Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 84 INTEROGASI DI BUKIT KANAYA


__ADS_3

Waktu itu di siang hari bolong di Bukit Kanaya, sebelah selatan Kerajaan Amerta....


Di bukit itulah Dhafin membawa Kayshila melalui teleportasi.


Saat ini mereka tengah berada di atas sebuah batu besar dan lebar yang bagian atasnya rata. Di dekat mereka tampak lelaki berambut gondrong terbaring diam dan membisu. Hanya sepasang matanya saja yang liar menatap Dhafin dan Kayshila.


Tampak Dhafin duduk melutut di sisi kiri lelaki berambut gondrong. Sementara Kayshila duduk cukup menjauh di samping kanan lelaki itu sambil memperhatikan sang kekasih berbuat apa terhadap si rambut gondrong.


Lalu telapak tangan kiri Dhafin yang jerijinya merenggang ditempelkan ke jidat lelaki itu. Terang saja lelaki rambut gondrong memaki panjang pendek dipegang kepalanya. Tapi dia cuma memaki dalam hati. Hanya matanya saja yang mendelik menatap Dhafin.


Namun begitu sinar kuning bening yang keluar dari telapak tangan Dhafin membungkus wajah dan kepalanya, perlahan matanya meredup, lalu tertutup.


Tak lama kemudian, sinar yang membungkus wajah dan kepalanya hilang. Lalu sepasang matanya yang tadi terpejam kembali terbuka. Namun sekarang telah terjadi keanehan pada keadaan diri lelaki itu.


Pandangan matanya memang mengarah ke langit, tapi cuma tatapan kosong, tatapan hampa. Wajahnya juga sudah tampak seperti orang linglung.


"Kamu apakan orang itu, Kanda?" tanya Kayshila heran melihat perubahan pada lelaki itu yang jadi lain.


"Aku membuatnya kehilangan kesadaran diri," sahut Dhafin. "Ditanya apa saja dia akan berkata jujur."


Sambil berkata begitu dia melepas totokan titik suara lelaki itu, terus melepas pengaruh tenaga batinnya.


Sedangkan Kayshila tampak berpikir akan apa yang diucapkan Dhafin sambil memperhatikan lelaki itu yang tampak diam saja.


Sedangkan lelaki itu memang tak bisa apa-apa karena kesadarannya dalam kendali mantra ghaib Dhafin. Ibaratnya lelaki itu seperti robot saat ini. Dia baru bisa bergerak atau bersuara kalau ada perintah atau ditanya.


Setelah itu Dhafin duduk berselonjor tak jauh di sisi kiri lelaki itu.


"Apa kamu mau tanya tentang kematian ibumu?" tanya Dhafin menawarkan sambil memandang keadaan sekitar.


"Kamu saja yang bertanya, Kanda," kata Kayshila enggan. "Biar aku menyimak saja."


Sejenak Dhafin menatap Kayshila yang juga menatapnya. Lalu melirik lelaki gondrong sebentar, kemudian kembali memandang keadaan sekitar yang begitu asri. Lalu terdengar dia bertanya.


"Kamu mendengarku, Tuan?"


"Ya," sahut lelaki itu bernada datar, tanpa tekanan.


Keadaannya memang seperti orang yang terhipnotis.


"Di sebuah kampung kecil di ujung sebelah utara Kerajaan Amerta terjadi pembunuhan seorang ibu pada 8 tahun yang lalu," kata Dhafin memulai interogasi. "Apa kalian, Gerombolan Pedang Tengkorak yang melakukannya?"


"Ya, benar, kelompok kami yang melakukannya," sahut lelaki itu dengan lancar. "Tapi waktu itu bukan saya yang bertugas, melainkan rekan-rekan yang lain."


Mendengar pengakuan orang itu yang jujur, sontak saja Kayshila langsung naik darah. Jadi benar dugaan Dhafin, Gerombolan Pedang Tengkorak-lah yang telah membunuh ibunya.


Dia menghampiri lelaki itu dengan segera. Telapak tangan kanannya yang sudah memerah bara hendak dihantamkan ke kepala orang itu. Tapi Dhafin cepat mencegahnya.


"Sabar dulu, Kayshila," kata Dhafin membujuk. "Nanti juga pada gilirannya dia akan mati. Tapi kita korek informasi dulu darinya baru boleh kamu membunuhnya."


"habisnya... mereka sudah membuatku amat kesal," kata Kayshila beralasan dengan nada penuh tekanan emosi. "Mereka sudah membunuh saudara-saudaraku, membunuh guruku. Dan ternyata mereka juga yang telah membunuh ibuku. Siapa yang tidak emosi, Kanda?"


"Sabar dulu, jangan terbawa emosi begitu! Biarkan dia bertugas dulu sekarang. Ya!"


Kayshila terdiam, tidak membantah ucapan Dhafin. Tapi sepasang mata indahnya beralih mengamati keadaan sekitanya yang ditumbuhi pohon besar kecil.


★☆★☆


Merasa Kayshila sudah kembali tenang, Dhafin melajutkan pekerjaannya.


"Kenapa kalian membunuh ibu yang tidak berdosa itu? Apa kalian punya dendam padanya?"


"Ibu itu adalah orang tua dari salah seorang murid Perguruan Cadar Ungu. Semua orang yang berhubungan dengan Perguruan Cadar Ungu harus dibasmi."


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Kayshila dengan nada tajam sambil menatap lelaki itu.


"Ketua kami."


Kayshila menahan napas beberapa kejapan sejenak untuk meredam amarah yang bergejolak di dalam dirinya. Lalu menarik napas dalam-dalam untuk menentramkan perasaannya.


Kayshila tidak habis pikir kenapa tindakan Ketua Gerombolan Pedang Tengkorak begitu sadis? Haruskah juga membunuh orang-orang yang berhubungan dengan perguruan itu?

__ADS_1


Kalau begitu berarti semua orang tua perguruan itu sudah dibasmi oleh Gerombolan Pedang Tengkorak atas perintah sang ketua.


"Siapa nama ketua kalian?" tanya Dhafin setelah beberapa saat terdiam.


"Yang Mulia Ketua Baron Derek."


"Apa ketua kalian juga memerintahkan untuk membasmi semua perguruan yang ada di luar kotaraja?" tanya Dhafin lagi mulai meraba maksud dari sang ketua.


Lelaki berambut gondrong menjelaskan bahwa belum semua perguruan yang ada di luar kotaraja dibasmi oleh kelompok pembunuh itu. Baru 5 perguruan yang dibasmi.


Sebabnya karena pihak istana sudah mencium maksud jahat mereka sehingga mengamankan semua perguruan yang ada di luar kotaraja, terkhusus perguruan yang jauh dari pusat pemerintahan.


Kenapa mereka diperintahkan menghancurkan perguruan?


Lelaki itu menjelaskan bahwa hal itu sesuai perintah pihak yang membayar mereka. Karena mereka memang kelompok pembunuh bayaran.


Siapa pihak yang membayar itu si lelaki tidak mengetahui. Tapi Dhafin sudah bisa menduga kalau Putri Rayna Cathrine di belakang perintah pembunuhan itu. Tujuannya agar saat penaklukan Kerajaan Amerta nanti tidak banyak orang-orang hebat yang dia lawan.


Yang menjadi pertanyaan sekarang bagaimana bisa Putri Rayna Cathrine menaklukkan kerajaan ini? Padahal kekuatan pasukan militer kerajaan begitu banyak dan termasuk hebat-hebat. Apalagi kalau didukung oleh perguruan yang ada di kerajaan itu.


Lelaki berambut gondrong itu mengatakan bahwa di samping Putri Rayna memiliki pasukan yang cukup banyak dan hebat-hebat, juga dibantu oleh Gerombolan Pedang Tengkorak, Putri Rayna juga ternyata dibantu oleh pasukan Raja Bastian.


Berarti dalam penaklukan Kerajaan Amerta, ternyata juga ada campur tangan Kerajaan Lengkara.


Terang saja hal ini membuat Dhafin dan Kayshila terkejut. Tidak mereka sangka kalau Raja Bastian mau bekerja sama dengan Putri Rayna Cathrine dalam menaklukkan Kerajaan Amerta dan menggulingkan kekuasaan Yang Mulia Darian Cashel.


Dhafin menduga pasti ada apa-apanya antara Putri Rayna Cathrine dengan Raja Bastian Lamont.


"Apakah Yang Mulia Raja Darian mati dalam peristiwa pemberontakan Putri Rayna?" tanya Dhafin kemudian.


Ya, Dhafin menganngap peristiwa ini merupakan pemberontakan. Dan pemberontaknya adalah Putri Rayna Cathrine. Karena dia merebut sesuatu yang bukan haknya.


"Raja Darian tidak sampai di bunuh. Dia dipenjarakan saja bersama beberapa pejabatnya di penjara bawah tanah."


"Bagaimana dengan keluarga Yang Mulia Raja Darian?" tanya Dhafin lagi.


"Mereka juga dipenjarakan di bawah tanah."


Perlu diketahui bahwa Dhafin tidak tahu kalau belum lama meninggalkan kotaraja Putri Aurellia bersama 4 sahabatnya dijemput oleh orang-orang Istana Centauri.


Lebih tidak tahu lagi kalau Putri Aurellia sudah menjadi Ratu Agung Istana Centauri.


"Saya tidak hapal seluruh keluarga Raja Darian. Hanya saja yang saya tahu keluarga Raja Darian juga dipenjara."


Dhafin terdiam sejenak, tidak bertanya lagi. Tapi dia menatap Kayshila yang juga menatapnya. Sehingga beberapa saat mereka saling tatap tapi sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kapan peristiwa pemberotakan ini terjadi?" tanya Dhafin memecah kebisuan.


"Tiga tahun yang lalu."


★☆★☆


Setelah Dhafin bertanya beberapa hal lagi dan merasa sudah cukup menginterogasi lelaki itu, lalu dia memberi tahu kepada Kayshila kalau dia sudah selesai.


"Aku serahkan saja padamu orang ini, Kanda," kata Kayshila seolah tahu maksud Dhafin. "Terserah kamu mau apakan. Aku takutnya dilandasi dendam kalau membunuhnya."


"Baguslah kalau kamu sudah bisa mengendalikan perasaan dendammu," puji Dhafin sambil tersenyum.


Kayshila hanya tersenyum mendengar pujian Dhafin itu. Tapi siapa yang lihat kalau dia tersenyum sedangkan dia memakai cadar?


Lalu dilihatnya Dhafin mengangkat telapak tangan kanannya ke atas dada lelaki itu berjarak 1 jengkal. Tampak telapak tangan yang menghadap ke bawah itu terbuka dengan jeriji sedikit merenggan. Telapak tangan itu dilihatnya teraliri tenaga dalam tinggi.


Ternyata Dhafin melakukan hal itu tanpa melihat apa yang dilakukannya saat Kayshila memandang wajahnya. Artinya pandangan Dhafin tetap ke depan.


Ketika Kayshila kembali melihat telapak tangan Dhafin, seketika telapak tangan itu turun dengan cepat, kuat, dan keras. Sehingga....


Kraaak!!!


"Ughk!"


Begitu kuat dan kerasnya hantaman telapak tangan Dhafin membuat dada lelaki itu melesak ke dalam dan tulangnya remuk. Dia cuma bisa mengeluarkan suara tertahan dan tertekan di tenggorokan sambil mata melotot.

__ADS_1


Wajahnya tampak tegang seakan menahan sesuatu. Mulutnya yang menganga mengeluarkan darah yang cukup banyak dan kental. Tak lama seluruh keadaannya tampak lemas. Artinya nyawanya telah melayang.


Kayshila sedikit terkejut juga melihat aksi Dhafin itu. Dhafin tampak tenang saja melakukannya dan santai. Namun ternyata cukup mengerikan.


Sementara telapak tangan Dhafin masih di atas dada mayat terakhir anggota Gerombolan Pedang Tengkorak. Tapi tak lama telapak tangan itu mengeluarkan sinar putih dan dalam sekejap langsung menyelubungi sekujur tubuh lelaki berambut gondrong itu.


Begitu sinar putih itu lenyap, lelaki itu tidak kelihatan lagi.


"Kamu kirim ke mana orang tadi, Kanda?" tanya Kayshila ingin tahu.


"Ke hutan yang tadi kita tinggalkan," sahut Dhafin.


Lalu dia berdiri yang diikuti oleh Kayshila. Kemudian mereka melompat naik ke pondok yang tak memiliki tangga itu yang bersebelahan dengan batu besar. Pondok itu model rumah panggung yang tingginya 4 hasta.


"Di tempat ini aman 'kan, Kanda?" tanya Kayshila begitu mereka sudah duduk santai di teras pondok itu. "Aku mau buka cadarku."


"Buka saja cadarmu," sahut Dhafin meyakinkan. "Tempat ini aman. Boleh dibilang amat jarang orang ke mari."


"Apa rencanamu sekarang, Kanda?" tanya Kayshila setelah membuka cadarnya. "Apa kita akan ke kotaraja?"


"Ya, kita akan ke kotaraja menengok ayah, bunda serta adik-adik angkatku," sahut Dhafin bernada masygul. "Entah bagaimana nasib mereka di bawah kekuasaan Putri Rayna Cathrine."


"Sekaligus menengok Tuan Putri Aurellia?"


Saat berkata seperti itu nada suara Kayshila tampak lain. Wajah cantiknya tampak menguarkan aroma cemburu. Pandangan matanya tidak melihat ke wajah Dhafin, melainkan menatap ke depan.


Dia tidak banyak tahu tentang Putri Aurellia. Dhafin juga menceritakan garis besarnya saja tentang diri Putri Aurellia. Namun satu hal yang selalu diingat oleh Kayshila bahwa Putri Aurellia adalah teman kecil Dhafin.


Dia tidak bisa menebak-nebak bagaimana nasib Putri Aurellia sekarang. Tapi bagaimana kalau nasib Putri Aurellia baik-baik saja?


Dan bagaimana nanti kalau mereka saling berjumpa di saat mereka sudah dewasa begini?


Dhafin sudah mengaku kepadanya kalau Dhafin tidak mencintai Putri Aurellia, cuma sebatas teman saja.


Tapi bagaimana dengan Putri Aurellia sendiri? Apakah ada jaminan kalau dia tidak mencintai Dhafin? Apalagi kalau mereka berjumpa saat sudah sama-sama dewasa begini?


Gadis siapakah yang tidak terpesona dan jatuh cinta dengan seorang Dhafin yang memiliki kepribadian yang sempurna begitu?


"Aku harap kamu tidak berpikir macam-macam soal Putri Aurellia," kata Dhafin seperti tahu apa yang dipikirkan Kayshila. "Dia cuma teman masa kecilku, tidak lebih dari itu. Hanya saja...."


"Hanya saja apa, Kanda?" tanya Kayshila cepat sambil menatap wajah Dhafin lekat-lekat. Makin kentara di wajah cantiknya aroma kecemburuan.


"Hanya saja aku amat mengkhawatirkannya...."


"Mengkhawatirkannya?" kata Kayshila cepat memotong ucapan Dhafin.


"Kamu jangan salah paham begitu," kata Dhafin mencoba menerangkan. "Aku belum selesai bicara."


"Kenapa kamu mengkhawatirkannya?" tanya Kayshila seolah mengiterogasi.


"Kamu tahu dia sebenarnya target pembunuhan bagi Putri Rayna sejak masih kecil," kata Dhafin menerangkan. Bagaimana aku tidak mengkhawatirkannya?"


"Tapi, sekarang Putri Rayna sudah menguasai kerajaan ini," lanjutnya. "Besar kemungkinan Putri Rayna sudah membunuh Putri Aurellia."


Saat berkata demikian Dhafin seakan menekan rasa sedihnya. Wajahnya kini sudah berselimut duka.


Melihat Dhafin begitu, Kayshila tidak tega menyakiti perasaan Dhafin hanya karena rasa cemburu butanya.


Dia harus percaya kalau Dhafin hanya mencintainya seorang. Tidak ada wanita lain di hati Dhafin selain dirinya.


Dan dia harus percaya kalau Putri Aurellia hanyalah teman bagi kekasihnya itu, tidak lebih. Tapi untuk meyakinkan hatinya lagi, dia memberanikan diri bertanya.


"Benarkah Putri Aurellia cuma temanmu saja, Kanda?"


"Tidak ada wanita yang aku cintai di dunia ini selain dirimu, Kayshila," kata Dhafin dengan jujur dan tegas. "Adapun kalau kamu melihat ada wanita bersamaku selain dirimu, itu hanyalah teman."


Kayshila tersenyum haru mendengar pengakuan Dhafin yang jujur itu. Lalu dia memeluk Dhafin dengan erat dengan penuh kasih. Sedangkan Dhafin juga membalas pelukan Kayshila dengan penuh cinta.


"Maafkan aku telah meragukan cintamu, Kanda," ucap Kayshila lirih penuh penyesalan.


Hari semi hari semakin erat saja jalinan cinta sepasang kekasih terlarang itu. Kapankah mereka akan saling mengetahui kalau sebenarnya mereka bersaudara?

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2