila, Andro menarik tangannya mengajaknya menghampiri kedua gadis yang sepertinya tengah menunggu mereka.
★☆★☆
"Kanda! Kenapa kalian lama sekali sih?"
Baru saja kedua pemuda itu sampai, gadis berbaju jingga langsung menegur dengan merajuk manja.
Sheila langsung mendekatkan wajahnya pada temannya sambil mata indahnya mendelik. Lalu berkata dengan nada mendesis tapi ditekan sembari matanya melirik sebentar pada Wilson.
"Jolie! Kamu bilang cuma Kak Andro yang datang ke gardu jaga ini. Tapi kenapa Kak Wilson ikut juga?"
"Dia juga ikut jaga," sahut Jolie santai sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Jolie barusan seketika Wilson seakan tersadar dari keterbengongannya. Terus dia menoleh dan menatap tajam pada Andro. Terus berkata dengan nada dingin.
__ADS_1
"Apa maksud ucapan nona itu?"
Andro tidak menjawab, malah tersenyum menyebalkan. Lalu dengan cepat meraih tangan Jolie, kekasihnya, terus membawanya pergi dari situ.
Semua gerakannya itu dilakukan dengan cepat. Apalagi Jolie tidak membuat kesulitan, malah terkesan membantu Andro agar mereka cepat-cepat tinggalkan gardu jaga.
Tentu saja baik Wilson maupun Sheila terkejut melihat Andro dan Jolie pergi begitu saja, meninggalkan mereka yang cuma berdua di gardu jaga. Sialan si Andro itu!
"Andro! Mau ke mana kamu?" seru Wilson begitu tersadar kalau Andro dan Jolie sudah semakin jauh dari gardu jaga. "Apa maksud kalian meninggalkan kami di sini?"
"Kamu dan Nona Sheila yang jaga malam ini!" seru Andro dari kejauhan menyahuti.
"Sheila! Baik-baiklah menjaga malam ini ya!" seru Jolie dari kejauhan juga seakan menyambung ucapan kekasihnya. "Nikmatilah malam indah ini bersama yayangmu...!"
"Jolie...!" seru Sheila dengan geregetan.
Tentu saja kalimat terakhir Jolie itu membuat Sheila kesal sekaligus malu. Apa nanti anggapan Wilson saat mendengar ucapan itu. Tentu Wilson akan berprasangka macam-macam tentang dirinya pikirnya.
Dia tahu kalau Andro dan Jolie bersepakat menjebaknya dan juga Wilson pastinya. Dia tidak mempermasalahkan perbuatan mereka itu.
Tapi Jolie terang-terangan menyebut kata yayang di mana Wilson ada di sini, pemuda yang dia harapkan akan menjadi kekasih. Jelas sapaan mesra itu didengar oleh Wilson. Siapa yang tidak malu coba?
Sheila memang sudah mulai menyukai Wilson saat mereka bertemu di Kerajaan Bentala di masa-masa perang tempo hari. Rasa suka dalam hatinya itu semakin menjadi saat mereka kembali bertemu di markas ini.
Saat ini berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam hati Sheila. Apalagi Wilson berada cukup dekat dengannya sekarang. Cuma berjarak 3 langkah di samping kirinya.
Debaran jantungnya semakin terasa berdegup. Getaran asmara semakin mengalun dalam pikirannya hingga membuat hatinya berbunga-bunga. Hingga tanpa sadar dia tersenyum bahagia.
Bertemu kembali dengan orang disukai rasanya gimana gitu?
Namun cepat-cepat dia tersadar akan perbuatan gilanya itu. Terus dengan memberanikan diri melirik Wilson. Dan syukurlah pemuda itu tidak memperhatikannya.
Lalu kembali dia duduk di lantai gardu jaga yang berjarak 2 hasta dari permukaan tanah. Terus, mumpung Wilson belum memandang ke arahnya, dia menatap wajah pemuda itu lekat-lekat.
Sementara Wilson masih saja memandang ke arah di mana Andro dan kekasihnya pergi yang kini dua sejoli itu tidak tampak lagi.
Jelas hatinya masih kesal atas perbuatan Andro itu yang sepertinya bersekongkol dengan Jolie.
Dia tahu kalau Andro mengerjainya. Berpura-pura mengajaknya ronda malam ini. Tak tahunya di gardu jaga ternyata ada Sheila yang sepertinya juga termakan oleh jebakan kedua sejoli tadi.
Tapi... sudahlah. Terlalu lama memikirkan perbuatan yang tidak bertanggung jawab itu tidak ada gunanya. Meski dipaksa dan terpaksa, akhirnya dia harus jaga malam ini di gardu jaga bersama Sheila.
Ya, dia berjaga malam ini bersama Sheila, seorang gadis cantik yang tidak bisa dia pungkiri kalau dia menyukai gadis itu.
Sekian banyak gadis cantik yang ada di Istana Centauri, tidak ada satu pun di antara mereka yang berhasil membuat hatinya bergetar.
Namun ketika bertemu dengan Sheila, bahkan saat pandangan pertama, sang gadis sudah membuat hatinya bergetar. Dan sekarang jantungnya kembali berdebar saat kembali memikirkan Sheila.
Teringat kalau Sheila ternyata berada cukup dekat dengannya, maka segala perasaannya yang sempat berantakan mulai ditata kembali, napasnya mulai diatur.
Agar nantinya kalau berbicara dengan sang pujaan hati tidak terasa canggung dan kaku.
Sudah sepekan lebih tidak bertemu Sheila, apa kabar gadis itu? Apakah sang gadis sudah mulai menyukainya atau....
★☆★☆★
__ADS_1